JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Jadilah Warga-Penyelidik yang Cermat dengan Mata-Telinga Terbuka Lebar Sebelum Menarik Kesimpulan dan Meyakini

Reputasi Bukan Dibangun dari Kata (Klaim), namun dari Konsistensi antar Aksi serta Sinkronisasi antara Ucapan dan Perbuatan

Kita dapat dengan mudah menemukan fenomena sosial, dimana masyarakat kita begitu iritatif terhadap pelaku koruptif yang diberitakan melakukan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Bila Anda memiliki sifat yang “naif”, Anda akan secara mudah tergelincir pada asumsi keliru, bahwa mereka, pengkritik para koruptor tersebut, adalah orang-orang yang bersih dari aksi korupsi dalam keseharian hidup mereka. Butuh waktu begitu lama, berpuluh-puluh tahun lamanya bagi penulis untuk menyadari, bahwa “mengutuk atau menghujat Iblis, tidak berarti yang bersangkutan menjadi suci atau adalah orang suci yang lebih bersih daripada sang Iblis yang mereka kritik dan cela”.

Seseorang, tidak disucikan karena mengutuk ataupun menghujat Iblis. Seseorang, menjadi mulia atau menjadi tercemar, karena perilaku / perbuatan aktualnya, demikian Sang Buddha pernah bersabda. Karenanya, jangan pernah memuji seseorang yang mengkritik seorang koruptor, namun pujilah seseorang atas perbuatannya yang terpuji dan tidak tercela. Ketika antara ucapan dan perbuatan / perilakunya telah ternyata tidak sinkron alias tidak konsisten satu sama lainnya, maka itulah yang disebut sebagai kaum “hiprokrit” yang tidak layak dipegang ataupun dipercaya setiap klaim maupun ucapannya. Sama seperti seseorang tidaklah menjadi suci, semata karena ia mengklaim dirinya adalah seorang suciwan yang suci.

Hendaknya kita tidak menilai sesuatu, semisal sebuah ideologi agama, hanya karena disebut “agama SUCI” maupun kitab-nya diberi judul “kitab SUCI”. Nilai berdasarkan apa yang diajarkan dan apa yang tertulis di dalamnya. Seperti kata anekdot klise, “don’t judge be book, by the cover title”. Mengapa orang dungu, dipelihara, baik orang dungunya maupun sifat dungu yang melekat pada orang dungu tersebut? Karena orang dungu mudah untuk dibajak, dipolitisir, dimobilisasi, dieksploitasi, serta dimanipulasi, cukup dengan slogan-slogan propaganda yang dangkal, terutama untuk kepentingan politik oleh kalangan elit maupun pemodal. Itulah sebabnya, “dungu” adalah komoditas itu sendiri, yang oleh “kepentingan” dilestarikan. Ilustrasi berikut sangat “membumi” : ideologi komun!sme tidak mengajarkan “penghapusan dosa” bagi umat pengikutnya, namun ditetapkan sebagai ideologi terlarang. Namun, ideologi “hapus dosa” (bagi pendosa, tentunya) justru dikampanyekan dengan demikian semarak dan gempita.

Terdapat dua jenis keyakinan, keyakinan yang dibangun diatas delusi dan keyakinan yang dibangun diatas bukti, baik itu “keyakinan keagamaan” maupun “keyakinan terhadap hukum negara dan aparatur penegak hukumnya”. Ketika norma-norma hukum tertulis tampak ideal, namun aparatur penegak hukumnya justru menyimpang, maka sistem hukum yang ada tidaklah dapat disebut “baik dan sehat adanya”, namun “bopeng separuh wajahnya”. Bahkan, bisa jadi motif pembentuk hukumnya yang patut diragukan, atau bahkan budaya kesadaran berhukum masyarakat ialah “yang patuh terhadap hukum akan tampak ‘aneh sendiri’”—semisal, tidak menyuap hakim maka Anda akan dikalahkan di persidangan. Bila Anda tidak menuruti permintaan polisi yang memeras Anda, laporan / aduan Anda tidak akan ditindak-lanjuti.

Berhati-hatilah, ketika pemerintahan suatu negara melarang warga-negaranya untuk membuat penyelidikan dan penilaian secara pribadi terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa. Kampanye politik seperti jargon “SAYA RELA MATI, DEMI RAKYAT!!!”, sebanyak apapun repetisi slogan emosional demikian diucapkan di depan publik, namun ketika para warganya memiliki aspirasi yang berseberangan dengan pemerintahan yang sedang berkuasa, lalu diberi stempel sebagai “pembelot bangsa”, maka Anda patut merasa ragu terhadap pemerintah yang sedang berkuasa. Berdayakan dan optimalkan baik-baik pengamatan, observasi, serta evaluasi dengan segenap panca indera Anda, serta tidak menjelma “bangsa yang pelupa” (mudah lupa ataupun mudah dibuat terdistraksi). Bila pemerintah Anda adalah konsisten antara klaim / jargon dan realita jalannya roda pemerintahan, maka Anda barulah patut yakin terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa.

Sang Buddha memiliki reputasi serta gelar sebagai “yang tercerahkan dan yang sempurna, guru bagi para manusia dan guru bagi para dewata, pengetahu segenap alam”, bukanlah suatu predikat tanpa dasar, namun dapat kita simak Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya), Judul Asli : The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

47 Vīmasaka Sutta: Penyelidik

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang penyelidik, yang tidak mengetahui bagaimana mengukur pikiran orang lain,482 seharusnya menyelidiki Sang Tathāgata untuk mengetahui apakah Beliau tercerahkan sempurna atau tidak.”

3. “Yang Mulia, ajaran kami berakar dalam Sang Bhagavā, dituntun oleh Sang Bhagavā, diputuskan oleh Sang Bhagavā. Baik sekali jika Sang Bhagavā sudi menjelaskan makna dari kata-kata ini. Setelah mendengarkan dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka dengarkanlah, para bhikkhu, dan perhatikanlah pada [318] apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

4. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang penyelidik, yang tidak mengetahui bagaimana mengukur pikiran orang lain, seharusnya menyelidiki Sang Tathāgata sehubungan dengan dua kondisi, kondisi yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga sebagai berikut: ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata, kondisi apapun yang mengotori yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’483 Ketika ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi apapun yang mengotori yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga yang dapat ditemukan pada Sang Tathāgata.’

5. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki Beliau lebih lanjut sebagai berikut: ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata kondisi campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’484 Ketika ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga yang dapat ditemukan pada Sang Tathāgata.’

6. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki Beliau lebih lanjut sebagai berikut: ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata kondisi bersih apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’ Ketika ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Kondisi bersih yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga terdapat pada Sang Tathāgata.’

7. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki Beliau lebih lanjut sebagai berikut: ‘Apakah Yang Mulia ini telah mencapai kondisi bermanfaat ini sejak waktu yang lama atau apakah ia baru saja mencapainya?’ Ketika ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Yang Mulia ini telah mencapai kondisi bermanfaat ini sejak waktu yang lama; Beliau bukan baru saja mencapainya.’

8. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki Beliau lebih lanjut sebagai berikut: ‘Apakah Yang Mulia ini telah memiliki reputasi dan mencapai kemasyhuran, sehingga bahaya [yang berhubungan dengan reputasi dan kemasyhuran] terdapat padanya?’ Karena, para bhikkhu, selama seorang bhikkhu belum memiliki reputasi dan belum mencapai kemasyhuran, maka bahaya [yang berhubungan dengan reputasi dan kemasyhuran] tidak terdapat padanya; tetapi ketika ia telah memiliki reputasi dan mencapai kemasyhuran, maka bahaya-bahaya itu terdapat padanya.485 Ketika ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Yang Mulia ini telah memiliki reputasi dan mencapai kemasyhuran, tetapi bahaya [yang berhubungan dengan reputasi dan kemasyhuran] tidak terdapat padanya.’

9. “Ketika ia mengetahui hal ini, [319] ia menyelidiki Beliau lebih lanjut sebagai berikut: ‘Apakah Yang Mulia ini terkendali tanpa ketakutan, bukan terkendali oleh ketakutan, dan apakah ia menghindari menikmati kenikmatan indria karena Beliau adalah tanpa nafsu melalui hancurnya nafsu?’ Ketika ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Yang Mulia ini terkendali tanpa ketakutan, bukan terkendali oleh ketakutan, dan ia menghindari perbuatan menikmati kenikmatan indria karena Beliau adalah tanpa nafsu melalui hancurnya nafsu.’

10 “Sekarang, para bhikkhu, jika orang lain bertanya kepada bhikkhu itu sebagai berikut: ‘Apakah alasan yang mulia dan apakah buktinya sehingga mengatakan: “Yang Mulia itu terkendali tanpa ketakutan, bukan terkendali oleh ketakutan, dan ia menghindari perbuatan menikmati kenikmatan indria karena Beliau adalah tanpa nafsu melalui hancurnya nafsu.”?’ – jika menjawab dengan benar, bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Apakah Yang Mulia itu bersama dengan Sangha atau sendirian, sementara terdapat beberapa orang yang berperilaku baik dan beberapa orang berperilaku buruk dan beberapa orang mengajarkan kepada suatu kelompok,486 sementara beberapa orang di sini mementingkan benda-benda materi dan beberapa orang tidak ternoda oleh benda-benda materi, namun Yang Mulia itu tidak merendahkan siapapun karena hal tersebut.487 Dan aku telah mendengar dan mengetahui hal ini dari mulut Sang Bhagavā: ‘Aku terkendali tanpa ketakutan, bukan terkendali oleh ketakutan, dan Aku menghindari perbuatan menikmati kenikmatan indria karena Aku adalah tanpa nafsu melalui hancurnya nafsu.’”

11. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, harus ditanya lebih jauh mengenai hal ini sebagai berikut: ‘Apakah terdapat atau tidak terdapat pada Sang Tathāgata kondisi apapun yang mengotori yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’ Sang Tathāgata akan menjawab: ‘Tidak ada kondisi apapun yang mengotori yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga terdapat pada Sang Tathāgata.’

12. “Jika ditanya, ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata kondisi campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’ Sang Tathāgata akan menjawab: ‘Tidak ada kondisi campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga yang dapat ditemukan pada Sang Tathāgata.’

13. “Jika ditanya, ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata kondisi bersih apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’ Sang Tathāgata akan menjawab: ‘Kondisi bersih yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga terdapat pada Sang Tathāgata. Itu adalah jalanKu dan wilayahKu, namun Aku tidak mengidentifikasikan diri sebagai itu.’488

14. “Para bhikkhu, seorang siswa seharusnya mendatangi Sang Guru yang mengajarkan demikian untuk mendengarkan Dhamma. Sang Guru mengajarkan kepadanya Dhamma dengan tingkat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, dengan tingkat yang lebih luhur dan lebih luhur lagi, dengan pasangan-pasangan gelap dan cerahnya. Ketika Sang Guru mengajarkan Dhamma kepada seorang bhikkhu dengan cara ini, melalui pengetahuan langsung terhadap suatu ajaran tertentu di sini dalam Dhamma itu, [320] bhikkhu itu sampai pada kesimpulan mengenai ajaran-ajaran.489 Ia berkeyakinan pada Sang Guru sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā telah tercerahkan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha mempraktikkan jalan yang baik.’

15. “Sekarang jika orang lain bertanya kepada bhikkhu itu sebagai berikut: ‘Apakah alasan yang mulia dan apakah buktinya sehingga ia mengatakan: “Sang Bhagavā telah tercerahkan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha mempraktikkan jalan yang baik”?’ – jika menjawab dengan benar, bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Di sini, teman, aku mendatangi Sang Bhagavā untuk mendengarkan Dhamma. Sang Bhagavā mengajarkan kepadaku Dhamma dengan tingkat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, dengan tingkat yang lebih luhur dan lebih luhur lagi, dengan pasangan-pasangan gelap dan cerahnya. Ketika Sang Guru mengajarkan Dhamma kepadaku dengan cara ini, melalui pengetahuan langsung terhadap suatu ajaran tertentu di sini dalam Dhamma itu, aku sampai pada kesimpulan mengenai ajaran. Aku berkeyakinan pada Sang Guru sebagai berikut: “Sang Bhagavā telah tercerahkan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha mempraktikkan jalan yang baik.”’

16. “Para bhikkhu, ketika keyakinan siapapun telah ditanam, berakar, dan kokoh dalam Sang Tathāgata melalui alasan-alasan, kata-kata, dan frasa-frasa ini, keyakinannya dikatakan sebagai didukung oleh alasan-alasan, berakar dalam penglihatan, kokoh;490 tidak terkalahkan oleh petapa atau brahmana manapun atau dewa atau Māra atau Brahmā atau siapapun di dunia ini. Itulah, para bhikkhu, bagaimana terdapat suatu penyelidikan terhadap Sang Tathāgata sesuai Dhamma, dan itulah bagaimana Sang Bhagavā diselidiki dengan baik sesuai Dhamma.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

CATATAN KAKI:

482. Parassa cetopariyāya ajānantena, kata terakhir lebih mengikuti BBS dan SBJ daripada PTS sebagai ājānantena, yang memberikan makna positif “mengetahui.” Dalam konteks ini jelas dibutuhkan makna negatif, karena bhikkhu yang tidak mengetahui pikiran Sang Buddha melalui pengenalan langsung bahwa Beliau tercerahkan sempurna harus sampai pada kesimpulan ini melalui kesimpulan yang ditarik dari perilaku jasmani dan ucapan dan bukti-bukti lainnya yang dijelaskan oleh sutta.

483. Perbuatan-perbuatan jasmani adalah “kondisi-kondisi yang dikenali melalui mata.” Kata-kata adalah “kondisi-kondisi yang dikenali melalui telinga.” MA: Seperti halnya seseorang menyimpulkan adanya ikan dari riakan dan gelembung air, demikian pula dari perbuatan atau ucapan kotor seseorang menyimpulkan bahwa pikiran yang menjadi sumbernya juga kotor.

484. M: “Kondis-kondisi campuran” (vitimissā dhammā) merujuk pada perilaku seseorang yang menjalani pemurnian perilaku tetapi tidak mampu mempertahankannya secara konsisten. Kadang-kadang perilakunya murni atau cerah, kadang-kadang tidak murni atau gelap.

485. MA: Bahayanya adalah keangkuhan, kesombongan, dan sebagainya. Bagi beberapa bhikkhu, selama mereka belum menjadi terkenal dan belum memiliki pengikut, maka bahaya ini tidak ada, dan mereka sangat tenang dan hening; tetapi ketika mereka telah menjadi terkenal dan telah memiliki pengikut, mereka bepergian dengan berperilaku tidak selayaknya, menyerang para bhikkhu lain bagaikan seekor macan menerkam sekumpulan rusa.

486. MA: Lawan dari mereka yang mengajar suatu kelompok – mereka yang berdiam terlepas dari suatu kelompok – walaupun tidak disebutkan, harus dipahami juga.

487. MA: Paragraf ini menunjukkan sifat Sang Buddha yang tidak-membeda-bedakan (tādibhāva) terhadap makhluk-makhluk: Beliau tidak memuji seseorang dan menghina orang lain.

488. No ca tena tammayo. MA mengemas: “Aku tidak mengidentifikasikan diri sebagai moralitas murni tersebut, Aku adalah tanpa ketagihan terhadap itu.”

489. So tasmi dhamme abhiññāya idh’ ekacca dhammadhammesu niṭṭha gacchati. Untuk menyampaikan makna yang dimaksudkan penerjemah menerjemahkan kata dhamma yang ke dua di sini sebagai “ajaran,” yaitu, doktrin tertentu yang diajarkan kepadanya, bentuk jamak dhammesu sebagai “ajaran-ajaran,” dan tasmi dhamme sebagai “Dhamma itu,” dalam makna keseluruhan ajaran. MA dan M sama-sama menjelaskan maknanya sebagai berikut: Ketika Dhamma telah diajarkan oleh Sang Guru, dengan secara langsung mengetahui Dhamma melalui penembusan sang jalan, buah, dan Nibbāna, bhikkhu itu sampai pada kesimpulan tentang ajaran awal dari Dhamma tentang bantuan-bantuan menuju pencerahan (bodhipakkhiyā dhammā).

490. Ākāravati saddhā dassanamūlikā da. Frasa ini merujuk pada keyakinan seorang “pemasuk-arus” yang telah melihat Dhamma melalui jalan lokuttara dan tidak akan pernah berpaling pada guru lain selain Sang Buddha.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.