Lawan Kata “Lepas Kendali” ialah “Self-Control” agar “Under-Control”
Tiadanya “Self-Control / Under-Control” Mengakibatkan Seseorang
“Lepas Kendali”
Ambil Jarak dan Jeda Waktu untuk Kita “Cool Down”, “Tetap Tenang”, Menyisihkan Rasa Takut, Mengambil Kembali Kendali-Diri, serta MENYELIDIKI
Seseorang yang tidak punya kebiasaan terlatih dalam kendali-diri, akan cenderung “reaktif” tanpa-kendali, bukan “merespon” penuh kendali-diri. Bila “merespon” artinya kita tidak tunduk pada sifat impulsif ataupun sebaliknya rasa takut yang bersarang dalam diri, namun mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan, yakni faktor internal diri, apapun faktor eksternal diri yang tidak bisa kita kendalikan. Dengan merespon, kita bisa memilih untuk menjaga “inner peace”, atau untuk secara sadar tidak dimanipulasi, tidak diperdaya, tidak pasrah begitu saja, berpikir mandiri dan kritis, tidak dibodohi, maupun untuk tidak percaya begitu saja, tidak “termakan”, bahkan bila perlu untuk “melawan arus” kecenderungan dari dalam diri seperti rasa takut, delusi, harapan semu, melepas ekspektasi yang tidak realistis, dan sebagainya.
Singkat kata, bila “reaktif” artinya cenderung tunduk pada
tendensi-kecondongan yang muncul secara seketika dari dalam diri, sementara
“merespon” mengandung muatan “jeda waktu” dimana kita menggunakan kesadaran dan
pikiran-jernih kita untuk meninjau, mengevalusi, mengobservasi, menimbang,
secara matang mengambil-alih kendali atas diri kita sendiri, tanpa membiarkan
diri tunduk pada kecenderungan dari dalam diri yang belum tentu baik adanya
bagi diri kita sendiri.
Orang-orang yang “reaktif”, paling mudah disetir dan didikte, bahkan
dijengkal dengan jari untuk diukur kedangkalan cara berpikir dan bereaksinya.
Seorang penakut, reaksinya ialah cenderung “takut-takut”, sehingga mudah
dimanipulasi oleh orang lain. Akan tetapi lewat berkesadaran, seseorang yang
dasarnya penakut sekalipun dapat menyadari dan menaklukkan rasa takutnya,
melampaui rasa takut, dan memberi respon berupa “sikap tenang” tanpa dapat
dengan mudah diperdaya oleh orang lain. Seseorang yang dasarnya dungu,
reaksinya cenderung dungu, mereka pun tampak sebagai “mangsa empuk” (easy
prey) ketika berjumpa atau berhadapan dengan orang-orang yang tidak
bertanggung-jawab dan beritikad buruk.
Sebaliknya, pihak-pihak yang dasariahnya suka kekerasan, reaksinya akan
cenderung “menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik”, sekalipun
terhadap ujaran atau hal-hal yang tergolong “sepele” (trivial matters).
Begitupula seseorang yang dasariahnya mudah berkata dusta atau berbohong,
reaksinya akan cenderung berpikir-singkat “berbohong sebagai cara tercepat dan
termudah untuk menyelesaikan setiap masalah”. Adapun manusia-manusia yang
beradab, menjadi beradab karena kemampuan yang terasah hingga taraf terampil
dalam “merespon” (under-control), bukan “bereaksi” (lepas-kendali)
terhadap setiap kejadian yang ia hadapi atau jumpai.
Setiap pengalaman apapun yang kita hadapi, tanpa memberinya “jeda waktu”,
secara “alam bawah sadar” kita selalu memberinya makna, proses pemaknaan yang
bahkan tidak kita sadari terjadinya akibat proses pikiran yang begitu cepat dan
hampir seketika. Bila alam bawah sadar kita dikuasai oleh rasa takut, maka
kecenderungan reaksi kita ialah bersikap takut, dikuasai olehnya, dan menjelma
pikiran serta tubuh yang “paralyze” (beku-kaku). Bila alam bawah sadar
kita dikuasai oleh keserakahan, maka tanpa berpikir panjang, kecenderungannya
ialah mengambil apapun untuk dimiliki dan dikuasai, sekalipun nyata-nyata
merupakan hak atau milik pihak lain. Mereka bahkan tidak tahu, untuk apa ia
menimbun begitu banyak harta-kekayaan. Bagai aliran air, alamiahnya bergerak ke
arah BAWAH, bukan ke arah atas.
Hanya dengan memberikan “jeda waktu”, kesadaran (alam sadar) kita dapat
bangkit untuk melakuran evaluasi dan pengamatan terhadap kecenderungan yang
muncul dari dalam diri, selanjutnya melakukan penilaian, apakah itu merupakan
“respon” yang tepat ataukah sebaliknya, hanya akan merusak segalanya, diri
sendiri maupun orang lain. Kesadaran, hanya ada pada “present moment”,
dengan berada pada momen “kekinian” yang sejatinya bersifat “netral” tanpa
dibubuhi trauma masa lampau ataupun dicemari polusi-pikiran berwujud tendensi
yang terbawa / terakumulasi dari kebiasaan / sifat masa-masa lampau.
Adapun mengapa kesadaran atau berkesadaran (mindfulness) adalah
sebuah “kekuatan”, yakni prinsip sederhana psikologi seorang manusia yang
berangkat pada postulat berikut : Ketika
alam bawah sadar muncul ke permukaan, alam sadar tertekan ke dalam dasar
samudera pikiran, maka
kecenderungan-kecenderungan dari dalam diri akan mengambil-alih kendali atas
diri kita, pikiran kita seolah “terkunci”, dimana kita menjadi “budak” dari
tendensi yang muncul dari dalam diri—tendensi-tendensi mana merupakan bawaan
dari kebiasaan, trauma, ataupun sifat-sifat yang terukir / terpahat secara
bertahap dari waktu ke waktu di masa lampau. Sebaliknya,
ketika alam sadar mencuat ke permukaan, alam bawah sadar tertekan ke dalam
dasar lautan pikiran. Keduanya,
tidak dapat muncul pada satu waktu bersamaan, dan saling tekan-menekan untuk
mendominasi cara berpikir atau bersikap seseorang. Bila kita menemukan kalimat
dalam sebuah pemberitaan kriminal, seperti “Tanpa tersangka sadari, ia telah
...”, itu adalah manifestasi dari “lepas-kendali”, dimana alam bawah sadarnya
yang mengambil kontrol atas dirinya, dan diperbudak.
Cukup dengan memberikan “jeda waktu”, atas suatu peristiwa yang kita
alami, maka kita dapat mengambil sebuah sikap yang disebut “deliberatif”, suatu proses yang berkebalikan sepenuhnya dari
“reaksi spontan”. Disini, aktivitas
berkesadaran
mengambil-alih pikiran kita, dimana kita akan mulai mampu melihat tendensi /
kecenderungan yang merupakan polutan / intervensi alam bawah sadar kita,
sebelum kemudian melakukan seleksi secara sadar, sikap apakah yang dapat
menjadi “respon” kita. Secara sadar, kita menjawab. Secara sadar, kita
bertindak. Secara sadar, kita menanggapi. Secara sadar, kita memberi atau
menolak. Secara sadar, kita menyetujui atau menentang. Secara sadar, kita
menjauh atau mendekat. Secara sadar, kita mengambil atau melepaskan.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, ketika
kita membiarkan alam bawah sadar mengambil-alih pikiran kita dan tunduk untuk
dikendalikan olehnya, maka itulah yang dapat kita sebut sebagai “lepas kendali”. Orang-orang yang “pendek sumbunya”, seperti
“singgung sedikit, marah”, “tegur sedikit, emosional”, “senggol sedikit,
murka”, “tatap mata sedikit, naik pitam”, atau seperti “tepuk sedikit, bacok”. Hanya ketika alam sadar kita
diberdayakan sehingga berdaya, maka kita memasuki kondisi “under-control”. Kita bisa jadi tidak punya kemampuan mengendalikan
faktor-faktor eksternal diri seperti sikap orang lain terhadap diri kita, namun
kita bisa mengontrol faktor internal diri kita, dan seni untuk melakukan itu
ialah “JEDA WAKTU” atau “AMBIL JARAK”.
Sikapi dengan “jeda waktu”, jawab dengan “jeda waktu”, tanggapi dengan
“jeda waktu”, balas dengan “jeda waktu”, berikan dengan “jeda waktu”, tolak
dengan “jeda waktu”, setujui dengan “jeda waktu”, melawan dengan “jeda waktu”,
bahkan berikan pula “jeda waktu” bagi “pengeruh-pikiran” seperti rasa takut,
sifat tempramental, keinginan, obsesi, harapan, yang tidak lain upaya alam
bawah sadar untuk membajak pikiran kita. Dengan “jeda waktu” yang cukup, kita
dapat “menangkap-basah” alam bawah sadar yang mencuat, sang pembajak-pikiran. “AHA,
aku menangkapmu, wahai perangkap bernama alam bawah sadar yang tidak jarang
membuatku maupun orang lain celaka. Kini kau tidak dapat menghasut ataupun
menjeratku.”
Istilah yang paling tepat bagi proses “berkesadaran” ialah, upaya
“menyelidiki” dan mengambil sikap “setelah menyelidiki”, sehingga tiada ruang
bagi “pikiran-kosong” yang hampa dari aktivitas “mengetahui / menyadari dan
menyelidiki”. Aktif, bukan pasif. Dimana “menyelidiki”, butuh “JEDA WAKTU”
untuk memberi “respon”, suatu kebalikan dari “sikap spontan” yang cenderung
“reaktif”, pola khas dari alam bawah sadar. “Reaksi”, cenderung mekanistis.
Karenanya, seseorang yang “reaktif” condong “pendek akal-pikirannya” (shallow
minded).
Mungkin sebelumnya ada di antara pembaca yang bertanya-tanya, apakah
“jeda waktu” diisi dengan “pikiran kosong”? Aktivitas berpikir berupa
“mengamati” ataupun “menyelidiki” adanya kecondongan atau tendensi dari dalam
diri, bukanlah “pikiran kosong” yang absen dari suatu aktivitas pikiran-aktif.
Baik “mengamati” maupun “menyelidiki”, ialah kata kerja (verba), yang
membutuhkan suatu upaya aktif secara deliberatif, yakni dimunculkan sifatnya.
Adapun landasan bagi “pikiran kosong”, ialah “tiada kendali atas diri maupun
pikiran” (lepas kendali), maka alam bawah sadar akan muncul ke permukaan dan
menguasai diri, sementara alam sadar tenggelam.
Orang dengan dasariah sifat dungu, cenderung kerap “kosong pikirannya”,
hampa dari aktivitas “mengamati” ataupun “menyelidiki”. Sementara antara “tiada
kendali” dan “lepas kendali”, sifatnya sama-sama jauh dari kondisi “under-control”.
Kita harus secara deliberatif meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat semacam “pikiran kosong”. Kesadaran tidak bertumpu pada “pikiran
kosong”, ia berpijak pada “menyadari”, aktivitas-aktif yang juga sebentuk
“verba”, kata kerja. “Ambil jarak” maupun “jeda waktu”, untuk kita mengisinya
dengan apakah? Tidak lain tidak bukan untuk “menyelidiki”, yakni bertanya
kedalam diri kita sendiri : “Apakah
perasaan ini atau tiadanya kendali ini, bermanfaat ataukah tidak membawa
manfaat bagi kebaikan diri kita?”
“AMBIL JARAK” terhadap tendensi yang muncul dalam diri, suatu upaya sadar
untuk “mengambil jarak” terhadap kecenderungan untuk “bereaksi”, lalu mengamati
alam bawah sadar kita yang mencuat secara terselubung, mengobservasi,
mengevaluasi, serta menyelidikinya. Itulah yang dimaksud dengan ambil “JEDA WAKTU”,
jeda waktu untuk kita bernafas, kembali mempertimbangkan, untuk “cool down”,
untuk menenangkan diri, untuk menyisihkan “rasa takut”, obsesi, amarah, dsb.
Bila seseorang memiliki kecenderungan untuk “gengsian”, maka kita perlu
mengambil jarak terhadap kecondongan untuk merasa “gengsi”, lalu secara
deliberatif berkata kepada diri kita sendiri, “’I don’t care’ apa kata orang
lain.”
Untuk menyederhanakannya, sebagai sebuah ringkasan singkat, ingat saja
bahwa lawan kata dari
“lepas / tiada / hilang kendali” ialah “under-control”, dan lawan
kata dari “under-control” ialah “lepas / tiada / hilang kendali”. Bila kita tidak sedang “under-control”,
maka kita tengah “lepas / tiada / hilang kendali”. Bila kita absen dari “lepas /
tiada kendali”, maka kita sedang “under-control”. Selanjutnya, meminjam
nasehat dari Sang Buddha, ingatkan diri Anda untuk “meninggalkan
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang masih bersarang dalam diri dan bangkit-tumbuhkan
kualitas-kualitas yang bermanfaat”.
Perihal
“menyelidiki” dan “penyelidikan” yang merupakan akar dari aktivitas
berkesadaran, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang
Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle
Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
95
Cankī
Sutta : Bersama Cankī
[164] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
mengembara di negeri Kosala bersama dengan sejumlah besar Saṅgha para bhikkhu, dan akhirnya Beliau tiba di sebuah desa brahmana
penduduk Kosala bernama Opasāda. Di sana Sang Bhagavā menetap di Hutan Para Dewa,
Hutan Pohon-Sāla di utara Opasāda.
[NOTE : Paragraf pembuka sutta ini, hingga paragraf
nomor ke-10, sebenarnya identik dengan paragraf pembuka Soṇadaṇḍa Sutta
(Dīgha Nikāya 4).
Disebut “Hutan Para Dewa”, karena persembahan
diberikan di sana kepada para dewa.]
2. Pada saat itu Brahmana Cankī adalah penguasa Opasāda, wilayah tanah
kerajaan dengan makhluk hidup yang berlimpah, kaya akan padang rumput, hutan,
sungai, dan sawah, suatu anugerah kerajaan, anugerah keramat yang diberikan
kepadanya oleh Raja Pasenadi dari Kosala.
3. Para brahmana perumah-tangga di Opasāda mendengar: “Petapa Gotama,
putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, telah mengembara di
negeri Videha bersama dengan sejumlah besar para bhikkhu, berjumlah lima ratus
bhikkhu. Sekarang berita baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar
sebagai berikut: ‘Bahwa Sang
Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati
dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi
orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan,
terberkahi. Beliau
menyatakan dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, kepada
generasi ini dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, yang
telah Beliau tembus oleh diriNya sendiri dengan pengetahuan langsung. Beliau
mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir,
dengan kata-kata dan makna yang benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan
suci yang murni dan sempurna sepenuhnya.’ Sekarang adalah baik sekali jika
dapat menemui para Arahant demikian.”
4. Kemudian para brahmana perumah-tangga dari Opasāda berjalan dari
Opasāda secara berkelompok dan berbaris mengarah ke utara menuju Hutan Para
Dewa, Hutan Pohon Sāla.
5. Pada saat itu Brahmana Cankī telah naik ke lantai atas istananya untuk
beristirahat siang. Kemudian ia melihat para brahmana perumah-tangga dari
Opasāda berjalan dari Opasāda secara berkelompok dan berbaris mengarah ke utara
menuju Hutan Para Dewa, Hutan Pohon Sāla. Ketika ia melihat mereka, ia bertanya
kepada menterinya: “Menteriku, mengapakah brahmana perumah-tangga dari Opasāda
berjalan dari Opasāda secara berkelompok dan berbaris mengarah ke utara menuju
Hutan Para Dewa, Hutan Pohon Sāla?”
6. “Tuan, ada Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian
dari suku Sakya, yang sedang mengembara di negeri Kosala … (seperti pada paragraf nomor ke-3) … Mereka pergi
menemui Guru Gotama.”
“Kalau begitu, menteriku, temui para brahmana perumah-tangga itu dan
katakan: ‘Tuan-tuan, Brahmana Cankī berkata sebagai berikut: “Mohon Tuan-tuan
menunggu sebentar. Brahmana Cankī juga akan pergi menemui Petapa Gotama”’”
“Baik, Tuan,” menteri itu menjawab, [165] dan ia menjumpai para brahmana
perumah-tangga dari Opasāda dan menyampaikan pesannya.
7. Pada saat itu lima ratus brahmana dari berbagai wilayah sedang menetap
di Opasāda untuk suatu urusan. Mereka mendengar: “Brahmana Cankī, dikatakan,
akan menemui Petapa Gotama.” Kemudian mereka mendatangi Brahmana Cankī dan bertanya
kepadanya: “Tuan, benarkah bahwa engkau akan menemui Petapa Gotama?”
“Demikianlah, Tuan-tuan. Aku akan menemui Petapa Gotama.”
8. “Tuan, jangan pergi menemui Petapa Gotama. Tidaklah selayaknya, Guru
Cankī, bagimu untuk pergi menemui Petapa Gotama; sebaliknya, adalah selayaknya
bagi Petapa Gotama untuk datang menemui engkau. Karena engkau, Tuan, terlahir dari
kedua pihak, ibu dan ayah yang murni sampai tujuh generasi sebelumnya, tidak
terbantahkan dan tidak tercela dalam hal kelahiran. Oleh karena itu, Guru
Cankī, tidaklah selayaknya bagimu untuk pergi menemui Petapa Gotama;
sebaliknya, adalah selayaknya bagi Petapa Gotama untuk datang menemui engkau. Engkau,
Tuan, kaya, dengan kekayaan berlimpah dan banyak kepemilikan. Engkau, Tuan,
adalah seorang yang menguasai Tiga Veda dengan kosa-kata, liturgi, fonologi,
dan etimologi, dan sejarah-sejarah sebagai yang ke lima; mahir dalam ilmu
bahasa dan tata bahasa, engkau mahir dalam filosofi alam dan dalam tanda-tanda
manusia luar biasa. Engkau, Tuan, tampan, menarik, dan anggun, memiliki keindahan
kulit yang luar biasa, dengan keindahan luar biasa dan penampilan luar biasa,
menyenangkan dipandang. Engkau, Tuan, bermoral, matang dalam moralitas, memiliki
moralitas yang matang. Engkau, Tuan, adalah seorang pembabar yang baik dengan
penyampaian yang baik; [166] engkau mengucapkan kata-kata yang ramah, jelas,
tanpa cacat, dan menyampaikan maknanya. Engkau, Tuan, mengajarkan guru-guru dari
banyak orang, dan engkau mengajarkan pembacaan syair puji-pujian kepada tiga
ratus murid brahmana. Engkau, Tuan, dihormati, dihargai, dipuja, dimuliakan,
dan dijunjung oleh Raja Pasenadi dari Kosala. Engkau, Tuan, dihormati,
dihargai, dipuja, dimuliakan, dan dijunjung oleh Brahmana Pokkharasāti. Engkau,
Tuan, menguasai Opasāda, wilayah tanah kerajaan dengan makhluk hidup yang
berlimpah … anugerah keramat yang diberikan kepadamu oleh Raja Pasenadi dari
Kosala. Oleh karena itu, Guru Cankī, tidaklah selayaknya bagimu untuk pergi menemui
Petapa Gotama; sebaliknya adalah selayaknya bagi Petapa Gotama untuk datang
menemui engkau.”
[NOTE : Brahmana Pokkharasāti merupakan seorang
brahmana kaya lainnya yang menetap di Ukkaṭṭhā, wilayah tanah kerajaan diberikan kepadanya oleh
Raja Pasenadi. Dalam Majjhima Nikāya 2.21 / i.110 ia mendengarkan khotbah dari
Sang Buddha, mencapai tingkat “memasuki-arus”, dan menyatakan berlindung kepada
Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha bersama dengan seluruh keluarga dan pengikutnya.]
9. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Cankī berkata kepada para brahmana
itu: “Sekarang, Tuan-tuan, dengarkanlah dariku mengapa selayaknya bagiku
untuk pergi menemui Guru Gotama, dan mengapa tidak selayaknya bagi Guru Gotama
untuk datang menemuiku. Tuan-tuan, Petapa
Gotama terlahir dari kedua pihak, ibu dan ayah yang murni sampai tujuh generasi
sebelumnya, tidak terbantahkan dan tidak tercela dalam hal kelahiran. Oleh karena itu, Tuan-tuan, tidaklah selayaknya
bagi Petapa Gotama untuk datang menemuiku; sebaliknya, adalah selayaknya bagiku
untuk pergi menemui Guru Gotama. Tuan-tuan, Petapa
Gotama meninggalkan keduniawian dengan melepaskan banyak emas dan perak yang
tersimpan dalam gudang dan lumbung. Tuan tuan, Petapa
Gotama meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah selagi masih muda, seorang pemuda berambut hitam yang memiliki
berkah kemudaan, dalam masa utama kehidupannya. Tuan-tuan, Petapa
Gotama mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah walaupun ibu dan ayahnya menginginkan sebaliknya dan menangis dengan
wajah berlinang air mata. Tuan-tuan, Petapa
Gotama tampan, menarik, dan anggun, memiliki keindahan kulit yang luar biasa,
[167] dengan keindahan luar biasa dan penampilan luar biasa, menyenangkan
dipandang. Tuan-tuan, Petapa Gotama bermoral,
dengan moralitas mulia, dengan moralitas bermanfaat, memiliki moralitas yang
bermanfaat. Tuan-tuan,
Petapa Gotama adalah seorang pembabar yang baik dengan penyampaian yang baik; Beliau
mengucapkan kata-kata yang ramah, jelas, tanpa cacat, dan menyampaikan
maknanya. Tuan-tuan, Petapa Gotama adalah guru bagi guru-guru dari banyak
orang. Tuan-tuan, Petapa
Gotama bebas dari nafsu indria dan tidak membanggakan diri. Tuan-tuan, Petapa
Gotama menganut doktrin efektivitas tindakan bermoral, doktrin efektivitas
perbuatan bermoral; Beliau tidak berniat mencelakai silsilah para brahmana. Tuan-tuan, Petapa
Gotama meninggalkan keduniawian dari keluarga kerajaan, dari salah satu
keluarga mulia yang asli. Tuan-tuan, Petapa
Gotama meninggalkan keduniawian dari keluarga kaya, dari keluarga dengan
kekayaan berlimpah dan kepemilikan berlimpah. Tuan-tuan, orang-orang datang dari
kerajaan-kerajaan yang jauh dan daerah-daerah yang jauh untuk bertanya kepada
Petapa Gotama. Tuan-tuan, ribuan
dewa telah berlindung seumur hidup kepada Petapa Gotama. Tuan-tuan, suatu berita baik sehubungan dengan
Petapa Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang Bhagavā sempurna,
telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku,
mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi orang-orang
yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.’
Tuan-tuan, Petapa
Gotama memiliki tiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa. Tuan-tuan, Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha dan
istrinya dan anak-anaknya telah berlindung seumur hidup kepada Petapa Gotama.
Tuan-tuan, Raja Pasenadi dari Kosala dan istrinya dan anak-anaknya telah
berlindung seumur hidup kepada Petapa Gotama. Tuan-tuan, Brahmana Pokkharasāti
dan istrinya dan anak-anaknya telah berlindung seumur hidup kepada Petapa
Gotama. Tuan-tuan, Petapa Gotama telah tiba di Opasāda dan menetap di Opasāda
di Hutan Para Dewa, di Hutan Pohon Sāla di utara Opasāda. Sekarang setiap petapa
atau brahmana yang datang ke pemukiman kita adalah tamu kita, dan tamu
seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan oleh kita. Karena Petapa
Gotama telah tiba di Opasāda, maka Beliau adalah tamu kita, dan karena Beliau adalah
tamu kita maka Beliau seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan
oleh kita. [168] Oleh karena itu, Tuan-tuan, tidaklah selayaknya bagi Guru
Gotama untuk datang menemuiku; sebaliknya, adalah selayaknya bagiku untuk pergi
menemui Guru Gotama.
“Tuan-tuan, sebanyak ini pujian atas Guru Gotama yang telah kuketahui,
tetapi pujian atas Guru Gotama tidak terbatas pada itu, karena pujian atas Guru
Gotama adalah tidak terbatas. Karena Guru Gotama memiliki masing-masing dari faktor-faktor ini, maka tidaklah
selayaknya bagi Beliau untuk datang menemuiku; sebaliknya, adalah selayaknya
bagiku untuk pergi menemui Guru Gotama. Oleh karena itu, Tuan-tuan, marilah
kita semuanya pergi menemui Petapa Gotama.”
10. Kemudian Brahmana Cankī, bersama dengan sejumlah besar brahmana,
pergi mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika
ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi.
11. Pada saat itu Sang Bhagavā sedang duduk dan beramah-tamah dengan
beberapa brahmana yang sangat senior. Ketika itu, duduk dalam kumpulan itu,
seorang murid brahmana bernama Kāpaṭhika. Muda, berkepala-gundul, berusia enam belas
tahun, ia adalah seorang yang menguasai Tiga Veda dengan kosa-kata, liturgi,
fonologi, dan etimologi, dan sejarah-sejarah sebagai yang ke lima; mahir dalam
ilmu bahasa dan tata bahasa, ia mahir dalam filosofi alam dan dalam tanda-tanda
manusia luar biasa. Sementara para brahmana yang sangat senior sedang
berbincang-bincang dengan Sang Bhagavā, ia berulang-ulang menyela pembicaraan
mereka. Kemudian Sang Bhagavā menegur murid brahmana Kāpaṭhika sebagai berikut: “Mohon Yang Mulia Bhāradvāja tidak menyela
pembicaraan para brahmana senior ketika mereka sedang berbicara. Mohon Yang Mulia
Bhāradvāja menunggu hingga pembicaraan selesai.”
Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Cankī berkata kepada Sang Bhagavā:
“Mohon Guru Gotama tidak menegur murid brahmana Kāpaṭhika. Murid brahmana Kāpaṭhika adalah seorang anggota keluarga, ia sangat
terpelajar, ia adalah penyampai ajaran yang baik, ia bijaksana; ia mampu
mengambil bagian dalam diskusi dengan Guru Gotama.”
12. Kemudian Sang Bhagavā berpikir: “Tentu saja, [169] karena para
brahmana menghormatinya demikian, murid brahmana Kāpaṭhika pasti mahir dalam kitab-kitab Tiga Veda.”
Kemudian murid brahmana Kāpaṭhika berpikir: “Ketika Petapa Gotama melihatku, aku
akan mengajukan pertanyaan kepada Beliau.”
Kemudian, mengetahui pikiran murid brahmana Kāpaṭhika dengan pikiran Beliau sendiri, Sang Bhagavā berpaling kepadanya.
Kemudian murid brahmana Kāpaṭhika berpikir: “Petapa Gotama telah berpaling
kepadaku. Bagaimana jika aku mengajukan sebuah pertanyaan.” Kemudian ia berkata
kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, sehubungan dengan syair-syair pujian
brahmanis kuno yang diturunkan melalui penyampaian lisan, yang dilestarikan
dalam kitab-kitab, para brahmana sampai pada kesimpulan pasti: ‘Hanya ini yang benar,
yang lainnya adalah salah.’ Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”
13. “Bagaimanakah, Bhāradvāja, di antara para brahmana adakah bahkan
seorang brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku
melihat ini: hanya ini
yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
[NOTE : Dengan demikian, yang Bhāradvāja maksudkan
sebagai “hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah”, merupakan suatu
sifat “apriori”—sebelum mengetahui (melihat, menyelidiki, dsb) keadaan yang
sebenarnya. Berbeda dengan kebenaran Dhamma, yang sifatnya ditembus secara
langsung pengetahuannya.]
“Bagaimanakah, Bhāradvāja, di antara para brahmana adakah bahkan
seorang guru atau guru dari para guru sampai tujuh generasi para guru
sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku
melihat ini: hanya ini
yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagaimanakah, Bhāradvāja, para petapa brahmana masa lampau, para
pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair-syair pujian, yang
syair-syair pujiannya dulu dibacakan, diucapkan, dan dihimpun, yang oleh para
brahmana sekarang masih dibacakan dan diulangi – yaitu, Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva, Vessāmitta, Yamataggi, Angirasa, Bhāradvāja, Vāseṭṭha, Kassapa, dan Bhagu - apakah bahkan para petapa brahmana masa
lampau ini mengatakan sebagai berikut: ‘Aku
mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – [170] “Tidak, Guru Gotama.”
[NOTE : Nama-nama yang disebut di atas, adalah para
rishi masa lampau yang oleh para brahmana dianggap sebagai para penulis
syair-syair pujian Veda.]
“Jadi,
Bhāradvāja, sepertinya di antara para brahmana tidak ada bahkan seorang
brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini:
hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Dan di antara para brahmana
tidak ada bahkan seorang guru atau guru dari para guru sampai tujuh generasi
para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku
melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Dan para petapa
brahmana masa lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair syair
pujian … bahkan para petapa brahmana masa lampau ini tidak mengatakan sebagai
berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang
lainnya adalah salah.’ Misalkan terdapat sebaris orang buta yang masing-masing bersentuhan
dengan yang berikutnya: orang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak
melihat, dan yang terakhir tidak melihat. Demikian pula, Bhāradvāja,
sehubungan dengan pernyataan mereka, para
brahmana itu tampak seperti sebaris orang buta itu: orang pertama tidak
melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat.
Bagaimana menurutmu, Bhāradvāja, oleh karena itu, apakah keyakinan para
brahmana itu terbukti tidak berdasar?”
14. “Para
brahmana menghormati ini hanya karena keyakinan, Guru Gotama. Mereka juga
menghormatinya sebagai tradisi lisan.”
“Bhāradvāja, pertama-tama
engkau berpegang pada keyakinan, sekarang engkau mengatakan tradisi lisan. Ada lima hal, Bhāradvāja, yang mungkin terbukti
dalam dua cara berbeda di sini dan saat ini. Apakah lima ini? Keyakinan,
persetujuan, tradisi lisan, penalaran, dan penerimaan pandangan melalui perenungan.
Kelima hal ini mungkin terbukti dalam dua cara berbeda di sini dan saat ini. Sekarang sesuatu
mungkin sepenuhnya diterima karena keyakinan, namun hal itu mungkin kosong,
hampa, dan salah; tetapi hal lainnya mungkin tidak sepenuhnya diterima karena
keyakinan, namun hal itu mungkin adalah fakta, benar, dan tidak salah. Kemudian, [171] sesuatu
mungkin sepenuhnya disetujui … disampaikan dengan baik … dinalar dengan baik …
direnungkan dengan baik, namun hal itu mungkin kosong, hampa, dan salah; tetapi
hal lainnya mungkin tidak direnungkan dengan baik, namun hal itu mungkin adalah
fakta, benar, dan tidak salah. [Dalam kondisi-kondisi ini] adalah tidak selayaknya bagi seorang
bijaksana yang melestarikan kebenaran untuk sampai pada kesimpulan pasti:
‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’”
[NOTE : “Keyakinan, persetujuan, tradisi lisan,
penalaran, dan penerimaan pandangan melalui perenungan”, dalam Pali: saddhā,
ruci, anussava, ākāparivitakka, diṭṭhinijjhānakkhanti. Di
antara kelima landasan bagi kepastian ini, dua yang pertama sepertinya umumnya
berdasarkan perasaan, yang ke tiga adalah penerimaan tradisi secara membuta,
dan dua terakhir umumnya adalah penalaran rasional. “Dua cara berbeda”
masing-masing adalah terbukti benar dan salah.
Perihal kalimat “Sekarang sesuatu mungkin
sepenuhnya diterima karena keyakinan, namun hal itu mungkin kosong, hampa, dan
salah; tetapi hal lainnya mungkin tidak sepenuhnya diterima karena keyakinan,
namun hal itu mungkin adalah fakta, benar, dan tidak salah”, dogma pilar
dalam agama samawi seperti “penghapusan dosa”, adalah mustahil menurut Hukum
Karma. Namun mereka yakini semata karena tertulis demikian di kitab agama
samawi. Sebaliknya, “rebirt / reborn”, kelahiran-kembali, yang
sekalipun telah mampu dibuktikan secara ilmiah lewat metoda ilmu psikologi “past-life
regression”, sebagian besar masyarakat kita tetap tidak mengakuinya sebagai
kebenaran.
Perihal kalimat “adalah tidak selayaknya bagi
seorang bijaksana yang melestarikan kebenaran untuk sampai pada kesimpulan
pasti”, tidaklah selayaknya baginya untuk sampai pada kesimpulan karena ia
belum secara pribadi memastikan kebenaran yang ia yakini tetapi hanya
menerimanya atas dasar apa yang tidak dapat menghasilkan kepastian.]
15. “Tetapi, Guru Gotama, dengan
cara bagaimanakah pelestarian kebenaran itu? Bagaimanakah seseorang melestarikan
kebenaran? Kami bertanya
kepada Guru Gotama tentang pelestarian kebenaran.”
[NOTE : Saccānurakkhana berarti pelestarian
kebenaran, mengamankan kebenaran, atau perlindungan kebenaran.]
“Jika seseorang memiliki keyakinan, Bhāradvāja, ia melestarikan kebenaran
ketika ia mengatakan: ‘Keyakinanku
adalah demikian’; tetapi
ia belum sampai pada kesimpulan pasti: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya
adalah salah.’ Dengan cara ini terjadi pelestarian kebenaran; dengan cara
inilah ia melestarikan kebenaran; dengan cara ini kami menjelaskan pelestarian kebenaran.
Tetapi belum
terjadi penemuan kebenaran.
[NOTE : Saccānubodha bermakna terjadi
penemuan kebenaran, atau tercerahkan pada kebenaran.]
“Jika
seseorang menyetujui sesuatu … jika ia menerima penyampaian tradisi lisan …
jika ia [sampai pada kesimpulan yang berdasarkan pada] penalaran … jika ia
memperoleh penerimaan pandangan melalui perenungan, ia melestarikan kebenaran ketika ia mengatakan: ‘Penerimaanku
atas suatu pandangan setelah merenungkan adalah demikian’; tetapi ia
belum sampai pada kesimpulan pasti: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’
Dengan cara ini juga, Bhāradvāja, terjadi pelestarian kebenaran; dengan cara
ini ia melestarikan kebenaran; dengan cara ini kami menjelaskan pelestarian
kebenaran. Tetapi
belum terjadi penemuan kebenaran.”
16. “Dengan cara itu, Guru Gotama, terjadi pelestarian kebenaran; dengan
cara itu seseorang melestarikan kebenaran; dengan cara itu kami mengetahui
pelestarian kebenaran. Tetapi
dengan cara bagaimanakah, Guru Gotama, penemuan kebenaran itu? Dengan cara
bagaimanakah seseorang menemukan kebenaran? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang penemuan
kebenaran.”
17. “Di sini, Bhāradvāja, seorang bhikkhu mungkin hidup dengan bergantung
pada suatu desa atau pemukiman. Kemudian seorang perumah-tangga atau putera
perumah-tangga mendatanginya dan menyelidikinya sehubungan dengan tiga jenis kondisi: [172]
sehubungan dengan kondisi-kondisi yang berdasarkan pada keserakahan, sehubungan
dengan kondisi-kondisi yang berdasarkan pada kebencian, dan sehubungan dengan
kondisi-kondisi yang berdasarkan pada delusi: ‘Adakah pada Yang Mulia ini
kondisi-kondisi apapun yang berdasarkan pada keserakahan sehingga, dengan pikirannya
dikuasai oleh kondisi-kondisi tersebut, walaupun tidak mengetahui ia akan mengatakan,
“Aku tahu,” atau walaupun tidak melihat ia akan mengatakan “Aku melihat,” atau
ia mungkin mendorong orang lain untuk berbuat dalam suatu cara yang akan
mengarahkannya pada bahaya dan penderitaan untuk waktu yang lama?’ Ketika ia menyelidikinya ia mengetahui: ‘Tidak ada
kondisi-kondisi yang berdasarkan pada keserakahan demikian pada Yang Mulia ini.
Perilaku jasmani dan perilaku ucapan dari Yang Mulia ini tidak seperti seorang
yang terpengaruh oleh keserakahan. Dan Dhamma yang diajarkan oleh Yang Mulia ini adalah mendalam, sulit
dilihat dan sulit dipahami, damai dan luhur, tidak dapat dicapai hanya
melalui logika, halus, untuk dialami oleh para bijaksana. Dhamma ini tidak
mungkin dengan mudah diajarkan oleh seorang yang terpengaruh oleh keserakahan.’
[NOTE : Prosedur penemuan kebenaran yang
direkomendasikan oleh sutta ini, tampak sebagai suatu penjelasan atas
pendekatan yang dibabarkan pada Majjhima Nikāya 47.]
18. “Ketika ia telah menyelidikinya dan telah melihat bahwa ia murni dari
kondisi-kondisi yang berdasarkan pada keserakahan, selanjutnya ia menyelidikinya sehubungan dengan kondisi-kondisi yang berdasarkan
pada kebencian: ‘Adakah pada Yang Mulia ini kondisi-kondisi apapun yang
berdasarkan pada kebencian sehingga, dengan pikirannya dikuasai oleh
kondisi-kondisi tersebut … ia mungkin mendorong orang lain untuk berbuat dalam
suatu cara yang akan mengarahkannya pada bahaya dan penderitaan untuk waktu
yang lama?’ Ketika ia menyelidikinya ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi-kondisi yang
berdasarkan pada kebencian demikian pada Yang Mulia ini. Perilaku jasmani dan perilaku
ucapan dari Yang Mulia ini tidak seperti seorang yang terpengaruh oleh
kebencian. Dan Dhamma yang diajarkan oleh Yang Mulia ini adalah mendalam …
untuk dialami oleh para bijaksana. Dhamma ini tidak mungkin dengan mudah
diajarkan oleh seorang yang terpengaruh oleh kebencian.’
19. “Ketika ia telah menyelidikinya dan telah melihat bahwa ia murni dari
kondisi-kondisi yang berdasarkan pada kebencian, selanjutnya ia menyelidikinya sehubungan dengan kondisi-kondisi yang berdasarkan
pada delusi: ‘Adakah pada Yang Mulia ini kondisi-kondisi apapun yang
berdasarkan pada delusi sehingga, dengan pikirannya dikuasai oleh
kondisi-kondisi tersebut … ia mungkin mendorong orang lain untuk berbuat dalam
suatu cara yang akan mengarahkannya pada bahaya dan penderitaan untuk waktu
yang lama?’ Ketika ia menyelidikinya ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi-kondisi yang
berdasarkan pada delusi demikian pada Yang Mulia ini. Perilaku jasmani dan
perilaku ucapan dari Yang Mulia ini tidak seperti seorang yang terpengaruh oleh
delusi. Dan Dhamma yang diajarkan oleh Yang Mulia ini adalah mendalam … untuk
dialami oleh para bijaksana. Dhamma ini tidak mungkin dengan mudah diajarkan
oleh seorang yang terpengaruh oleh delusi.’
20. “Ketika
ia telah menyelidikinya dan telah melihat bahwa ia murni dari kondisi-kondisi
yang berdasarkan pada delusi, kemudian ia berkeyakinan padanya; dengan penuh keyakinan ia mengunjunginya dan
memberikan penghormatan kepadanya; setelah memberikan penghormatan, ia
menyimak; ketika ia menyimak, ia mendengar Dhamma; setelah mendengar Dhamma, ia
menghafalkannya dan meneliti makna dari ajaran yang telah ia hafalkan; ketika
ia meneliti makna maknanya, ia memperoleh penerimaan atas ajaran-ajaran itu
melalui perenungan; ketika ia memperoleh penerimaan melalui perenungan
atas ajaran-ajaran itu, kemauan muncul; ketika kemauan muncul, ia
mengerahkan tekadnya; setelah mengerahkan tekadnya, ia menyelidiki; setelah
menyelidiki, ia berusaha; karena
berusaha dengan sungguh-sungguh, ia dengan tubuhnya mencapai kebenaran tertinggi
dan melihat dengan menembusnya dengan kebijaksanaan. Dengan cara ini, Bhāradvāja, terjadi penemuan kebenaran;
dengan cara ini seseorang menemukan kebenaran; dengan cara ini kami menjelaskan
penemuan kebenaran. Tetapi
masih belum kedatangan akhir pada kebenaran.”
[NOTE : Tūleti, menyelidiki. Ia menyelidiki
hal-hal sehubungan dengan ketidak-kekalan, dan seterusnya. Tahap ini sepertinya
merupakan tahap perenungan pandangan terang.
Perihal “setelah menyelidiki, ia berusaha”, walaupun
pengerahan tekad (ussahati) terlihat serupa dengan usaha (padahati),
namun pengerahan tekad dapat dipahami sebagai usaha yang dikerahkan sebelum
perenungan pandangan terang, sedangkan usaha dipahami sebagai pengerahan yang
membawa pandangan terang hingga pada tingkat jalan lokuttara.
Perihal “mencapai kebenaran tertinggi dan melihat
dengan menembusnya dengan kebijaksanaan “, ia mencapai Nibbāna dengan tubuh
batin (dari jalan memasuki-arus), dan setelah menembus kekotoran-kekotoran,
ia melihat Nibbāna dengan kebijaksanaan, nyata dan terbukti.
Sementara penemuan kebenaran dalam konteks paragraf
di atas, sepertinya menyiratkan pencapaian tingkat memasuki-arus, kedatangan
akhir pada kebenaran (saccānuppati) sepertinya bermakna pencapaian penuh
Kearahantaan. Perhatikan bagaimana Sang Buddha membedakan antara “penemuan
kebenaran” dan “kedatangan akhir pada kebenaran”.]
21. “Dengan cara itu, Guru Gotama, terjadi penemuan kebenaran; dengan
cara itu seseorang menemukan kebenaran; dengan cara itu kami mengetahui
penemuan kebenaran. Tetapi
dengan cara bagaimanakah, Guru Gotama, terjadi kedatangan akhir pada kebenaran?
Dengan cara bagaimanakah seseorang akhirnya sampai pada kebenaran? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang kedatangan
akhir pada kebenaran.” [174]
“Kedatangan
akhir pada kebenaran, Bhāradvāja, terletak pada pengulangan, pengembangan, dan
pelatihan hal-hal yang sama itu. Dengan cara inilah, Bhāradvāja, terjadi
kedatangan akhir pada kebenaran; dengan cara ini seseorang akhirnya sampai pada
kebenaran; dengan cara ini kami menjelaskan kedatangan akhir pada kebenaran.”
22. “Dengan cara itu, Guru Gotama, terjadi kedatangan akhir pada
kebenaran; dengan cara itu seseorang akhirnya sampai pada kebenaran; dengan
cara itu kami mengetahui kedatangan akhir pada kebenaran. Tetapi apakah, Guru
Gotama, hal yang paling membantu bagi kedatangan akhir pada kebenaran? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang
paling membantu bagi kedatangan akhir pada kebenaran.”
“Usaha
adalah yang paling membantu bagi kedatangan akhir pada kebenaran, Bhāradvāja.
Jika seseorang tidak berusaha, maka ia tidak akan pada akhirnya sampai pada
kebenaran; tetapi karena ia berusaha, maka ia akhirnya sampai pada kebenaran. Itulah
sebabnya mengapa usaha adalah yang paling membantu bagi kedatangan akhir pada
kebenaran.”
23. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi usaha? Kami bertanya kepada Guru
Gotama tentang hal yang paling membantu bagi usaha.”
“Penyelidikan
adalah yang paling membantu bagi usaha, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak
menyelidiki, maka ia tidak akan berusaha; tetapi karena ia menyelidiki, maka ia
berusaha. Itulah sebabnya mengapa penyelidikan adalah yang paling membantu bagi
usaha.”
24. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi penyelidikan? Kami bertanya
kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi penyelidikan.”
“Pengerahan
tekad adalah yang paling membantu bagi penyelidikan, Bhāradvāja. Jika seseorang
tidak mengerahkan tekadnya, maka ia tidak akan menyelidiki; tetapi karena ia mengerahkan
tekadnya, maka ia menyelidiki. Itulah sebabnya mengapa pengerahan tekad adalah
yang paling membantu bagi penyelidikan.”
25. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi pengerahan tekad? Kami bertanya
kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi pengerahan tekad.”
“Kemauan
adalah yang paling membantu bagi pengerahan tekad, Bhāradvāja. Jika seseorang
tidak membangkitkan kemauan, maka ia tidak akan mengerahkan tekadnya; tetapi karena
ia membangkitkan kemauan, maka ia berusaha. Itulah sebabnya mengapa kemauan
adalah yang paling membantu bagi pengerahan tekad.”
26. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi kemauan? [175] Kami bertanya
kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi kemauan.”
“Penerimaan
melalui perenungan atas ajaran-ajaran adalah yang paling membantu bagi
semangat, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak memperoleh penerimaan melalui
perenungan atas ajaran-ajaran, maka kemauan tidak akan muncul; tetapi karena ia
memperoleh penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran, maka kemauan
muncul. Itulah sebabnya mengapa penerimaan melalui perenungan atas
ajaran-ajaran adalah yang paling membantu bagi kemauan.”
27. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi penerimaan melalui perenungan
atas ajaran-ajaran? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu
bagi penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran.”
“Penelitian
makna adalah yang paling membantu bagi penerimaan melalui perenungan atas
ajaran-ajaran, Bhāradvāja. Jika seseorang tidak meneliti makna-maknanya, maka
ia tidak akan memperoleh penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran; tetapi
karena ia meneliti makna-maknanya, maka ia memperoleh penerimaan melalui
perenungan atas ajaran-ajaran. Itulah sebabnya mengapa penelitian adalah yang
paling membantu bagi penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran.”
28. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi penelitian makna? Kami bertanya
kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi penelitian makna.”
“Penghafalan
ajaran-ajaran adalah yang paling membantu bagi penelitian makna, Bhāradvāja.
Jika seseorang tidak menghafalkan ajaran, maka ia tidak akan meneliti maknanya;
tetapi karena ia menghafalkan ajaran, maka ia meneliti maknanya.”
29. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi penghafalan ajaran-ajaran? Kami
bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi penghafalan ajaran-ajaran.”
“Mendengarkan
Dhamma adalah yang paling membantu bagi penghafalan ajaran-ajaran, Bhāradvāja.
Jika seseorang tidak mendengarkan Dhamma, maka ia tidak akan menghafalkan ajaran-ajaran;
tetapi karena ia mendengarkan Dhamma, maka ia menghafalkan ajaran-ajaran.
Itulah sebabnya mengapa mendengarkan Dhamma adalah yang paling membantu bagi penghafalan
ajaran-ajaran.”
30. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu bagi mendengarkan Dhamma? Kami
bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu bagi mendengarkan Dhamma.”
“Menyimak
adalah yang paling membantu bagi mendengarkan Dhamma, Bhāradvāja. [176] Jika
seseorang tidak menyimak, maka ia tidak akan mendengarkan Dhamma; tetapi karena
ia menyimak, maka ia mendengarkan Dhamma. Itulah sebabnya mengapa menyimak
adalah yang paling membantu bagi mendengarkan Dhamma.”
31. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu dalam menyimak? Kami bertanya kepada
Guru Gotama tentang hal yang paling membantu dalam menyimak.”
“Memberikan
penghormatan adalah yang paling membantu dalam menyimak, Bhāradvāja. Jika
seseorang tidak menghormat, maka ia tidak akan menyimak; tetapi karena ia
menghormat, maka ia menyimak. Itulah sebabnya mengapa memberi penghormatan
adalah yang paling membantu dalam menyimak.”
32. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu dalam memberi penghormatan? Kami
bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu dalam memberi penghormatan.”
“Mengunjungi
adalah yang paling membantu dalam memberi penghormatan, Bhāradvāja. Jika
seseorang tidak mengunjungi [seorang guru], maka ia tidak akan memberi
penghormatan; tetapi karena ia mengunjungi [seorang guru], maka ia memberi penghormatan.
Itulah sebabnya mengapa mengunjungi adalah yang paling membantu dalam memberi
penghormatan.”
33. “Tetapi
apakah, Guru Gotama, yang paling membantu dalam mengunjungi? Kami bertanya
kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu dalam mengunjungi.”
“Keyakinan
adalah yang paling membantu dalam mengunjungi, Bhāradvāja. Jika keyakinan [pada
seorang guru] tidak muncul, maka ia tidak akan mengunjunginya; tetapi karena
keyakinan [pada seorang guru] muncul, maka ia mengunjunginya. Itulah sebabnya
mengapa keyakinan adalah yang paling membantu dalam mengunjungi.”
34. “Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang pelestarian kebenaran, dan
Guru Gotama menjawab tentang pelestarian kebenaran; kami menyetujui dan
menerima jawaban itu, dan karena itu kami merasa puas. Kami bertanya kepada
Guru Gotama tentang penemuan kebenaran, dan Guru Gotama menjawab tentang
penemuan kebenaran; kami menyetujui dan menerima jawaban itu, dan karena itu
kami merasa puas. Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang kedatangan akhir
pada kebenaran, dan Guru Gotama menjawab tentang kedatangan akhir pada
kebenaran; kami menyetujui dan menerima jawaban itu, dan karena itu kami merasa
puas. [177] Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu
bagi kedatangan akhir pada kebenaran, dan Guru Gotama menjawab tentang hal yang
paling membantu bagi kedatangan akhir pada kebenaran; kami menyetujui dan
menerima jawaban itu, dan karena itu kami merasa puas. Apapun yang kami
tanyakan kepada Guru Gotama, Beliau telah menjawab kami; kami menyetujui dan
menerima jawaban itu, dan karena itu kami merasa puas. Sebelumnya, Guru Gotama,
kami biasanya berpikir: ‘Siapakah para petapa berkepala gundul ini, keturunan
rendah dan gelap dari kaki Leluhur, sehingga mereka dapat memahami Dhamma?’
Tetapi Guru Gotama sungguh telah menginspirasiku dalam cinta kasih kepada para
petapa, keyakinan pada para petapa, hormat pada para petapa.
35. “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama
telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan
apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi
yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki
penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama
dan pada Dhamma dan pada Saṅgha para bhikkhu. Mulai hari ini sudilah Guru Gotama
mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur
hidup.”
©
Hak
Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril,
dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku
Penulis.