Reputasi Bukan Dibangun dari Kata (Klaim), namun dari Konsistensi antar Aksi serta Sinkronisasi antara Ucapan dan Perbuatan
Kita dapat dengan mudah menemukan fenomena sosial, dimana masyarakat kita begitu iritatif terhadap pelaku koruptif yang diberitakan melakukan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Bila Anda memiliki sifat yang “naif”, Anda akan secara mudah tergelincir pada asumsi keliru, bahwa mereka, pengkritik para koruptor tersebut, adalah orang-orang yang bersih dari aksi korupsi dalam keseharian hidup mereka. Butuh waktu begitu lama, berpuluh-puluh tahun lamanya bagi penulis untuk menyadari, bahwa “mengutuk atau menghujat Iblis, tidak berarti yang bersangkutan menjadi suci atau adalah orang suci yang lebih bersih daripada sang Iblis yang mereka kritik dan cela”.
Seseorang, tidak disucikan
karena mengutuk ataupun menghujat Iblis. Seseorang, menjadi mulia atau menjadi
tercemar, karena perilaku / perbuatan aktualnya, demikian Sang Buddha pernah
bersabda. Karenanya, jangan pernah memuji seseorang yang mengkritik seorang
koruptor, namun pujilah seseorang atas perbuatannya yang terpuji dan tidak
tercela. Ketika antara ucapan dan perbuatan / perilakunya telah ternyata tidak
sinkron alias tidak konsisten satu sama lainnya, maka itulah yang disebut
sebagai kaum “hiprokrit” yang tidak layak dipegang ataupun dipercaya setiap
klaim maupun ucapannya. Sama seperti seseorang tidaklah menjadi suci, semata
karena ia mengklaim dirinya adalah seorang suciwan yang suci.
Hendaknya kita tidak menilai
sesuatu, semisal sebuah ideologi agama, hanya karena disebut “agama SUCI”
maupun kitab-nya diberi judul “kitab SUCI”. Nilai berdasarkan apa yang
diajarkan dan apa yang tertulis di dalamnya. Seperti kata anekdot klise, “don’t
judge be book, by the cover title”. Mengapa orang dungu, dipelihara, baik
orang dungunya maupun sifat dungu yang melekat pada orang dungu tersebut? Karena
orang dungu mudah untuk dibajak, dipolitisir, dimobilisasi, dieksploitasi,
serta dimanipulasi, cukup dengan slogan-slogan propaganda yang dangkal,
terutama untuk kepentingan politik oleh kalangan elit maupun pemodal. Itulah sebabnya,
“dungu” adalah komoditas itu sendiri, yang oleh “kepentingan” dilestarikan. Ilustrasi
berikut sangat “membumi” : ideologi komun!sme tidak mengajarkan “penghapusan
dosa” bagi umat pengikutnya, namun ditetapkan sebagai ideologi terlarang. Namun,
ideologi “hapus dosa” (bagi pendosa, tentunya) justru dikampanyekan dengan
demikian semarak dan gempita.
Terdapat dua jenis keyakinan,
keyakinan yang dibangun diatas delusi dan keyakinan yang dibangun diatas bukti,
baik itu “keyakinan keagamaan” maupun “keyakinan terhadap hukum negara dan
aparatur penegak hukumnya”. Ketika norma-norma hukum tertulis tampak ideal,
namun aparatur penegak hukumnya justru menyimpang, maka sistem hukum yang ada
tidaklah dapat disebut “baik dan sehat adanya”, namun “bopeng separuh wajahnya”.
Bahkan, bisa jadi motif pembentuk hukumnya yang patut diragukan, atau bahkan
budaya kesadaran berhukum masyarakat ialah “yang patuh terhadap hukum akan
tampak ‘aneh sendiri’”—semisal, tidak menyuap hakim maka Anda akan dikalahkan
di persidangan. Bila Anda tidak menuruti permintaan polisi yang memeras Anda,
laporan / aduan Anda tidak akan ditindak-lanjuti.
Berhati-hatilah, ketika
pemerintahan suatu negara melarang warga-negaranya untuk membuat penyelidikan
dan penilaian secara pribadi terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa.
Kampanye politik seperti jargon “SAYA RELA MATI, DEMI RAKYAT!!!”, sebanyak
apapun repetisi slogan emosional demikian diucapkan di depan publik, namun
ketika para warganya memiliki aspirasi yang berseberangan dengan pemerintahan
yang sedang berkuasa, lalu diberi stempel sebagai “pembelot bangsa”, maka Anda patut
merasa ragu terhadap pemerintah yang sedang berkuasa. Berdayakan dan optimalkan
baik-baik pengamatan, observasi, serta evaluasi dengan segenap panca indera Anda,
serta tidak menjelma “bangsa yang pelupa” (mudah lupa ataupun mudah dibuat
terdistraksi). Bila pemerintah Anda adalah konsisten antara klaim / jargon dan
realita jalannya roda pemerintahan, maka Anda barulah patut yakin terhadap pemerintahan
yang sedang berkuasa.
Sang Buddha memiliki reputasi
serta gelar sebagai “yang tercerahkan dan yang sempurna, guru bagi para manusia
dan guru bagi para dewata, pengetahu segenap alam”, bukanlah suatu predikat tanpa
dasar, namun dapat kita simak Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya), Judul Asli : The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya
& Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
47 Vīmaṁsaka Sutta: Penyelidik
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil
para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata
sebagai berikut:
2. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah
seorang penyelidik, yang tidak mengetahui bagaimana mengukur pikiran orang
lain,482 seharusnya menyelidiki Sang Tathāgata untuk mengetahui apakah
Beliau tercerahkan sempurna atau tidak.”
3. “Yang Mulia, ajaran kami berakar dalam Sang
Bhagavā, dituntun oleh Sang Bhagavā, diputuskan oleh Sang Bhagavā. Baik sekali
jika Sang Bhagavā sudi menjelaskan makna dari kata-kata ini. Setelah
mendengarkan dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”
“Maka dengarkanlah, para bhikkhu, dan perhatikanlah
pada [318] apa yang akan Kukatakan.”
“Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā
berkata sebagai berikut:
4. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah
seorang penyelidik, yang tidak mengetahui bagaimana mengukur pikiran orang
lain, seharusnya menyelidiki Sang Tathāgata sehubungan dengan dua kondisi, kondisi
yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga sebagai berikut: ‘Ada atau
tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata, kondisi apapun yang mengotori yang dapat
dikenali melalui mata atau melalui telinga?’483 Ketika
ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi apapun yang mengotori yang
dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga yang dapat ditemukan pada Sang
Tathāgata.’
5. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki
Beliau lebih lanjut sebagai berikut: ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata
kondisi campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’484
Ketika ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi campuran
apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga yang dapat
ditemukan pada Sang Tathāgata.’
6. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki
Beliau lebih lanjut sebagai berikut: ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata
kondisi bersih apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’
Ketika ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Kondisi bersih yang dapat
dikenali melalui mata atau melalui telinga terdapat pada Sang Tathāgata.’
7. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki
Beliau lebih lanjut sebagai berikut: ‘Apakah Yang Mulia ini telah mencapai kondisi
bermanfaat ini sejak waktu yang lama atau apakah ia baru saja mencapainya?’
Ketika ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Yang Mulia ini telah
mencapai kondisi bermanfaat ini sejak waktu yang lama; Beliau bukan baru saja
mencapainya.’
8. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki
Beliau lebih lanjut sebagai berikut: ‘Apakah Yang Mulia ini telah memiliki reputasi dan
mencapai kemasyhuran, sehingga bahaya [yang berhubungan dengan reputasi dan
kemasyhuran] terdapat padanya?’ Karena, para bhikkhu, selama seorang
bhikkhu belum memiliki reputasi dan belum mencapai kemasyhuran, maka bahaya
[yang berhubungan dengan reputasi dan kemasyhuran] tidak terdapat padanya;
tetapi ketika ia telah memiliki reputasi dan mencapai kemasyhuran, maka
bahaya-bahaya itu terdapat padanya.485 Ketika ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Yang Mulia ini telah memiliki reputasi dan mencapai
kemasyhuran, tetapi bahaya [yang berhubungan dengan reputasi dan kemasyhuran] tidak terdapat padanya.’
9. “Ketika ia mengetahui hal ini, [319] ia menyelidiki
Beliau lebih lanjut sebagai berikut: ‘Apakah Yang Mulia ini terkendali tanpa ketakutan,
bukan terkendali oleh ketakutan, dan apakah ia menghindari menikmati kenikmatan
indria karena Beliau adalah tanpa nafsu melalui hancurnya nafsu?’ Ketika
ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Yang Mulia ini terkendali tanpa ketakutan, bukan terkendali
oleh ketakutan, dan ia menghindari perbuatan menikmati kenikmatan indria karena
Beliau adalah tanpa nafsu melalui hancurnya nafsu.’
10 “Sekarang, para bhikkhu, jika orang lain bertanya
kepada bhikkhu itu sebagai berikut: ‘Apakah alasan yang mulia dan apakah buktinya sehingga mengatakan: “Yang
Mulia itu terkendali tanpa ketakutan, bukan terkendali oleh ketakutan, dan ia menghindari
perbuatan menikmati kenikmatan indria karena Beliau adalah tanpa nafsu melalui
hancurnya nafsu.”?’ – jika menjawab dengan benar, bhikkhu itu akan menjawab
sebagai berikut: ‘Apakah Yang Mulia itu bersama dengan Sangha atau sendirian,
sementara terdapat beberapa orang yang berperilaku baik dan beberapa orang
berperilaku buruk dan beberapa orang mengajarkan kepada suatu kelompok,486
sementara beberapa orang di sini mementingkan benda-benda materi dan beberapa orang
tidak ternoda oleh benda-benda materi, namun Yang Mulia itu tidak merendahkan
siapapun karena hal tersebut.487 Dan aku telah mendengar dan mengetahui hal ini
dari mulut Sang Bhagavā: ‘Aku terkendali tanpa ketakutan, bukan terkendali oleh
ketakutan, dan Aku menghindari perbuatan menikmati kenikmatan indria karena Aku
adalah tanpa nafsu melalui hancurnya nafsu.’”
11. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, harus
ditanya lebih jauh mengenai hal ini sebagai berikut: ‘Apakah terdapat atau tidak terdapat
pada Sang Tathāgata kondisi apapun yang mengotori yang dapat dikenali melalui
mata atau melalui telinga?’ Sang Tathāgata akan menjawab: ‘Tidak ada
kondisi apapun yang mengotori yang dapat dikenali melalui mata atau melalui
telinga terdapat pada Sang Tathāgata.’
12. “Jika ditanya, ‘Ada atau tidakkah terdapat
pada Sang Tathāgata kondisi campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata
atau melalui telinga?’ Sang Tathāgata akan menjawab: ‘Tidak ada kondisi
campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga yang
dapat ditemukan pada Sang Tathāgata.’
13. “Jika ditanya, ‘Ada atau tidakkah terdapat
pada Sang Tathāgata kondisi bersih apapun yang dapat dikenali melalui mata atau
melalui telinga?’ Sang Tathāgata akan menjawab: ‘Kondisi bersih yang dapat
dikenali melalui mata atau melalui telinga terdapat pada Sang Tathāgata. Itu
adalah jalanKu dan wilayahKu, namun Aku tidak mengidentifikasikan diri sebagai
itu.’488
14. “Para bhikkhu, seorang siswa seharusnya
mendatangi Sang Guru yang mengajarkan demikian untuk mendengarkan Dhamma. Sang
Guru mengajarkan kepadanya Dhamma dengan tingkat yang lebih tinggi dan lebih
tinggi lagi, dengan tingkat yang lebih luhur dan lebih luhur lagi, dengan
pasangan-pasangan gelap dan cerahnya. Ketika Sang Guru mengajarkan Dhamma
kepada seorang bhikkhu dengan cara ini, melalui pengetahuan langsung terhadap
suatu ajaran tertentu di sini dalam Dhamma itu, [320] bhikkhu itu sampai pada
kesimpulan mengenai ajaran-ajaran.489 Ia berkeyakinan pada Sang Guru sebagai
berikut: ‘Sang Bhagavā telah tercerahkan sempurna, Dhamma telah dibabarkan
dengan baik, Sangha mempraktikkan jalan yang baik.’
15. “Sekarang jika orang lain bertanya kepada
bhikkhu itu sebagai berikut: ‘Apakah alasan yang mulia dan apakah buktinya sehingga ia mengatakan: “Sang
Bhagavā telah tercerahkan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha
mempraktikkan jalan yang baik”?’ – jika menjawab dengan benar, bhikkhu itu akan
menjawab sebagai berikut: ‘Di sini, teman, aku mendatangi Sang Bhagavā untuk
mendengarkan Dhamma. Sang Bhagavā mengajarkan kepadaku Dhamma dengan tingkat
yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, dengan tingkat yang lebih luhur dan
lebih luhur lagi, dengan pasangan-pasangan gelap dan cerahnya. Ketika Sang Guru
mengajarkan Dhamma kepadaku dengan cara ini, melalui pengetahuan langsung
terhadap suatu ajaran tertentu di sini dalam Dhamma itu, aku sampai pada kesimpulan
mengenai ajaran. Aku berkeyakinan pada Sang Guru sebagai berikut: “Sang Bhagavā
telah tercerahkan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha
mempraktikkan jalan yang baik.”’
16. “Para bhikkhu, ketika keyakinan siapapun telah
ditanam, berakar, dan kokoh dalam Sang Tathāgata melalui alasan-alasan, kata-kata,
dan frasa-frasa ini, keyakinannya dikatakan sebagai didukung oleh
alasan-alasan, berakar dalam penglihatan, kokoh;490 tidak
terkalahkan oleh petapa atau brahmana manapun atau dewa atau Māra atau Brahmā
atau siapapun di dunia ini. Itulah, para bhikkhu, bagaimana terdapat suatu
penyelidikan terhadap Sang Tathāgata sesuai Dhamma, dan itulah bagaimana Sang
Bhagavā diselidiki dengan baik sesuai Dhamma.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
CATATAN KAKI:
482. Parassa cetopariyāyaṁ ajānantena, kata terakhir lebih mengikuti
BBS dan SBJ daripada PTS sebagai ājānantena, yang memberikan makna
positif “mengetahui.” Dalam konteks ini jelas dibutuhkan makna negatif, karena
bhikkhu yang tidak mengetahui pikiran Sang Buddha melalui pengenalan
langsung bahwa Beliau tercerahkan sempurna harus sampai pada kesimpulan ini
melalui kesimpulan yang ditarik dari perilaku jasmani dan ucapan dan bukti-bukti
lainnya yang dijelaskan oleh sutta.
483. Perbuatan-perbuatan
jasmani adalah “kondisi-kondisi yang dikenali melalui mata.” Kata-kata
adalah “kondisi-kondisi yang dikenali melalui telinga.” MA: Seperti halnya
seseorang menyimpulkan adanya ikan dari riakan dan gelembung air, demikian pula
dari perbuatan atau ucapan kotor seseorang menyimpulkan bahwa pikiran yang
menjadi sumbernya juga kotor.
484. MṬ: “Kondis-kondisi campuran” (vitimissā dhammā)
merujuk pada perilaku seseorang yang menjalani pemurnian perilaku tetapi tidak mampu
mempertahankannya secara konsisten. Kadang-kadang perilakunya murni atau cerah,
kadang-kadang tidak murni atau gelap.
485. MA: Bahayanya adalah
keangkuhan, kesombongan, dan sebagainya. Bagi beberapa bhikkhu, selama mereka
belum menjadi terkenal dan belum memiliki pengikut, maka bahaya ini tidak ada,
dan mereka sangat tenang dan hening; tetapi ketika mereka telah menjadi
terkenal dan telah memiliki pengikut, mereka bepergian dengan berperilaku tidak
selayaknya, menyerang para bhikkhu lain bagaikan seekor macan menerkam
sekumpulan rusa.
486. MA: Lawan dari mereka yang
mengajar suatu kelompok – mereka yang berdiam terlepas dari suatu kelompok –
walaupun tidak disebutkan, harus dipahami juga.
487. MA: Paragraf ini
menunjukkan sifat Sang Buddha yang tidak-membeda-bedakan (tādibhāva)
terhadap makhluk-makhluk: Beliau tidak memuji seseorang dan menghina orang
lain.
488. No ca tena tammayo.
MA mengemas: “Aku tidak mengidentifikasikan diri sebagai moralitas murni
tersebut, Aku adalah tanpa ketagihan terhadap itu.”
489. So tasmiṁ dhamme abhiññāya idh’ ekaccaṁ dhammaṁ dhammesu niṭṭhaṁ gacchati. Untuk menyampaikan makna yang
dimaksudkan penerjemah menerjemahkan kata dhamma yang ke dua di sini
sebagai “ajaran,” yaitu, doktrin tertentu yang diajarkan kepadanya, bentuk
jamak dhammesu sebagai “ajaran-ajaran,” dan tasmiṁ dhamme sebagai “Dhamma itu,” dalam
makna keseluruhan ajaran. MA dan MṬ sama-sama menjelaskan maknanya
sebagai berikut: Ketika Dhamma telah diajarkan oleh Sang Guru, dengan secara
langsung mengetahui Dhamma melalui penembusan sang jalan, buah, dan Nibbāna,
bhikkhu itu sampai pada kesimpulan tentang ajaran awal dari Dhamma tentang bantuan-bantuan
menuju pencerahan (bodhipakkhiyā dhammā).
490. Ākāravati saddhā
dassanamūlikā daḷhā. Frasa ini merujuk pada keyakinan
seorang “pemasuk-arus” yang telah melihat Dhamma melalui jalan lokuttara
dan tidak akan pernah berpaling pada guru lain selain Sang Buddha.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.