JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Unbalanced Fight, Unbalanced Battle

Everyone has their own physical and mental limitations,
Limitations of endurance and tolerance of body and mind respectively.
If we know someone well for long enough and in every daily activity,
So if he has fought as much as he can muster,
Where he then continues to fall, the result of being hit by irresponsible people,
But at the same time you keep referring to himself as less fighting,
Less positive thinking,
Less praying,
Just as you only add to the severity of his mental damage and the pain he suffers.
One fighter against ten opponents who cheat,
It is natural that he falls in the unbalanced fight,
As strong as anything he has tried and struggled to survive.
Despite the defeat,
But he was not killed,
Already an achievement in itself.
We do not need to add to his physical injuries and his inner pain,
By calling himself lack of practice,
Less fighting hard,
Less determined,
And less visionary.
You are just a spectator who does not experience the person's life directly.
You better keep quiet,
If you do not want to help him overcome all the injustices he faces,
Not commenting as a commentator who is only good at talking about theory.
Fight hard,
Positive thinking,
Strengthen determination,
It's all a mere theory,
And everyone can call such an empty slogan,
Especially from those who have never experienced such unbalanced battle.
We do not need to add to the emotional wound of the unfortunate man,
By giving a judgmental comment.
The judgmental commentary is not a reflection of compassion,
But the arrogant attitude that is not able to understand the feelings of others who suffer.
If you yourself are powerless to help,
Then just shut up,
And work together to confront the pain of injustice,
Without saying much.
The most important thing is to have fought hard,
With all the limitations that exist,
With all the limitations of self.
Never encourage or require others to fight beyond the endurance of his own body,
Because it means you also intend to harm him who has been so unfortunate.

© HERY SHIETRA Copyright.

Setiap orang memiliki keterbatasan fisik dan mentalnya masing-masing,
Keterbatasan daya tahan dan daya toleransi tubuh dan pikirannya masing-masing.
Bila kita mengenal baik seseorang selama cukup lama dan dalam setiap aktivitas kesehariannya,
Maka bila ia telah berjuang sekuat tenaga yang mampu ia kerahkan,
Dimana ia kemudian terus-menerus jatuh akibat dijungkalkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab,
Namun disaat bersamaan engkau tetap menyebut dirinya sebagai kurang berjuang,
Kurang berpikir positif,
Kurang berdoa,
Sama artinya engkau hanya menambah parah kerusakan mental dan rasa sakit yang diderita dirinya.
Satu orang petarung melawan sepuluh orang petarung yang berbuat curang,
Adalah wajar bila dirinya jatuh dalam pertarungan tidak seimbang itu,
Sekuat apapun dirinya telah berusaha dan berjuang untuk mampu bertahan.
Meski kalah,
Namun dirinya tidak sampai tewas,
Sudah merupakan suatu prestasi tersendiri.
Kita tidak perlu menambah luka fisik dan derita batinnya,
Dengan menyebut bahwa dirinya kurang berlatih,
Kurang berjuang keras,
Kurang bertekad,
Dan kurang visioner.
Engkau hanyalah seorang penonton yang tidak mengalami langsung derita hidup orang tersebut.
Lebih baik engkau diam,
Bila tidak mau untuk membantu dirinya mengatasi segala ketidakadilan yang dihadapinya,
Bukan berkomentar sebagai komentator yang hanya pandai berbicara perihal teori.
Berjuang keras,
Berpikir positif,
Kuatkan tekad,
Semua itu hanya teori belaka,
Dan semua orang pun bisa menyerukan slogan kosong demikian,
Terlebih dari mereka yang selama ini tidak pernah mengalami pertarungan tidak seimbang demikian.
Kita tidak perlu menambah luka emosional orang malang tersebut,
Dengan memberi komentar yang menghakimi.
Komentar yang menghakimi bukanlah cerminan welas asih,
Namun sikap arogan yang tidak mampu memahami perasaan orang lain yang menderita.
Bila Anda sendiri pun tidak berdaya untuk menolong,
Maka cukup tutup mulutmu,
Dan bahu-membahu menanggung derita akibat ketidakadilan itu,
Tanpa banyak bicara.
Yang terpenting adalah telah berjuang sekuat tenaga,
Dengan segala keterbatasan yang ada,
Dengan segala keterbatasan diri.
Jangan pernah mendorong atau menuntut orang lain untuk berjuang melampaui daya tahan tubuhnya sendiri,
Karena itu sama artinya engkau juga bermaksud untuk mencelakai dirinya yang sudah sangat malang itu.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

We never Become Great by Demeaning Others

At one time, narrated,
An elderly man often sits on the front porch of the house, in the morning to feel the warm sunshine.
However,
Nasty children every day also pass in front of the old man's house,
While laughing at the old man,
Call him as a crazy old man,
As if the old man is a joke that is the object of such abuse.
After some time passed with such conditions every day,
Until one day,
The old man feels unable to restrain himself,
Taking a heavy boulder,
And throw stones at those bad boys to death.
Who should we blame for the killing?
We as someone who just watch or witness the news of the murder,
Perhaps it would be commented that the old man was less patient and less tough,
But we never want to know the feeling behind the old man,
Which every day should be the victim of abuse from these naughty little children.
Can also happen otherwise,
Someone who is humiliated every day and used as a joke,
End his life by suicide.
Is that really what people who like to insult other people's dignity?
Yes, most of them should be responsible,
Responsible for anger,
Responsible for feelings of sadness,
Responsible for despair leads to death.
We have assumed,
Carelessly,
That our speech will not hurt the feelings of others,
By naively thinking that only physical violence can hurt others.
Despite all the evidence,
Hurt verbally, can be just as bad as physical violence and murder.
Man is not a robot that only has a physical,
But hearts and feelings are capable of feeling and hurt.
There is hope,
Desire,
Disappointment,
Sadness,
Feeling hurt,
Hopeless,
Anger,
Low self-esteem or self-confidence,
Pride,
Until emotion continues to accumulate,
Waiting to explode when it arrives at one time,
Where the accumulated feelings of disappointment and bitterness,
No longer bearable.
A long time ago,
When young,
I also did bully to a school friend,
Harassing his pride,
With great pleasure,
Feeling proud to harass the dignity of others.
Now,
After all this time,
The feeling of regret has treated others so improperly,
Like a ghost that continues to haunt.
When we have realized how fatal a result of such abusive behavior,
So we need to remind the young generation,
In order not to make a similar mistake,
And start learning to fill their activities positively,
Not just dropping others just to make ourselves look superior.

© HERY SHIETRA Copyright.

Alkisah,
Seorang pria tua sering duduk di teras depan rumah di pagi hari untuk merasakan sinar matahari pagi.
Namun,
Anak-anak nakal setiap harinya pula lewat di depan rumah sang pria tua,
Sembari tertawa menertawai sang pria tua,
Menyebutnya sebagai orang gila,
Seolah sang pria tua adalah lelucon yang menjadi objek pelecehan demikian.
Setelah beberapa waktu berlalu dengan kondisi demikian setiap harinya,
Sampai pada suatu ketika,
Sang pria tua merasa tidak mampu menahan diri lagi,
Mengambil sebongkah batu besar yang berat,
Dan melemparkan batu pada anak-anak nakal itu hingga tewas.
Siapakah yang paling patut kita salahkan atas pembunuhan itu?
Kita sebagai seseorang yang hanya menonton atau menyaksikan berita pembunuhan itu,
Mungkin akan berkomentar bahwa si pria tua kurang bersabar dan kurang tegar,
Tapi kita tidak pernah mau tahu perasaan dibalik sosok si pria tua,
Yang setiap hari harus menjadi korban pelecehan anak-anak kecil yang nakal tersebut.
Dapat juga terjadi sebaliknya,
Seseorang yang setiap harinya dihina dan dijadikan bahan lelucon,
Mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Itukah yang benar-benar diinginkan orang-orang yang gemar melecehkan martabat orang lain?
Ya, mereka yang paling harus bertanggung jawab,
Bertanggung jawab atas kemarahan,
Bertanggung jawab atas perasaan sedih,
Bertanggung jawab atas keputusasaan berujung kematian.
Kita selama ini berasumsi,
Secara ceroboh,
Bahwa ucapan kita tidak akan melukai perasaan orang lain,
Dengan naif berpikir bahwa hanya kekerasan fisik yang dapat menyakiti orang lain.
Sekalipun sudah banyak bukti,
Menyakiti secara ucapan, dapat sama jahatnya dengan kekerasan fisik dan pembunuhan.
Manusia bukanlah robot yang hanya memiliki fisik,
Namun hati dan perasaan yang mampu merasa dan terluka.
Terdapat harapan,
Keinginan,
Kekecewaan,
Kesedihan,
Perasaan terluka,
Putus asa,
Kemarahan,
Rendah diri atau kepercayaan diri,
Harga diri,
Hingga emosi yang terus terakumulasi,
Menunggu untuk meledak ketika sampai pada satu waktu,
Dimana akumulasi perasaan kecewa dan pahit tersebut,
Tidak lagi tertahankan.
Dahulu kala,
Ketika masih muda,
Aku pun pernah melakukan bully kepada teman sekolah,
Melecehkan harga dirinya,
Dengan penuh kesenangan,
Merasa bangga dapat melecehkan martabat orang lain.
Kini,
Setelah sekian lama berlalu,
Perasaan menyesal telah memperlakukan orang lain secara tidak patut demikian,
Bagai hantu yang terus membayangi.
Ketika kita telah menyadari betapa fatal akibat dari perilaku melecehkan demikian,
Maka kita perlu mengingatkan para generasi muda,
Agar tidak melakukan kekeliruan serupa,
Dan mulai belajar untuk mengisi kegiatan mereka secara positif,
Bukan menjatuhkan orang lain hanya agar diri kita tampak lebih superior.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

The Suffering of a Coward

We are talking in a screaming way,
Because of fear, that our speech is not heard or noticed.
We speak by cutting off the words of others,
Because we are afraid that our opinions will not be communicated to the other person.
We always talk barrily without giving the other person a chance to talk,
Because we are afraid of forgetting to convey our entire thoughts.
We speak exaggeratedly everything,
Because we fear that others can not understand our condition.
We speak without ever wanting to hear the statements or sayings of others,
Because we are afraid of the possibility that we may be wrong, so close our ears by just opening our mouths to voice unilaterally.
For fear of all these things,
We become irritable,
Defensive,
Where defensive then transformed into offensive.
We become angry and offensive,
For fear of being hurt or harmed,
Or the backdrop of hope, so that we are not constantly hurt.
But there is no guarantee that bad people will not harm us,
When we behave scary.
The bad guys will still hurt us,
Even if we are hard or friendly,
So the true feeling of our fear is irrelevant.
The bad guys,
Basically it is evil and will continue to hurt others.
But the evil one is the bad guys who can not appreciate the lives of others,
It is not us who are the victims,
So it's not us who should at most panic,
But the evil ones that most need to be afraid, to the fruits of karma the result of their evil deeds.
Someone is called a brave,
If even if his speech is not heard or his condition is not understood by others without a lot of talk,
Then he will not force the wicked to be aware and be a good person.
When those people choose to be rotten humans who are difficult to be advised,
So it is their own affairs.
Even because of fear and anxiety,
Not infrequently, we are demeaning our own dignity,
With the hope of others will respect and appreciate ourselves aspirations.
How could it be,
Wishing others to appreciate us,
While we fail to appreciate our own dignity.
We need not be afraid when others are not wise enough to understand our condition.
Because we are the most knowledgeable of the conditions and circumstances surrounding ourselves,
And at the same time we become aware of how unwise people who have harassed or hurt us.
Who should feel fear is,
Those who do evil intentionally or by their negligence,
The police officers who just do not protect civilians,
The clerics who take advantage of religion, by making their followers as cows to be milked,
Powerful people who abuse their power,
People who become rich by taking the property of others,
Those who escaped from the law even though he committed a foul.
The proverb tells,
Those who live from the sword,
Will die from the sword.
We need not be obsessed with hoping that others will not misunderstand us.
Because who should be afraid,
It is someone else who makes his own assumptions, thus slipping in a misunderstanding about us.
We should not be afraid of being a victim of misunderstandings,
Because, enough ourselves to understand ourselves well.

© HERY SHIETRA Copyright.

Kita berbicara secara berteriak-teriak,
Karena takut ucapan kita tidak didengarkan ataupun diperhatikan.
Kita berbicara dengan memotong ucapan orang lain,
Karena kita takut pendapat kita tidak disampaikan kepada lawan bicara kita.
Kita selalu berbicara secara bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan lawan bicara kita untuk berbicara,
Karena kita takut lupa menyampaikan seluruh isi pikiran kita.
Kita berbicara secara melebih-lebihkan segala sesuatunya,
Karena kita takut bahwa orang lain tidak dapat mengerti kondisi diri kita.
Kita berbicara tanpa pernah mau mendengar pernyataan atau perkataan orang lain,
Karena kita takut akan peluang bahwa sebenarnya kita telah keliru sehingga menutup telinga kita dengan hanya mau membuka mulut untuk bersuara secara sepihak.
Karena takut pada semua hal itu,
Kita menjadi mudah marah,
Defensif,
Dimana defensif kemudian menjelma menjadi ofensif.
Kita menjadi marah dan ofensif,
Karena takut disakiti atau dirugikan,
Atau dilatarbelakangi harapan agar tidak terus-menerus disakiti.
Namun tiada jaminan orang jahat tidak akan menjahati kita,
Ketika kita bersikap menakutkan.
Orang jahat tetap akan menyakiti kita,
Sekalipun kita bersikap keras maupun bersikap ramah,
Sehingga sejatinya perasaan takut kita, tidaklah relevan.
Orang-orang jahat,
Secara dasariahnya memang jahat dan akan terus menyakiti orang lain.
Namun yang jahat ialah orang-orang jahat itu,
Bukanlah kita yang merupakan korbannya,
Sehingga bukanlah kita yang paling harus panik,
Namun orang-orang jahat itu yang paling harus merasa takut atas buah karma hasil dari perbuatan jahat mereka.
Seseorang disebut sebagai pemberani,
Bila sekalipun ucapannya tidak didengarkan atau kondisinya tidak mau dipahami oleh orang lain secara tanpa banyak bicara,
Maka dirinya tidak akan memaksa orang-orang jahat itu untuk sadar dan menjadi orang baik.
Bila orang-orang itu memilih untuk menjadi manusia busuk yang sukar dinasehati,
Maka itu adalah urusan diri mereka masing-masing.
Bahkan karena diluputi ketakutan dan kecemasan,
Tidak jarang kita justru menjelek-jelekkan diri kita sendiri,
Dengan harapan orang lain akan menaruh hormat dan menghargai kepentingan dan aspirasi diri kita.
Bagaimana mungkin,
Mengharap orang lain menghargai diri kita,
Sementara kita gagal untuk menghargai martabat diri kita sendiri.
Kita tidak perlu takut bila orang lain tidak cukup bijak untuk memahami kondisi kita.
Karena kita yang paling tahu benar akan kondisi dan keadaan diseputar diri kita sendiri,
Dan disaat bersamaan kita menjadi tahu betapa tidak bijaksananya orang-orang yang telah melecehkan atau menyakiti diri kita.
Yang semestinya merasa takut ialah,
Orang-orang yang berbuat jahat secara sengaja maupun karena kelalaiannya,
Para polisi yang tidak bertugas melindungi masyarakat,
Para agamawan yang mengambil keuntungan dari agama dengan menjadikan umat sebagai sapi perahan,
Orang-orang berkuasa yang menyalahgunakan kekuasaannya,
Orang-orang yang menjadi kaya dengan mengambil hak milik orang lain,
Orang-orang yang lolos dari jerat hukum sekalipun dirinya melakukan pelanggaran.
Pepatah berpesan,
Mereka yang hidup dari pedang,
Akan mati dari pedang.
Kita tidak perlu terobsesi untuk berharap agar orang lain tidak salah paham terhadap kita.
Karena yang semestinya merasa takut,
Ialah orang lain yang membuat asumsi sendiri sehingga tergelincir dalam salah paham tentang diri kita.
Kita tidak perlu takut menjadi korban salah paham,
Sebab, cukuplah diri kita sendiri untuk memahami diri kita sendiri dengan baik.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.