Deterministik Hukum Karma Bukanlah Ajaran Buddhisme, itu Paham Jainisme yang secara Tegas Ditolak oleh Sang Buddha
Question : Ada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai seorang Buddhis, lalu secara seenaknya menghakimi orang lain yang sedang dalam kondisi lemah dan malang, sebagai sedang berbuah karma buruknya sehingga tidak boleh marah sekalipun dizolimi dan terzolimi. Bagaimana pandangan yang benar, menyikapi fenomena sosial demikian?
Brief
Answer : Tidaklah bijaksana sikap
menghakimi orang lain ketika mereka sedang mengalami musibah, bencana,
ketidak-mujuran, ketidak-beruntungan, maupun kemalangan, sebagai “karma
buruknya sedang berbuah” atau seperti “karma buruknya sedang berbuah, sehingga tidak
perlu ditolong / dibantu”. Itu sama tidak bijaksananya dengan orang-orang yang
menampar wajah orang lain, lalu menyatakan bahwa Tuhan telah memberi izin dan
atas dasar kuasa / kehendaknya maka tamparan di wajah itu serjadi, atau sebagai
“sudah menjadi rencana Tuhan” untuk tidak menolong engkau.
Semata
karena dalam kondisi yang lebih beruntung sementara pihak yang ia hakimi sedang
kurang beruntung, bukan berarti kita boleh bersikap dikuasai “kesombongan atas
keberuntungan kita”, sama seperti tidak bijaksananya kaum umat agama samami
yang menyatakan “almamdullilah saya dan keluarga saya selamat, sementara tetangga
saya dan keluarganya tewas dalam musibah ini”. Siapa yang bisa menjamin, kelak
merekalah yang akan balik menghakimi ketika kebentungan mereka bangkit,
sementara keberuntungan Anda mulai menipis. Itu bagai berspekulasi dengan
kehidupan, sekalipun roda terus berputar dan terjadi perubahan posisi dalam
percaturan kehidupan.
Mengkait-kaitkan
segala-sesuatunya dengan Karma, itu adalah paham Jainisme yang telah ditolak
oleh Sang Buddha. Bila Hukum Karma sedeterministik itu, maka tiada mungkin Pangeran
Siddhatta Gotama dapat berjuang “break the chain / shackle of karmic law”
(memutus belenggu rantai Karma) dan terbebas dari jeratan tumimbal-lahir tanpa
akhir. Hanya seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian Arahant, yang benar-benar
mampu memahmi perihal Hukum Karma sepenuhnya, bukan orang awam kebanyakan.
Hanya seorang
Buddha, sang Arahant, yang memiliki kapasitas untuk menilai, apakah sesuatu peristiwa
yang dialami oleh seseorang adalah Karma (perbuatan) masa lampau yang sedang berbuah
pada masa kini atau justru “perbuatan baru” yang buahnya akan berbuah di masa
mendatang. Contoh, sutta menyebutkan bahwa seseorang dapat jatuh sakit, bisa
jadi bukan karena faktor “buah Karma”, akan tetapi karena faktor makanan yang
kita pilih untuk kita makan, dimana makanan yang tidak sehat sebagai
konsekuensinya jatuh sakit.
PEMBAHASAN:
Bahkan seorang Buddha sekalipun pernah dilukai, akan tetapi Beliau tidak menyatakan
bahwa itu adalah “buah” atau “akibat” dari suatu “perbuatan” atau “sebab”. Kita,
umat awam, sejatinya hanya berspekulasi bahwa itu adalah “buah / akibat”
ataukah “sebab / perbuatan baru”. Selengkapnya dapat kita simak dalam
“Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”,
Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of
the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 50 ~
Māratajjanīya
Sutta: Teguran kepada Māra
[332] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Yang Mulia Mahā
Moggallāna sedang menetap di negeri Bhagga di Suṁsumāragira di Hutan Bhesakaḷā, Taman Rusa.
2. Pada saat itu Yang Mulia Mahā Moggallāna sedang berjalan mondar-mandir
di ruang terbuka. Dan pada saat itu Māra si Jahat masuk ke dalam perut Yang
Mulia Mahā Moggallāna dan memasuki ususnya. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna
mempertimbangkan: “Mengapa perutku menjadi sangat berat? Seseorang akan
berpikir bahwa perutku penuh kacang.”
Demikianlah ia meninggalkan jalan setapak itu dan memasuki kediamannya,
di mana ia duduk di tempat yang telah tersedia.
3. Ketika ia telah duduk, ia mengerahkan pengamatan penuh pada dirinya,
dan melihat bahwa Māra si Jahat telah memasuki perutnya dan masuk ke dalam
ususnya. Ketika ia melihat ini, ia berkata: “Keluarlah, Yang Jahat! Jangan
mengganggu Sang Tathāgata, jangan menganggu siswa Sang Tathāgata, atau hal ini akan
membawamu ke dalam bencana dan penderitaan untuk waktu yang lama.”
4. Kemudian Māra si Jahat berpikir: “Petapa ini tidak mengenali aku, ia
tidak melihat aku ketika ia mengatakan itu. Bahkan gurunya tidak akan
mengenaliku begitu cepat, bagaimana mungkin siswa ini mengenaliku?”
5. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata: “Meskipun demikian, aku
mengenalimu, Yang Jahat. Jangan berpikir: ‘Ia tidak mengenaliku.’ Engkau adalah
Māra, si Jahat, engkau berpikir: ‘Petapa ini tidak mengenali aku, ia tidak
melihat aku ketika ia mengatakan itu. Bahkan gurunya tidak akan mengenaliku
begitu cepat, bagaimana mungkin siswa ini mengenaliku?’”
6. Kemudian Māra si Jahat berpikir: “Petapa ini mengenali aku, ia melihat
aku ketika ia mengatakan itu,” kemudian ia [333] keluar dari mulut Yang Mulia
Mahā Moggallāna dan berdiri dengan bersandar pada palang pintu.
7. Yang Mulia Mahā Moggallāna melihatnya berdiri di sana dan berkata:
“Aku melihat engkau di sana juga, Yang Jahat. Jangan berpikir: ‘Ia tidak
melihatku.’ Engkau sedang berdiri bersandar pada palang pintu, Yang Jahat.
8. “Pernah terjadi suatu ketika, Yang Jahat, aku adalah Māra bernama
Dūsi, dan aku memiliki saudara perempuan bernama Kāli. Engkau adalah putranya,
maka engkau adalah keponakanku,
[Kitab Komentar : Nama “Dūsi” berarti
“Penjahat” atau “Yang Jahat.” Dalam konsep semesta Buddhis, posisi Māra,
seperti halnya Mahā Brahmā, adalah posisi yang tetap yang dipegang oleh
individu-individu berbeda sesuai dengan kamma mereka.]
9. “Pada saat itu Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, telah muncul di dunia. Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan
tercerahkan sempurna, memiliki sepasang siswa utama yang mulia bernama Vidhura
dan Sañjiva. Di antara para siswa Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan
tercerahkan sempurna, tidak ada yang menandingi Yang Mulia Vidhura dalam hal mengajarkan
Dhamma. Itulah sebabnya Yang Mulia Vidhura memperoleh nama ‘Vidhura.’ Tetapi
Yang Mulia Sañjiva, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong,
tanpa kesulitan masuk ke dalam lenyapnya persepsi dan perasaan.
[Kitab Komentar : Kakusandha merupakan Buddha
pertama yang muncul dalam siklus kosmis yang sekarang ini, yang disebut “masa
keberuntungan.” Beliau diikuti oleh Buddha Konagamaṇa dan
Kassapa, dan setelahnya adalah kemunculan Buddha Gotama yang sekarang ini.
Nama “Vidhura” berarti “Yang tanpa banding”.]
10. “Pernah terjadi pada suatu ketika, Yang Mulia Sañjiva telah duduk di
bawah sebatang pohon dan memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan. Beberapa
orang penggembala sapi, penggembala kambing, pembajak sawah, dan pengembara
melihat Yang Mulia Sañjiva sedang duduk di bawah pohon setelah memasuki
lenyapnya persepsi dan perasaan, dan mereka berpikir: ‘Sungguh mengagumkan,
tuan-tuan, sungguh menakjubkan! Petapa ini mati sambil duduk. Mari kita mengkremasinya.’
Kemudian para penggembala sapi, penggembala kambing, pembajak sawah, dan
pengembara itu mengumpulkan rumput, kayu, dan kotoran sapi, dan setelah
menumpuknya di atas tubuh Yang Mulia Sañjiva, mereka membakarnya dan pergi.
11. “Sekarang, Yang Jahat, ketika malam telah berlalu, Yang Mulia Sañjiva
keluar dari pencapaian itu. Ia mengibaskan jubahnya, karena hari telah pagi, ia
merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia memasuki desa
untuk menerima dana makanan. Para penggembala sapi, penggembala kambing,
pembajak sawah, dan pengembara melihat Yang Mulia Sañjiva berjalan menerima
dana makanan, dan mereka berpikir: ‘Sungguh mengagumkan, tuan-tuan, sungguh
menakjubkan! Petapa ini yang mati sambil duduk telah hidup kembali!’ [334]
Itulah sebabnya Yang Mulia Sañjiva memperoleh nama ‘Sañjiva.’
[Kitab Komentar : Seorang yang telah memiliki
pencapaian kekuatan batin merealisasi lenyapnya persepsi dan perasaan,
sepertinya, tidak akan mengalami luka atau kematian di dalam pencapaian itu
sendiri. Pada Visuddhimagga XXIII, 37 dikatakan bahwa pencapaian itu melindungi
bahkan benda-benda miliknya seperti jubah dan tempat duduknya dari kehancuran.
Nama “Sañjiva” berarti “Yang selamat”.]
12. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi mempertimbangkan: ‘terdapat para
bhikkhu bermoral dan berkarakter baik ini, tetapi aku tidak mengetahui
kedatangan dan kepergian mereka. Aku akan menguasai para brahmana perumah-tangga,
dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah, caci, maki, cela, dan ganggulah para
bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika mereka dicaci,
dimaki, dicela, dan digoda oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam
pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.”’
[Kitab Komentar : Māra berupaya “memancing di air
keruh”, berharap agar para bhikkhu yang diperlakukan buruk oleh warga, akan
memperlihatkan “noda-noda kekotoran batin” dalam pikiran mereka, noda-noda mana
akan mencegah mereka membebaskan diri dari saṁsāra. Itu menyerupai “perang proxy”,
dimana pihak yang sebetulnya menjadi target utama godaan Māra ialah para
bhikkhu.]
13. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi menguasai para brahmana
perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: ‘Marilah, caci, maki, cela,
dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika
mereka dicaci, dimaki, dicela, dan diganggu oleh kalian, beberapa perubahan akan
terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.’
Kemudian, ketika Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga, mereka
mencaci, memaki, mencela, dan mengganggu para bhikkhu bermoral dan berkarakter
baik sebagai berikut: ‘Para petapa berkepala gundul ini, budak-budak berkulit
gelap keturunan kaki Leluhur, mengaku: “Kami adalah meditator, kami adalah
meditator!” dan dengan bahu membungkuk, kepala menunduk, dan seluruh tubuh lemas,
mereka bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan
bermeditasi secara keliru. Seperti halnya seekor burung hantu yang menghinggapi
sebuah dahan menunggu seekor tikus, bermeditasi, mengulangi meditasi,
bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya
seekor serigala di tepi sungai menunggu ikan, bermeditasi, mengulangi meditasi,
bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya
seekor kucing, menunggu seekor tikus di lorong atau saluran pembuangan atau
tempat sampah, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi,
dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor keledai yang tanpa
beban, berdiri di dekat tiang pintu atau tempat sampah atau saluran pembuangan,
bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi
secara keliru, demikian pula, Para petapa berkepala gundul ini, budak-budak
berkulit gelap keturunan kaki Leluhur, mengaku: “Kami adalah meditator, kami
adalah meditator!” dan dengan bahu membungkuk, kepala menunduk, dan seluruh
tubuh lemas, mereka bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik
lagi, dan bermeditasi secara keliru.’ Sekarang,
Yang Jahat, pada masa itu sebagian besar manusia, ketika mati, muncul kembali
setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, dalam kondisi buruk, di alam yang
tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. [335]
[Kitab Komentar bersusah-payah menunjukkan bahwa
Māra tidak mengerahkan kekuatan untuk mengendalikan perbuatan mereka, yang mana
jika demikian maka ia sendiri yang akan bertanggung jawab dan para brahmana
tidak menghasilkan kamma buruk karena perbuatan itu. Sebaliknya, Māra membuat
para brahmana membayangkan gambaran para bhikkhu yang terlibat dalam perilaku
yang tidak selayaknya, dan ini membangkitkan kebencian mereka dan memicu mereka
untuk menggoda para bhikkhu itu. Niat Māra dalam melakukan hal itu adalah untuk
membangkitkan kemarahan dan kekesalan para bhikkhu.
“Leluhur” (bandhu) adalah Brahmā, yang
disebut demikian oleh para brahmana karena mereka menganggapnya sebagai leluhur
pertama. Kitab Komentar menjelaskan bahwa adalah kepercayaan di antara para
brahmana bahwa mereka adalah keturunan mulut Brahmā, khattiya adalah
keturunan dada Brahmā, vessa dari perut, sudda dari kaki, dan samaṇa dari telapak kaki.
Jhāyanti pajjhāyanti nijjhāyanti apajjhāyanti, “bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi
lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru”. Walaupun kata kerja ini secara
berdiri sendiri tidak memiliki makna negatif, rangkaian ini jelas dimaksudkan
sebagai penurunan. Pada Majjhima Nikāya 108.26 empat kata kerja ini digunakan
untuk menggambarkan meditasi seseorang yang pikirannya dikuasai oleh lima
rintangan.]
14. “Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna,
berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, Māra Dūsi telah
menguasai para brahmana perumah-tangga dengan mengatakan kepada mereka:
“Marilah, caci, maki, cela, dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter
baik; dan mungkin ketika mereka dicaci, dimaki, dicela, dan diganggu oleh
kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi
akan memperoleh kesempatan.” Ayo,
para bhikkhu, berdiamlah dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh
cinta kasih, demikian pula dengan arah ke dua, demikian pula dengan arah ke
tiga, demikian pula dengan arah ke empat; ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan
ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri kalian sendiri,
berdiamlah dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran penuh cinta kasih,
berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Berdiamlah
dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh belas kasih … dengan pikiran
penuh dengan kegembiraan altruistik … dengan pikiran penuh dengan keseimbangan
… berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.’
[Kitab Komentar : Empat brahmavihāra adalah
penawar (objek meditasi) yang tepat bagi permusuhan pada orang lain, serta bagi
kecenderungan pada kemarahan dan kekesalan dalam pikiran seseorang.]
15. “Maka, Yang Jahat, ketika para bhikkhu itu telah dinasihati dan
diberi instruksi oleh Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, kemudian, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong,
mereka berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh dengan cinta
kasih … dengan pikiran yang penuh dengan belas kasih … dengan pikiran yang
penuh dengan kegembiraan altruistik … dengan pikiran yang penuh dengan
keseimbangan … tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.
16. “Kemudian, si Jahat, Māra Dūsi mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Walaupun
aku melakukan seperti apa yang sedang kulakukan, namun aku masih tidak
mengetahui kedatangan dan kepergian para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik
ini. Aku akan menguasai para brahmana perumah-tangga, dengan mengatakan kepada
mereka: “Marilah sekarang, hormati, hargai, sembah, dan muliakanlah para
bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; [336] dan mungkin, ketika mereka
dihormati, dihargai, disembah, dan dimuliakan oleh kalian, beberapa perubahan akan
terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.”’
[Kitab Komentar : Kali ini Māra berniat untuk
menjatuhkan para bhikkhu dalam kesombongan, kepuasan, dan kelengahan. Namun,
Māra akan mendapati para bhikkhu yang menjadi target utamanya telah ternyata
telah merealisasi “keseimbangan batin”.]
17. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi menguasai para brahmana
perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: ‘Marilah sekarang, hormati, hargai,
sembah, dan muliakanlah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan
mungkin, ketika mereka dihormati, dihargai, disembah, dan dimuliakan oleh
kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi
akan memperoleh kesempatan.’ Kemudian, ketika Māra Dūsi telah menguasai
para brahmana perumah-tangga, mereka menghormati, menghargai, menyembah, dan
memuliakan para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik itu. Sekarang, Yang Jahat,
pada masa itu sebagian besar manusia, ketika mati, muncul kembali setelah
hancurnya jasmani, setelah kematian, dalam kondisi bahagia, bahkan di alam
surga.
18. “Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, Māra Dūsi
telah menguasai para brahmana perumah-tangga dengan mengatakan kepada mereka:
“Marilah sekarang, hormati, hargai, sembah, dan muliakanlah para bhikkhu
bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin, ketika mereka dihormati, dihargai, disembah,
dan dimuliakan oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran
mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.” Ayo, para bhikkhu,
berdiamlah dengan merenungkan kejijikan dalam jasmani, melihat kejijikan dalam
makanan, merasakan kekecewaan terhadap segalanya di dunia, merenungkan
ketidak-kekalan dalam segala bentukan.’
[Kitab Komentar mengutip sebuah sutta dari Anguttara
Nikāya 7:46/iv.46-53, yang menyebutkan bahwa objek meditasi berupa empat
perenungan demikian adalah penawar, berturut-turut, bagi keinginan indria,
ketagihan pada rasa kecapan, ketertarikan pada dunia, dan ketergila-gilaan pada
perolehan, kehormatan, dan pujian, termasuk keinginan terhadap
penjelmaan-kembali.]
19. “Maka, Yang Jahat, ketika para bhikkhu itu telah dinasihati dan
diberi instruksi oleh Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, kemudian, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong,
mereka berdiam dengan merenungkan kejijikan dalam jasmani, melihat kejijikan
dalam makanan, merasakan kekecewaan terhadap segalanya di dunia, merenungkan
ketidak-kekalan dalam segala bentukan.
20. “Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna
dan tercerahkan sempurna, merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah
luarNya, ia pergi ke desa untuk menerima dana makanan dengan Yang Mulia Vidhura
sebagai pelayanNya.
21. “Kemudian Māra Dūsi menguasai seorang anak, dan dengan
mengambil sebongkah batu, ia melempari Yang Mulia Vidhura di kepalanya dengan
batu itu dan melukai kepalanya. Dengan darah menetes dari kepalanya yang
terluka, [337] Yang Mulia Vidhura mengikuti persis di belakang Sang Bhagavā
Kakusandha yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Kemudian Sang Bhagavā
Kakusandha yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berbalik dan melihatnya
dengan tatapan gajah: ‘Māra Dūsi ini tidak mengenal batas.’ Dan dengan tatapan itu,
si Jahat, Māra Dūsi jatuh dari tempat itu dan muncul kembali di Neraka Besar.
[Kitab Komentar : Tatapan gajah (nāgapalokita)
berarti bahwa tanpa menggerakkan leher, ia memutar seluruh tubuhnya untuk
menatap. Māra Dūsi bukan mati karena tatapan gajah Sang Buddha melainkan karena
kamma buruk yang ia hasilkan dalam menyerang seorang siswa utama yang
memotong kehidupannya pada saat itu juga.]
22. “Sekarang,
Yang Jahat, ada tiga sebutan bagi Neraka Besar: neraka enam landasan kontak,
neraka tusukan tombak, dan neraka yang dirasakan untuk diri sendiri. Kemudian,
Yang Jahat, penjaga neraka mendatangiku dan berkata: ‘Tuan, ketika tombak
bertemu tombak di jantungmu, maka engkau akan tahu: “Aku sudah terpanggang di
neraka selama seribu tahun.”’
[Kitab Komentar : Neraka Besar, juga disebut Avīci,
dijelaskan secara lengkap dalam Majjhima Nikāya 130.16-19.]
23. “Selama
bertahun-tahun, Yang Jahat, selama berabad-abad, selama ribuan tahun, aku
terpanggang di Neraka Besar. Selama sepuluh milenium aku terpanggang di Neraka
Besar tambahan, mengalami perasaan yang disebut neraka yang muncul dari
kematangan. Tubuhku berbentuk sama dengan tubuh manusia, Yang Jahat, tetapi
kepalaku menyerupai kepala ikan.
[Kitab Komentar : “Perasaan yang disebut neraka yang
muncul dari kematangan” ini, yang dialami dalam tambahan (ussada) dari
Neraka Besar, dikatakan lebih menyakitkan daripada perasaan yang dialami dalam
Neraka Besar itu sendiri.]
24. “Bagaimanakah neraka dapat diperbandingkan
Di mana Dūsi terpanggang, si penyerang
Vidhura Sang Siswa
Dan Sang Brahmana Kakusandha?
[Kitab Komentar : Buddha Kakusandha disebut Brahmana
dalam makna seperti pada Majjhima Nikāya 39.24.]
Tombak-tombak baja, bahkan berjumlah seratus,
Masing-masing diderita secara terpisah;
Dengan
inilah neraka itu dapat diperbandingkan
Di mana Dūsi terpanggang, si penyerang
Vidhura Sang Siswa
Dan Sang Brahmana Kakusandha.
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita
Dengan menyerang seorang bhikkhu demikian,
Seorang siswa dari Yang Tercerahkan
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
25. “Di tengah samudra
Terdapat istana-istana yang bertahan selama satu kappa,
Bersinar safir, memancarkan api
Dengan kilauan jernih yang tembus pandang,
Di mana bidadari laut warna-warni menari
Dalam irama yang rumit dan sulit diikuti
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita …
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
26. “Aku adalah seorang yang, ketika dinasihati
Oleh Yang Tercerahkan secara pribadi,
Mengguncang Istana Ibunya Migāra
Dengan jari kaki, dengan disaksikan oleh Saṅgha.
[Kitab Komentar : Referensinya adalah pada Saṁyutta
Nikāya 51:14/v.269-70.]
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita …
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
27. “Aku adalah seorang yang, secara kokoh
mengerahkan
Kekuatan batin,
Mengguncang seluruh Istana Vejayanta
Dengan jari kaki untuk mendorong para dewa: [338]
[Kitab Komentar : Peristiwa ketika Moggallāna mengunjungi istana dewa di
alam dewata dan memberikan teguran kepada para dewa, dapat dibaca pada Majjhima
Nikāya Sutta 37.11, berupa kutipan ayat berikut dari Cūḷataṇhāsankhaya
Sutta:
“Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna
mempertimbangkan sebagai berikut: “Makhluk-makhluk ini hidup dengan sangat
lalai. Bagaimana jika aku membangkitkan dorongan spiritual yang mengesankan
dalam dirinya?” Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna melakukan keajaiban dengan
kekuatan batinnya sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana
Vejayanta bergoyang, berguncang dan bergetar. Sakka dan Raja Dewa Vessavaṇa dan para dewa Tiga Puluh Tiga merasa kagum dan takjub, dan mereka
berkata: “Tuan-tuan, sangat mengagumkan, sangat menakjubkan, sungguh petapa itu
memiliki kekuatan dan kesaktian, sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat
Istana alam surga ini, berguncang dan bergetar!”]
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita …
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
28. “Aku adalah seorang yang, di Istana itu
Mengajukan pertanyaan ini kepada Sakka:
‘Tahukah
engkau, teman, kebebasan
Dalam
hancurnya ketagihan sepenuhnya?’
Yang mana Sakka menjawab dengan benar
Sesuai dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya:
[Kitab Komentar : Merujuk Majjhima Nikāya sutta 37.12, Cūḷataṇhāsankhaya
Sutta, berupa kutipan ayat berikut:
“Ketika Yang Mulia Mahā Moggallāna mengetahui bahwa
Sakka, penguasa para dewa, telah tergerak oleh dorongan spiritual yang
mengesankan, ia bertanya kepadanya: “Kosiya, bagaimanakah Sang Bhagavā
menjelaskan kepadamu secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya
ketagihan? Baik sekali jika kami juga mendengarkan pernyataan itu.”
“Tuan Moggallāna yang baik, aku mendatangi Sang
Bhagavā, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, aku berdiri di satu sisi dan
berkata: ‘Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkas seorang bhikkhu terbebaskan
dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi,
keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi,
seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia?” Ketika hal ini
dikatakan, Tuan Moggallāna yang baik, Sang Bhagavā memberitahuku: ‘Di sini,
penguasa para dewa, seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak
dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak
dilekati, ia secara langsung sepenuhnya mengetahui segala sesuatu; setelah
sepenuhnya mengetahui segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami segala sesuatu;
setelah sepenuhnya memahami segala sesuatu, apapun perasaan yang ia rasakan,
apakah menyenangkan atau menyakitkan atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia berdiam dengan merenungkan
ketidak-kekalan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan peluruhannya,
merenungkan lenyapnya, merenungkan pelepasannya. Dengan merenungkan demikian,
ia tidak melekat pada apapun di dunia. Ketika ia tidak melekat, ia tidak terganggu.
Ketika ia tidak terganggu, ia secara pribadi mencapai Nibbāna. Ia memahami:
‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus
dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi
makhluk apapun.’ Secara ringkas, dengan cara inilah, penguasa para dewa, bahwa
seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah
mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi,
tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia.’
Demikianlah bagaimana Sang Bhagavā menjelaskan kepadaku secara ringkas mengenai
kebebasan dalam hancurnya keinginan, Tuan Moggallāna.”]
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita …
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
29. “Aku adalah seorang yang, terpikir untuk
mengajukan
Pertanyaan ini kepada Brahmā
Di Aula Suddhama di surga:
‘Masih
adakah padamu, teman,
Pandangan
salah yang pernah engkau terima?
Apakah
engkau melihat cahaya
Yang
melampaui cahaya alam Brahmā?’
Kemudian Brahmā menjawab pertanyaanku
Dengan jujur dan sesuai urutan:
‘Tidak
ada lagi padaku,
Tuan,
pandangan salah yang pernah kugenggam;
Sungguh
aku melihat cahaya
Yang
melampaui cahaya alam Brahmā.
Sekarang
bagaimana mungkin aku mempertahankan
Bahwa
aku adalah kekal dan abadi?’:
[Kitab Komentar : Referensi kisah kejadiannya adalah
pada Saṁyutta Nikāya 6:5/i.145.]
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita …
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
30. “Aku adalah seorang yang, dengan kebebasan,
Telah menyentuh puncak Gunung Sineru,
Mengunjungi hutan Pubbavidehi
Dan manusia manapun yang mendiami bumi.
[Kitab Komentar : Syair tersebut merujuk pada
kemampuan Yang Mulia Moggallāna dalam mengerahkan kekuatan batin terbang di
angkasa seperti burung.]
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita
Dengan menyerang seorang bhikkhu demikian,
Seorang siswa dari Yang Tercerahkan
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
31. “Tidak
pernah ada api
Yang
berniat, ‘aku akan membakar si dungu,’
Tetapi
si dungu yang menyerang api
Membakar
dirinya dengan perbuatannya sendiri
Demikian
pula engkau, O Māra:
Dengan
menyerang Sang Tathāgata,
Bagaikan
si dungu yang bermain api
Engkau
hanya akan membakar dirimu sendiri.
Dengan
menyerang Sang Tathāgata,
Engkau
menghasilkan banyak keburukan.
Yang
Jahat, apakah engkau membayangkan
Bahwa
kejahatanmu tidak akan matang?
Dengan
melakukan demikian, engkau menimbun kejahatan
Yang
akan bertahan lama, O Pembuat-Akhir!
Māra,
menjauhlah dari Yang Tercerahkan,
Jangan
lagi memainkan tipuanmu pada para bhikkhu.”
Demikianlah
bhikkhu itu menyadarkan Māra
Dalam
belantara Bhesakaḷā
Kemudian
makhluk gelap itu
Lenyap
di sana pada saat itu juga
©
Hak
Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril,
dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku
Penulis.