Ketika Kaum yang Paling Inferior Berdelusi sebagai Paling Superior, lalu Menghakimi Kaum Lainnya
Question : Banyak orang Indonesia begitu rasis dan fasis. Contoh, mereka begitu benci pada kaum Yahudi, serta kerap rasis (diskriminatif) terhadap kaum etnik Tionghua. Disaat bersamaan, kaum pribumi di Tanah Air begitu bermental feodal, bila bertemu pejabat maka berperilaku bak kasta rendahan. Berhadapan dengan orang asing, mental mereka terlihat seakan dari kaum yang inferior alias rendah diri. Ketika mereka pergi melancong ke luar negeri, sifat kampungannya minta ampun.
Tidak jarang mereka meremehkan warga yang tampil
sederhana, sementara terhadap yang kaya secara materi dan mengenakan busana dari
jas mahal maka mereka memberinya hormat dan bebas keluar-masuk perkantoran
pemerintahan dengan leluasa. Mereka memandang agamanya merupakan agama paling
superior dan paling agamais, yang “non” adalah “warga kelas dua”. Bukankah itu
artinya mereka sedang menstigma orang lain dan juga menstigma diri mereka
sendiri secara tidak proporsional?
Brief Answer : Mereka gagal bercermin, apakah seluruh nenek-moyang
dan buyut mereka murni warga lokal Nusantara, yang mana secara genom-ilmiah
tiada lagi yang “berdarah murni” pribumi. Mereka juga gagal-paham bahwa nenek-moyang
mereka tidak murni dari kalangan kerajaan maupun dari kalangan rakyat jelata. Mereka
bahkan berpikiran sempit juga picik, seolah Buddhisme tidak pernah menyuburkan
Nusantara sejak abad ke-1 hingga ke-15 di Nusantara sehingga mengakar dalam didalam
budaya maupun peradaban di Bumi Pertiwi. Nenek-moyang mereka pun menurut
sejarah dapat dipastikan pernah menjajah kerajaan lain di Nusantara maupun ke
negara tetangga ataupun sebaliknya, terjajah karena dijajah. Apakah ada,
silsilah keluarga mereka yang bukan berlatar-belakang kriminal? Yang disebut sebagai
“warga kelas satu” maupun “warga kelas dua”, itu adalah konvensi belaka, yang tidak
jarang penuh delusi-politis yang dimaksudkan untuk memopoli akses sumber daya
tertentu ataupun untuk tujuan manipulasi massa.
PEMBAHASAN:
Pandangan Sang Buddha yang menolak paham tentang
kasta dan fasisme, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~ SUTTA 93 ~
Assalāyana Sutta : Kepada Assalāyana
[147] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Pada saat itu lima ratus brahmana dari berbagai propinsi sedang
menetap di Sāvatthī untuk suatu urusan. Kemudian para brahmana itu berpikir:
“Petapa Gotama ini menjelaskan pemurnian bagi seluruh empat kasta. Siapakah di
sini yang mampu membantahNya atas pernyataan ini?”
[Kitab Komentar : Argumen yang digunakan dalam tesis
mengenai “pemurnian bagi seluruh empat kasta”, dijelaskan pada Majjhima Nikāya
90.10-12.]
3. Pada saat itu seorang murid brahmana bernama Assalāyana sedang menetap
di Sāvatthī. Muda, berkepala gundul, berusia enam belas tahun, ia adalah
seorang yang menguasai Tiga Veda dengan kosa-kata, liturgi, fonologi, dan etimologi,
dan sejarah-sejarah sebagai yang ke lima; mahir dalam ilmu bahasa dan tata
bahasa, ia mahir dalam filosofi alam dan dalam tanda-tanda manusia luar biasa.
Kemudian para brahmana berpikir: “Ada seorang murid brahmana muda bernama Assalāyana
yang sedang menetap di Sāvatthī. Muda ... mahir dalam filosofi alam dan dalam
tanda-tanda manusia luar biasa. Ia akan mampu berdebat dengan Petapa Gotama
mengenai pernyataan ini.”
4. Maka para brahmana itu mendatangi murid brahmana Assalāyana dan
berkata kepadanya: “Guru Assalāyana, Petapa Gotama ini menjelaskan pemurnian
bagi seluruh empat kasta. Sudilah Guru Assalāyana pergi dan berdebat dengan
Petapa Gotama mengenai pernyataan ini.”
Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Assalāyana menjawab: “Tuan-tuan,
Petapa Gotama adalah seorang yang membicarakan Dhamma. Sekarang mereka yang
membicarakan Dhamma adalah sulit untuk didebat. Aku tidak mampu mendebat Petapa
Gotama mengenai pernyataan ini.”
Untuk ke dua kalinya para brahmana berkata kepadanya: “Guru Assalāyana,
Petapa Gotama ini menjelaskan pemurnian bagi seluruh empat kasta. Sudilah Guru
Assalāyana pergi dan berdebat dengan Petapa Gotama mengenai pernyataan ini. Karena
latihan petapa pengembara telah diselesaikan oleh Guru Assalāyana.”
[Kitab Komentar : Mereka mengatakan demikian, dengan
maksud untuk mengatakan: “Setelah mempelajari Tiga Veda, engkau telah terlatih
dalam mantra-mantra yang dengannya mereka yang meninggalkan keduniawian
menjalankan pelepasan keduniawian mereka dan mantra-mantra yang mereka
lestarikan setelah mereka meninggalkan keduniawian. Engkau telah mempraktikkan
cara mereka berperilaku. Oleh karena itu, engkau tidak akan kalah. Kemenangan
akan menjadi milikmu.”]
Untuk ke dua kalinya murid brahmana Assalāyana menjawab: “Tuan-tuan,
Petapa Gotama adalah seorang yang membicarakan Dhamma. Sekarang mereka yang
membicarakan Dhamma adalah sulit untuk didebat. Aku tidak mampu mendebat
Petapa Gotama mengenai pernyataan ini.”
Untuk ke tiga kalinya para brahmana berkata kepadanya: “Guru Assalāyana,
Petapa Gotama ini menjelaskan pemurnian bagi seluruh empat kasta. Sudilah Guru
Assalāyana pergi dan berdebat dengan Petapa Gotama mengenai pernyataan ini. Karena
latihan petapa pengembara telah diselesaikan oleh Guru Assalāyana. Jangan
sampai Guru Assalāyana kalah sebelum bertempur.”
Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Assalāyana menjawab: “Tentu
saja, tuan-tuan, aku belum selesai ketika aku mengatakan: ‘Petapa Gotama adalah
seorang yang membicarakan Dhamma.’ Sekarang mereka yang membicarakan Dhamma
adalah sulit untuk didebat. Aku tidak mampu mendebat Petapa Gotama mengenai
pernyataan ini. Tetapi, tuan-tuan, atas permintaan kalian, aku akan pergi.”
5. Kemudian murid brahmana Assalāyana pergi bersama dengan sejumlah besar
para brahmana mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau.
Ketika ramah tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:
“Guru Gotama, para brahmana mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah
kasta tertinggi, para kasta lainnya adalah rendah; para brahmana adalah kasta
yang Pāling cerah, para kasta lainnya adalah gelap; hanya para brahmana yang dimurnikan,
bukan non-brahmana; hanya para brahmana yang merupakan para putera Brahmā,
keturunan Brahmā, lahir dari mulutnya, lahir dari Brahmā, diciptakan oleh
Brahmā, pewaris Brahmā.’ Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal itu?”
“Sekarang, Assalāyana, para perempuan brahmana terlihat mengalami
periode menstruasi, menjadi hamil, melahirkan, dan menyusui. Namun para brahmana
itu, walaupun terlahir dari rahim, mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi, para kasta
lainnya adalah rendah; para brahmana adalah kasta yang Pāling cerah, para kasta
lainnya adalah gelap; hanya para brahmana yang dimurnikan, bukan non-brahmana;
hanya para brahmana yang merupakan para putera Brahmā, keturunan Brahmā, lahir
dari mulutnya, lahir dari Brahmā, diciptakan oleh Brahmā, pewaris Brahmā.’”
[149]
[Kitab Komentar : Pernyataan “para perempuan
brahmana terlihat mengalami periode menstruasi, menjadi hamil, melahirkan, dan
menyusui”, dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa para brahmana terlahir dari para
perempuan, sama seperti manusia lainnya, dan dengan demikian tidak selayaknya
mereka mengaku bahwa mereka terlahir dari mulut Brahmā.]
6. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap
berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi ... pewaris
Brahmā.’”
“Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Pernahkah engkau mendengar bahwa Yona
dan Kamboja dan di negeri asing lainnya terdapat hanya dua kasta, majikan dan
budak, dan bahwa para majikan menjadi budak dan budak menjadi majikan?”
[Kitab Komentar : Yona adalah kata Pāli untuk Ionia.
Kamboja adalah suatu wilayah barat laut “Negeri Tengah” India.]
“Demikianlah yang kudengar, Tuan.”
“Kalau
begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas]
apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana
adalah kasta tertinggi ... pewaris Brahmā.’?”
7. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap
berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi ... pewaris
Brahmā.’”
“Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Misalkan seorang mulia membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak
diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan ucapan salah,
mengucapkan ucapan fitnah, bergosip, tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan
menganut pandangan salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah
hanya ia [yang sewajarnya] muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam yang
tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka – dan bukan seorang
brahmana? Misalkan seorang
pedagang membunuh
makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah
dalam kenikmatan indria, mengucapkan ucapan salah, mengucapkan ucapan fitnah,
bergosip, tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah.
Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah hanya ia [yang sewajarnya]
muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam
kesengsaraan, bahkan di neraka – dan bukan seorang brahmana? Misalkan seorang pekerja membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut
pandangan salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah hanya ia
[yang sewajarnya] muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam yang tidak
bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka – dan bukan seorang brahmana?”
[Kitab Komentar : Argumen pada paragraf nomor ke-7
dan ke-8 di sini, pada dasarnya identik dengan argumen pada Majjhima Nikāya 84.]
“Tidak, Guru Gotama. Apakah
ia adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau
seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu yang membunuh makhluk-makhluk
hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan
indria, mengucapkan ucapan salah, mengucapkan ucapan fitnah, bergosip, tamak,
memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah [150], ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah [sewajarnya] muncul kembali dalam
kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di
neraka.”
“Kalau
begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas]
apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana
adalah kasta tertinggi, para kasta lainnya adalah rendah; para brahmana adalah
kasta yang Pāling cerah, para kasta lainnya adalah gelap; hanya para brahmana
yang dimurnikan, bukan non-brahmana; hanya para brahmana yang merupakan para
putera Brahmā, keturunan Brahmā, lahir dari mulutnya, lahir dari Brahmā,
diciptakan oleh Brahmā, pewaris Brahmā.’?”
8. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap
berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi ... pewaris
Brahmā.’”
“Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Misalkan seorang brahmana menghindari membunuh
makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan,
menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari ucapan salah,
menghindari ucapan fitnah, menghindari ucapan kasar, dan menghindari gosip, dan
tidak tamak, memiliki pikiran tanpa permusuhan, dan menganut pandangan benar.
Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah ia [sewajarnya] muncul
kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga – dan bukan seorang mulia,
atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?”
“Tidak, Guru Gotama. Apakah
ia adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau
seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu yang menghindari membunuh
makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan,
menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari ucapan salah,
menghindari ucapan fitnah, menghindari ucapan kasar, dan menghindari gosip, dan
tidak tamak, memiliki pikiran tanpa permusuhan, dan menganut pandangan benar,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah [sewajarnya] muncul kembali
alam yang bahagia, bahkan di alam surga.”
“Kalau
begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas]
apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana
adalah kasta tertinggi ... pewaris Brahmā.’?”
9. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, [151] tetapi para brahmana
tetap berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi ...
pewaris Brahmā.’”
“Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Apakah hanya seorang brahmana yang mampu mengembangkan
pikiran cinta kasih terhadap wilayah ini, tanpa pertentangan dan tanpa
permusuhan, dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?”
“Tidak, Guru Gotama. Apakah
ia adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau
seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu mampu mengembangkan pikiran
cinta kasih terhadap wilayah ini, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.”
“Kalau
begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas]
apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana
adalah kasta tertinggi ... pewaris Brahmā.’?”
10. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap
berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi ... pewaris
Brahmā.’”
“Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Apakah hanya seorang brahmana yang mampu membawa
perlengkapan mandi dan bubuk mandi, pergi ke sungai, dan membersihkan diri dari
debu dan kotoran, dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang, atau seorang
pekerja?”
“Tidak, Guru Gotama. Apakah
ia adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau
seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu mampu membawa perlengkapan
mandi dan bubuk mandi, pergi ke sungai, dan membersihkan diri dari debu dan
kotoran.”
“Kalau
begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas]
apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana
adalah kasta tertinggi ... pewaris Brahmā.’?”
11. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap
berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi ... pewaris
Brahmā.’”
“Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? [152] Misalkan seorang raja mulia yang sah mengumpulkan
di sini seratus orang yang berasal dari kelahiran berbeda dan berkata kepada
mereka: ‘Tuan-tuan, silakan siapapun juga di sini yang terlahir dalam keluarga
mulia atau keluarga brahmana atau keluarga bangsawan mengambil sebatang kayu
api kayu sāla, kayu salala, kayu cendana, atau kayu padumaka dan menyalakan api
dan menghasilkan panas. Dan juga silahkan siapapun juga di sini yang terlahir
dalam keluarga buangan, keluarga pemburu, keluarga pembuat keranjang, keluarga
pembuat kereta, atau keluarga pemungut sampah, mengambil kayu dari tempat minum
anjing, dari tempat makan babi, dari tempat sampah, atau dari kayu jarak dan
menyalakan api dan menghasilkan panas.’
“Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh
seseorang dalam kelompok pertama, apakah api itu memiliki kobaran, warna, dan
cahaya, dan apakah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api, sementara
ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dari kelompok ke dua,
api itu tidak memiliki kobaran, tanpa warna, dan tanpa cahaya, dan tidak
mungkin menggunakannya sebagai fungsi api?”
“Tidak, Guru Gotama. Ketika
api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dalam kelompok pertama, api
itu memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk
menggunakannya sebagai fungsi api. Dan api yang dinyalakan dan panas dihasilkan
oleh seseorang dalam kelompok ke dua, api itu juga memiliki kobaran, warna, dan
cahaya, dan adalah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api. Karena
semua api memiliki kobaran, [153] warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk
menggunakannya sebagai fungsi api.”
“Kalau
begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas]
apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana
adalah kasta tertinggi ... pewaris Brahmā.’?”
12. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap
berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi ... pewaris
Brahmā.’”
“Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Misalkan seorang pemuda mulia hidup bersama dengan
seorang gadis brahmana, dan seorang anak lahir dari mereka. Apakah anak yang
terlahir dari pemuda brahmana dan gadis mulia itu disebut seorang mulia mengikuti
sang ayah atau seorang brahmana mengikuti sang ibu?”
“Ia dapat disebut keduanya, Guru Gotama.”
13. “Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Misalkan seorang pemuda brahmana hidup bersama dengan
seorang gadis mulia, dan seorang anak lahir dari mereka. Apakah anak yang
terlahir dari pemuda brahmana dan gadis mulia itu disebut seorang mulia mengikuti
sang ibu atau seorang brahmana mengikuti sang ayah?”
“Ia dapat disebut keduanya, Guru Gotama.”
14. “Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Misalkan seekor kuda betina dikawinkan dengan seekor
keledai jantan, dan seekor anak kuda terlahir sebagai akibatnya. Apakah anak
kuda itu disebut seekor kuda mengikuti sang ibu atau seekor keledai mengikuti
sang ayah?”
“Itu adalah seekor bagal, Guru Gotama, karena anak kuda itu tidak berasal
dari jenis manapun. [154] Aku
melihat perbedaan dalam kasus terakhir ini, tetapi aku tidak melihat perbedaan dalam
kasus-kasus sebelumnya.”
[Komentar : Yang dimaksud dengan “tetapi aku tidak
melihat perbedaan dalam kasus-kasus sebelumnya”, ialah merujuk pada konvensi
perihal status kasta seseorang dan status kasta individu seseorang lainnya.]
15. “Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Misalkan ada dua orang murid brahmana bersaudara,
terlahir dari ibu yang sama, yang satu rajin belajar dan cerdas, dan yang
lainnya tidak rajin belajar dan tidak cerdas. Yang manakah yang akan diberi makanan
pertama kali oleh para brahmana pada suatu upacara pemakaman, atau pada suatu
upacara persembahan nasi-susu, atau pada suatu upacara pengorbanan, atau pada
suatu pesta menyambut tamu?”
“Pada
kesempatan itu, para brahmana akan memberi makan pertama kali kepada seorang
yang rajin belajar dan cerdas, Guru Gotama; karena bagaimana mungkin apa yang
diberikan kepada seorang yang tidak rajin belajar dan tidak cerdas dapat menghasilkan
buah besar?”
16. “Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Misalkan ada dua orang murid brahmana bersaudara,
terlahir dari ibu yang sama, yang satu rajin belajar dan cerdas tetapi tidak
bermoral dan berkarakter buruk, dan yang lainnya tidak rajin belajar dan tidak cerdas,
tetapi bermoral dan berkarakter baik. Yang manakah yang akan diberi makanan
pertama kali oleh para brahmana pada suatu upacara pemakaman, atau pada suatu
upacara persembahan nasi-susu, atau pada suatu upacara pengorbanan, atau pada
suatu pesta menyambut tamu?”
“Pada
kesempatan itu, para brahmana akan memberi makan pertama kali kepada seorang
yang tidak rajin belajar dan tidak cerdas, tetapi bermoral dan berkarakter
baik, Guru Gotama; karena bagaimana mungkin apa yang diberikan kepada seorang yang
tidak bermoral dan berkarakter buruk dapat menghasilkan buah besar?”
17. “Pertama-tama,
Assalāyana, engkau berpegang pada kelahiran, dan setelah itu engkau berpegang
pada pembelajaran kitab-kitab, dan setelah itu engkau akhirnya berpegang pada landasan
pemurnian bagi keseluruhan empat kasta, seperti yang Kujelaskan.”
[Komentar : Sang Buddha lewat rangkaian tanya-jawab,
mengungkap inkonsistensi jawaban Assalāyana, yang pada mulanya memakai postulat
garis-kelahiran sebagai penentu status kasta, sementara itu pada jawaban
berikutnya bergeser kepada faktor moralitas dan kualitas sebagai penentu utama
seorang individu.]
Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Assalāyana duduk diam dan cemas,
dengan bahu terkulai dan kepala menunduk, muram, dan tidak mampu menjawab.
Mengetahui hal ini, Sang Bhagavā berkata kepadanya:
18, “Suatu ketika, Assalāyana, ketika tujuh petapa brahmana sedang
berdiskusi di dalam sebuah gubuk daun di dalam hutan, pandangan sesat ini
muncul pada mereka: ‘Para Brahmana adalah kasta tertinggi ... [155] ... pewaris
Brahmā.’ Petapa Devala si Gelap mendengar hal ini. Kemudian ia merapikan rambut
dan janggutnya, mengenakan pakaian berwarna kuning, memakai sandal besar, dan
memegang tongkat emas, ia muncul di halaman gubuk ketujuh petapa brahmana itu.
Kemudian, selagi berjalan mondar-mandir di halaman gubuk ketujuh petapa brahmana
itu, Petapa Devala si Gelap berkata sebagai berikut: ‘Ke manakah para petapa
brahmana mulia itu pergi? Ke manakah para petapa brahmana mulia itu pergi?’
Kemudian ketujuh petapa brahmana itu berpikir: ‘Siapakah yang berjalan
mondar-mandir di halaman gubuk ketujuh petapa brahmana seperti orang dusun dan
mengatakan: “Ke manakah para petapa brahmana mulia itu pergi? Ke manakah para
petapa brahmana mulia itu pergi?” Mari kita mengutuknya!’ Kemudian ketujuh
petapa brahmana itu mengutuk petapa Devala si Gelap sebagai berikut: ‘Jadilah
abu, orang busuk! Jadilah abu, orang busuk!’ Tetapi semakin ketujuh petapa
brahmana itu mengutuknya, Petapa Devala si Gelap itu menjadi semakin menarik
dan tampan. Kemudian ketujuh petapa brahmana itu berpikir: ‘Pertapaan kami
sia-sia, kehidupan suci kami tidak berbuah; karena sebelumnya jika kami
mengutuk seseorang sebagai berikut: “Jadilah abu, orang busuk! Jadilah abu,
orang busuk!” maka ia pasti menjadi abu; tetapi semakin kami mengutuk orang
ini, ia menjadi semakin menarik dan tampan.’
[Kitab Komentar mengidentifikasi Devala si Gelap,
Asita Devala, sebagai Sang Buddha dalam kehidupan lampau. Sang Buddha
membabarkan ajaran ini untuk menunjukkan: “Di masa lampau, ketika engkau
berkelahiran tinggi dan Aku berkelahiran rendah, engkau tidak dapat menjawab pertanyaan
yang Kuajukan tentang pernyataan sehubungan dengan kelahiran. Jadi bagaimana
mungkin engkau dapat melakukannya sekarang, ketika engkau adalah seorang rendah
dan Aku telah menjadi seorang Buddha?”]
“‘Pertapaan kalian tidak sia-sia, tuan-tuan, kehidupan suci kalian bukan
tidak berbuah. Tetapi, Tuan-tuan, singkirkanlah kebencian kalian terhadapku.’
[156]
“‘Kami telah menyingkirkan kebencian kami terhadapmu, Tuan. Siapakah
engkau?’
“‘Pernahkah kalian mendengar tentang Petapa Devala si Gelap, Tuan-tuan?’
– ‘Pernah, Tuan.’ – ‘Akulah Petapa si gelap itu, Tuan-tuan.’
“Kemudian ketujuh petapa brahmana itu mendatangi Petapa Devala si Gelap
dan bersujud padanya. Kemudian ia berkata kepada mereka: ‘Tuan-tuan, aku
mendengar ketika ketujuh petapa brahmana sedang berdiam di dalam gubuk daun di
dalam hutan, pandangan
sesat ini muncul pada mereka: “Para Brahmana adalah kasta tertinggi ... pewaris
Brahmā.”’ – ‘Demikianlah,
Tuan.’
“‘Tetapi, Tuan-tuan, tahukah kalian bahwa ibu yang melahirkan kalian
hanya menikah dengan seorang brahmana dan tidak pernah dengan seorang bukan
brahmana?’ – ‘Tidak, Tuan.’
“‘Tetapi, Tuan-tuan, tahukah kalian bahwa ibu dari ibu kalian sampai
tujuh generasi sebelumnya hanya menikah dengan seorang brahmana dan tidak
pernah dengan seorang bukan brahmana?’ – ‘Tidak, Tuan.’
“‘Tetapi, Tuan-tuan, tahukah kalian bahwa ayah yang menurunkan kalian
hanya menikah dengan seorang perempuan brahmana dan tidak pernah dengan seorang
perempuan bukan brahmana?’ – ‘Tidak, Tuan.’
“‘Tetapi, Tuan-tuan, tahukah kalian bahwa ayah dari ayah kalian sampai
tujuh generasi sebelumnya hanya menikah dengan seorang perempuan brahmana dan
tidak pernah dengan seorang perempuan bukan brahmana?’ – ‘Tidak, Tuan.’
“‘Tetapi, Tuan-tuan, tahukah kalian bagaimana munculnya janin terjadi?’
“‘Tuan, kami mengetahui bagaimana munculnya janin terjadi. [157] Di sini,
ada penyatuan ibu dan ayah, dan ibu sedang dalam masa subur, dan gandhabba
hadir. Demikianlah munculnya janin terjadi melalui perpaduan ketiga hal ini.’
[Kitab Komentar : Seperti pada Majjhima Nikāya
38.26. Gandhabba bukanlah seseorang (yaitu, makhluk tanpa jasmani) yang
berdiri di dekat sana melihat calon orangtuanya melakukan hubungan seksual,
melainkan makhluk yang didorong oleh mekanisme kamma, yang terlahir
kembali pada saat itu. Arti yang tepat dari kata gandhabba sehubungan
dengan proses kelahiran kembali tidak dijelaskan dalam Nikāya, dan kata dalam
makna ini hanya muncul di sini dan dalam 93.18.
Dīgha Nikāya 15/ii.63 menjelaskan tentang kesadaran
sebagai “masuk ke dalam rahim ibu,” ini menjadi kondisi bagi terjadinya
kelahiran kembali. Demikianlah kita dapat mengidentifikasikan gandhabba
di sini sebagai arus kesadaran, yang dianggap secara lebih animistik sebagai
datang dari kehidupan sebelumnya dan membawa akumulasi total dan kecenderungan kamma
dan ciri pribadi. Pembahasan lengkap atas konsep gandhabba ini terdapat
pada Wijesekera, “Vedic Gandharva and Pāli Gandhabba,” dalam Buddhist and Vedic
Studies, hal.191-202.
Perhatikan bahwa dialog persis di bawah menegaskan
makna gandhabba sebagai makhluk yang telah meninggal dunia menjelang
kelahiran kembali.]
“‘Kalau
begitu, Tuan-tuan, apakah kalian mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu
adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau
seorang pekerja?’
“‘Tuan, kami
tidak mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu adalah seorang mulia, atau
seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja.’
“‘Kalau
begitu, Tuan-tuan, jadi siapakah kalian?’
“‘Kalau
begitu, Tuan, kami tidak mengetahui siapa kami ini.’
“Sekarang, Assalāyana, bahkan ketujuh petapa brahmana itu, ketika ditekan dan
dipertanyakan dan didebat oleh Petapa Devala si Gelap tentang pernyataan mereka
sendiri sehubungan dengan kelahiran, tidak mampu mempertahankannya. Tetapi
bagaimana mungkin engkau, ketika ditekan dan dipertanyakan dan didebat olehKu
tentang pernyataanmu sehubungan dengan kelahiran, mampu mempertahankannya?
Engkau, yang mengandalkan doktrin-doktrin gurumu, [bahkan] tidak [sebanding
dengan] Puṇṇa pemegang sendok
mereka.”
[Kitab Komentar : Puṇṇa adalah nama pelayan ketujuh petapa brahmana itu; ia mengambilkan
sendok, memasak dedaunan, dan melayani mereka.]
19. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Assalāyana berkata kepada
Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama
telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa
yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang
tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki
penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan
pada Dhamma dan pada Saṅgha para bhikkhu. Mulai hari ini sudilah Guru Gotama
mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur
hidup.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR
dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.