Sekejam-Kejamnya dan Tidak Manusiawinya Kondisi Penjara, Lebih Mengerikan Kondisi Penghuni Neraka
Question: Laporan pihak kami selaku korban pelapor ke polisi, sampai sekarang tidak kunjung diproses oleh pihak polisi. Kami tidak menyanggupi permintaan sejumlah nominal uang yang diminta oleh pihak polisi bila laporan kami akan ditindak-lanjuti dan diproses lebih lanjut oleh mereka. Sebaiknya kami mengambil sikap atau langkah hukum apakah, mengingat kabarnya laporan yang tidak diproses (maka) bisa digugat praperadilan oleh pihak korban pelapor?
Brief Answer: Bila sudah berupaya semampu mungkin, namun laporan
/ aduan tidak ditindak-lanjuti oleh lembaga yang memonopoli akses keadilan
pidana, maka tidak perlu mengemis-ngemis ataupun merendahkan martabat sendiri kepada
mereka maupun kepada sang pelaku. Serahkan saja kepada Hukum Karma dimana
eksekutornya akan bergerak sekalipun tidak Anda berikan aduan—mengingat seluruh
perbuatannya telah tercatat termasuk isi pikiran sang pelaku saat kejadian, secara
detail dalam catatan-semesta yang bernama “Akashic Records”—dan pertimbangkanlah bahwa rata-rata vonis hukuman
pidana di Indonesia tergolong “lunak” dan “lembek”, terlebih ketika “Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana Nasional” mengusung kerangka-berpikir “pemidanaan
yang moderat” alias jauh dari sifat keras-penjeraan. Apakah “worth it”
dan sebanding, dengan luka maupun kerugian yang telah Anda derita? Dana yang
dimiliki, lebih baik didonasikan kepada orang berwatak mulia yang membutuhkan,
daripada memberikan kepada polisi-polisi korup yang moralnya patut diragukan.
PEMBAHASAN:
Dalam banyak kasus dan
kejadian, sekalipun laporan seorang warga yang menjadi korban kejahatan benar-benar
diproses oleh aparatur penegak hukum hingga ke tahapan persidangan dan dijatuhi
vonis hukuman pidana oleh hakim di pengadilan, rata-rata penghukuman tergolong
ringan, mengatas-namakan alasan klise “penjara telah overcapacity”. Terlebih
saat kini, banyak pelaku kejahatan yang sekadar divonis “pidana masa percobaan
dan pengawasan”, “sanksi kerja sosial”, “denda damai”, “pemaafan hakim”, dan
lain sebagainya. Banyak penulis jumpai, kalangan korban pelapor yang justru
menyesali telah melaporkan sang pelaku, mengingat vonis hukuman yang ringan,
dimana trauma atau luka yang diderita sang korban belum juga sembuh, mengering,
ataupun pulih sepenuhnya, namun sang pelaku telah dibebaskan karena masa hukuman
penjara hanya “hitungan jari” (beberapa tahun atau bahkan kurang).
Penulis pun tidak luput dari kondisi
sebagai korban kejahatan. Namun, dalam banyak kejadian, secara pribadi penulis
lebih memilih untuk menyerahkannya kepada “Hukum Karma”, alih-alih “main hakim
sendiri” terlebih melaporkan kepada aparatur penegak hukum agar pelakunya
diganjar dengan hukum pidana. Atas dasar pertimbangan apakah? Bila kemampuan
matematika dasar Anda tidaklah buruk-buruk sekali, maka Anda akan sependapat
dengan penulis setelah mengetahui kondisi penghukuman di Alam Neraka,
sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha
(Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of
the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli
to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya
& Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
Bālapaṇḍita Sutta:
Orang Dungu dan Orang Bijaksana
[163] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
(SI
DUNGU)
2. “Bhikkhu, ada
tiga karakteristik dari seorang dungu ini, tanda-tanda seorang dungu,
sifat-sifat seorang dungu. Apakah tiga ini? Di sini seorang dungu adalah seorang yang
memikirkan pikiran-pikiran buruk, mengucapkan kata-kata buruk, dan melakukan
perbuatan-perbuatan buruk. Jika seorang dungu tidak demikian, bagaimana
mungkin para bijaksana dapat mengenalinya sebagai berikut: ‘Orang ini adalah
seorang dungu, seorang bukan manusia sejati’? Tetapi karena seorang dungu
adalah seorang yang memikirkan pikiran-pikiran buruk, mengucapkan kata-kata buruk,
dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk, maka para bijaksana mengenalinya
sebagai berikut: ‘Orang ini adalah seorang dungu, seorang bukan manusia
sejati.’
3. “Seorang
dungu merasakan kesakitan dan kesedihan di sini dan saat ini dalam tiga cara. Jika seorang dungu duduk dalam suatu pertemuan
atau berada di jalan atau di suatu lapangan dan orang-orang di sana sedang
mendiskusikan persoalan-persoalan yang berhubungan dan berkaitan, maka, jika si
dungu itu adalah seorang yang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa
yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan
kebohongan, meminum anggur, minuman keras, dan minuman memabukkan, yang menjadi
dasar bagi kelengahan, ia berpikir: ‘Orang-orang ini sedang mendiskusikan persoalan-persoalan
yang berhubungan dan berkaitan; hal-hal ini terdapat dalam diriku, dan aku
terlihat sedang melakukan hal-hal tersebut.’ Ini adalah jenis
pertama kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh seorang dungu di sini dan
saat ini.
4. “Kemudian, seorang penjahat perampok tertangkap, seorang dungu
menyaksikan raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman padanya: [164] setelah
menderanya dengan cambukan, memukulnya dengan rotan, memukulnya dengan pemukul;
setelah memotong tangannya, memotong kakinya, memotong tangan dan kakinya;
memotong telinganya, memotong hidungnya, memotong telinga dan hidungnya;
dikenai siksaan ‘panci bubur,’ ‘cukuran kulit kerang yang digosok,’ ‘mulut Rāhu,’
‘lingkaran api,’ ‘tangan menyala,’ ‘helai rumput,’ ‘pakaian kulit kayu,’
‘kijang,’ ‘kail daging,’ ‘kepingan uang,’ ‘cairan asin,’ ‘tusukan berporos,’
‘gulungan tikar jerami’; dan mereka disiram dengan minyak mendidih, dan mereka
dibuang agar dimangsa oleh anjing-anjing, dan mereka dalam keadaan hidup
ditusuk dengan kayu pancang, dan kepalanya dipenggal dengan pedang. Kemudian si
dungu berpikir: ‘Karena perbuatan-perbuatan jahat demikian, ketika seorang
penjahat perampok tertangkap, raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman
padanya: mereka menderanya dengan cambukan ... dan memenggal kepalanya dengan
pedang. Hal-hal itu terdapat dalam diriku, dan aku terlihat sedang melakukan
hal-hal tersebut.’ Ini
adalah jenis ke dua kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh seorang dungu
di sini dan saat ini.
5. “Kemudian, ketika seorang dungu sedang berada di atas kursinya atau di
atas ranjangnya atau sedang beristirahat di atas lantai, kemudian perbuatan-perbuatan
jahat yang ia lakukan di masa lalu – perilaku salah secara jasmani, ucapan, dan
pikiran – meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya. Bagaikan bayangan sebuah puncak gunung besar di
malam hari meliputi, menyelimuti, dan membungkus bumi ini, demikian pula,
ketika seorang dungu sedang berada di atas kursinya atau di atas ranjangnya
atau sedang beristirahat di atas lantai, [165] kemudian perbuatan-perbuatan
jahat yang ia lakukan di masa lalu – perilaku salah secara jasmani, ucapan, dan
pikiran – meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya. Kemudian si dungu
berpikir: ‘Aku tidak pernah melakukan apa yang baik, aku tidak pernah melakukan
apa yang bermanfaat, aku tidak pernah membangun tempat bernaung dari kesedihan
untuk diriku. Aku telah melakukan apa yang buruk, aku telah melakukan apa yang
kejam, aku telah melakukan apa yang jahat. Ketika aku meninggal dunia, aku akan
pergi menuju kelahiran kembali dari mereka yang tidak pernah melakukan apa yang
baik, yang tidak pernah melakukan apa yang bermanfaat, yang tidak pernah
membangun tempat bernaung dari kesedihan, yang telah melakukan apa yang buruk,
yang telah melakukan apa yang kejam, yang telah melakukan apa yang jahat.’ Ia
berdukacita, sedih, dan meratap, ia menangis dengan memukul dadanya dan menjadi
kebingungan. Ini
adalah jenis ke tiga kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh seorang dungu
di sini dan saat ini.
6. “Seorang
dungu yang telah menyerahkan diri kepada perilaku salah dalam jasmani, ucapan,
dan pikiran, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali
dalam kondisi kesengsaraan, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, bahkan
di neraka.
(NERAKA)
7. “Jika dengan benar mengatakan tentang sesuatu: ‘Sungguh tidak
diharapkan, sungguh tidak diinginkan, sungguh tidak menyenangkan,’ adalah
tentang neraka hal itu dikatakan, sedemikian sehingga sulit menemukan
perumpamaan bagi penderitaan di neraka.”
Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Bhagavā:
“Tetapi, Yang Mulia, dapatkah suatu perumpamaan diberikan?”
8. “Dapat, Bhikkhu,” Sang Bhagavā berkata.
“Para bhikkhu, misalkan beberapa orang menangkap seorang penjahat perampok
dan membawanya ke hadapan raja, dengan berkata: ‘Baginda, ini adalah seorang
penjahat perampok. Perintahkanlah hukuman apapun yang engkau inginkan atas
dirinya.’ Kemudian raja berkata: ‘Pergilah dan tusuk orang ini di pagi hari
dengan seratus tombak.’ Dan mereka menusuknya di pagi hari dengan seratus
tombak. Kemudian di siang hari raja bertanya: ‘Bagaimana orang itu?’ –
‘Baginda, ia masih hidup.’ Kemudian ia berkata: ‘Pergilah dan tusuk orang ini
di siang hari dengan seratus tombak.’ Dan mereka menusuknya di siang hari
dengan seratus tombak. Kemudian di malam hari raja bertanya: ‘Bagaimana orang
itu?’ – ‘Baginda, ia masih hidup.’ Kemudian ia berkata: ‘Pergilah dan tusuk
orang ini di malam hari dengan seratus tombak.’ Dan mereka menusuknya di malam
hari dengan seratus tombak. [166] Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu?
Apakah orang itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditusuk dengan tiga
ratus tombak?”
“Yang
Mulia, orang itu akan mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditusuk bahkan
hanya dengan satu tombak, apa lagi tiga ratus.”
9. Kemudian, dengan mengambil sebutir batu berukuran sekepalan tanganNya,
Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu?
Manakah yang lebih besar, batu kecil yang kuambil ini, yang berukuran sekepalan
tanganKu, atau Himalaya, raja pegunungan?”
“Yang Mulia, batu kecil yang telah Sang Bhagavā ambil itu, yang berukuran
sekepalan tangan Beliau, tidak berarti dibandingkan Himalaya, raja
pegunungan; bahkan tidak ada sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan.”
“Demikian
pula, para bhikkhu, kesakitan dan kesedihan yang orang itu alami karena ditusuk
dengan tiga ratus tombak adalah tidak berarti dibandingkan penderitaan neraka;
bahkan tidak ada sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan.
10. “Kemudian para penjaga neraka menyiksanya dengan lima tusukan. Mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu tangan, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus tangan lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu kakinya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus kaki lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus perutnya. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
11. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke bawah dan mengulitinya
dengan kapak. Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
12. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mengulitinya dengan alat pengukir kayu. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
13. “Kemudian para penjaga neraka mengikatnya pada sebuah kereta dan
menariknya ke sana-sini di atas tanah yang terbakar, menyala, dan berpijar.
[167] Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
14. “Kemudian para penjaga neraka menyuruhnya memanjat naik dan turun di
atas gundukan bara api yang terbakar, menyala, dan berpijar. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
15. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mencelupkannya ke dalam panci logam panas yang terbakar,
menyala, dan berpijar. Ia direbus di sana di dalam pusaran buih. Dan ketika ia
direbus di sana di dalam pusaran buih, ia kadang-kadang terhanyut ke atas, kadang-kadang
ke bawah, kadang-kadang ke sekeliling. Di sana ia merasakan perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
16. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke dalam Neraka Besar. Sekarang sehubungan dengan Neraka Besar, para bhikkhu:
Neraka ini memiliki empat sudut dan dibangun
Dengan empat pintu, satu di setiap sisinya,
Terbatasi dinding terbuat dari besi dan mengelilinginya
Dan ditutup dengan atap besi.
Lantainya juga terbuat dari besi
Dan dipanaskan dengan api hingga berpijar
Luasnya seratus liga
Yang mencakup seluruh wilayah itu.
17. “Para bhikkhu, Aku
dapat menjelaskan dalam banyak cara tentang neraka. Begitu banyak sehingga
sulit menyelesaikan penjelasan terhadap penderitaan di neraka.
(ALAM
BINATANG)
18. “Para bhikkhu, ada binatang-binatang yang memakan rumput.
Binatang-binatang itu makan dengan mengunyah rumput-rumput segar atau kering
dengan giginya. Dan binatang-binatang apakah yang memakan rumput? Kuda, sapi,
keledai, kambing, dan rusa, dan binatang-binatang lain semacam itu. Seorang dungu yang
sebelumnya bersenang dalam rasa kecapan di sini dan melakukan perbuatan jahat
di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di
tengah-tengah binatang-binatang pemakan rumput itu.
19. “Ada binatang-binatang yang memakan kotoran. Binatang-binatang itu
mencium bau kotoran dari kejauhan dan mendatanginya, dengan berpikir: ‘Kami
bisa makan, kami bisa makan!’ Seperti halnya para brahmana yang mendatangi
aroma suatu pengorbanan, dengan berpikir: ‘Kami bisa makan di sini, kami bisa
makan di sini!’ demikian pula binatang-binatang yang memakan kotoran ini [168]
mencium kotoran dari kejauhan dan mendatanginya, dengan berpikir: ‘Kami bisa
makan di sini, kami bisa makan di sini!’ Dan binatang-binatang apakah yang memakan
kotoran? Unggas, babi, anjing, dan serigala, dan binatang-binatang lain semacam
itu. Seorang
dungu yang sebelumnya bersenang dalam rasa kecapan di sini dan melakukan
perbuatan jahat di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan
muncul kembali di tengah-tengah binatang-binatang pemakan kotoran itu.
20. “Ada binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam
kegelapan. Dan binatang-binatang apakah yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam
kegelapan? Ngengat, belatung, dan cacing tanah, dan binatang-binatang lain
semacam itu. Seorang
dungu yang sebelumnya bersenang dalam rasa kecapan di sini dan melakukan
perbuatan jahat di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan
muncul kembali di tengah-tengah binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan
mati dalam kegelapan.
21. “Ada binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam air.
Dan binatang-binatang apakah yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam air? Ikan,
kura-kura, dan buaya, dan binatang-binatang lain semacam itu. Seorang dungu yang
sebelumnya bersenang dalam rasa kecapan di sini dan melakukan perbuatan jahat
di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di
tengah-tengah binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam air.
22. “Ada binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam
kebusukan. Dan binatang-binatang apakah yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam
kebusukan? Binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam ikan busuk
atau dalam mayat busuk atau dalam bubur basi atau dalam jamban atau dalam saluran
air kotor. [169] Seorang
dungu yang sebelumnya bersenang dalam rasa kecapan di sini dan melakukan
perbuatan jahat di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan
muncul kembali di tengah-tengah binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan
mati dalam kebusukan.
23. “Para bhikkhu, Aku
dapat menjelaskan dalam banyak cara tentang alam binatang. Begitu banyak
sehingga sulit menyelesaikan penjelasan terhadap penderitaan di alam binatang.
24. “Misalkan seseorang melemparkan sebuah gandar berlubang satu ke laut,
dan angin timur meniupnya ke barat, dan angin barat meniupnya ke timur, dan
angin utara meniupnya ke selatan, dan angin selatan meniupnya ke utara.
Misalkan ada seekor kura-kura buta yang muncul ke permukaan setiap satu abad
sekali. Bagaimana menurutmu, Para bhikkhu? Dapatkah kura-kura buta itu
memasukkan lehernya ke dalam gandar berlubang satu itu?”
“Dapat, Yang Mulia, pada suatu saat atau di akhir suatu masa yang lama.”
“Para bhikkhu,
kura-kura buta itu dapat memasukkan lehernya ke dalam gandar berlubang satu itu
lebih cepat daripada seorang dungu, yang begitu terlahir di alam sengsara,
dapat memperoleh kondisi manusianya kembali, Aku katakan. Mengapakah? Karena tidak ada praktik Dhamma di
sana, tidak ada praktik kebenaran, tidak melakukan apa yang bermanfaat, tidak
ada pelaksanaan kebajikan. Di sana hanya ada saling memangsa, dan pembantaian
pada yang lemah.
25. “Jika
pada suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, si dungu itu terlahir kembali
menjadi manusia, adalah di dalam keluarga rendah ia terlahir kembali – dalam
keluarga buangan atau pemburu atau pengrajin bambu atau pengrajin kereta atau
pemungut sampah – seorang yang miskin dan kekurangan makanan dan minuman, yang
bertahan hidup dengan kesulitan, di mana ia sulit memperoleh makanan dan
pakaian; dan ia buruk rupa, tidak indah dilihat, dan cacat, berpenyakit, buta,
dengan tangan dan kaki yang timpang, atau lumpuh; ia tidak memperoleh makanan,
minuman, dan pakaian, [170] kendaraan, kalung-bunga, wangi-wangian dan salep,
tempat tidur, tempat tinggal, dan cahaya; ia berperilaku salah dalam jasmani,
ucapan, dan pikiran, dan setelah melakukan itu, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali di alam menderita, di alam tujuan kelahiran
yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka.
26. “Para bhikkhu, misalkan seorang penjudi pada lemparan pertamanya
yang tidak beruntung kehilangan anak dan istrinya dan seluruh hartanya dan
lebih jauh lagi ia akhirnya diperbudak, namun suatu lemparan tidak beruntung
seperti itu adalah tidak berarti; adalah lemparan yang jauh lebih tidak
beruntung ketika seorang dungu berperilaku salah dalam jasmani, ucapan, dan
pikiran, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam
menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan,
bahkan di neraka. Ini
adalah kesempurnaan penuh dari tingkatan si dungu.
[Kitab Komentar : “Kesempurnaan penuh dari tingkatan
si dungu” yaitu, si dungu melakukan ketiga jenis perilaku salah, yang karenanya
ia terlahir kembali di neraka. Karena sisa-sisa kamma itu, ketika ia
terlahir kembali di alam manusia, ia terlahir kembali di keluarga rendah.
Sekali lagi melakukan ketiga jenis perilaku salah—semisal mengatas-namakan
kemiskinan, lalu melakukan kejahatan maupun penipuan agar memeroleh
kekayaan—yang karenanya sekali lagi terlahir kembali di neraka.]
(ORANG
BIJAKSANA)
27. “Bhikkhu, ada
tiga karakteristik dari seorang bijaksana ini, tanda-tanda seorang bijaksana,
sifat-sifat seorang bijaksana. Apakah tiga ini? Di sini seorang bijaksana
adalah seorang yang memikirkan pikiran-pikiran baik, mengucapkan kata-kata
baik, dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Jika seorang bijaksana tidak
demikian, bagaimana mungkin para bijaksana dapat mengenalinya sebagai berikut:
‘Orang ini adalah seorang bijaksana, seorang manusia sejati’? Tetapi karena
seorang bijaksana adalah seorang yang memikirkan pikiran-pikiran baik, mengucapkan
kata-kata baik, dan melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka para bijaksana
mengenalinya sebagai berikut: ‘Orang ini adalah seorang bijaksana, seorang
manusia sejati.’
28. “Seorang
bijaksana merasakan kenikmatan dan kegembiraan di sini dan saat ini dalam tiga
cara. Jika
seorang bijaksana duduk dalam suatu pertemuan atau berada di jalan atau di
suatu lapangan dan orang-orang di sana sedang mendiskusikan persoalan-persoalan
yang berhubungan dan berkaitan, maka, jika si bijaksana itu adalah seorang yang
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang
tidak diberikan, menghindari berperilaku salah dalam kenikmatan indria, [171]
menghindari kebohongan, menghindari meminum anggur, minuman keras, dan minuman memabukkan,
yang menjadi dasar bagi kelengahan, ia berpikir: ‘Orang-orang ini sedang
mendiskusikan persoalan-persoalan yang berhubungan dan berkaitan; hal-hal
ini tidak terdapat dalam diriku, dan aku tidak terlihat sedang melakukan
hal-hal tersebut.’ Ini
adalah jenis pertama kenikmatan dan kegembiraan yang dirasakan oleh seorang
bijaksana di sini dan saat ini.
29. “Kemudian, seorang penjahat perampok tertangkap, seorang bijaksana
menyaksikan raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman padanya ... (seperti pada paragraf nomor ke-4) ... Kemudian
si bijaksana berpikir: ‘Karena perbuatan-perbuatan jahat demikian, ketika
seorang penjahat perampok tertangkap, raja-raja menjatuhkan berbagai jenis
hukuman padanya. Hal-hal itu tidak terdapat dalam diriku, dan aku tidak
terlihat sedang melakukan hal-hal tersebut.’ Ini adalah jenis ke dua
kenikmatan dan kegembiraan yang dirasakan oleh seorang bijaksana di sini dan
saat ini.
30. “Kemudian, ketika seorang bijaksana sedang berada di atas kursinya
atau di atas ranjangnya atau sedang beristirahat di atas lantai, kemudian
perbuatan-perbuatan baik yang ia lakukan di masa lalu – perilaku baik secara
jasmani, ucapan, dan pikiran – meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya.
Bagaikan bayangan sebuah puncak gunung besar di malam hari meliputi, menyelimuti,
dan membungkus bumi ini, demikian pula, ketika seorang bijaksana sedang berada
di atas kursinya atau di atas ranjangnya atau sedang beristirahat di atas
lantai, kemudian perbuatan-perbuatan baik yang ia lakukan di masa lalu –
perilaku baik secara jasmani, ucapan, dan pikiran – meliputinya, menyelimutinya,
dan membungkusnya. Kemudian si bijaksana berpikir: ‘Aku tidak pernah
melakukan apa yang buruk, aku tidak pernah melakukan apa yang kejam, aku tidak
pernah melakukan apa yang jahat. Aku telah melakukan apa yang baik, aku telah
melakukan apa yang bermanfaat, aku telah membangun tempat bernaung dari
kesedihan untuk diriku. Ketika aku meninggal dunia, Aku akan pergi menuju alam
tujuan kelahiran dari mereka yang tidak pernah melakukan apa yang jahat, yang
tidak pernah melakukan apa yang buruk, yang tidak pernah melakukan apa yang
kejam, yang telah melakukan apa yang baik, yang telah melakukan apa yang
bermanfaat, yang telah membangun tempat bernaung dari kesedihan untuk diri
mereka.’ Ia
tidak berdukacita, sedih, atau meratap, ia tidak menangis dengan memukul
dadanya dan tidak menjadi kebingungan. Ini adalah jenis ke tiga kenikmatan dan
kegembiraan yang dirasakan oleh seorang bijaksana di sini dan saat ini.
31. “Seorang
bijaksana yang telah menyerahkan diri kepada perilaku baik dalam jasmani,
ucapan, dan pikiran, [172] ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan
muncul kembali di alam tujuan kelahiran yang bahagia, bahkan di alam surga.
[Komentar : Agama samawi mencoba memuliakan “Tuhan
Sang Pencipta” dengan ritual sembah-sujud dan puja-pujian. Sebaliknya,
Buddhisme menjadikan seseorang memiliki perilaku mulia dan menjadi seorang
mulia untuk memuliakan semesta.]
(SURGA)
32. “Jika dengan benar mengatakan tentang sesuatu: ‘Sungguh sangat
diharapkan, sungguh sangat diinginkan, sungguh sangat menyenangkan,’ adalah
tentang surga hal ini dikatakan, sedemikian sehingga sulit untuk
menyelesaikan penggambaran kebahagiaan di alam surga.”
Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Bhagavā:
“Tetapi, Yang Mulia, dapatkah suatu perumpamaan diberikan?”
33. “Dapat, Bhikkhu,” Sang Bhagavā berkata. “Para bhikkhu, misalkan bahwa
seorang Raja Pemutar-Roda memiliki tujuh pusaka dan empat jenis keberhasilan,
dan karena hal itu mengalami kenikmatan dan kegembiraan.
34. “Apakah ketujuh pusaka ini? Di sini, ketika seorang raja mulia yang
sah telah mencuci kepalanya di hari Uposatha tanggal lima belas dan telah naik
ke kamar atas istana untuk melaksanakan Uposatha, di sana muncul padanya
pusaka-roda surgawi berjeruji seribu, dengan lingkaran, dan porosnya, lengkap dalam
segala aspek. Ketika melihatnya, raja mulia yang sah itu berpikir: ‘Aku telah
mendengar bahwa ketika seorang raja mulia yang sah telah mencuci kepalanya di
hari Uposatha tanggal lima belas dan telah naik ke kamar atas istana untuk
melaksanakan Uposatha, dan di sana muncul padanya pusaka-roda surgawi berjeruji
seribu, dengan lingkaran, dan porosnya, lengkap dalam segala aspek, maka raja
itu menjadi seorang Raja Pemutar-Roda. Apakah aku adalah seorang Raja
Pemutar-Roda?’
35. “Kemudian raja mulia yang sah itu bangkit dari duduknya, dan dengan
membawa sekendi air di tangan kirinya, ia memercikkan pusaka-roda itu dengan
tangan kanannya, dengan berkata: ‘Berputarlah maju, pusaka-roda yang baik;
menanglah, pusaka-roda yang baik!’ Kemudian pusaka-roda itu berputar maju ke
arah timur dan Sang Raja Pemutar Roda mengikutinya bersama dengan empat barisan
bala tentaranya. Sekarang di wilayah manapun pusaka-roda itu berhenti, di sana
Sang Raja Pemutar-Roda berdiam bersama keempat barisan bala tentaranya. Dan
[173] para raja lawan di arah timur mendatangi Raja Pemutar-Roda dan berkata:
‘Datanglah, Raja Agung; selamat datang, Raja Agung; perintahlah, Raja Agung;
nasihatilah, Raja Agung.’ Sang Raja Pemutar-Roda berkata sebagai berikut: ‘Kalian tidak boleh
membunuh makhluk-makhluk hidup; kalian tidak boleh mengambil apa yang tidak
diberikan; kalian tidak boleh berperilaku salah dalam kenikmatan indria; kalian
tidak boleh mengucapkan kebohongan; kalian tidak boleh meminum minuman memabukkan;
kalian seharusnya memakan apa yang biasanya kalian makan.’ Dan para raja lawan di arah timur mematuhi Raja
Pemutar-Roda.
“Kemudian pusaka-roda masuk ke dalam samudra timur dan keluar kembali.
Dan kemudian berputar maju ke arah selatan ... Dan para raja lawan di arah
selatan mematuhi Raja Pemutar-Roda. Kemudian pusaka-roda masuk ke dalam samudra
selatan dan keluar kembali. Dan kemudian berputar maju ke arah barat ... Dan
para raja lawan di arah barat mematuhi Raja Pemutar-Roda. Kemudian pusaka-roda
masuk ke dalam samudra barat dan keluar kembali. Dan kemudian berputar maju ke
arah utara ... Dan para raja lawan di arah utara mematuhi Raja Pemutar-Roda.
“Sekarang ketika pusaka-roda telah memenangkan seluruh bumi hingga ke
batas samudra, pusaka-roda itu kembali ke ibukota dan berdiam seolah-olah
terpasang pada porosnya di gerbang istana di istana dalam Sang Raja
Pemutar-Roda, sebagai penghias gerbang menuju istana dalamnya. Demikianlah pusaka-roda
yang muncul bagi seorang Raja Pemutar-Roda.
36. “Kemudian, pusaka-gajah muncul untuk si Raja Pemutar-Roda, berwarna
putih, dengan tujuh sikap berdiri, dengan kekuatan gaib, terbang melalui
angkasa, raja gajah bernama ‘Uposatha.’ Ketika melihatnya, pikiran Sang Raja
Pemutar-Roda berkeyakinan sebagai berikut: ‘Akan menakjubkan sekali menunggang
gajah ini, jika ia dapat dijinakkan!’ Kemudian pusaka-gajah itu [174]
dijinakkan seperti seekor gajah dari keturunan murni yang baik yang telah
dijinakkan dengan baik untuk waktu yang lama. Dan demikianlah yang terjadi pada
Raja Pemutar-Roda, ketika mencoba pusaka-gajahnya, menungganginya di pagi hari,
dan setelah melewati seluruh permukaan bumi hingga ke batas samudra, ia kembali
ke ibukota kerajaan untuk sarapan pagi. Demikianlah pusaka-gajah yang muncul
bagi seorang Raja Pemutar-Roda.
37. “Kemudian, pusaka-kuda muncul untuk si Raja Pemutar-Roda, berwarna
putih, dengan kepala sehitam burung gagak, dengan bulu tengkuk seperti rumput
muñja, dengan kekuatan gaib, terbang melalui angkasa, raja kuda bernama
‘Valāhaka’ [‘Awan Petir’]. Ketika melihatnya, pikiran Sang Raja Pemutar-Roda
berkeyakinan sebagai berikut: ‘Akan menakjubkan sekali menunggang kuda ini,
jika ia dapat dijinakkan!’ Kemudian pusaka-kuda itu dijinakkan seperti seekor
kuda dari keturunan murni yang baik yang telah dijinakkan dengan baik untuk
waktu yang lama. Dan demikianlah yang terjadi pada Raja Pemutar-Roda, ketika
mencoba pusaka-kudanya, menungganginya di pagi hari, dan setelah melewati
seluruh permukaan bumi hingga ke batas samudra, ia kembali ke ibukota kerajaan
untuk sarapan pagi. Demikianlah pusaka-kuda yang muncul bagi seorang Raja Pemutar-Roda.
38. “Kemudian, pusaka-permata muncul untuk si Raja Pemutar-Roda. Permata
itu adalah sebutir permata beryl sebening air yang paling murni, bersisi
delapan, dipotong dengan baik. Sekarang cahaya dari pusaka-permata itu bersinar
sejauh satu liga. Dan demikianlah yang terjadi ketika Sang Raja Pemutar-Roda
mencoba pusaka-permatanya, ia membariskan keempat barisan bala tentaranya, dan
menaikkan permata itu di atas benderanya, ia berjalan di dalam kegelapan dan
kekelaman malam. Kemudian semua [penduduk] desa di dekatnya mulai bekerja
dengan penerangan dari permata itu, menganggap bahwa hari telah siang.
Demikianlah pusaka-permata yang muncul bagi seorang Raja Pemutar-Roda.
39. “Kemudian, pusaka-perempuan muncul untuk si Raja Pemutar-Roda,
cantik, menarik dan anggun, memiliki kulit yang sangat indah, tidak terlalu
tinggi juga tidak terlalu pendek, [175] tidak terlalu kurus juga tidak terlalu
gemuk, tidak terlalu gelap juga tidak terlalu cerah, melampaui kecantikan
manusia tanpa menyaingi kecantikan surgawi. Sentuhan pusaka-perempuan adalah
seperti sentuhan segumpal kapuk atau segumpal kapas. Ketika cuaca dingin,
tubuhnya hangat; ketika cuaca hangat, tubuhnya dingin. Dari tubuhnya menguar
aroma cendana, dan dari mulutnya menguar aroma seroja. Ia bangun sebelum Sang Raja
dan tidur setelah Sang Raja. Ia suka melayani, berperilaku menyenangkan, dan
bertutur-kata manis. Karena ia tidak pernah berkhianat pada Sang Raja
Pemutar-Roda bahkan dalam pikiran, bagaimana mungkin ia melakukannya secara
jasmani? Demikianlah pusaka-perempuan yang muncul bagi seorang Raja Pemutar-Roda.
40. “Kemudian, pusaka-pelayan muncul untuk si Raja Pemutar-Roda. Mata
dewa yang muncul karena perbuatan masa lampau muncul dalam dirinya sehingga ia
mampu melihat harta-harta karun tersembunyi baik yang ada pemiliknya maupun
yang tidak ada pemiliknya. Ia mendatangi Raja Pemutar-Roda dan berkata:
‘Baginda, silakan engkau bersantai. Aku akan mengatur urusan keuanganmu.’ Dan
demikianlah yang terjadi ketika Sang Raja Pemutar-Roda mencoba
pusaka-pelayannya, ia menaiki perahu, dan melayarkannya ke sungai Gangga, di
tengah sungai ia berkata kepada pusaka-pelayan: ‘Aku memerlukan emas dan perak,
pelayan.’ – ‘Kalau begitu, Baginda, silahkan perahu ini menepi ke satu sisi.’ –
‘Pelayan, sebenarnya aku memerlukan emas dan perak itu di sini.’ Maka
pusaka-pelayan itu mencelupkan tangannya ke air dan menarik sekendi penuh emas dan
perak, dan ia berkata kepada Raja Pemutar-Roda: ‘Apakah ini cukup, Baginda?
Cukupkah yang telah dilakukan, cukupkah yang telah dipersembahkan?’ – ‘Ini
cukup, Pelayan, apa yang dilakukan telah mencukupi, apa yang dipersembahkan
telah mencukupi.’ Demikianlah pusaka-pelayan yang muncul bagi seorang Raja
Pemutar-Roda.
41. “Kemudian, pusaka-penasihat muncul [176] untuk si Raja Pemutar-Roda,
bijaksana, cerdas, dan cerdik, mampu menyarankan Sang Raja Pemutar-Roda untuk
memajukan apa yang seharusnya dimajukan, untuk menolak apa yang seharusnya ditolak,
dan untuk menegakkan apa yang seharusnya ditegakkan. Ia mendatangi Raja
Pemutar-Roda dan berkata: ‘Baginda, silakan engkau bersantai. Aku akan
memerintah.’ Demikianlah pusaka-penasihat yang muncul bagi seorang Raja
Pemutar-Roda.
“Ini adalah
ketujuh pusaka yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
42. “Apakah keempat
jenis keberhasilan? Di sini seorang Raja Pemutar-Roda tampan, menarik dan anggun,
memiliki kulit yang sangat indah, dan ia melampaui manusia lainnya dalam hal
ini. Ini adalah keberhasilan pertama yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
43. “Kemudian seorang Raja Pemutar-Roda berumur panjang dan bertahan
lama, dan ia melampaui manusia lainnya dalam hal ini. Ini adalah
keberhasilan ke dua yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
44. “Kemudian seorang Raja Pemutar-Roda bebas dari penyakit dan
penderitaan, memiliki pencernaan yang baik yang tidak terlalu dingin dan tidak
terlalu panas, dan ia melampaui manusia lainnya dalam hal ini. Ini adalah
keberhasilan ke tiga yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
45. “Kemudian seorang Raja Pemutar-Roda disayangi dan menyenangkan
bagi para brahmana dan para perumah-tangga. Seperti halnya seorang ayah
disayangi dan menyenangkan bagi anak-anaknya, demikian pula seorang Raja
Pemutar-Roda disayangi dan menyenangkan bagi para brahmana dan para perumah-tangga.
Para brahmana dan para perumah-tangga, juga, disayangi dan menyenangkan bagi
Sang Raja Pemutar-Roda. Seperti halnya anak-anak disayang dan menyenangkan bagi
seorang ayah, demikian pula para brahmana dan para perumah-tangga, juga,
disayangi dan menyenangkan bagi Sang Raja Pemutar-Roda. Suatu ketika seorang
Raja Pemutar-Roda sedang berkendara di Taman Rekreasi bersama dengan keempat barisan
bala-tentaranya. Kemudian para brahmana dan para perumah-tangga mendatanginya
dan berkata: ‘Baginda, berjalanlah lebih lambat agar kami dapat melihatmu lebih
lama.’ Dan demikianlah ia memerintahkan kusirnya: [177] ‘Kusir, berjalanlah
lebih lambat agar aku dapat melihat para brahmana dan para perumah-tangga ini
lebih lama.’ Ini adalah keberhasilan ke empat yang dimiliki oleh seorang Raja
Pemutar-Roda.
“Ini adalah keempat
jenis keberhasilan yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
46. “Bagaimana menurut kalian, Para Bhikkhu? Apakah seorang Raja
Pemutar-Roda mengalami kenikmatan dan kegembiraan karena memiliki ketujuh
pusaka dan keempat keberhasilan ini?”
“Yang Mulia, seorang Raja Pemutar-Roda akan mengalami kenikmatan dan
kegembiraan karena memiliki bahkan hanya satu pusaka, apalagi ketujuh pusaka
dan keempat keberhasilan ini.”
47. Kemudian, dengan mengambil sebutir batu berukuran sekepalan
tanganNya, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Bagaimana menurut
kalian, para bhikkhu? Manakah yang lebih besar, batu kecil yang kuambil ini,
yang berukuran sekepalan tanganKu, atau Himalaya, raja pegunungan?”
“Yang Mulia, batu
kecil yang telah Sang Bhagavā ambil itu, yang berukuran sekepalan tangan
Beliau, tidak berarti dibandingkan Himalaya, raja pegunungan; bahkan tidak ada
sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan.”
“Demikian
pula, para bhikkhu, kenikmatan dan kegembiraan yang dialami oleh seorang Raja
Pemutar-Roda karena memiliki ketujuh pusaka dan keempat keberhasilan adalah
tidak berarti dibandingkan kebahagiaan surgawi; bahkan tidak ada sebagian
kecilnya, tidak dapat dibandingkan.
48. “Jika
pada suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, si bijaksana itu terlahir
kembali menjadi manusia, adalah di dalam keluarga yang tinggi ia terlahir
kembali – dalam keluarga mulia makmur, atau keluarga brahmana makmur, atau
keluarga perumah-tangga makmur – yang kaya, memiliki banyak harta kekayaan,
memiliki banyak kepemilikan, dengan emas dan perak berlimpah, dan aset dan
harta berlimpah, dan dengan uang dan hasil panen berlimpah. Ia tampan, menarik,
dan anggun, memiliki kulit yang sangat indah. Ia mendapatkan makanan dan
minuman, pakaian, kendaraan, kalung-bunga, wangi-wangian dan salep, tempat
tidur, tempat tinggal, dan cahaya. Ia berperilaku baik dalam jasmani, ucapan,
dan pikiran, [178] dan setelah melakukan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali di alam tujuan kelahiran yang bahagia, bahkan di
alam surga.
49. “Para bhikkhu, misalkan
seorang penjudi pada lemparan pertamanya yang beruntung memenangkan harta
besar, namun suatu lemparan beruntung seperti itu adalah tidak berarti; adalah
lemparan yang jauh lebih beruntung ketika seorang bijaksana yang berperilaku
baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali di alam tujuan kelahiran yang bahagia, bahkan di
alam surga. Ini adalah kesempurnaan penuh dari tingkatan si bijaksana.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Apalah artinya, vonis pidana
satu atau dua tahun, atau hanya hitungan beberapa bulan pemenjaraan. Penalisasi
di Indonesia tergolong ringan dan teramat lunak, bila tidak dapat disebut “separuh
hati” penegakannya. Sejahat apapun kejahatan seorang pelaku kriminalitas, vonis
pidana maksimumnya ialah bila tidak dua puluh tahun, maka vonis pidana seumur
hidup—vonis mati sudah tidak dihitung, karena adanya “escape clause”
berupa masa percobaan selama sepuluh tahun—dimana usia hidup seseorang rata-rata
dibawah seratus tahun lamanya. Akan kembali terulang pemberitaan, pelaku
kejahatan yang sekalipun kejahatannya tergolong “extra-ordinary”, akan tetapi
vonis hukumannya “NIHIL tahun penjara”, karena sebelumnya telah divonis dua-puluh
tahun penjara—lihat kasus korupsi ASABRI.
Apalah artinya kesemua itu,
dengan penghukuman dan eksekusi di Alam Neraka? Bila Anda adalah kalangan
korban yang cukup cerdas dan mampu membandingkan antara vonis hukuman mendekam di
penjara dan di Alam Neraka, maka bukankah sudahlah jelas opsi pilihan
terbaiknya kemanakah pelakunya sebaiknya dijebloskan? Sebagaimana kata pepatah,
ketika satu pintu tertutup bagi kita, maka pintu lain terbuka bagi kita. Penjahat
yang dungu, akan lari dari tanggung-jawab, dengan segala cara, dan merasa “beruntung”
karena lolos dari penghukuman pidana (imun). Penjahat yang cerdas, justru akan
mencari sang korban untuk bertanggung-jawab, demi kepentingan sang pelaku itu
sendiri agar tidak terjeblos ke Alam Neraka.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.