We never Become Great by Demeaning Others

At one time, narrated,
An elderly man often sits on the front porch of the house, in the morning to feel the warm sunshine.
However,
Nasty children every day also pass in front of the old man's house,
While laughing at the old man,
Call him as a crazy old man,
As if the old man is a joke that is the object of such abuse.
After some time passed with such conditions every day,
Until one day,
The old man feels unable to restrain himself,
Taking a heavy boulder,
And throw stones at those bad boys to death.
Who should we blame for the killing?
We as someone who just watch or witness the news of the murder,
Perhaps it would be commented that the old man was less patient and less tough,
But we never want to know the feeling behind the old man,
Which every day should be the victim of abuse from these naughty little children.
Can also happen otherwise,
Someone who is humiliated every day and used as a joke,
End his life by suicide.
Is that really what people who like to insult other people's dignity?
Yes, most of them should be responsible,
Responsible for anger,
Responsible for feelings of sadness,
Responsible for despair leads to death.
We have assumed,
Carelessly,
That our speech will not hurt the feelings of others,
By naively thinking that only physical violence can hurt others.
Despite all the evidence,
Hurt verbally, can be just as bad as physical violence and murder.
Man is not a robot that only has a physical,
But hearts and feelings are capable of feeling and hurt.
There is hope,
Desire,
Disappointment,
Sadness,
Feeling hurt,
Hopeless,
Anger,
Low self-esteem or self-confidence,
Pride,
Until emotion continues to accumulate,
Waiting to explode when it arrives at one time,
Where the accumulated feelings of disappointment and bitterness,
No longer bearable.
A long time ago,
When young,
I also did bully to a school friend,
Harassing his pride,
With great pleasure,
Feeling proud to harass the dignity of others.
Now,
After all this time,
The feeling of regret has treated others so improperly,
Like a ghost that continues to haunt.
When we have realized how fatal a result of such abusive behavior,
So we need to remind the young generation,
In order not to make a similar mistake,
And start learning to fill their activities positively,
Not just dropping others just to make ourselves look superior.

© HERY SHIETRA Copyright.

Alkisah,
Seorang pria tua sering duduk di teras depan rumah di pagi hari untuk merasakan sinar matahari pagi.
Namun,
Anak-anak nakal setiap harinya pula lewat di depan rumah sang pria tua,
Sembari tertawa menertawai sang pria tua,
Menyebutnya sebagai orang gila,
Seolah sang pria tua adalah lelucon yang menjadi objek pelecehan demikian.
Setelah beberapa waktu berlalu dengan kondisi demikian setiap harinya,
Sampai pada suatu ketika,
Sang pria tua merasa tidak mampu menahan diri lagi,
Mengambil sebongkah batu besar yang berat,
Dan melemparkan batu pada anak-anak nakal itu hingga tewas.
Siapakah yang paling patut kita salahkan atas pembunuhan itu?
Kita sebagai seseorang yang hanya menonton atau menyaksikan berita pembunuhan itu,
Mungkin akan berkomentar bahwa si pria tua kurang bersabar dan kurang tegar,
Tapi kita tidak pernah mau tahu perasaan dibalik sosok si pria tua,
Yang setiap hari harus menjadi korban pelecehan anak-anak kecil yang nakal tersebut.
Dapat juga terjadi sebaliknya,
Seseorang yang setiap harinya dihina dan dijadikan bahan lelucon,
Mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Itukah yang benar-benar diinginkan orang-orang yang gemar melecehkan martabat orang lain?
Ya, mereka yang paling harus bertanggung jawab,
Bertanggung jawab atas kemarahan,
Bertanggung jawab atas perasaan sedih,
Bertanggung jawab atas keputusasaan berujung kematian.
Kita selama ini berasumsi,
Secara ceroboh,
Bahwa ucapan kita tidak akan melukai perasaan orang lain,
Dengan naif berpikir bahwa hanya kekerasan fisik yang dapat menyakiti orang lain.
Sekalipun sudah banyak bukti,
Menyakiti secara ucapan, dapat sama jahatnya dengan kekerasan fisik dan pembunuhan.
Manusia bukanlah robot yang hanya memiliki fisik,
Namun hati dan perasaan yang mampu merasa dan terluka.
Terdapat harapan,
Keinginan,
Kekecewaan,
Kesedihan,
Perasaan terluka,
Putus asa,
Kemarahan,
Rendah diri atau kepercayaan diri,
Harga diri,
Hingga emosi yang terus terakumulasi,
Menunggu untuk meledak ketika sampai pada satu waktu,
Dimana akumulasi perasaan kecewa dan pahit tersebut,
Tidak lagi tertahankan.
Dahulu kala,
Ketika masih muda,
Aku pun pernah melakukan bully kepada teman sekolah,
Melecehkan harga dirinya,
Dengan penuh kesenangan,
Merasa bangga dapat melecehkan martabat orang lain.
Kini,
Setelah sekian lama berlalu,
Perasaan menyesal telah memperlakukan orang lain secara tidak patut demikian,
Bagai hantu yang terus membayangi.
Ketika kita telah menyadari betapa fatal akibat dari perilaku melecehkan demikian,
Maka kita perlu mengingatkan para generasi muda,
Agar tidak melakukan kekeliruan serupa,
Dan mulai belajar untuk mengisi kegiatan mereka secara positif,
Bukan menjatuhkan orang lain hanya agar diri kita tampak lebih superior.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

SPONSORED : Punya Masalah Hukum? Konsultasikan kepada Konsultan SHIETRA, Netral dan Objektif

Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS