Jika Sudah Ada HUKUM KARMA, Lalu untuk Apa Ada Polisi, Demon-Hunter, Dermawan, maupun Usaha untuk Menolong Orang yang Membutuhkan?
Di masyarakat, berkembang pemahaman-keliru yang cenderung fatalistik, yang ironisnya dewasa kini berkembang di kalangan komunitas internal Buddhist itu sendiri, secara menyimpang dari Dhamma yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha. Ada seseorang yang mengaku sebagai indigo yang dapat berkomunikasi dengan makhluk dewa di alam dewa, menyebutkan bahwa para makhluk dewata tidak akan menolong seseorang yang Karma Baiknya belum matang untuk berbuah pada saat kini. Ia tidak mengkritik perilaku para dewata yang menghakimi umat manusia yang butuh pertolongan, semata dengan memandang bahwa manusia tersebut tidak patut ditolong, apapun alasannya.
Ada kalanya, orang baik memohon pertolongan dan
mengandalkan pertolongan. Betul bahwa Buddhisme mengajarkan kita untuk rajin berbuat
kebajikan sebagai “benteng pelindung diri”. Akan tetapi, letak masalahnya bukanlah
di situ. Masalahnya ialah Hukum Karma tidaklah sempurna karena tidak efektif dari
segi waktu berbuahnya, sehingga tidak seketika membuat jera si pelaku
kejahatan juga tidak seketika menyelamatkan si pelaku kebajikan. Perhatikan apa yang Sang
Buddha babarkan dalam Sutta Pitaka, berisi khotbah dengan kutipan sebagai
berikut:
17. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang
membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku
salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata
fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran
permusuhan, dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran
yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka: apakah sebelumnya
telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan
perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia
memperoleh dan menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam
tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Dan
karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang
tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan
kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar,
bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah, ia
akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali
berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.
18. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang
membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku
salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata
fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran
permusuhan, dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga: apakah sebelumnya
telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan
perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia
memperoleh dan menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil
apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria,
mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata
kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan
salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali
berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.
19. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang
tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria,
menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah,
[210] menghindari mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak
tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan benar, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan
di alam surga: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan
menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Dan karena
ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari
mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan
indria, menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata
fitnah, [210] menghindari mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia
tidak tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan benar, ia
akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali
berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.
20. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang
tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria,
menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah,
[210] menghindari mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak
tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan benar, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita,
di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di
neraka: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan
sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang
dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan
menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran
yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Dan karena ia di sini
telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa
yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria,
menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah,
[210] menghindari mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak
tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan benar, ia
akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali
berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.”
Inilah letak kelemahan paling utama dari cara-kerja
dibalik Hukum Karma : “atau dalam beberapa kelahiran setelahnya”. Bila itu yang terjadi, si
pelaku kejahatan tidak akan jera atas perilaku-perilaku jahatnya. Adapun di
beberapa kehidupan / kelahiran setelahnya, ia besar kemungkinan telah tidak
ingat perbuatan buruk apa yang pernah ia lakukan di kehidupan-kehidupan sebelumnya,
dimana bisa jadi di kehidupannya masa kini ia telah berubah menjadi orang baik,
akan tetapi Karma Buruk masa lampaunya berbuah dan membuatnya hidup sengsara
serta tertimpa berbagai musibah. Mengingat ia telah berubah menjelma manusia
yang baik dan bermoral, akankah kita hanya berdiam-diri dan berpangku-tangan, tanpa
mengulurkan tangan untuk menolong kesukaran hidupnya pada masa kini?
Ia di masa kini, bisa jadi kelaparan, atau
dicelakai makhluk dari alam rendah, disakiti oleh sesama manusia, tertimpa
musibah bencana alam, terserang penyakit atau wabah, maupun ketidak-mujuran
lainnya. Apakah keliru, bila kita memberikannya makanan untuk mengatasi rasa
laparnya? Apakah keliru, para dewata menyisihkan egonya dan mengulurkan tangan
untuk membebaskannya dari gangguan makhluk jahat dari alam rendah? Untuk apa
juga kita berderma makanan, kepada mereka yang telah kenyang dan memiliki
makanan berlimpah? Justru ia adalah orang dan waktu yang tepat untuk kita memberi
pertolongan, dimana memberi bantuan ialah perbuatan baik itu sendiri yang dapat
kita tanamkan.
Dalam kasus sebaliknya, seseorang banyak
melakukan kebajikan pada beberapa kehidupan masa lampaunya. Akan tetapi, pada
satu kehidupan sebelumnya dan pada kehidupan masa kini, ia melakukan banyak
kejahatan. Ironisnya, akibat dari perbuatan bajiknya pada beberapa kehidupan sebelumnya
ranum dan berbuah pada kehidupannya di masa kini, sementara akibat dari perbuatan-perbuatan
buruknya pada satu kehidupan sebelumnya maupun perilaku-perilaku jahatnya pada
kehidupan masa kini belum kunjung ranum untuk berbuah pada kehidupan masa kini
juga, akibatnya ia akan tampak sebagai imun dari musibah, penghukuman, ataupun
penjeraan apapun, terkesan “kebal”. Pertanyaannya, apakah layak dan patut kita
menolong dan mendukung orang semacam demikian?
Pernyataan Sang Buddha bahwa “ia akan
mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali
berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya”, akibat / konsekuensi dibalik
suatu perbuatan akan tetap matang baginya dalam suatu cara apakah dalam
kehidupan ini, atau dalam kehidupan berikut, atau dalam beberapa kehidupan setelah itu. Suatu kesenjangan waktu berbuah
suatu perbuatan, cenderung membuat kebanyakan orang (si pelaku perbuatan) jatuh
dalam spekulasi pandangan-keliru bahwa tiada buah ataupun konsekuensi dari
suatu perbuatan, atau secara keliru salah-menerjemahkan seolah “berbuat jahat
justru masuk surga sebagai buahnya” atau “berbuat baik akibatnya justru masuk
neraka” (keduanya adalah paham fatalisme), atau juga “tiada konsekuensi dari
suatu perbuatan” (nihilisme).
Dalam konstruksi kasus semacam demikian, yakni “apakah
sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai
menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan
menganut pandangan benar”, kelahiran kembali di alam surga pasti disebabkan karena
perbuatan-perbuatan lainnya selain dari perbuatan yang terlihat sedang ia
lakukan, karena suatu perbuatan jahat tidak dapat menghasilkan modus kelahiran
kembali yang beruntung. Itulah juga sebabnya, orang baik dapat terlahir kembali
ke alam rendah, sementara orang jahat dapat terlahir kembali ke alam surgawi
dan menjadi makhluk dewata, semata karena kesenjangan waktu berbuahnya perbuatan-perbuatan
pada suatu kehidupan.
Bila Hukum Karma (hukum sebab-akibat) adalah sesempurna dan
seideal yang dibayangkan oleh semua orang, pertanyaan terbesarnya ialah mengapa
Pangeran Siddhatta Gotama justru berjuang untuk memutus belenggu rantai karma (break
the chain / shackle of karmic law) sekalipun selama berkappa-kappa menanam
begitu banyak “parami”? Pihak-pihak yang mengagung-agungkan Hukum Karma,
bukankah sedang memiliki paham Buddhisme, itu adalah paham Jainisme yang telah
ditolak oleh Sang Buddha. Buddhisme menekankan praktek deliberatif, bukan
deterministik Hukum Karma (perbudakan Karma).
Itulah sebabnya, hukum negara tetap harus dibentuk untuk
melindungi anggota masyarakat yang baik dari perilaku warga yang buruk, aparatur
penegak hukum tetap perlu dibangun dan dioperasionalkan untuk menghukum pelaku
kejahatan, para “demon hunter” tetap perlu bergerak dan membasmi makhluk-makhluk
jahat dari alam rendah, serta para dermawan tetap perlu berdonasi, dengan cukup
semata berpegangan pada dua faktor : moralitas si calon penerima bantuan /
pertolongan, serta apakah ia benar-benar membutuhkan bantuan ataukah tidak agar
donasi menjadi tidak sia-sia “salah alamat”. Berbuat kebaikan artinya, tidak
merugikan diri sendiri juga tidak merugikan pihak lain, demikian Sang Buddha
pernah berpesan—bukan persoalan spekulatif penuh penghakiman bahwa Karma Buruk
seseorang sedang berbuah karenanya tertimpa musibah dan petaka. Penghakiman tidak
menolong mereka, justru kian melukai mereka.
Hukum Karma, ibarat hukum yang cenderung “tidak tepat-sasaran”.
Reward dan punishment-nya eksis, akan tetapi cara-kerja
dibaliknya tidak jarang menyerupai “justice delay, is justice denied”. Terlepas
dari kesemua itu, itu jugalah bukti bahwa “hidup adalah dukkha”, karena Hukum
Karma sekalipun bukanlah tempat untuk kita bergantung dan andalkan sepenuhnya. Hukum
Karma sendiri bergantung pada kondisi, sementara apa yang berkondisi sifatnya
selalu mengecewakan.
Untuk memahami secara lebih holistik tentang cara-kerja yang
kurang ideal dibalik Hukum Karma, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995);
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara,
penerbit DhammaCitta Press (2013):
~SUTTA 136~
Mahākammavibhanga Sutta : Pembabaran Panjang tentang
Perbuatan
[207] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu
ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di Hutan Bambu, Taman Suaka
Tupai.
2. Pada saat itu Yang Mulia Samiddhi sedang menetap
di sebuah gubuk hutan. Kemudian Pengembara Potaliputta, sewaktu berjalan-jalan
untuk berolah-raga, mendatangi Yang Mulia Samiddhi dan saling bertukar sapa
dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata
kepada Yang Mulia Samiddhi:
“Teman Samiddhi, aku mendengar dan mempelajari ini
dari mulut Petapa Gotama sendiri: ‘Perbuatan jasmani adalah tidak berarti,
perbuatan ucapan adalah tidak berarti, hanya perbuatan pikiran yang nyata.’
Dan: ‘Ada pencapaian yang dengan memasukinya maka seseorang tidak merasakan
apapun sama sekali.’”
[Kitab Komentar mengatakan
bahwa Potaliputta sesungguhnya tidak secara langsung mendengar dari Sang
Buddha, tetapi pernah mendengarkan berita bahwa pernyataan-pernyataan ini
dinyatakan oleh Sang Buddha. Pernyataan pertama adalah versi menyimpang dari
pernyataan Sang Buddha dalam Majjhima Nikāya 56.4 bahwa perbuatan pikiran
adalah Pāling tercela di antara ketiga jenis perbuatan bagi pelaksanaan
perbuatan jahat. Pernyataan ke dua diturunkan dari pembahasan lenyapnya
persepsi oleh Sang Buddha dalam Poṭṭhapāda Sutta (Dīgha Nikāya 9).
Kitab Komentar mengemas kata “tidak berarti” menjadi “tidak berbuah.”]
“Jangan berkata begitu, Teman Potaliputta, jangan
berkata begitu. Jangan salah memahami Sang Bhagavā, tidaklah baik salah
memahami Sang Bhagavā. Sang Bhagavā tidak berkata seperti ini: ‘Perbuatan
jasmani adalah tidak berarti, perbuatan ucapan adalah tidak berarti, hanya
perbuatan pikiran yang nyata.’ Tetapi, Teman, memang ada pencapaian itu yang
dengan memasukinya maka seseorang tidak merasakan apapun sama sekali.”
“Berapa lamakah sejak engkau meninggalkan
keduniawian, Teman Samiddhi?”
“Belum lama, Teman: tiga tahun.”
“Demikianlah, apa yang akan kami katakan kepada para
bhikkhu senior ketika seorang bhikkhu muda berpikir bahwa Sang Guru harus
dibela seperti demikian? Teman Samiddhi, setelah melakukan perbuatan yang
disengaja melalui jasmani, ucapan, atau pikiran, apakah yang dirasakan
seseorang?”
“Setelah melakukan perbuatan yang disengaja melalui
jasmani, ucapan, atau pikiran, seseorang merasakan penderitaan, Teman
Potaliputta.”
Kemudian, dengan tidak menerima juga tidak menolak
kata-kata Yang Mulia Samiddhi, Pengembara Potaliputta bangkit dari duduknya dan
pergi.
3. Segera setelah Pengembara Potaliputta pergi, Yang
Mulia Samiddhi mendatangi Yang Mulia Ānanda [208] dan saling bertukar sapa
dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan
menceritakan keseluruhan percakapannya dengan Pengembara Potaliputta kepada
Yang Mulia Ānanda. Setelah ia selesai berbicara, Yang Mulia Ānanda berkata
kepadanya: “Sahabat Samiddhi, percakapan ini harus diberitahukan kepada Sang
Bhagavā. Marilah, kita menghadap Sang Bhagavā dan memberitahu Beliau mengenai
hal ini. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Sang Bhagavā kepada kita, demikianlah
kita harus mengingatnya.” – “Baik, Sahabat,” Yang Mulia Samiddhi menjawab.
4. Kemudian Yang Mulia Ānanda dan Yang Mulia
Samiddhi bersama-sama mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada
Beliau, mereka duduk di satu sisi. Yang Mulia Ānanda menceritakan keseluruhan
percakapan antara Yang Mulia Samiddhi dengan Pengembara Potaliputta kepada Sang
Bhagavā.
5. Ketika ia selesai, Sang Bhagavā berkata kepada
Yang Mulia Ānanda: “Ānanda, Aku bahkan tidak ingat pernah bertemu dengan
Pengembara Potaliputta, jadi bagaimana mungkin pernah terjadi percakapan ini?
Walaupun pertanyaan Pengembara Potaliputta seharusnya dianalisis terlebih dulu
sebelum dijawab, namun orang sesat Samiddhi ini menjawabnya secara sepihak.”
6. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Udāyin
berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, mungkin Yang Mulia Samiddhi berkata
demikian dengan merujuk pada [prinsip]: ‘Apapun yang dirasakan adalah termasuk
dalam penderitaan.’” Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda:
“Lihatlah, Ānanda, bagaimana orang sesat Udāyin ini
menyimpulkan. Aku tahu, Ānanda, bahwa saat ini orang sesat Udāyin ini akan
menyimpulkan dengan cara keliru. Sejak awal Pengembara Potaliputta menanyakan
tentang ketiga jenis perasaan. Orang sesat Samiddhi ini [209] seharusnya
menjawab Pengembara Potaliputta dengan benar jika, ketika ditanya demikian, ia
menjelaskan: ‘Teman Potaliputta, setelah melakukan perbuatan yang disengaja
melalui jasmani, ucapan, atau pikiran, [yang akibatnya] dirasakan sebagai menyenangkan,
maka seseorang merasa senang. Setelah melakukan perbuatan yang disengaja
melalui jasmani, ucapan, atau pikiran, [yang akibatnya] dirasakan sebagai
menyakitkan, maka seseorang merasa kesakitan. Setelah melakukan perbuatan yang
disengaja melalui jasmani, ucapan, atau pikiran, [yang akibatnya] dirasakan
sebagai bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, maka seseorang merasakan
bukan-kesakitan-juga-bukan-kesenangan.’ Tetapi siapakah orang-orang dungu ini,
para pengembara bodoh dari sekte lain, yang dapat memahami penjelasan panjang
dari Sang Tathāgata tentang perbuatan? Engkau harus mendengarkan Sang
Tathāgata, Ānanda, sewaktu Beliau menjelaskan penjelasan panjang tentang
perbuatan.”
[Kitab Komentar : Pernyataan “‘Apapun
yang dirasakan adalah termasuk dalam penderitaan.’” ini dinyatakan oleh
Sang Buddha pada Saṁyutta Nikāya 36:11/iv.216,
sehubungan dengan penderitaan yang terkandung dalam segala bentukan karena
alasan ketidak-kekalannya (selalu berubah dan tidak dapat digenggam-erat).
Walaupun pernyataan itu benar, Samiddhi tampaknya telah salah menginterpretasikannya
menjadi bermakna bahwa semua perasaan dirasakan sebagai penderitaan, yang jelas
salah.]
7. “Sekarang adalah waktunya, Sang Bhagavā, sekarang
adalah waktunya, Yang Sempurna, bagi Sang Bhagavā untuk membabarkan penjelasan
panjang tentang perbuatan. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu
akan mengingatnya.”
“Maka dengarkanlah, Ānanda, dan perhatikanlah pada
apa yang akan Kukatakan.”
“Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Ānanda menjawab. Sang
Bhagavā berkata sebagai berikut:
8. “Ānanda, ada empat jenis orang terdapat di dunia
ini. Apakah empat ini? Di sini seseorang membunuh makhluk-makhluk hidup,
mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria,
mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata
kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan
salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam
kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan,
bahkan di neraka.
[Kitab Komentar : Bagian itu
tidak menjelaskan pengetahuan Sang Tathāgata mengenai penjelasan panjang
tentang perbuatan, tetapi membentuk kerangka yang bertujuan untuk menyajikan
penjelasan.]
“Tetapi di sini seseorang membunuh makhluk-makhluk
hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan
indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan
kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut
pandangan salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali
di alam bahagia, bahkan di alam surga.
“Di sini seseorang menghindari membunuh
makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan,
menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan
kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah, [210] menghindari
mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak tamak, tidak memiliki
pikiran permusuhan, dan ia menganut pandangan benar. Ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga.
“Tetapi di sini seseorang menghindari membunuh
makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan,
menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan
kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah, [210] menghindari
mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak tamak, tidak memiliki
pikiran permusuhan, dan ia menganut pandangan benar. Ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan
kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka.
9. “Di sini, Ānanda, melalui semangat, usaha,
kegigihan, ketekunan, dan perhatian benar, seorang petapa atau brahmana
mencapai konsentrasi pikiran sedemikian sehingga, ketika pikirannya
terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat
orang itu di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak
diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan,
mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak,
memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah, dan ia melihat bahwa
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi
menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan,
bahkan di neraka. Ia berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan jahat, ada akibat
dari perilaku salah; karena aku melihat seseorang di sini yang membunuh
makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah
dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah,
mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan,
dan menganut pandangan salah, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan
kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka.’ Ia berkata sebagai berikut:
‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang membunuh
makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah muncul kembali dalam
kondisi menderita … bahkan di neraka. Mereka yang mengetahui demikian mengetahui
yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru.’ Demikianlah
ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia
temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’
10. “Tetapi di sini, Ānanda, [211] melalui semangat
… seorang petapa atau brahmana mencapai konsentrasi pikiran sedemikian
sehingga, ketika pikirannya terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan
melampaui manusia, ia melihat orang itu di sini yang membunuh makhluk-makhluk
hidup ... dan menganut pandangan salah, dan ia melihat bahwa ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. Ia berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan jahat, tidak
ada akibat dari perilaku salah; karena aku melihat seseorang di sini yang
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, dan aku melihat
bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam
bahagia, bahkan di alam surga.’ Ia berkata sebagai berikut: ‘Ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, semua orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup …
dan menganut pandangan salah muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. Mereka yang mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang
berpikir sebaliknya adalah keliru.’ Demikianlah ia dengan keras kepala melekat pada apa yang
telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang
benar, yang lainnya adalah salah.’
11. “Di sini, Ānanda, melalui semangat … seorang
petapa atau brahmana mencapai konsentrasi pikiran sedemikian sehingga, ketika
pikirannya terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia,
ia melihat orang itu di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup
... dan menganut pandangan benar, dan ia melihat bahwa ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. Ia berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan baik, ada akibat
dari perilaku baik; karena aku melihat seseorang di sini yang menghindari
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan aku melihat
bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam
bahagia, bahkan di alam surga.’ Ia berkata sebagai berikut: ‘Ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, semua orang yang menghindari membunuh
makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar muncul kembali di alam
bahagia, bahkan di alam surga. Mereka yang mengetahui demikian mengetahui yang
benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru.’ Demikianlah
ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia
temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’
12. “Tetapi di sini, Ānanda, [212] melalui semangat
… seorang petapa atau brahmana mencapai konsentrasi pikiran sedemikian
sehingga, ketika pikirannya terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan
melampaui manusia, ia melihat orang itu di sini yang menghindari membunuh
makhluk-makhluk hidup ... dan menganut pandangan benar, dan ia melihat bahwa
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi
menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan,
bahkan di neraka. Ia berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan baik, tidak
ada akibat dari perilaku baik; karena aku melihat seseorang di sini yang
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan
aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali
dalam kondisi menderita … bahkan di neraka.’ Ia berkata sebagai berikut:
‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang menghindari
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar muncul kembali
muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka. Mereka yang mengetahui
demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru.’
Demikianlah ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui,
ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang
lainnya adalah salah.’
13. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau
brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan jahat, ada akibat
dari perilaku salah,’ Aku membenarkan ini. Ketika ia mengatakan: ‘Aku melihat
seseorang di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan
salah, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia
muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’ Aku juga
membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, semua orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut
pandangan salah muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’
Aku tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras kepala melekat pada apa
yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini
yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda,
pengetahuan Sang Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah
tidak seperti itu.
[Kitab Komentar : Bagian di
atas juga tidak membabarkan pengetahuan mengenai penjelasan panjang tentang
perbuatan, tetapi masih membentuk kerangka. Tujuannya di sini adalah untuk
menunjukkan apa yang dapat diterima dan apa yang harus ditolak dari pernyataan
para petapa dan brahmana luar. Singkatnya, dalil yang melaporkan pengamatan
langsung mereka dapat diterima, tetapi generalisasi yang mereka turunkan dari pengamatan itu harus
ditolak.]
14. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau
brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan jahat, tidak
ada akibat dari perilaku salah,’ Aku tidak membenarkan ini. Ketika ia
mengatakan: ‘Aku melihat seseorang di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup
… dan menganut pandangan salah, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’ Aku
membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, semua orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut
pandangan salah muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’ [213] Aku
tidak membenarkan ini. Dan ketika ia mengatakan: ‘Mereka yang mengetahui
demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru,’
Aku juga tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras kepala melekat pada
apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya
ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda,
pengetahuan Sang Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah
tidak seperti itu.
15. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau
brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan baik, ada akibat
dari perilaku baik,’ Aku membenarkan ini. Ketika ia mengatakan: ‘Aku melihat
seseorang di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan
menganut pandangan benar, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’ Aku
juga membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, semua orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan
menganut pandangan benar muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’
Aku tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras kepala melekat pada apa
yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini
yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda,
pengetahuan Sang Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah
tidak seperti itu.
16. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau
brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan baik, tidak
ada akibat dari perilaku baik,’ Aku tidak membenarkan ini. Ketika ia
mengatakan: ‘Aku melihat seseorang di sini yang menghindari membunuh
makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan aku melihat bahwa
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi
menderita … bahkan di neraka,’ Aku membenarkan ini. Tetapi ketika ia
mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar
muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’ Aku
tidak membenarkan ini. Dan ketika ia mengatakan: [214] ‘Mereka yang
mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya
adalah keliru,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras
kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan
memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku
juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda, pengetahuan Sang
Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah tidak seperti itu.
17. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan
di neraka: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang
dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang
dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan
menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka. Dan
karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan
salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan
saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa
kelahiran setelahnya.
[Kitab Komentar : Paragraf di
atas, dimulai penjelasan atas pengetahuan mengenai penjelasan panjang tentang
perbuatan. Orang yang dilihat melalui mata dewa melakukan pembunuhan
makhluk-makhluk hidup, dan seterusnya, terlahir kembali di neraka karena perbuatan
jahat lain yang telah ia lakukan sebelum ia melakukan pembunuhan, dan
seterusnya, atau karena perbuatan jahat yang ia lakukan setelahnya, atau karena
pandangan salah yang ia terima pada saat kematian. Walaupun Pāli sepertinya
mengatakan bahwa ia seharusnya terlahir kembali di neraka karena
perbuatan-perbuatan selain dari yang terlihat sedang ia lakukan, ini jangan
dipahami sebagai suatu pernyataan pasti melainkan hanya sebagai suatu
pernyataan kemungkinan. Yaitu, walaupun mungkin saja bahwa ia terlahir kembali
di neraka karena perbuatan jahat yang ia terlihat lakukan, tetapi mungkin juga bahwa
ia terlahir kembali di neraka karena perbuatan-perbuatan jahat lain yang ia
lakukan sebelumnya atau sesudahnya atau karena pandangan salah.
Pernyataan “ia akan
mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali
berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya” ini menunjukkan bahwa bahkan
jika kamma buruknya tidak menghasilkan modus kelahiran kembali, namun kamma
itu akan tetap matang baginya dalam suatu cara apakah dalam kehidupan ini,
dalam kehidupan berikut, atau dalam beberapa kehidupan setelah itu.]
18. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan
sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan
menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Dan karena
ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah,
ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau
dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.
[Kitab Komentar : Dalam kasus
ini, yakni “apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut
pandangan benar” kelahiran kembali di alam surga pasti disebabkan karena
perbuatan-perbuatan lainnya selain dari perbuatan yang terlihat sedang ia
lakukan, karena suatu perbuatan jahat tidak dapat menghasilkan modus kelahiran
kembali yang beruntung.]
19. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia,
bahkan di alam surga: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik
yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan
menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Dan karena
ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup [215] … dan
menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan
saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa
kelahiran setelahnya.
20. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi
menderita … bahkan di neraka: apakah sebelumnya telah melakukan
perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan
perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia
memperoleh dan menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan
di neraka. Dan karena ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk
hidup … dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan
saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa
kelahiran setelahnya.
21. “Demikianlah, Ānanda, ada perbuatan yang tidak mampu dan
tampak tidak mampu; ada perbuatan yang tidak mampu dan tampak mampu; ada
perbuatan yang mampu dan tampak mampu; dan ada perbuatan yang mampu dan tampak
tidak mampu.”
[Kitab Komentar menjelaskan abhabba,
tidak mampu, sebagai tidak bermanfaat (akusala), disebut “tidak mampu”
karena kosong dari kapasitas untuk tumbuh; dan bhabba, mampu, sebagai
bermanfaat, disebut ‘”mampu” karena memiliki kapasitas untuk tumbuh.
Penjelasan dalam Kitab
Komentar, menurut Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi selaku
penerjemah, tampaknya meragukan; bhabba (Skt bhavya) hanya
bermakna “berpotensi, mampu menghasilkan akibat,” tanpa menyiratkan penilaian
moral tertentu. Kitab Komentar memberikan dua penjelasan atas tetrad ini. Yang
pertama berangkat dengan menganggap akhiran –ābhāsa sebagai bermakna
“mengungguli” atau “mengatasi,” dan dengan demikian keempat kata itu
menunjukkan cara suatu kamma dari satu kualitas dapat “mengungguli” kamma
lainnya dalam menghasilkan akibatnya. Penjelasan ke dua yang tampaknya lebih
meyakinkan, menganggap –ābhāsa sebagai bermakna “tampak,” yang
penerjemah ikuti dalam terjemahan ini.
Pada penjelasan ini, jenis
pertama diilustrasikan oleh orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup dan
terlahir kembali di neraka: perbuatannya tidak mampu menghasilkan (akibat baik)
karena perbuatan itu adalah tidak bermanfaat, dan tampak tidak mampu karena ia
terlahir kembali di neraka, yang sepertinya menjadi sebab bagi kelahiran
kembalinya di sana. Yang ke dua diilustrasikan oleh orang yang membunuh
makhluk-makhluk hidup dan terlahir kembali di alam surga: perbuatannya tidak
mampu menghasilkan (akibat baik) karena perbuatan itu adalah tidak bermanfaat,
namun tampak mampu karena ia terlahir kembali di alam surga; demikianlah
bagi para petapa dan brahmana luar, hal ini tampak seperti sebab bagi
kelahirannya di alam surga. Kedua kata berikutnya harus dipahami dengan
cara yang sama, dengan perubahan seperlunya.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Yang Mulia Ānanda merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.