Abolition of Sin Versus Penance

We can not hope to wipe out sin.
As if trying to erase the history ink.
What has been done,
Small or large,
It will bear fruit to the perpetrator.
Trying to wash away sins,
It means to deny our own bad behavior,
And to be a coward who does not dare to face the consequences of our own behavior.
But we can still make up for our mistakes,
By balancing these errors through real attitude.
Like when we have to drink a glass of salty water,
It tastes salty on the tongue.
But when we balance the salt water with water in a lake,
So the salt water becomes no longer salty.
Various bad deeds that we have been doing,
Need to be balanced with various good deeds,
That is what is called repentance.
Asking for mercy and pleading guilty,
It's never enough.
Regretted though,
It will never be able to remove the bad karma we have planted.
The determination to make amends,
Only proven through concrete actions,
In the form of a real commitment to no longer repeat a similar error,
Willing to succumb, when faced with unpleasant attitudes from others,
Be patient when treated unfairly,
And diligent and persevering to plant a variety of seeds of good deeds.
If only by worshiping God,
Everyone can.
But if you make amends through concrete steps,
Not everyone is willing to show their commitment to doing good to compensate for their bad deeds.
Those who wish to enter Paradise only by worshiping God,
Relying on the ritual of the remission of sins,
It is indeed the lazy people who are cowardly,
Hope with such an instant way,
Himself will be separated from the fruit of the law of karma.
That is what we can call it,
A false hope.
Fooled by mistaken views of the forgiveness of sins.
Rather than relying on the remission of sins,
Why do not we balance our bad deeds with good deeds and caring and patience?
It does not matter when we turn out to have made a mistake in our lives,
As long as we want to admit it,
And ready to take responsibility.

© HERY SHIETRA Copyright.

Kita tidak mungkin berharap untuk menghapus dosa.
Bagaikan mencoba untuk menghapus tinta sejarah.
Apa yang telah diperbuat,
Kecil ataupun besar,
Pasti akan berbuah pada si pelaku.
Mencoba menghapus dosa,
Sama artinya memungkiri perilaku buruk kita sendiri,
Dan menjadi seorang pengecut yang tidak berani menghadapi akibat dari perilaku kita sendiri.
Namun kita masih dapat menebus berbagai kesalahan kita,
Dengan cara mengimbangi berbagai kesalahan itu lewat sikap nyata.
Bagaikan ketika kita harus meminum segelas air bergaram,
Terasa demikian asin di lidah.
Namun ketika kita mengimbangi air garam itu dengan air di sebuah danau,
Maka air garam itu menjadi tidak lagi terasa asin.
Berbagai perbuatan buruk yang selama ini telah kita lakukan,
Perlu diimbangi dengan berbagai perbuatan baik,
Itulah yang disebut dengan bertobat.
Meminta ampun dan mengaku bersalah,
Tidaklah pernah cukup.
Menyesalinya sekalipun,
Tidaklah akan pernah dapat menghapus karma buruk yang telah kita tanam.
Tekad untuk menebus kesalahan,
Hanya dapat dibuktikan lewat tindakan konkret,
Berupa komitmen nyata untuk tidak lagi mengulangi kesalahan serupa,
Bersedia mengalah ketika menghadapi sikap-sikap tidak menyenangkan dari orang lain,
Bersabar ketika diperlakukan tidak adil,
Dan rajin serta tekun untuk menanam berbagai benih perbuatan baik.
Bila hanya menyembah dan memuja Tuhan,
Semua orang bisa.
Namun bila menebus kesalahan lewat langkah konkret,
Tidak semua orang mau menunjukkan komitmennya untuk bersusah payah berbuat kebaikan untuk mengimbangi berbagai perbuatan buruknya.
Mereka yang mengharap dapat masuk surga hanya dengan menyembah Tuhan,
Mengandalkan ritual penghapusan dosa,
Adalah sungguh orang-orang pemalas yang bersikap pengecut,
Berharap dengan cara instan demikian,
Dirinya akan lepas dari buah hukum karma.
Itulah yang dapat kita sebut sebagai,
Sebuah harapan semu.
Terkecoh oleh pandangan keliru mengenai pangampunan dosa.
Daripada mengandalkan penghapusan dosa,
Mengapa tidak kita imbangi berbagai perbuatan buruk kita dengan berbagai perbuatan baik dan perbuatan penuh perhatian serta kesabaran?
Tidak masalah ketika kita ternyata pernah melakukan kesalahan dalam hidup kita,
Selama kita mau mengakuinya,
Dan siap untuk bertanggung jawab.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

SPONSORED : Punya Masalah Hukum? Konsultasikan kepada Konsultan SHIETRA, Netral dan Objektif

Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS