Gembira dan Bahagia Bersih dari Sifat Korup-Tercela
Banyak diantara kita, mencari sensasi dengan melakukan hal-hal konyol yang tidak jarang kita sesali sendiri di kemudian hari. Bukankah mengherankan, seseorang tidak merasa bahagai bebas dari produk-produk tembakau ataupun alkohol maupun obat-obatan terlarang, masih juga menjerumuskan diri mereka lebih dalam lagi ke dalam hiburan-malam, tenggelam dalam perjudian, terperangkap dalam pergaulan-bebas, terlibat dalam kejahatan jalanan, hingga melakoni kejahatan kerah-putih. Sekalipun, kita sudah patut cukup merasa gembira dan bahagia, dengan menjadi warga yang “patuh hukum” dengan tidak melanggar hukum.
Ketika seseorang disidangkan
untuk diadili, barulah mereka menyadari, bahwa bebas dari ancaman pemenjaraan
adalah keberuntungan yang patut disyukuri—akan tetapi sayangnya, sudah terlambat,
ia menemukan dirinya telah berada di balik jeruji untuk mendekam dan meratapi
nasibnya, akibat tidak menghargai kondisi bebas tanpa penjara. Tidak ada orang
yang terlahir sebagai koruptor maupun sebagai kriminal. Mereka sendiri yang
membawa diri mereka menjadi kriminal maupun koruptor. Bukankah semestinya kita
patut merayakan kenyataan bahwa diri kita bersih dari kejahatan maupun korupsi,
dan berbahagia karenanya, sekalipun hidup sederhana dan bersahaja?
Mungkin seseorang yang karena naif,
pernah terjerumus ke dalam kekeliruan. Akan tetapi yang menjadi pokok permasalahannya,
mereka tidak merasakan keterdesakan untuk segera dalam kesempatan-pertama untuk
memperbaiki diri, alih-alih kian tenggelam dan terjerumus hingga taraf “point
of no return”? Manusia, punya kecenderungan “kebodohan-batin” yang membuat mereka
bahkan gemar menyakiti diri mereka sendiri. Penghargaan terhadap kebebasan,
seringkali baru muncul dan disadari ketika kebebasan tersebut telah sirna
darinya. Sebagaimana penghargaan kepada orang-orang baik, kerap baru disadari dibelakang
hari, saat orang-orang baik tersebut telah pergi dari hidupnya. Perhatikan apa dinyatakan
oleh Sang Buddha, dengan kutipan sebagai berikut: [dikutip dari Anguttara
Nikāya]
“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu terampil
dalam jalan pikirannya sendiri? Seperti halnya seorang perempuan atau laki-laki –
muda, berpenampilan muda, dan menyukai perhiasan – akan melihat pantulan
wajahnya di sebuah cermin yang bersih dan cemerlang atau di dalam semangkuk air
jernih. Jika mereka melihat debu atau noda apa pun di sana, maka mereka akan
berusaha untuk menghilangkannya. Tetapi jika mereka tidak melihat debu atau
noda di sana, maka mereka menjadi gembira; dan keinginan mereka terpenuhi,
mereka akan berpikir, ‘Betapa beruntungnya bahwa aku bersih!’ Demikian pula,
pemeriksaan-diri adalah sangat membantu bagi seorang bhikkhu [agar tumbuh]
dalam kualitas-kualitas bermanfaat.
“[Ia harus bertanya kepada diri sendiri:] (1)
‘Apakah aku sering condong pada kerinduan [93] atau tanpa kerinduan? (2) Apakah
aku sering condong pada niat-buruk atau tanpa niat-buruk? (3) Apakah aku sering dikuasai
oleh ketumpulan dan kantuk atau bebas dari ketumpulan dan kantuk? (4) Apakah
aku sering gelisah atau tenang? (5) Apakah aku sering diserang oleh
keragu-raguan atau bebas dari keragu-raguan? (6) Apakah aku sering marah atau
tanpa kemarahan? (7) Apakah pikiranku sering kotor atau tidak kotor? (8) Apakah jasmaniku sering
bergejolak atau tidak bergejolak? (9) Apakah aku sering malas atau bersemangat?
(10) Apakah aku sering tidak terkonsentrasi atau terkonsentrasi?’
“Jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang
bhikkhu mengetahui: ‘Aku sering condong pada kerinduan, condong pada
niat-buruk, condong pada ketumpulan dan kantuk, gelisah, diserang oleh
keragu-raguan, marah, kotor dalam pikiran, bergejolak dalam jasmani, malas, dan
tidak terkonsentrasi,’ maka ia harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha
luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar
biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk meninggalkan
kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu. Seperti
halnya seseorang yang pakaian atau kepalanya terbakar akan mengerahkan
keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar
biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih
luar biasa untuk memadamkan [api pada] pakaian atau kepalanya, demikian pula
bhikkhu itu harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan
luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar
biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk meninggalkan kualitas-kualitas
buruk yang tidak bermanfaat itu.
“Tetapi, jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang
bhikkhu mengetahui: ‘Aku sering tanpa kerinduan, tanpa niat-buruk, bebas dari
ketumpulan dan kantuk, tenang, bebas dari keragu-raguan, tanpa kemarahan, tidak
kotor dalam pikiran, tidak bergejolak dalam jasmani, bersemangat, dan
terkonsentrasi,’ maka ia harus mendasarkan dirinya pada kualitas-kualitas
bermanfaat yang sama itu dan berusaha lebih lanjut untuk mencapai hancurnya
noda-noda.”
Memiliki banyak uang yang “tidak
habis tujuh turunan”, barulah bahagia dan gembira, itu adalah “konvensi”, bukan
kebenaran. Begitupula konvensi-konvensi seperti jargon “punya istri / suami
yang rupawan”, “punya karir gemilang”, “punya kendaraan dan busana yang
mentereng”, “punya rumah yang mewah”, “punya banyak sertifikat tanah”, “punya
anak yang cerdas”, “punya jabatan dan kekuasaan”, “punya segudang koleksi gelar
akademik”, dan kepemilikan lainnya. Faktanya, tiada yang kekal (tiada yang
dapat digenggam-erat sesuai kehendak), semuanya akan berubah (hanya persoalan
waktu), serta tiada yang benar-benar “milik aku” (semuanya hanya sebatas umur
hidup seseorang). Menua, sakit, mati, itu fakta.
Mengapa juga kita merasa perlu menggantungkan
hidup, pada kondisi eksternal-diri yang serba “tidak pasti” serta senantiasa
berubah? Kebahagiaan yang “penuh syarat”, adalah “BEBAN”. Sang Buddha
pernah bersabda, bahwa apa yang menurut kebanyakan orang dianggap / dipandang
sebagai kenikmatan / kesenangan, adalah dukkha di mata seorang Buddha. Jangan bersikap, seolah-olah hanya
ada yang namanya “kenikmatan indria” untuk dapat dinikmati. Perhatikan kutipan
sabda Sang Buddha berikut, perihal “kenikmatan yang tidak berhubungan dengan
kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat”: [dikutip dari Mahāsaccaka
Sutta, Majjhima Nikāya]
31. “Aku mempertimbangkan: ‘Aku ingat ketika ayahKu
orang Sakya yang berkuasa, sewaktu Aku sedang duduk di keteduhan pohon jambu, dengan
cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari keterasingan. Mungkinkah itu adalah jalan menuju pencerahan?’
Kemudian, dengan mengikuti ingatan itu, muncullah pengetahuan: ‘Itu adalah jalan
menuju pencerahan.’
[Kitab Komentar : Pada masa
kecil Sang Bodhisatta sebagai seorang pangeran, pada suatu ketika ayahNya
mengadakan upacara membajak sawah pada suatu festival tradisi orang Sakya. Sang
Pangeran dibawa ke tempat festival tersebut dan tempat untukNya dipersiapkan di
bawah pohon jambu. Ketika para pelayanNya meninggalkanNya untuk menyaksikan
upacara membajak sawah, Beliau secara spontan duduk dalam posisi meditasi dan
mencapai jhāna pertama melalui perhatian pada pernafasan. Ketika para
pelayanNya kembali dan melihat Sang Anak sedang duduk bermeditasi, mereka
melaporkan hal ini kepada Sang Raja yang segera datang dan bersujud menghormati
putranya.]
32. “Aku berpikir: ‘Mengapa [247] Aku takut pada kenikmatan itu yang tidak
berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat?’ Aku berpikir: ‘Aku
tidak takut pada kenikmatan itu karena tidak berhubungan dengan kenikmatan
indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat.’
34. “Ketika Aku telah memakan sedikit makanan padat
dan memperoleh kembali kekuatanKu, maka dengan cukup terasing dari kenikmatan indria,
terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam
jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran,
dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Tetapi perasaan
menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap
di sana.”
Waspadalah terhadap citra yang dibentuk
oleh tayangan drama-sinetron, itu bukanlah patokan yang “sehat”. Untuk menjadi
gembira dan bahagia, telah ternyata tidaklah sesukar yang banyak orang kira
ataupun asumsikan, cukup dengan evaluasi diri, melihat ke dalam diri, maka kita
akan temukan kenyataan apakah kita patut merasa bahagia ataukah tidaknya. Untuk
selengkapnya, dapat kita simak selengkapnya dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995);
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara,
penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA 151
Piṇḍapātapārisuddhi Sutta: Pemurnian Dana Makanan
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Kemudian,
pada suatu malam, Yang Mulia Sāriputta bangkit dari meditasinya dan menghadap
Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi. Kemudian
Sang Bhagavā berkata kepadanya: [294]
2. “Sāriputta, indria-indriamu jernih. Warna kulitmu bersih dan cerah.
Kediaman apakah yang sering engkau diami sekarang, Sāriputta?”
“Sekarang, Yang Mulia, aku sering berdiam dalam kekosongan.”
[Kitab Komentar : Pencapaian
kekosongan dari buah Kearahantaan. Dalam Mahāvedalla Sutta, Sang Buddha
menyebutkan, “Nafsu adalah pembuat gambaran, kebencian adalah pembuat
gambaran, delusi adalah pembuat gambaran. Dalam diri seorang bhikkhu yang
noda-nodanya telah hancur, hal-hal ini telah ditinggalkan, dipotong pada
akarnya, dibuat seperti tunggul pohon palem, tersingkirkan sehingga tidak dapat
muncul lagi di masa depan. Di antara semua jenis kebebasan pikiran tanpa gambaran,
kebebasan pikiran yang tidak tergoyahkan adalah yang terbaik. Sekarang
kebebasan pikiran yang tidak tergoyahkan itu hampa dari nafsu, hampa dari
kebencian, hampa dari delusi. Ini adalah cara di mana kondisi-kondisi ini
bermakna sama dan hanya berbeda dalam sebutan.”
Seluruh empat kebebasan pikiran
adalah bermakna sama dalam hal bahwa semuanya merujuk pada buah pencapaian Kearahantaan.
Empat kebebasan ini adalah bermakna sama karena kata-kata – yang tanpa batas, kekosongan,
kehampaan, dan tanpa gambaran – semuanya adalah sebutan bagi Nibbāna, yang
merupakan objek dari buah pencapaian Kearahantaan.
Dalam Mahāvedalla Sutta, Sang
Buddha juga menyebutkan, “Ia memahami sebagai berikut: ‘Gangguan
apapun juga yang bergantung pada noda keinginan indria, gangguan itu tidak ada
di sini; Gangguan apapun juga yang bergantung pada noda penjelmaan, gangguan
itu tidak ada di sini; Gangguan apapun juga yang bergantung pada noda
ketidak-tahuan, gangguan itu tidak ada di sini. Hanya ada gangguan ini,
yaitu, yang berhubungan dengan enam landasan yang bergantung pada jasmani dan
dikondisikan oleh kehidupan.’ Ia memahami: ‘Bidang
persepsi ini adalah kosong dari noda keinginan indria; bidang persepsi ini
adalah kosong dari noda penjelmaan; bidang persepsi ini adalah kosong dari noda
ketidak-tahuan. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, yang berhubungan dengan enam landasan
yang bergantung pada jasmani dan dikondisikan oleh kehidupan.’ Demikianlah ia
menganggapnya sebagai kosong dari apa yang tidak ada di sana, tetapi sehubungan
dengan apa yang ada di sana ia memahami apa yang ada di sana sebagai berikut: ‘Ini
ada.’ Demikianlah, Ānanda, ini adalah masuknya ia ke dalam kekosongan, yang
asli, [109] tidak menyimpang, dan murni, yang tertinggi dan tidak terlampaui.”
Di sini kata “yang tertinggi
dan tidak terlampaui” (paramānuttarā) telah ditambahkan. Kitab Komentar mengatakan
bahwa ini adalah buah pencapaian kekosongan seorang Arahant.]
“Bagus, bagus, Sāriputta! Sekarang, sesungguhnya,
engkau sering berdiam dalam kediaman seorang manusia besar. Karena ini adalah kediaman seorang manusia
besar, yaitu, kekosongan.
[Kitab Komentar : Ini adalah
kediaman dari manusia-manusia besar (mahāpurisa) seperti para Buddha,
para paccekabuddha, dan para siswa besar Sang Tathāgata.]
3. “Maka, Sāriputta, jika seorang bhikkhu
berkehendak: ‘Semoga sekarang aku sering berdiam dalam kekosongan,’ ia harus
mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa
untuk menerima dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling
menerima dana makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan
menerima dana makanan, adakah keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan
dalam pikiranku sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata?’ Jika, dengan melakukan
peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi
suatu desa untuk menerima dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku
berkeliling menerima dana makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari
perjalanan menerima dana makanan, ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan
dalam pikiranku sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata,’ maka
ia harus berusaha untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak
bermanfaat itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui
sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima
dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling menerima dana
makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan menerima dana makanan,
tidak ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku
sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata,’ maka
ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam
kondisi-kondisi bermanfaat.
[Kitab Komentar : Di antara
kelima sebutan ini (keinginan, nafsu, kebencian, delusi, ataupun penolakan
dalam pikiranku sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata),
keinginan dan nafsu adalah bersinonim seperti halnya kebencian dan penolakan.]
4-8. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan
sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima
dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling menerima dana
makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan menerima dana makanan,
adakah keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan
dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga? … sehubungan dengan
bau-bauan yang dikenali oleh hidung? … sehubungan dengan rasa kecapan yang
dikenali oleh lidah? … sehubungan dengan objek-objek sentuhan yang
dikenali oleh badan? … sehubungan dengan objek-objek pikiran yang
dikenali oleh pikiran?’ [295] Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui
sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan
… ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku
sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran,’ maka
ia harus berusaha untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak
bermanfaat itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui
sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan
… tidak ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku
sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran,’ maka
ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam
kondisi-kondisi bermanfaat.
9. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan
sebagai berikut: ‘Apakah kelima utas kenikmatan indria telah ditinggalkan
dari dalam diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui
sebagai berikut: ‘Kelima utas kenikmatan indria belum ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka
ia harus berusaha untuk meninggalkan kelima utas kenikmatan indria itu. Tetapi jika, dengan
melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima utas kenikmatan
indria telah ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka
ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam
kondisi-kondisi bermanfaat.
[Kitab Komentar : Dimulai dari
bagian “Apakah kelima utas kenikmatan indria telah ditinggalkan dari dalam
diriku?” ini, dapat terlihat urutan pengembangan. Ditinggalkannya kelima
utas kenikmatan indria adalah langkah awal untuk mengembangkan jhāna-jhāna,
dan ditinggalkannya kelima rintangan (pada paragraf nomor ke-10) adalah langkah
persis sebelum tercapainya jhāna pertama.
Pemahaman sepenuhnya pada
kelima kelompok unsur kehidupan (sebagaimana pada paragraf nomor ke-11)
menunjukkan kebijaksanaan “pandangan terang” yang diperlukan untuk mencapai
jalan “memasuki-arus”, dan bagian tentang tiga puluh tujuh bantuan menuju
pencerahan (pada paragraf nomor ke-12—18) adalah pelatihan faktor-faktor yang
diperlukan untuk sampai pada tingkatan-tingkatan kesucian menengah.
Bagian tentang ketenangan dan “pandangan
terang” (pada paragraf nomor ke-19), walaupun berlaku pada semua tingkatan,
namun dapat dilihat sebagai sepenuhnya dilaksanakan oleh “yang-tidak-kembali”
yang berusaha untuk mencapai Kearahantaan. Akhirnya, bagian pengetahuan sejati
dan kebebasan menyiratkan pencapaian jalan dan buah Kearahantaan.]
10. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan
sebagai berikut: ‘Apakah kelima rintangan telah ditinggalkan dari dalam
diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui
sebagai berikut: ‘Kelima rintangan belum ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka
ia harus berusaha untuk meninggalkan kelima rintangan itu. Tetapi jika, dengan
melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima rintangan telah
ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia,
berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
11. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus
mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah kelima kelompok unsur kehidupan
yang terpengaruh oleh kemelekatan telah sepenuhnya dipahami olehku?’ Jika, dengan
melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima kelompok unsur
kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan belum sepenuhnya dipahami olehku,’ maka
ia harus berusaha untuk sepenuhnya memahami kelima kelompok unsur kehidupan
yang terpengaruh oleh kemelekatan. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, [296] ia mengetahui
sebagai berikut: ‘Kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan telah
sepenuhnya dipahami olehku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia,
berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
12. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus
mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah keempat landasan perhatian telah
terkembang dalam diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui
sebagai berikut: ‘Keempat landasan perhatian belum terkembang dalam diriku,’ maka ia harus berusaha untuk mengembangkan keempat
landasan perhatian itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui
sebagai berikut: ‘Keempat landasan perhatian telah terkembang dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia,
berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
13-19. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus
mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah keempat jenis usaha benar telah terkembang dalam
diriku? … Apakah keempat landasan kekuatan batin telah terkembang dalam diriku?
… Apakah kelima indria telah terkembang dalam diriku? … Apakah kelima kekuatan
telah terkembang dalam diriku? … Apakah ketujuh faktor pencerahan telah
terkembang dalam diriku? … Apakah Jalan Mulia Berunsur Delapan telah terkembang
dalam diriku? [297] … Apakah ketenangan dan pandangan terang telah terkembang
dalam diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai
berikut: ‘Ketenangan dan pandangan terang belum terkembang dalam diriku,’
maka ia harus berusaha untuk mengembangkannya. Tetapi jika, dengan melakukan
peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Ketenangan dan
pandangan terang telah terkembang dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan
gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
20. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus
mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah pengetahuan sejati dan kebebasan
telah ditembus olehku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui
sebagai berikut: ‘pengetahuan sejati dan kebebasan belum ditembus olehku,’ maka ia harus berusaha untuk menembus pengetahuan sejati
dan kebebasan. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui
sebagai berikut: ‘pengetahuan sejati dan kebebasan telah ditembus olehku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia,
berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
[Kitab Komentar : Walaupun
Arahant, yang sepenuhnya telah menembus pengetahuan sejati dan kebebasan, tidak
lagi memerlukan latihan lebih lanjut, namun ia terus-menerus melatih ketenangan
dan pandangan terang untuk memasuki kebahagiaan jhāna-jhāna, buah
pencapaian Kearahantaan, dan lenyapnya persepsi dan perasaan.]
21. “Sāriputta, petapa dan brahmana manapun di masa lampau yang telah
memurnikan dana makanan mereka semuanya telah melakukan hal itu dengan
berulang-ulang merenungkan demikian. Petapa dan brahmana manapun di masa depan
yang akan memurnikan dana makanan mereka semuanya akan melakukan hal itu dengan
berulang-ulang merenungkan demikian. Petapa dan brahmana manapun di masa
sekarang yang memurnikan dana makanan mereka semuanya melakukan hal itu dengan
berulang-ulang merenungkan demikian.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Yang Mulia Sāriputta merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.