If we can walk straight, why choose to take a winding path?
When I was a kid,
There was a cartoon on television,
The story of the car race,
Where a racer who becomes a villain,
Always try to cheat other riders when competing.
Surprisingly, the cheater racer often told has drove in pole position,
Nevertheless,
The cheat racer always took the time to set a trap and try to harm other
racers.
One of my best friends then commented on the cartoon story,
The cheater racer is far away in the front position, why he does not just
keep on driving his car and winning the competition. Why should he stop his
vehicle to cheat another rider in the back?
The words of my friend there is a point,
For what the cunning riders want to bother themselves to cheat other
racers,
While he is at the forefront and will certainly win the race if he
continues to spur his car.
Is not that strange?
Is the cartoon maker too stupid to be able to realize that silly thing?
Or is that social phenomenon occurring in our sick society?
There is also a story of a drama movie that I recently witnessed,
A story about a figure who has lived a prosperous life,
But in order to pursue an obsession,
Dare to commit any crime,
So in the end,
The figures lose everything.
He or she has wealth and power,
But in order to pursue greater power,
In the end, he collapsed and lost everything.
If only he would appreciate what was already there,
Not pursuing an unnecessary obsession,
And want to realize many people who live not as fortunate as he,
Then all the prosperity that has been there, will not disappear like
swallowed by the earth.
Recently there is also a surprising news,
A high state officials arrested by the police because of corruption.
The official has taken pains to pursue a career to reach the position of a
governor.
But all the effort and hard work was damaged just because of corruption.
If only he would realize how lucky he was,
Can be a governor,
While there are still many people out there who have low positions or even
no job at all,
So for what else, he did corruption?
Income as a governor is not small,
Yet why one fails to realize how lucky he is,
Pursuing an endless obsession of desire,
Even doing foul and dirty ways,
Until finally lost everything.
Everything that has been built with great difficulty,
Crumble in the blink of an eye.
We all know,
Build a reputation,
It is difficult.
While,
Damaging good name,
Can be done in the blink of an eye.
Just as when we complain that we can only eat simple food as it is,
While we do not want to realize the number of other humans in the other
hemisphere, died because of starvation or malnutrition.
When it's been hard to collect an academic degree,
Received the title of cum laude predicate,
Obtained honorary doctor honorary causa,
Then all the degrees of scholarship are no longer meaningful, when he was
caught red-handed doing unlawful acts.
Being a human being who has no knowledge,
It is difficult.
But when a person has a wide range of knowledge and a myriad of academic
degrees,
Instead of realizing how much of a chance he would develop in the future,
All that potential is lost only because of an obsession that is out of
place.
Himself has a myriad of science,
Himself has had a series of academic degrees,
Himself has a high power,
Himself has more than enough wealth,
Himself has talents and tremendous potential,
Himself has all the resources to win the competition in this life,
But why,
Instead of choosing to walk straight and continue the straight journey,
By having all the capital and luck that already exist,
But instead chose to take a winding path that will ultimately take him to
the abyss of adversity?
Evidently,
We not only need to be aware, that build a reputation and prosperity is
difficult,
We not only need to realize that damage the reputation and prosperity is as
easy as it seems.
But we need to realize when we are already in a position of luck,
And no need to obsess on something that does not need to be an obsession.
We need to be wary of and control our wild minds, which resemble wild
monkeys.
When the wild mind is negligent for us to control,
So that wild monkey will then take over our lives.
We already know what will happen,
When a wild monkey becomes the leader of our mind.
©
HERY SHIETRA Copyright.
Bila kita bisa berjalan
lurus, mengapa harus memilih untuk mengambil jalan yang berliku?
Ketika aku masih kecil,
Ada sebuah tayangan kartun di
televisi,
Berkisah tentang pacuan
mobil,
Dimana seorang pembalap yang
menjadi tokoh penjahat,
Selalu mencoba mencurangi
para pembalap lainnya saat berkompetisi.
Anehnya, si pembalap curang
seringkali diceritakan telah melaju di posisi terdepan,
Meski demikian,
Si pembalap curang selalu menyempatkan
diri memasang jebakan dan mencoba mencelakai para pembalap lain.
Salah seorang sahabatku
kemudian mengomentari kisah kartun itu,
Si pembalap curang sudah berada
jauh di posisi paling depan, mengapa ia tidak terus saja memacu mobilnya dan
memenangkan kompetesi. Mengapa ia harus berhenti untuk mencurangi pembalap lain
yang berada di belakang?
Perkataan sahabatku itu ada
benarnya,
Untuk apa si pembalap licik
mau merepotkan diri untuk mencurangi pembalap lain,
Sementara ia sudah di posisi
terdepan dan pastilah akan memenangi lomba jika ia terus memacu mobilnya.
Bukankah itu aneh?
Apakah si pebuat kartun
terlampau bodoh untuk mampu menyadari hal sekonyol itu?
Ataukah, memang demikian
fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat kita yang sedang sakit ini?
Ada pula kisah film drama
yang baru-baru ini aku saksikan,
Berkisah tentang seorang
tokoh yang sudah hidup makmur,
Namun demi mengejar obsesi,
Memberanikan diri untuk
melakukan segala kejahatan,
Sehingga pada akhirnya,
Sang tokoh kehilangan
segalanya.
Dirinya telah memiliki
kekayaan serta kekuasaan,
Namun demi mengejar kekuasaan
yang lebih besar,
Justru ia terpuruk dan
kehilangan segalanya.
Bila saja ia mau menghargai
apa yang sudah ada,
Tidak mengejar obsesi yang
tidak perlu dikejar,
Dan mau menyadari banyak
orang yang hidup tidak seberuntung dirinya,
Maka segala kemakmuran yang
ada tidak akan sirna bagai ditelan bumi.
Baru-baru ini juga terdapat
sebuah kabar berita mengejutkan,
Seorang pejabat tinggi negara
tertangkap polisi karena melakukan korupsi.
Sang pejabat telah bersusah
payah meniti karir hingga mencapai jabatan seorang gubernur.
Namun semua usaha dan jirih
payah itu rusak hanya karena aksi korupsi.
Jika saja dirinya mau
menyadari betapa beruntung dirinya,
Dapat menjadi seorang gubernur,
Sementara masih banyak orang
di luar sana hanya memiliki jabatan rendah atau bahkan tidak memiliki pekerjaan
sama sekali,
Maka untuk apa lagi melakukan
korupsi?
Pendapatan sebagai seorang
gubernur tidaklah sedikit,
Namun mengapa seseorang gagal
untuk menyadari betapa beruntung dirinya,
Mengejar obsesi keinginan
yang tidak ada habisnya,
Bahkan melakukan cara-cara curang
dan kotor,
Sampai akhirnya kehilangan
segalanya.
Segala yang telah dibangun
dengan susah payah,
Runtuh dalam sekejap mata.
Kita semua tahu,
Membangun reputasi,
Adalah sukar.
Sementara,
Merusak nama baik,
Dapat dilakukan dalam sekejap
mata.
Sama seperti ketika kita
mengeluh karena hanya dapat makan makanan sederhana apa adanya,
Sementara kita tidak mau
menyadari banyaknya manusia-manusia lain di belahan bumi lain, meninggal karena
kelaparan ataupun kekurangan gizi.
Ketika sudah bersusah payah
mengumpulkan gelar akademik,
Meraih gelar predikat cum
laude,
Memperoleh gelar kehormatan
doctor honoris causa,
Lalu semua gelar kesarjanaan
itu tiada artinya lagi ketika dirinya tertangkap tangan melakukan perbuatan
melawan hukum.
Menjadi seseorang manusia
yang tidak memiliki pengetahuan,
Adalah sukar.
Namun ketika seseorang telah
memiliki berbagai pengetahuan dan segudang gelar akademik,
Bukannya menyadari betapa
besar kesempatan dirinya untuk berkembang di masa mendatang,
Segala potensi itu sirna
hanya karena obsesi yang tidak pada tempatnya.
Dirinya telah memiliki
segudang ilmu pengetahuan,
Dirinya telah memiliki
sederet gelar akademik,
Dirinya telah memiliki
kekuasaan yang tinggi,
Dirinya telah memiliki harta
kekayaan yang lebih dari cukup,
Dirinya telah memiliki
talenta dan potensi yang luar biasa,
Dirinya telah memiliki segala
sumber daya untuk memenangkan kompetisi dalam hidup ini,
Namun mengapa,
Bukannya memilih untuk
berjalan secara lurus dan melanjutkan perjalanan lurus itu,
Dengan bekal segala
keberuntungan yang telah ada,
Namun justru memilih untuk
mengambil jalan berliku sehingga pada akhirnya mengantar dirinya pada jurang
keterpurukan?
Ternyata,
Kita bukan hanya perlu
menyadari bahwa membangun reputasi dan kemakmuran adalah sukar,
Kita bukan hanya perlu
menyadari bahwa merusak reputasi dan kemakmuran adalah semudah membalik telapak
tangan.
Namun kita perlu menyadari
ketika diri kita sudah dalam posisi yang cukup beruntung,
Dan tidak perlu lagi untuk terobsesi
pada sesuatu yang tidak perlu dijadikan obsesi.
Kita perlu mewaspadai dan
mengontrol pikiran liar kita yang menyerupai monyet yang liar.
Ketika pikiran yang liar itu lalai
untuk kita kendalikan,
Maka monyet liar itulah yang kemudian
akan mengambil alih hidup kita.
Kita sudah tahu apa yang akan
terjadi,
Ketika seekor monyet liar
menjadi pemimpin dari pikiran kita.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.