JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Tidak Perlu Mencari Sensasi ataupun Penyakit, untuk Gembira dan Bahagia. Kita Sudah Patut Merasa Gembira dan Bahagia bila Bersih dari Sifat-Sikap Jahat / Korup

Gembira dan Bahagia Bersih dari Sifat Korup-Tercela

Banyak diantara kita, mencari sensasi dengan melakukan hal-hal konyol yang tidak jarang kita sesali sendiri di kemudian hari. Bukankah mengherankan, seseorang tidak merasa bahagai bebas dari produk-produk tembakau ataupun alkohol maupun obat-obatan terlarang, masih juga menjerumuskan diri mereka lebih dalam lagi ke dalam hiburan-malam, tenggelam dalam perjudian, terperangkap dalam pergaulan-bebas, terlibat dalam kejahatan jalanan, hingga melakoni kejahatan kerah-putih. Sekalipun, kita sudah patut cukup merasa gembira dan bahagia, dengan menjadi warga yang “patuh hukum” dengan tidak melanggar hukum.

Ketika seseorang disidangkan untuk diadili, barulah mereka menyadari, bahwa bebas dari ancaman pemenjaraan adalah keberuntungan yang patut disyukuri—akan tetapi sayangnya, sudah terlambat, ia menemukan dirinya telah berada di balik jeruji untuk mendekam dan meratapi nasibnya, akibat tidak menghargai kondisi bebas tanpa penjara. Tidak ada orang yang terlahir sebagai koruptor maupun sebagai kriminal. Mereka sendiri yang membawa diri mereka menjadi kriminal maupun koruptor. Bukankah semestinya kita patut merayakan kenyataan bahwa diri kita bersih dari kejahatan maupun korupsi, dan berbahagia karenanya, sekalipun hidup sederhana dan bersahaja?

Mungkin seseorang yang karena naif, pernah terjerumus ke dalam kekeliruan. Akan tetapi yang menjadi pokok permasalahannya, mereka tidak merasakan keterdesakan untuk segera dalam kesempatan-pertama untuk memperbaiki diri, alih-alih kian tenggelam dan terjerumus hingga taraf “point of no return”? Manusia, punya kecenderungan “kebodohan-batin” yang membuat mereka bahkan gemar menyakiti diri mereka sendiri. Penghargaan terhadap kebebasan, seringkali baru muncul dan disadari ketika kebebasan tersebut telah sirna darinya. Sebagaimana penghargaan kepada orang-orang baik, kerap baru disadari dibelakang hari, saat orang-orang baik tersebut telah pergi dari hidupnya. Perhatikan apa dinyatakan oleh Sang Buddha, dengan kutipan sebagai berikut: [dikutip dari Anguttara Nikāya]

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu terampil dalam jalan pikirannya sendiri? Seperti halnya seorang perempuan atau laki-laki – muda, berpenampilan muda, dan menyukai perhiasan – akan melihat pantulan wajahnya di sebuah cermin yang bersih dan cemerlang atau di dalam semangkuk air jernih. Jika mereka melihat debu atau noda apa pun di sana, maka mereka akan berusaha untuk menghilangkannya. Tetapi jika mereka tidak melihat debu atau noda di sana, maka mereka menjadi gembira; dan keinginan mereka terpenuhi, mereka akan berpikir, ‘Betapa beruntungnya bahwa aku bersih!’ Demikian pula, pemeriksaan-diri adalah sangat membantu bagi seorang bhikkhu [agar tumbuh] dalam kualitas-kualitas bermanfaat.

“[Ia harus bertanya kepada diri sendiri:] (1) ‘Apakah aku sering condong pada kerinduan [93] atau tanpa kerinduan? (2) Apakah aku sering condong pada niat-buruk atau tanpa niat-buruk? (3) Apakah aku sering dikuasai oleh ketumpulan dan kantuk atau bebas dari ketumpulan dan kantuk? (4) Apakah aku sering gelisah atau tenang? (5) Apakah aku sering diserang oleh keragu-raguan atau bebas dari keragu-raguan? (6) Apakah aku sering marah atau tanpa kemarahan? (7) Apakah pikiranku sering kotor atau tidak kotor? (8) Apakah jasmaniku sering bergejolak atau tidak bergejolak? (9) Apakah aku sering malas atau bersemangat? (10) Apakah aku sering tidak terkonsentrasi atau terkonsentrasi?’

“Jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang bhikkhu mengetahui: ‘Aku sering condong pada kerinduan, condong pada niat-buruk, condong pada ketumpulan dan kantuk, gelisah, diserang oleh keragu-raguan, marah, kotor dalam pikiran, bergejolak dalam jasmani, malas, dan tidak terkonsentrasi,’ maka ia harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu. Seperti halnya seseorang yang pakaian atau kepalanya terbakar akan mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk memadamkan [api pada] pakaian atau kepalanya, demikian pula bhikkhu itu harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu.

Tetapi, jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang bhikkhu mengetahui: ‘Aku sering tanpa kerinduan, tanpa niat-buruk, bebas dari ketumpulan dan kantuk, tenang, bebas dari keragu-raguan, tanpa kemarahan, tidak kotor dalam pikiran, tidak bergejolak dalam jasmani, bersemangat, dan terkonsentrasi,’ maka ia harus mendasarkan dirinya pada kualitas-kualitas bermanfaat yang sama itu dan berusaha lebih lanjut untuk mencapai hancurnya noda-noda.

Memiliki banyak uang yang “tidak habis tujuh turunan”, barulah bahagia dan gembira, itu adalah “konvensi”, bukan kebenaran. Begitupula konvensi-konvensi seperti jargon “punya istri / suami yang rupawan”, “punya karir gemilang”, “punya kendaraan dan busana yang mentereng”, “punya rumah yang mewah”, “punya banyak sertifikat tanah”, “punya anak yang cerdas”, “punya jabatan dan kekuasaan”, “punya segudang koleksi gelar akademik”, dan kepemilikan lainnya. Faktanya, tiada yang kekal (tiada yang dapat digenggam-erat sesuai kehendak), semuanya akan berubah (hanya persoalan waktu), serta tiada yang benar-benar “milik aku” (semuanya hanya sebatas umur hidup seseorang). Menua, sakit, mati, itu fakta.

Mengapa juga kita merasa perlu menggantungkan hidup, pada kondisi eksternal-diri yang serba “tidak pasti” serta senantiasa berubah? Kebahagiaan yang “penuh syarat”, adalah “BEBAN”. Sang Buddha pernah bersabda, bahwa apa yang menurut kebanyakan orang dianggap / dipandang sebagai kenikmatan / kesenangan, adalah dukkha di mata seorang Buddha. Jangan bersikap, seolah-olah hanya ada yang namanya “kenikmatan indria” untuk dapat dinikmati. Perhatikan kutipan sabda Sang Buddha berikut, perihal “kenikmatan yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat”: [dikutip dari Mahāsaccaka Sutta, Majjhima Nikāya]

31. “Aku mempertimbangkan: ‘Aku ingat ketika ayahKu orang Sakya yang berkuasa, sewaktu Aku sedang duduk di keteduhan pohon jambu, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Mungkinkah itu adalah jalan menuju pencerahan?’ Kemudian, dengan mengikuti ingatan itu, muncullah pengetahuan: ‘Itu adalah jalan menuju pencerahan.’

[Kitab Komentar : Pada masa kecil Sang Bodhisatta sebagai seorang pangeran, pada suatu ketika ayahNya mengadakan upacara membajak sawah pada suatu festival tradisi orang Sakya. Sang Pangeran dibawa ke tempat festival tersebut dan tempat untukNya dipersiapkan di bawah pohon jambu. Ketika para pelayanNya meninggalkanNya untuk menyaksikan upacara membajak sawah, Beliau secara spontan duduk dalam posisi meditasi dan mencapai jhāna pertama melalui perhatian pada pernafasan. Ketika para pelayanNya kembali dan melihat Sang Anak sedang duduk bermeditasi, mereka melaporkan hal ini kepada Sang Raja yang segera datang dan bersujud menghormati putranya.]

32. “Aku berpikir: ‘Mengapa [247] Aku takut pada kenikmatan itu yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat?’ Aku berpikir: ‘Aku tidak takut pada kenikmatan itu karena tidak berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat.’

34. “Ketika Aku telah memakan sedikit makanan padat dan memperoleh kembali kekuatanKu, maka dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana.”

Waspadalah terhadap citra yang dibentuk oleh tayangan drama-sinetron, itu bukanlah patokan yang “sehat”. Untuk menjadi gembira dan bahagia, telah ternyata tidaklah sesukar yang banyak orang kira ataupun asumsikan, cukup dengan evaluasi diri, melihat ke dalam diri, maka kita akan temukan kenyataan apakah kita patut merasa bahagia ataukah tidaknya. Untuk selengkapnya, dapat kita simak selengkapnya dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 151

Piṇḍapātapārisuddhi Sutta: Pemurnian Dana Makanan

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Kemudian, pada suatu malam, Yang Mulia Sāriputta bangkit dari meditasinya dan menghadap Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: [294]

2. “Sāriputta, indria-indriamu jernih. Warna kulitmu bersih dan cerah. Kediaman apakah yang sering engkau diami sekarang, Sāriputta?”

“Sekarang, Yang Mulia, aku sering berdiam dalam kekosongan.”

[Kitab Komentar : Pencapaian kekosongan dari buah Kearahantaan. Dalam Mahāvedalla Sutta, Sang Buddha menyebutkan, “Nafsu adalah pembuat gambaran, kebencian adalah pembuat gambaran, delusi adalah pembuat gambaran. Dalam diri seorang bhikkhu yang noda-nodanya telah hancur, hal-hal ini telah ditinggalkan, dipotong pada akarnya, dibuat seperti tunggul pohon palem, tersingkirkan sehingga tidak dapat muncul lagi di masa depan. Di antara semua jenis kebebasan pikiran tanpa gambaran, kebebasan pikiran yang tidak tergoyahkan adalah yang terbaik. Sekarang kebebasan pikiran yang tidak tergoyahkan itu hampa dari nafsu, hampa dari kebencian, hampa dari delusi. Ini adalah cara di mana kondisi-kondisi ini bermakna sama dan hanya berbeda dalam sebutan.

Seluruh empat kebebasan pikiran adalah bermakna sama dalam hal bahwa semuanya merujuk pada buah pencapaian Kearahantaan. Empat kebebasan ini adalah bermakna sama karena kata-kata – yang tanpa batas, kekosongan, kehampaan, dan tanpa gambaran – semuanya adalah sebutan bagi Nibbāna, yang merupakan objek dari buah pencapaian Kearahantaan.

Dalam Mahāvedalla Sutta, Sang Buddha juga menyebutkan, “Ia memahami sebagai berikut: ‘Gangguan apapun juga yang bergantung pada noda keinginan indria, gangguan itu tidak ada di sini; Gangguan apapun juga yang bergantung pada noda penjelmaan, gangguan itu tidak ada di sini; Gangguan apapun juga yang bergantung pada noda ketidak-tahuan, gangguan itu tidak ada di sini. Hanya ada gangguan ini, yaitu, yang berhubungan dengan enam landasan yang bergantung pada jasmani dan dikondisikan oleh kehidupan.’ Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari noda keinginan indria; bidang persepsi ini adalah kosong dari noda penjelmaan; bidang persepsi ini adalah kosong dari noda ketidak-tahuan. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, yang berhubungan dengan enam landasan yang bergantung pada jasmani dan dikondisikan oleh kehidupan.’ Demikianlah ia menganggapnya sebagai kosong dari apa yang tidak ada di sana, tetapi sehubungan dengan apa yang ada di sana ia memahami apa yang ada di sana sebagai berikut: ‘Ini ada.’ Demikianlah, Ānanda, ini adalah masuknya ia ke dalam kekosongan, yang asli, [109] tidak menyimpang, dan murni, yang tertinggi dan tidak terlampaui.

Di sini kata “yang tertinggi dan tidak terlampaui” (paramānuttarā) telah ditambahkan. Kitab Komentar mengatakan bahwa ini adalah buah pencapaian kekosongan seorang Arahant.]

“Bagus, bagus, Sāriputta! Sekarang, sesungguhnya, engkau sering berdiam dalam kediaman seorang manusia besar. Karena ini adalah kediaman seorang manusia besar, yaitu, kekosongan.

[Kitab Komentar : Ini adalah kediaman dari manusia-manusia besar (mahāpurisa) seperti para Buddha, para paccekabuddha, dan para siswa besar Sang Tathāgata.]

3. “Maka, Sāriputta, jika seorang bhikkhu berkehendak: ‘Semoga sekarang aku sering berdiam dalam kekosongan,’ ia harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling menerima dana makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan menerima dana makanan, adakah keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling menerima dana makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan menerima dana makanan, ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling menerima dana makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan menerima dana makanan, tidak ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

[Kitab Komentar : Di antara kelima sebutan ini (keinginan, nafsu, kebencian, delusi, ataupun penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata), keinginan dan nafsu adalah bersinonim seperti halnya kebencian dan penolakan.]

4-8. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling menerima dana makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan menerima dana makanan, adakah keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga? … sehubungan dengan bau-bauan yang dikenali oleh hidung? … sehubungan dengan rasa kecapan yang dikenali oleh lidah? … sehubungan dengan objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan? … sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran?’ [295] Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan … ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan … tidak ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

9. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah kelima utas kenikmatan indria telah ditinggalkan dari dalam diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima utas kenikmatan indria belum ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kelima utas kenikmatan indria itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima utas kenikmatan indria telah ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

[Kitab Komentar : Dimulai dari bagian “Apakah kelima utas kenikmatan indria telah ditinggalkan dari dalam diriku?” ini, dapat terlihat urutan pengembangan. Ditinggalkannya kelima utas kenikmatan indria adalah langkah awal untuk mengembangkan jhāna-jhāna, dan ditinggalkannya kelima rintangan (pada paragraf nomor ke-10) adalah langkah persis sebelum tercapainya jhāna pertama.

Pemahaman sepenuhnya pada kelima kelompok unsur kehidupan (sebagaimana pada paragraf nomor ke-11) menunjukkan kebijaksanaan “pandangan terang” yang diperlukan untuk mencapai jalan “memasuki-arus”, dan bagian tentang tiga puluh tujuh bantuan menuju pencerahan (pada paragraf nomor ke-12—18) adalah pelatihan faktor-faktor yang diperlukan untuk sampai pada tingkatan-tingkatan kesucian menengah.

Bagian tentang ketenangan dan “pandangan terang” (pada paragraf nomor ke-19), walaupun berlaku pada semua tingkatan, namun dapat dilihat sebagai sepenuhnya dilaksanakan oleh “yang-tidak-kembali” yang berusaha untuk mencapai Kearahantaan. Akhirnya, bagian pengetahuan sejati dan kebebasan menyiratkan pencapaian jalan dan buah Kearahantaan.]

10. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah kelima rintangan telah ditinggalkan dari dalam diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima rintangan belum ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kelima rintangan itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima rintangan telah ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

11. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan telah sepenuhnya dipahami olehku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan belum sepenuhnya dipahami olehku,’ maka ia harus berusaha untuk sepenuhnya memahami kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, [296] ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan telah sepenuhnya dipahami olehku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

12. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah keempat landasan perhatian telah terkembang dalam diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Keempat landasan perhatian belum terkembang dalam diriku,’ maka ia harus berusaha untuk mengembangkan keempat landasan perhatian itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Keempat landasan perhatian telah terkembang dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

13-19. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah keempat jenis usaha benar telah terkembang dalam diriku? … Apakah keempat landasan kekuatan batin telah terkembang dalam diriku? … Apakah kelima indria telah terkembang dalam diriku? … Apakah kelima kekuatan telah terkembang dalam diriku? … Apakah ketujuh faktor pencerahan telah terkembang dalam diriku? … Apakah Jalan Mulia Berunsur Delapan telah terkembang dalam diriku? [297] … Apakah ketenangan dan pandangan terang telah terkembang dalam diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Ketenangan dan pandangan terang belum terkembang dalam diriku,’ maka ia harus berusaha untuk mengembangkannya. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Ketenangan dan pandangan terang telah terkembang dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

20. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah pengetahuan sejati dan kebebasan telah ditembus olehku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘pengetahuan sejati dan kebebasan belum ditembus olehku,’ maka ia harus berusaha untuk menembus pengetahuan sejati dan kebebasan. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘pengetahuan sejati dan kebebasan telah ditembus olehku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

[Kitab Komentar : Walaupun Arahant, yang sepenuhnya telah menembus pengetahuan sejati dan kebebasan, tidak lagi memerlukan latihan lebih lanjut, namun ia terus-menerus melatih ketenangan dan pandangan terang untuk memasuki kebahagiaan jhāna-jhāna, buah pencapaian Kearahantaan, dan lenyapnya persepsi dan perasaan.]

21. “Sāriputta, petapa dan brahmana manapun di masa lampau yang telah memurnikan dana makanan mereka semuanya telah melakukan hal itu dengan berulang-ulang merenungkan demikian. Petapa dan brahmana manapun di masa depan yang akan memurnikan dana makanan mereka semuanya akan melakukan hal itu dengan berulang-ulang merenungkan demikian. Petapa dan brahmana manapun di masa sekarang yang memurnikan dana makanan mereka semuanya melakukan hal itu dengan berulang-ulang merenungkan demikian.

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Sāriputta merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.