JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Seni Melatih Keterampilan “Self-Control” agar Senantiasa “Under-Control” : Berikan “JEDA WAKTU” Berupa “Jarak dari Sensasi Apapun” yang Muncul saat Suatu Peristiwa Terjadi—Berjarak dari Rasa Takut, Amarah, Harapan, Keinginan, maupun Delusi Apapun. Yang Ada Hanya Pemikiran yang Jernih dan Objektif

Lawan Kata “Lepas Kendali” ialah “Self-Control” agar “Under-Control

Tiadanya “Self-Control / Under-Control” Mengakibatkan Seseorang “Lepas Kendali”

Ambil Jarak dan Jeda Waktu untuk Kita “Cool Down”, “Tetap Tenang”, Menyisihkan Rasa Takut, Mengambil Kembali Kendali-Diri, serta MENYELIDIKI

Seseorang yang tidak punya kebiasaan terlatih dalam kendali-diri, akan cenderung “reaktif” tanpa-kendali, bukan “merespon” penuh kendali-diri. Bila “merespon” artinya kita tidak tunduk pada sifat impulsif ataupun sebaliknya rasa takut yang bersarang dalam diri, namun mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan, yakni faktor internal diri, apapun faktor eksternal diri yang tidak bisa kita kendalikan. Dengan merespon, kita bisa memilih untuk menjaga “inner peace”, atau untuk secara sadar tidak dimanipulasi, tidak diperdaya, tidak pasrah begitu saja, berpikir mandiri dan kritis, tidak dibodohi, maupun untuk tidak percaya begitu saja, tidak “termakan”, bahkan bila perlu untuk “melawan arus” kecenderungan dari dalam diri seperti rasa takut, delusi, harapan semu, melepas ekspektasi yang tidak realistis, dan sebagainya.

Singkat kata, bila “reaktif” artinya cenderung tunduk pada tendensi-kecondongan yang muncul secara seketika dari dalam diri, sementara “merespon” mengandung muatan “jeda waktu” dimana kita menggunakan kesadaran dan pikiran-jernih kita untuk meninjau, mengevalusi, mengobservasi, menimbang, secara matang mengambil-alih kendali atas diri kita sendiri, tanpa membiarkan diri tunduk pada kecenderungan dari dalam diri yang belum tentu baik adanya bagi diri kita sendiri.

Orang-orang yang “reaktif”, paling mudah disetir dan didikte, bahkan dijengkal dengan jari untuk diukur kedangkalan cara berpikir dan bereaksinya. Seorang penakut, reaksinya ialah cenderung “takut-takut”, sehingga mudah dimanipulasi oleh orang lain. Akan tetapi lewat berkesadaran, seseorang yang dasarnya penakut sekalipun dapat menyadari dan menaklukkan rasa takutnya, melampaui rasa takut, dan memberi respon berupa “sikap tenang” tanpa dapat dengan mudah diperdaya oleh orang lain. Seseorang yang dasarnya dungu, reaksinya cenderung dungu, mereka pun tampak sebagai “mangsa empuk” (easy prey) ketika berjumpa atau berhadapan dengan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab dan beritikad buruk.

Sebaliknya, pihak-pihak yang dasariahnya suka kekerasan, reaksinya akan cenderung “menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik”, sekalipun terhadap ujaran atau hal-hal yang tergolong “sepele” (trivial matters). Begitupula seseorang yang dasariahnya mudah berkata dusta atau berbohong, reaksinya akan cenderung berpikir-singkat “berbohong sebagai cara tercepat dan termudah untuk menyelesaikan setiap masalah”. Adapun manusia-manusia yang beradab, menjadi beradab karena kemampuan yang terasah hingga taraf terampil dalam “merespon” (under-control), bukan “bereaksi” (lepas-kendali) terhadap setiap kejadian yang ia hadapi atau jumpai.

Setiap pengalaman apapun yang kita hadapi, tanpa memberinya “jeda waktu”, secara “alam bawah sadar” kita selalu memberinya makna, proses pemaknaan yang bahkan tidak kita sadari terjadinya akibat proses pikiran yang begitu cepat dan hampir seketika. Bila alam bawah sadar kita dikuasai oleh rasa takut, maka kecenderungan reaksi kita ialah bersikap takut, dikuasai olehnya, dan menjelma pikiran serta tubuh yang “paralyze” (beku-kaku). Bila alam bawah sadar kita dikuasai oleh keserakahan, maka tanpa berpikir panjang, kecenderungannya ialah mengambil apapun untuk dimiliki dan dikuasai, sekalipun nyata-nyata merupakan hak atau milik pihak lain. Mereka bahkan tidak tahu, untuk apa ia menimbun begitu banyak harta-kekayaan. Bagai aliran air, alamiahnya bergerak ke arah BAWAH, bukan ke arah atas.

Hanya dengan memberikan “jeda waktu”, kesadaran (alam sadar) kita dapat bangkit untuk melakuran evaluasi dan pengamatan terhadap kecenderungan yang muncul dari dalam diri, selanjutnya melakukan penilaian, apakah itu merupakan “respon” yang tepat ataukah sebaliknya, hanya akan merusak segalanya, diri sendiri maupun orang lain. Kesadaran, hanya ada pada “present moment”, dengan berada pada momen “kekinian” yang sejatinya bersifat “netral” tanpa dibubuhi trauma masa lampau ataupun dicemari polusi-pikiran berwujud tendensi yang terbawa / terakumulasi dari kebiasaan / sifat masa-masa lampau.

Adapun mengapa kesadaran atau berkesadaran (mindfulness) adalah sebuah “kekuatan”, yakni prinsip sederhana psikologi seorang manusia yang berangkat pada postulat berikut : Ketika alam bawah sadar muncul ke permukaan, alam sadar tertekan ke dalam dasar samudera pikiran, maka kecenderungan-kecenderungan dari dalam diri akan mengambil-alih kendali atas diri kita, pikiran kita seolah “terkunci”, dimana kita menjadi “budak” dari tendensi yang muncul dari dalam diri—tendensi-tendensi mana merupakan bawaan dari kebiasaan, trauma, ataupun sifat-sifat yang terukir / terpahat secara bertahap dari waktu ke waktu di masa lampau. Sebaliknya, ketika alam sadar mencuat ke permukaan, alam bawah sadar tertekan ke dalam dasar lautan pikiran. Keduanya, tidak dapat muncul pada satu waktu bersamaan, dan saling tekan-menekan untuk mendominasi cara berpikir atau bersikap seseorang. Bila kita menemukan kalimat dalam sebuah pemberitaan kriminal, seperti “Tanpa tersangka sadari, ia telah ...”, itu adalah manifestasi dari “lepas-kendali”, dimana alam bawah sadarnya yang mengambil kontrol atas dirinya, dan diperbudak.

Cukup dengan memberikan “jeda waktu”, atas suatu peristiwa yang kita alami, maka kita dapat mengambil sebuah sikap yang disebut “deliberatif”, suatu proses yang berkebalikan sepenuhnya dari “reaksi spontan”. Disini, aktivitas berkesadaran mengambil-alih pikiran kita, dimana kita akan mulai mampu melihat tendensi / kecenderungan yang merupakan polutan / intervensi alam bawah sadar kita, sebelum kemudian melakukan seleksi secara sadar, sikap apakah yang dapat menjadi “respon” kita. Secara sadar, kita menjawab. Secara sadar, kita bertindak. Secara sadar, kita menanggapi. Secara sadar, kita memberi atau menolak. Secara sadar, kita menyetujui atau menentang. Secara sadar, kita menjauh atau mendekat. Secara sadar, kita mengambil atau melepaskan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, ketika kita membiarkan alam bawah sadar mengambil-alih pikiran kita dan tunduk untuk dikendalikan olehnya, maka itulah yang dapat kita sebut sebagai “lepas kendali”. Orang-orang yang “pendek sumbunya”, seperti “singgung sedikit, marah”, “tegur sedikit, emosional”, “senggol sedikit, murka”, “tatap mata sedikit, naik pitam”, atau seperti “tepuk sedikit, bacok”. Hanya ketika alam sadar kita diberdayakan sehingga berdaya, maka kita memasuki kondisi “under-control. Kita bisa jadi tidak punya kemampuan mengendalikan faktor-faktor eksternal diri seperti sikap orang lain terhadap diri kita, namun kita bisa mengontrol faktor internal diri kita, dan seni untuk melakukan itu ialah “JEDA WAKTU” atau “AMBIL JARAK”.

Sikapi dengan “jeda waktu”, jawab dengan “jeda waktu”, tanggapi dengan “jeda waktu”, balas dengan “jeda waktu”, berikan dengan “jeda waktu”, tolak dengan “jeda waktu”, setujui dengan “jeda waktu”, melawan dengan “jeda waktu”, bahkan berikan pula “jeda waktu” bagi “pengeruh-pikiran” seperti rasa takut, sifat tempramental, keinginan, obsesi, harapan, yang tidak lain upaya alam bawah sadar untuk membajak pikiran kita. Dengan “jeda waktu” yang cukup, kita dapat “menangkap-basah” alam bawah sadar yang mencuat, sang pembajak-pikiran. “AHA, aku menangkapmu, wahai perangkap bernama alam bawah sadar yang tidak jarang membuatku maupun orang lain celaka. Kini kau tidak dapat menghasut ataupun menjeratku.”

Istilah yang paling tepat bagi proses “berkesadaran” ialah, upaya “menyelidiki” dan mengambil sikap “setelah menyelidiki”, sehingga tiada ruang bagi “pikiran-kosong” yang hampa dari aktivitas “mengetahui / menyadari dan menyelidiki”. Aktif, bukan pasif. Dimana “menyelidiki”, butuh “JEDA WAKTU” untuk memberi “respon”, suatu kebalikan dari “sikap spontan” yang cenderung “reaktif”, pola khas dari alam bawah sadar. “Reaksi”, cenderung mekanistis. Karenanya, seseorang yang “reaktif” condong “pendek akal-pikirannya” (shallow minded).

Mungkin sebelumnya ada di antara pembaca yang bertanya-tanya, apakah “jeda waktu” diisi dengan “pikiran kosong”? Aktivitas berpikir berupa “mengamati” ataupun “menyelidiki” adanya kecondongan atau tendensi dari dalam diri, bukanlah “pikiran kosong” yang absen dari suatu aktivitas pikiran-aktif. Baik “mengamati” maupun “menyelidiki”, ialah kata kerja (verba), yang membutuhkan suatu upaya aktif secara deliberatif, yakni dimunculkan sifatnya. Adapun landasan bagi “pikiran kosong”, ialah “tiada kendali atas diri maupun pikiran” (lepas kendali), maka alam bawah sadar akan muncul ke permukaan dan menguasai diri, sementara alam sadar tenggelam.

Orang dengan dasariah sifat dungu, cenderung kerap “kosong pikirannya”, hampa dari aktivitas “mengamati” ataupun “menyelidiki”. Sementara antara “tiada kendali” dan “lepas kendali”, sifatnya sama-sama jauh dari kondisi “under-control”. Kita harus secara deliberatif meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat semacam “pikiran kosong”. Kesadaran tidak bertumpu pada “pikiran kosong”, ia berpijak pada “menyadari”, aktivitas-aktif yang juga sebentuk “verba”, kata kerja. “Ambil jarak” maupun “jeda waktu”, untuk kita mengisinya dengan apakah? Tidak lain tidak bukan untuk “menyelidiki”, yakni bertanya kedalam diri kita sendiri : “Apakah perasaan ini atau tiadanya kendali ini, bermanfaat ataukah tidak membawa manfaat bagi kebaikan diri kita?

“AMBIL JARAK” terhadap tendensi yang muncul dalam diri, suatu upaya sadar untuk “mengambil jarak” terhadap kecenderungan untuk “bereaksi”, lalu mengamati alam bawah sadar kita yang mencuat secara terselubung, mengobservasi, mengevaluasi, serta menyelidikinya. Itulah yang dimaksud dengan ambil “JEDA WAKTU”, jeda waktu untuk kita bernafas, kembali mempertimbangkan, untuk “cool down”, untuk menenangkan diri, untuk menyisihkan “rasa takut”, obsesi, amarah, dsb. Bila seseorang memiliki kecenderungan untuk “gengsian”, maka kita perlu mengambil jarak terhadap kecondongan untuk merasa “gengsi”, lalu secara deliberatif berkata kepada diri kita sendiri, “’I don’t care’ apa kata orang lain.”

Untuk menyederhanakannya, sebagai sebuah ringkasan singkat, ingat saja bahwa lawan kata dari “lepas / tiada / hilang kendali” ialah “under-control, dan lawan kata dari “under-control” ialah “lepas / tiada / hilang kendali”. Bila kita tidak sedang “under-control”, maka kita tengah “lepas / tiada / hilang kendali”. Bila kita absen dari “lepas / tiada kendali”, maka kita sedang “under-control”. Selanjutnya, meminjam nasehat dari Sang Buddha, ingatkan diri Anda untuk “meninggalkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang masih bersarang dalam diri dan bangkit-tumbuhkan kualitas-kualitas yang bermanfaat”.

Perihal “menyelidiki” dan “penyelidikan” yang merupakan akar dari aktivitas berkesadaran, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 95

Cankī Sutta : Bersama Cankī

[164] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengembara di negeri Kosala bersama dengan sejumlah besar Sagha para bhikkhu, dan akhirnya Beliau tiba di sebuah desa brahmana penduduk Kosala bernama Opasāda. Di sana Sang Bhagavā menetap di Hutan Para Dewa, Hutan Pohon-Sāla di utara Opasāda.

[NOTE : Paragraf pembuka sutta ini, hingga paragraf nomor ke-10, sebenarnya identik dengan paragraf pembuka Soadaṇḍa Sutta (Dīgha Nikāya 4).

Disebut “Hutan Para Dewa”, karena persembahan diberikan di sana kepada para dewa.]

2. Pada saat itu Brahmana Cankī adalah penguasa Opasāda, wilayah tanah kerajaan dengan makhluk hidup yang berlimpah, kaya akan padang rumput, hutan, sungai, dan sawah, suatu anugerah kerajaan, anugerah keramat yang diberikan kepadanya oleh Raja Pasenadi dari Kosala.

3. Para brahmana perumah-tangga di Opasāda mendengar: “Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, telah mengembara di negeri Videha bersama dengan sejumlah besar para bhikkhu, berjumlah lima ratus bhikkhu. Sekarang berita baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi. Beliau menyatakan dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, kepada generasi ini dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, yang telah Beliau tembus oleh diriNya sendiri dengan pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan sempurna sepenuhnya.’ Sekarang adalah baik sekali jika dapat menemui para Arahant demikian.”

4. Kemudian para brahmana perumah-tangga dari Opasāda berjalan dari Opasāda secara berkelompok dan berbaris mengarah ke utara menuju Hutan Para Dewa, Hutan Pohon Sāla.

5. Pada saat itu Brahmana Cankī telah naik ke lantai atas istananya untuk beristirahat siang. Kemudian ia melihat para brahmana perumah-tangga dari Opasāda berjalan dari Opasāda secara berkelompok dan berbaris mengarah ke utara menuju Hutan Para Dewa, Hutan Pohon Sāla. Ketika ia melihat mereka, ia bertanya kepada menterinya: “Menteriku, mengapakah brahmana perumah-tangga dari Opasāda berjalan dari Opasāda secara berkelompok dan berbaris mengarah ke utara menuju Hutan Para Dewa, Hutan Pohon Sāla?”

6. “Tuan, ada Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, yang sedang mengembara di negeri Kosala … (seperti pada paragraf nomor ke-3) … Mereka pergi menemui Guru Gotama.”

“Kalau begitu, menteriku, temui para brahmana perumah-tangga itu dan katakan: ‘Tuan-tuan, Brahmana Cankī berkata sebagai berikut: “Mohon Tuan-tuan menunggu sebentar. Brahmana Cankī juga akan pergi menemui Petapa Gotama”’”

“Baik, Tuan,” menteri itu menjawab, [165] dan ia menjumpai para brahmana perumah-tangga dari Opasāda dan menyampaikan pesannya.

7. Pada saat itu lima ratus brahmana dari berbagai wilayah sedang menetap di Opasāda untuk suatu urusan. Mereka mendengar: “Brahmana Cankī, dikatakan, akan menemui Petapa Gotama.” Kemudian mereka mendatangi Brahmana Cankī dan bertanya kepadanya: “Tuan, benarkah bahwa engkau akan menemui Petapa Gotama?”

“Demikianlah, Tuan-tuan. Aku akan menemui Petapa Gotama.”

8. “Tuan, jangan pergi menemui Petapa Gotama. Tidaklah selayaknya, Guru Cankī, bagimu untuk pergi menemui Petapa Gotama; sebaliknya, adalah selayaknya bagi Petapa Gotama untuk datang menemui engkau. Karena engkau, Tuan, terlahir dari kedua pihak, ibu dan ayah yang murni sampai tujuh generasi sebelumnya, tidak terbantahkan dan tidak tercela dalam hal kelahiran. Oleh karena itu, Guru Cankī, tidaklah selayaknya bagimu untuk pergi menemui Petapa Gotama; sebaliknya, adalah selayaknya bagi Petapa Gotama untuk datang menemui engkau. Engkau, Tuan, kaya, dengan kekayaan berlimpah dan banyak kepemilikan. Engkau, Tuan, adalah seorang yang menguasai Tiga Veda dengan kosa-kata, liturgi, fonologi, dan etimologi, dan sejarah-sejarah sebagai yang ke lima; mahir dalam ilmu bahasa dan tata bahasa, engkau mahir dalam filosofi alam dan dalam tanda-tanda manusia luar biasa. Engkau, Tuan, tampan, menarik, dan anggun, memiliki keindahan kulit yang luar biasa, dengan keindahan luar biasa dan penampilan luar biasa, menyenangkan dipandang. Engkau, Tuan, bermoral, matang dalam moralitas, memiliki moralitas yang matang. Engkau, Tuan, adalah seorang pembabar yang baik dengan penyampaian yang baik; [166] engkau mengucapkan kata-kata yang ramah, jelas, tanpa cacat, dan menyampaikan maknanya. Engkau, Tuan, mengajarkan guru-guru dari banyak orang, dan engkau mengajarkan pembacaan syair puji-pujian kepada tiga ratus murid brahmana. Engkau, Tuan, dihormati, dihargai, dipuja, dimuliakan, dan dijunjung oleh Raja Pasenadi dari Kosala. Engkau, Tuan, dihormati, dihargai, dipuja, dimuliakan, dan dijunjung oleh Brahmana Pokkharasāti. Engkau, Tuan, menguasai Opasāda, wilayah tanah kerajaan dengan makhluk hidup yang berlimpah … anugerah keramat yang diberikan kepadamu oleh Raja Pasenadi dari Kosala. Oleh karena itu, Guru Cankī, tidaklah selayaknya bagimu untuk pergi menemui Petapa Gotama; sebaliknya adalah selayaknya bagi Petapa Gotama untuk datang menemui engkau.”

[NOTE : Brahmana Pokkharasāti merupakan seorang brahmana kaya lainnya yang menetap di Ukkaṭṭhā, wilayah tanah kerajaan diberikan kepadanya oleh Raja Pasenadi. Dalam Majjhima Nikāya 2.21 / i.110 ia mendengarkan khotbah dari Sang Buddha, mencapai tingkat “memasuki-arus”, dan menyatakan berlindung kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Sagha bersama dengan seluruh keluarga dan pengikutnya.]

9. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Cankī berkata kepada para brahmana itu: “Sekarang, Tuan-tuan, dengarkanlah dariku mengapa selayaknya bagiku untuk pergi menemui Guru Gotama, dan mengapa tidak selayaknya bagi Guru Gotama untuk datang menemuiku. Tuan-tuan, Petapa Gotama terlahir dari kedua pihak, ibu dan ayah yang murni sampai tujuh generasi sebelumnya, tidak terbantahkan dan tidak tercela dalam hal kelahiran. Oleh karena itu, Tuan-tuan, tidaklah selayaknya bagi Petapa Gotama untuk datang menemuiku; sebaliknya, adalah selayaknya bagiku untuk pergi menemui Guru Gotama. Tuan-tuan, Petapa Gotama meninggalkan keduniawian dengan melepaskan banyak emas dan perak yang tersimpan dalam gudang dan lumbung. Tuan tuan, Petapa Gotama meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah selagi masih muda, seorang pemuda berambut hitam yang memiliki berkah kemudaan, dalam masa utama kehidupannya. Tuan-tuan, Petapa Gotama mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah walaupun ibu dan ayahnya menginginkan sebaliknya dan menangis dengan wajah berlinang air mata. Tuan-tuan, Petapa Gotama tampan, menarik, dan anggun, memiliki keindahan kulit yang luar biasa, [167] dengan keindahan luar biasa dan penampilan luar biasa, menyenangkan dipandang. Tuan-tuan, Petapa Gotama bermoral, dengan moralitas mulia, dengan moralitas bermanfaat, memiliki moralitas yang bermanfaat. Tuan-tuan, Petapa Gotama adalah seorang pembabar yang baik dengan penyampaian yang baik; Beliau mengucapkan kata-kata yang ramah, jelas, tanpa cacat, dan menyampaikan maknanya. Tuan-tuan, Petapa Gotama adalah guru bagi guru-guru dari banyak orang. Tuan-tuan, Petapa Gotama bebas dari nafsu indria dan tidak membanggakan diri. Tuan-tuan, Petapa Gotama menganut doktrin efektivitas tindakan bermoral, doktrin efektivitas perbuatan bermoral; Beliau tidak berniat mencelakai silsilah para brahmana. Tuan-tuan, Petapa Gotama meninggalkan keduniawian dari keluarga kerajaan, dari salah satu keluarga mulia yang asli. Tuan-tuan, Petapa Gotama meninggalkan keduniawian dari keluarga kaya, dari keluarga dengan kekayaan berlimpah dan kepemilikan berlimpah. Tuan-tuan, orang-orang datang dari kerajaan-kerajaan yang jauh dan daerah-daerah yang jauh untuk bertanya kepada Petapa Gotama. Tuan-tuan, ribuan dewa telah berlindung seumur hidup kepada Petapa Gotama. Tuan-tuan, suatu berita baik sehubungan dengan Petapa Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.’ Tuan-tuan, Petapa Gotama memiliki tiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa. Tuan-tuan, Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha dan istrinya dan anak-anaknya telah berlindung seumur hidup kepada Petapa Gotama. Tuan-tuan, Raja Pasenadi dari Kosala dan istrinya dan anak-anaknya telah berlindung seumur hidup kepada Petapa Gotama. Tuan-tuan, Brahmana Pokkharasāti dan istrinya dan anak-anaknya telah berlindung seumur hidup kepada Petapa Gotama. Tuan-tuan, Petapa Gotama telah tiba di Opasāda dan menetap di Opasāda di Hutan Para Dewa, di Hutan Pohon Sāla di utara Opasāda. Sekarang setiap petapa atau brahmana yang datang ke pemukiman kita adalah tamu kita, dan tamu seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan oleh kita. Karena Petapa Gotama telah tiba di Opasāda, maka Beliau adalah tamu kita, dan karena Beliau adalah tamu kita maka Beliau seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan oleh kita. [168] Oleh karena itu, Tuan-tuan, tidaklah selayaknya bagi Guru Gotama untuk datang menemuiku; sebaliknya, adalah selayaknya bagiku untuk pergi menemui Guru Gotama.

“Tuan-tuan, sebanyak ini pujian atas Guru Gotama yang telah kuketahui, tetapi pujian atas Guru Gotama tidak terbatas pada itu, karena pujian atas Guru Gotama adalah tidak terbatas. Karena Guru Gotama memiliki masing-masing dari faktor-faktor ini, maka tidaklah selayaknya bagi Beliau untuk datang menemuiku; sebaliknya, adalah selayaknya bagiku untuk pergi menemui Guru Gotama. Oleh karena itu, Tuan-tuan, marilah kita semuanya pergi menemui Petapa Gotama.”

10. Kemudian Brahmana Cankī, bersama dengan sejumlah besar brahmana, pergi mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi.

11. Pada saat itu Sang Bhagavā sedang duduk dan beramah-tamah dengan beberapa brahmana yang sangat senior. Ketika itu, duduk dalam kumpulan itu, seorang murid brahmana bernama Kāpahika. Muda, berkepala-gundul, berusia enam belas tahun, ia adalah seorang yang menguasai Tiga Veda dengan kosa-kata, liturgi, fonologi, dan etimologi, dan sejarah-sejarah sebagai yang ke lima; mahir dalam ilmu bahasa dan tata bahasa, ia mahir dalam filosofi alam dan dalam tanda-tanda manusia luar biasa. Sementara para brahmana yang sangat senior sedang berbincang-bincang dengan Sang Bhagavā, ia berulang-ulang menyela pembicaraan mereka. Kemudian Sang Bhagavā menegur murid brahmana Kāpahika sebagai berikut: “Mohon Yang Mulia Bhāradvāja tidak menyela pembicaraan para brahmana senior ketika mereka sedang berbicara. Mohon Yang Mulia Bhāradvāja menunggu hingga pembicaraan selesai.”

Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Cankī berkata kepada Sang Bhagavā: “Mohon Guru Gotama tidak menegur murid brahmana Kāpahika. Murid brahmana Kāpahika adalah seorang anggota keluarga, ia sangat terpelajar, ia adalah penyampai ajaran yang baik, ia bijaksana; ia mampu mengambil bagian dalam diskusi dengan Guru Gotama.”

12. Kemudian Sang Bhagavā berpikir: “Tentu saja, [169] karena para brahmana menghormatinya demikian, murid brahmana Kāpahika pasti mahir dalam kitab-kitab Tiga Veda.”

Kemudian murid brahmana Kāpahika berpikir: “Ketika Petapa Gotama melihatku, aku akan mengajukan pertanyaan kepada Beliau.”

Kemudian, mengetahui pikiran murid brahmana Kāpahika dengan pikiran Beliau sendiri, Sang Bhagavā berpaling kepadanya. Kemudian murid brahmana Kāpahika berpikir: “Petapa Gotama telah berpaling kepadaku. Bagaimana jika aku mengajukan sebuah pertanyaan.” Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, sehubungan dengan syair-syair pujian brahmanis kuno yang diturunkan melalui penyampaian lisan, yang dilestarikan dalam kitab-kitab, para brahmana sampai pada kesimpulan pasti: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”

13. “Bagaimanakah, Bhāradvāja, di antara para brahmana adakah bahkan seorang brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

[NOTE : Dengan demikian, yang Bhāradvāja maksudkan sebagai “hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah”, merupakan suatu sifat “apriori”—sebelum mengetahui (melihat, menyelidiki, dsb) keadaan yang sebenarnya. Berbeda dengan kebenaran Dhamma, yang sifatnya ditembus secara langsung pengetahuannya.]

“Bagaimanakah, Bhāradvāja, di antara para brahmana adakah bahkan seorang guru atau guru dari para guru sampai tujuh generasi para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

“Bagaimanakah, Bhāradvāja, para petapa brahmana masa lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair-syair pujian, yang syair-syair pujiannya dulu dibacakan, diucapkan, dan dihimpun, yang oleh para brahmana sekarang masih dibacakan dan diulangi – yaitu, Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva, Vessāmitta, Yamataggi, Angirasa, Bhāradvāja, Vāseṭṭha, Kassapa, dan Bhagu - apakah bahkan para petapa brahmana masa lampau ini mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – [170] “Tidak, Guru Gotama.”

[NOTE : Nama-nama yang disebut di atas, adalah para rishi masa lampau yang oleh para brahmana dianggap sebagai para penulis syair-syair pujian Veda.]

Jadi, Bhāradvāja, sepertinya di antara para brahmana tidak ada bahkan seorang brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Dan di antara para brahmana tidak ada bahkan seorang guru atau guru dari para guru sampai tujuh generasi para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Dan para petapa brahmana masa lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair syair pujian … bahkan para petapa brahmana masa lampau ini tidak mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Misalkan terdapat sebaris orang buta yang masing-masing bersentuhan dengan yang berikutnya: orang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat. Demikian pula, Bhāradvāja, sehubungan dengan pernyataan mereka, para brahmana itu tampak seperti sebaris orang buta itu: orang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat. Bagaimana menurutmu, Bhāradvāja, oleh karena itu, apakah keyakinan para brahmana itu terbukti tidak berdasar?

14. “Para brahmana menghormati ini hanya karena keyakinan, Guru Gotama. Mereka juga menghormatinya sebagai tradisi lisan.”

“Bhāradvāja, pertama-tama engkau berpegang pada keyakinan, sekarang engkau mengatakan tradisi lisan. Ada lima hal, Bhāradvāja, yang mungkin terbukti dalam dua cara berbeda di sini dan saat ini. Apakah lima ini? Keyakinan, persetujuan, tradisi lisan, penalaran, dan penerimaan pandangan melalui perenungan. Kelima hal ini mungkin terbukti dalam dua cara berbeda di sini dan saat ini. Sekarang sesuatu mungkin sepenuhnya diterima karena keyakinan, namun hal itu mungkin kosong, hampa, dan salah; tetapi hal lainnya mungkin tidak sepenuhnya diterima karena keyakinan, namun hal itu mungkin adalah fakta, benar, dan tidak salah. Kemudian, [171] sesuatu mungkin sepenuhnya disetujui … disampaikan dengan baik … dinalar dengan baik … direnungkan dengan baik, namun hal itu mungkin kosong, hampa, dan salah; tetapi hal lainnya mungkin tidak direnungkan dengan baik, namun hal itu mungkin adalah fakta, benar, dan tidak salah. [Dalam kondisi-kondisi ini] adalah tidak selayaknya bagi seorang bijaksana yang melestarikan kebenaran untuk sampai pada kesimpulan pasti: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’”

[NOTE : “Keyakinan, persetujuan, tradisi lisan, penalaran, dan penerimaan pandangan melalui perenungan”, dalam Pali: saddhā, ruci, anussava, ākāparivitakka, diṭṭhinijjhānakkhanti. Di antara kelima landasan bagi kepastian ini, dua yang pertama sepertinya umumnya berdasarkan perasaan, yang ke tiga adalah penerimaan tradisi secara membuta, dan dua terakhir umumnya adalah penalaran rasional. “Dua cara berbeda” masing-masing adalah terbukti benar dan salah.

Perihal kalimat “Sekarang sesuatu mungkin sepenuhnya diterima karena keyakinan, namun hal itu mungkin kosong, hampa, dan salah; tetapi hal lainnya mungkin tidak sepenuhnya diterima karena keyakinan, namun hal itu mungkin adalah fakta, benar, dan tidak salah”, dogma pilar dalam agama samawi seperti “penghapusan dosa”, adalah mustahil menurut Hukum Karma. Namun mereka yakini semata karena tertulis demikian di kitab agama samawi. Sebaliknya, “rebirt / reborn”, kelahiran-kembali, yang sekalipun telah mampu dibuktikan secara ilmiah lewat metoda ilmu psikologi “past-life regression”, sebagian besar masyarakat kita tetap tidak mengakuinya sebagai kebenaran.

Perihal kalimat “adalah tidak selayaknya bagi seorang bijaksana yang melestarikan kebenaran untuk sampai pada kesimpulan pasti”, tidaklah selayaknya baginya untuk sampai pada kesimpulan karena ia belum secara pribadi memastikan kebenaran yang ia yakini tetapi hanya menerimanya atas dasar apa yang tidak dapat menghasilkan kepastian.]

15. “Tetapi, Guru Gotama, dengan cara bagaimanakah pelestarian kebenaran itu? Bagaimanakah seseorang melestarikan kebenaran? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang pelestarian kebenaran.”

[NOTE : Saccānurakkhana berarti pelestarian kebenaran, mengamankan kebenaran, atau perlindungan kebenaran.]

“Jika seseorang memiliki keyakinan, Bhāradvāja, ia melestarikan kebenaran ketika ia mengatakan: ‘Keyakinanku adalah demikian’; tetapi ia belum sampai pada kesimpulan pasti: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Dengan cara ini terjadi pelestarian kebenaran; dengan cara inilah ia melestarikan kebenaran; dengan cara ini kami menjelaskan pelestarian kebenaran. Tetapi belum terjadi penemuan kebenaran.

[NOTE : Saccānubodha bermakna terjadi penemuan kebenaran, atau tercerahkan pada kebenaran.]

Jika seseorang menyetujui sesuatu … jika ia menerima penyampaian tradisi lisan … jika ia [sampai pada kesimpulan yang berdasarkan pada] penalaran … jika ia memperoleh penerimaan pandangan melalui perenungan, ia melestarikan kebenaran ketika ia mengatakan: ‘Penerimaanku atas suatu pandangan setelah merenungkan adalah demikian’; tetapi ia belum sampai pada kesimpulan pasti: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Dengan cara ini juga, Bhāradvāja, terjadi pelestarian kebenaran; dengan cara ini ia melestarikan kebenaran; dengan cara ini kami menjelaskan pelestarian kebenaran. Tetapi belum terjadi penemuan kebenaran.”

16. “Dengan cara itu, Guru Gotama, terjadi pelestarian kebenaran; dengan cara itu seseorang melestarikan kebenaran; dengan cara itu kami mengetahui pelestarian kebenaran. Tetapi dengan cara bagaimanakah, Guru Gotama, penemuan kebenaran itu? Dengan cara bagaimanakah seseorang menemukan kebenaran? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang penemuan kebenaran.”

17. “Di sini, Bhāradvāja, seorang bhikkhu mungkin hidup dengan bergantung pada suatu desa atau pemukiman. Kemudian seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga mendatanginya dan menyelidikinya sehubungan dengan tiga jenis kondisi: [172] sehubungan dengan kondisi-kondisi yang berdasarkan pada keserakahan, sehubungan dengan kondisi-kondisi yang berdasarkan pada kebencian, dan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang berdasarkan pada delusi: ‘Adakah pada Yang Mulia ini kondisi-kondisi apapun yang berdasarkan pada keserakahan sehingga, dengan pikirannya dikuasai oleh kondisi-kondisi tersebut, walaupun tidak mengetahui ia akan mengatakan, “Aku tahu,” atau walaupun tidak melihat ia akan mengatakan “Aku melihat,” atau ia mungkin mendorong orang lain untuk berbuat dalam suatu cara yang akan mengarahkannya pada bahaya dan penderitaan untuk waktu yang lama?Ketika ia menyelidikinya ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi-kondisi yang berdasarkan pada keserakahan demikian pada Yang Mulia ini. Perilaku jasmani dan perilaku ucapan dari Yang Mulia ini tidak seperti seorang yang terpengaruh oleh keserakahan. Dan Dhamma yang diajarkan oleh Yang Mulia ini adalah mendalam, sulit dilihat dan sulit dipahami, damai dan luhur, tidak dapat dicapai hanya melalui logika, halus, untuk dialami oleh para bijaksana. Dhamma ini tidak mungkin dengan mudah diajarkan oleh seorang yang terpengaruh oleh keserakahan.

[NOTE : Prosedur penemuan kebenaran yang direkomendasikan oleh sutta ini, tampak sebagai suatu penjelasan atas pendekatan yang dibabarkan pada Majjhima Nikāya 47.]

18. “Ketika ia telah menyelidikinya dan telah melihat bahwa ia murni dari kondisi-kondisi yang berdasarkan pada keserakahan, selanjutnya ia menyelidikinya sehubungan dengan kondisi-kondisi yang berdasarkan pada kebencian: ‘Adakah pada Yang Mulia ini kondisi-kondisi apapun yang berdasarkan pada kebencian sehingga, dengan pikirannya dikuasai oleh kondisi-kondisi tersebut … ia mungkin mendorong orang lain untuk berbuat dalam suatu cara yang akan mengarahkannya pada bahaya dan penderitaan untuk waktu yang lama?’ Ketika ia menyelidikinya ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi-kondisi yang berdasarkan pada kebencian demikian pada Yang Mulia ini. Perilaku jasmani dan perilaku ucapan dari Yang Mulia ini tidak seperti seorang yang terpengaruh oleh kebencian. Dan Dhamma yang diajarkan oleh Yang Mulia ini adalah mendalam … untuk dialami oleh para bijaksana. Dhamma ini tidak mungkin dengan mudah diajarkan oleh seorang yang terpengaruh oleh kebencian.’

19. “Ketika ia telah menyelidikinya dan telah melihat bahwa ia murni dari kondisi-kondisi yang berdasarkan pada kebencian, selanjutnya ia menyelidikinya sehubungan dengan kondisi-kondisi yang berdasarkan pada delusi: ‘Adakah pada Yang Mulia ini kondisi-kondisi apapun yang berdasarkan pada delusi sehingga, dengan pikirannya dikuasai oleh kondisi-kondisi tersebut … ia mungkin mendorong orang lain untuk berbuat dalam suatu cara yang akan mengarahkannya pada bahaya dan penderitaan untuk waktu yang lama?’ Ketika ia menyelidikinya ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi-kondisi yang berdasarkan pada delusi demikian pada Yang Mulia ini. Perilaku jasmani dan perilaku ucapan dari Yang Mulia ini tidak seperti seorang yang terpengaruh oleh delusi. Dan Dhamma yang diajarkan oleh Yang Mulia ini adalah mendalam … untuk dialami oleh para bijaksana. Dhamma ini tidak mungkin dengan mudah diajarkan oleh seorang yang terpengaruh oleh delusi.’

20. “Ketika ia telah menyelidikinya dan telah melihat bahwa ia murni dari kondisi-kondisi yang berdasarkan pada delusi, kemudian ia berkeyakinan padanya; dengan penuh keyakinan ia mengunjunginya dan memberikan penghormatan kepadanya; setelah memberikan penghormatan, ia menyimak; ketika ia menyimak, ia mendengar Dhamma; setelah mendengar Dhamma, ia menghafalkannya dan meneliti makna dari ajaran yang telah ia hafalkan; ketika ia meneliti makna maknanya, ia memperoleh penerimaan atas ajaran-ajaran itu melalui perenungan; ketika ia memperoleh penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran itu, kemauan muncul; ketika kemauan muncul, ia mengerahkan tekadnya; setelah mengerahkan tekadnya, ia menyelidiki; setelah menyelidiki, ia berusaha; karena berusaha dengan sungguh-sungguh, ia dengan tubuhnya mencapai kebenaran tertinggi dan melihat dengan menembusnya dengan kebijaksanaan. Dengan cara ini, Bhāradvāja, terjadi penemuan kebenaran; dengan cara ini seseorang menemukan kebenaran; dengan cara ini kami menjelaskan penemuan kebenaran. Tetapi masih belum kedatangan akhir pada kebenaran.”

[NOTE : Tūleti, menyelidiki. Ia menyelidiki hal-hal sehubungan dengan ketidak-kekalan, dan seterusnya. Tahap ini sepertinya merupakan tahap perenungan pandangan terang.

Perihal “setelah menyelidiki, ia berusaha”, walaupun pengerahan tekad (ussahati) terlihat serupa dengan usaha (padahati), namun pengerahan tekad dapat dipahami sebagai usaha yang dikerahkan sebelum perenungan pandangan terang, sedangkan usaha dipahami sebagai pengerahan yang membawa pandangan terang hingga pada tingkat jalan lokuttara.

Perihal “mencapai kebenaran tertinggi dan melihat dengan menembusnya dengan kebijaksanaan “, ia mencapai Nibbāna dengan tubuh batin (dari jalan memasuki-arus), dan setelah menembus kekotoran-kekotoran, ia melihat Nibbāna dengan kebijaksanaan, nyata dan terbukti.

Sementara penemuan kebenaran dalam konteks paragraf di atas, sepertinya menyiratkan pencapaian tingkat memasuki-arus, kedatangan akhir pada kebenaran (saccānuppati) sepertinya bermakna pencapaian penuh Kearahantaan. Perhatikan bagaimana Sang Buddha membedakan antara “penemuan kebenaran” dan “kedatangan akhir pada kebenaran”.]

21. “Dengan cara itu, Guru Gotama, terjadi penemuan kebenaran; dengan cara itu seseorang menemukan kebenaran; dengan cara itu kami mengetahui penemuan kebenaran. Tetapi dengan cara bagaimanakah, Guru Gotama, terjadi kedatangan akhir pada kebenaran? Dengan cara bagaimanakah seseorang akhirnya sampai pada kebenaran? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang kedatangan akhir pada kebenaran.” [174]

Kedatangan akhir pada kebenaran, Bhāradvāja, terletak pada pengulangan, pengembangan, dan pelatihan hal-hal yang sama itu. Dengan cara inilah, Bhāradvāja, terjadi kedatangan akhir pada kebenaran; dengan cara ini seseorang akhirnya sampai pada kebenaran; dengan cara ini kami menjelaskan kedatangan akhir pada kebenaran.

22. “Dengan cara itu, Guru Gotama, terjadi kedatangan akhir pada kebenaran; dengan cara itu seseorang akhirnya sampai pada kebenaran; dengan cara itu kami mengetahui kedatangan akhir pada kebenaran. Tetapi apakah, Guru Gotama, hal yang paling membantu bagi kedatangan akhir pada kebenaran? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi kedatangan akhir pada kebenaran.”

Usaha adalah yang paling membantu bagi kedatangan akhir pada kebenaran, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak berusaha, maka ia tidak akan pada akhirnya sampai pada kebenaran; tetapi karena ia berusaha, maka ia akhirnya sampai pada kebenaran. Itulah sebabnya mengapa usaha adalah yang paling membantu bagi kedatangan akhir pada kebenaran.”

23. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi usaha? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi usaha.”

Penyelidikan adalah yang paling membantu bagi usaha, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak menyelidiki, maka ia tidak akan berusaha; tetapi karena ia menyelidiki, maka ia berusaha. Itulah sebabnya mengapa penyelidikan adalah yang paling membantu bagi usaha.

24. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi penyelidikan? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi penyelidikan.”

Pengerahan tekad adalah yang paling membantu bagi penyelidikan, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak mengerahkan tekadnya, maka ia tidak akan menyelidiki; tetapi karena ia mengerahkan tekadnya, maka ia menyelidiki. Itulah sebabnya mengapa pengerahan tekad adalah yang paling membantu bagi penyelidikan.”

25. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi pengerahan tekad? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi pengerahan tekad.”

Kemauan adalah yang paling membantu bagi pengerahan tekad, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak membangkitkan kemauan, maka ia tidak akan mengerahkan tekadnya; tetapi karena ia membangkitkan kemauan, maka ia berusaha. Itulah sebabnya mengapa kemauan adalah yang paling membantu bagi pengerahan tekad.

26. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi kemauan? [175] Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi kemauan.”

Penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran adalah yang paling membantu bagi semangat, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak memperoleh penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran, maka kemauan tidak akan muncul; tetapi karena ia memperoleh penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran, maka kemauan muncul. Itulah sebabnya mengapa penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran adalah yang paling membantu bagi kemauan.

27. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran.

Penelitian makna adalah yang paling membantu bagi penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak meneliti makna-maknanya, maka ia tidak akan memperoleh penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran; tetapi karena ia meneliti makna-maknanya, maka ia memperoleh penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran. Itulah sebabnya mengapa penelitian adalah yang paling membantu bagi penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran.

28. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi penelitian makna? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi penelitian makna.

Penghafalan ajaran-ajaran adalah yang paling membantu bagi penelitian makna, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak menghafalkan ajaran, maka ia tidak akan meneliti maknanya; tetapi karena ia menghafalkan ajaran, maka ia meneliti maknanya.

29. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi penghafalan ajaran-ajaran? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi penghafalan ajaran-ajaran.”

Mendengarkan Dhamma adalah yang paling membantu bagi penghafalan ajaran-ajaran, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak mendengarkan Dhamma, maka ia tidak akan menghafalkan ajaran-ajaran; tetapi karena ia mendengarkan Dhamma, maka ia menghafalkan ajaran-ajaran. Itulah sebabnya mengapa mendengarkan Dhamma adalah yang paling membantu bagi penghafalan ajaran-ajaran.”

30. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi mendengarkan Dhamma? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi mendengarkan Dhamma.

Menyimak adalah yang paling membantu bagi mendengarkan Dhamma, Bhāradvāja. [176] Jika seseorang tidak menyimak, maka ia tidak akan mendengarkan Dhamma; tetapi karena ia menyimak, maka ia mendengarkan Dhamma. Itulah sebabnya mengapa menyimak adalah yang paling membantu bagi mendengarkan Dhamma.

31. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu dalam menyimak? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu dalam menyimak.”

Memberikan penghormatan adalah yang paling membantu dalam menyimak, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak menghormat, maka ia tidak akan menyimak; tetapi karena ia menghormat, maka ia menyimak. Itulah sebabnya mengapa memberi penghormatan adalah yang paling membantu dalam menyimak.”

32. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu dalam memberi penghormatan? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu dalam memberi penghormatan.

Mengunjungi adalah yang paling membantu dalam memberi penghormatan, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak mengunjungi [seorang guru], maka ia tidak akan memberi penghormatan; tetapi karena ia mengunjungi [seorang guru], maka ia memberi penghormatan. Itulah sebabnya mengapa mengunjungi adalah yang paling membantu dalam memberi penghormatan.

33. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu dalam mengunjungi? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu dalam mengunjungi.”

Keyakinan adalah yang paling membantu dalam mengunjungi, Bhāradvāja. Jika keyakinan [pada seorang guru] tidak muncul, maka ia tidak akan mengunjunginya; tetapi karena keyakinan [pada seorang guru] muncul, maka ia mengunjunginya. Itulah sebabnya mengapa keyakinan adalah yang paling membantu dalam mengunjungi.

34. “Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang pelestarian kebenaran, dan Guru Gotama menjawab tentang pelestarian kebenaran; kami menyetujui dan menerima jawaban itu, dan karena itu kami merasa puas. Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang penemuan kebenaran, dan Guru Gotama menjawab tentang penemuan kebenaran; kami menyetujui dan menerima jawaban itu, dan karena itu kami merasa puas. Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang kedatangan akhir pada kebenaran, dan Guru Gotama menjawab tentang kedatangan akhir pada kebenaran; kami menyetujui dan menerima jawaban itu, dan karena itu kami merasa puas. [177] Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi kedatangan akhir pada kebenaran, dan Guru Gotama menjawab tentang hal yang paling membantu bagi kedatangan akhir pada kebenaran; kami menyetujui dan menerima jawaban itu, dan karena itu kami merasa puas. Apapun yang kami tanyakan kepada Guru Gotama, Beliau telah menjawab kami; kami menyetujui dan menerima jawaban itu, dan karena itu kami merasa puas. Sebelumnya, Guru Gotama, kami biasanya berpikir: ‘Siapakah para petapa berkepala gundul ini, keturunan rendah dan gelap dari kaki Leluhur, sehingga mereka dapat memahami Dhamma?’ Tetapi Guru Gotama sungguh telah menginspirasiku dalam cinta kasih kepada para petapa, keyakinan pada para petapa, hormat pada para petapa.

35. “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sagha para bhikkhu. Mulai hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.