JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

You are Lying When You Say That You Do Not Have Time

Determination and willingness to take action,
It is a source of strength from within our own soul.
When we are willing to take firmness and move,
Then surely we have time to work on it and get it done.
But when we think and try to convince ourselves that we do not have time to do anything,
Then we will really have no time and will never solve it.
When we think that we do not have time,
Then we will never really have time.
When we convince ourselves that we always have time,
Then we always have time.
Therefore,
The main obstacle of every human being,
It is the determination factor and the willingness to behave.
About time resources,
Although it is limited,
It is not a major obstacle.
The first time we face,
It is the lack of commitment and attitude of the mentality of ourselves.
It may be that we currently have various limitations on resources,
Economic resources,
Knowledge resources,
Time resources,
Good karma fruit resources,
Capital resources,
Or any other limitations of self.
But through the confidence and willingness to act in a real way,
It is the power and the resources itself.
Mental resources,
As an alternative to material resources.
Fighting spirit,
That's what makes a person willing to move.
There is no perfect moment,
So we can not wait until the perfect moment comes to take a stand.
Every moment is a precious opportunity,
To start a business and self-improvement.
It is true that, every thing must be right at the right moment.
But every moment is precious.
Time resources may be limited.
But with the courage of self,
We need to take any risk that deserves to be taken.
Failure will make us lose time resources,
But delaying just actually makes the time available, to evaporate in vain.
Do not have time,
Also have no money,
No power.
But we always have a golden opportunity,
That is the moment right now,
To start and execute what we have to start and finish.
You are lying when you say that you do not have time.
You just do not have a strong will to take part in this life.

© HERY SHIETRA Copyright.

Kebulatan tekad dan kemauan untuk mengambil aksi,
Adalah merupakan sumber daya kekuatan dari dalam jiwa kita sendiri.
Ketika kita mau untuk mengambil sikap dan bergerak,
Maka pasti kita punya waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikannya.
Namun ketika kita berpikir dan mencoba meyakinkan diri kita bahwa diri kita tidak punya waktu untuk berbuat sesuatu,
Maka kita akan benar-benar tidak punya waktu dan tidak akan pernah menyelesaikan hal tersebut.
Ketika kita berpikir bahwa kita tidak punya waktu,
Maka kita akan benar-benar tidak pernah punya waktu.
Ketika kita meyakinkan diri kita bahwa kita selalu punya waktu,
Maka kita selalu punya waktu.
Dengan demikian,
Kendala utama setiap manusia,
Ialah faktor kebulatan tekad dan kemauan untuk bersikap.
Perihal sumber daya waktu,
Sekalipun memang terbatas adanya,
Bukanlah merupakan suatu kendala nyata yang paling utama.
Yang pertama kali kita hadapi,
Ialah kurangnya komitmen dan sikap dari mental diri kita sendiri.
Mungkin saja saat ini kita memilik berbagai keterbatasan tentang sumber daya,
Sumber daya ekonomi,
Sumber daya pengetahuan,
Sumber daya waktu,
Sumber daya buah karma baik,
Sumber daya modal,
Ataupun berbagai keterbatasan diri lainnya.
Namun lewat kepercayaan diri dan kemauan untuk bertindak secara nyata,
Adalah kekuatan dan sumber daya itu sendiri.
Sumber daya mental,
Sebagai alternatif dari sumber daya material.
Semangat juang,
Itulah yang membuat seseorang memiliki kemauan untuk bergerak.
Tidak ada momen yang sempurna,
Sehingga kita tidak dapat menunggu hingga tiba momen yang sempurna untuk mengambil sikap.
Setiap momen adalah kesempatan yang berharga,
Untuk memulai usaha dan perbaikan diri.
Betul bahwa setiap hal memang harus tepat dengan momen yang juga tepat.
Namun setiap momen adalah berharga.
Sumber daya waktu mungkin saja memang terbatas adanya.
Namun dengan keberanian diri,
Kita perlu mengambil setiap resiko yang layak untuk ditempuh.
Kegagalan akan membuat kita kehilangan sumber daya waktu,
Namun menunda pun sejatinya hanya membuat waktu yang ada, menjadi menguap secara sia-sia.
Tidak punya waktu,
Tidak punya uang,
Tidak punya tenaga.
Namun kita selalu punya kesempatan emas,
Yakni momen saat ini juga,
Untuk memulai dan melaksanakan apa yang harus kita mulai dan selesaikan.
Anda sedang berbohong ketika mengatakan bahwa diri Anda tidak memiliki waktu.
Anda hanya tidak punya kemauan yang kuat untuk dalam mengambil peran dalam kehidupan ini.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

The Language of Truth is Always Universal and is Not Limited by the Time Division

When we find the appearance of acne on the face,
We begin to learn to hate ourselves.
Maybe it happens because we do not keep the cleanliness of our faces.
But at the same time we can also be understood,
That this body is not “I AM”.
If this body is “I AM”,
Then I could have ordered MY own body.
When we find our weight continues to gain weight,
We begin to learn to terrify our own weight condition.
Maybe it happens because we lack exercise and just keep eating food all day long.
But at the same time the moment should be able to make us aware,
That we can not command the body we call “I AM” this.
When we feel broken hearted by disappointment and despair,
We begin to learn to hurt our feelings and feelings.
Maybe it happens because we are so obsessed and put too much hope that in the end make us disappointed.
But at the same time we can begin to discover,
That our thoughts and feelings can move against our own will.
When we do something that we will later regret ourselves,
We begin to learn to feel stupid and so silly.
Maybe it happens because we do not control ourselves quite tightly.
But at the same time we can draw a conclusion,
That inner will that drives us to do something,
Can move hurt ourselves.
When we feel disgusted when we smell a foul smell, or hear an unpleasant sound, a bad scene, or an unpleasant taste,
We begin to bear the seeds of hate and anger.
Maybe we have different tastes from others.
But at the same time we can take the red thread,
That sense consciousness and consciousness of our mind work out of our own control.
So far we believe that this is MY body,
That this is MY soul or mind,
That this is MY feeling,
That this is MY will,
That this is MY consciousness,
So we then become demanding much of ME.
But as it turned out,
Nothing can be called “I AM”,
Because everything is impermanent, unsatisfactory, and not “I AM”.
Thus the teachings of all Buddhas,
The Buddhas of the past,
Buddha in the present,
And the Buddhas in the future.
The language of truth is always universal and is not limited by the time division.

© HERY SHIETRA Copyright.

Ketika kita mendapati munculnya jerawat di wajah,
Kita mulai belajar untuk membenci diri kita sendiri.
Mungkin saja itu terjadi karena kita kurang menjaga kebersihan wajah kita.
Namun disaat bersamaan kita dapat pula menjadi paham,
Bahwa tubuh ini bukanlah AKU.
Jika tubuh ini adalah AKU,
Maka semestinya AKU dapat memerintahkan tubuh milik AKU sendiri.
Ketika kita mendapati berat tubuh kita terus bertambah berat,
Kita mulai belajar untuk menakutkan kondisi berat tubuh kita sendiri.
Mungkin saja itu terjadi karena kita kurang berolah-raga dan hanya terus makan makanan sepanjang hari.
Namun disaat bersamaan momen tersebut semestinya mampu membuat kita sadar,
Bahwa kita tidak dapat memerintahkan tubuh yang kita sebut AKU ini.
Ketika kita merasa patah hati akibat kecewa dan putus asa,
Kita mulai belajar untuk melukai hati dan perasaan diri kita sendiri.
Mungkin saja itu terjadi karena kita demikian terobsesi dan menaruh terlampau banyak harapan yang pada akhirnya membuat kita kecewa.
Namun disaat bersamaan kita dapat mulai menemukan,
Bahwa pikiran dan perasaan kita pun dapat bergerak melawan kehendak kita sendiri.
Ketika kita melakukan sesuatu perbuatan yang kemudian akan kita sesali sendiri,
Kita mulai belajar untuk merasa bodoh dan demikian konyol.
Mungkin saja itu terjadi karena kita tidak mengontrol diri kita secara cukup ketat.
Namun disaat bersamaan kita pun dapat menarik sebuah kesimpulan,
Bahwa kehendak batin yang mendorong kita untuk berbuat sesuatu,
Dapat bergerak menyakiti diri kita sendiri.
Ketika kita merasa jijik ketika mencium aroma busuk atau mendengar suara yang tidak menyenangkan, pemandangan yang buruk, ataupun rasa makanan yang tidak sedap,
Kita mulai melahirkan benih-benih perasaan benci dan marah.
Mungkin saja kita memiliki selera yang berbeda dari orang lain.
Namun disaat bersamaan kita pun dapat mengambil benang merah,
Bahwa kesadaran indera dan kesadaran pikiran kita bekerja diluar kendali diri kita sendiri.
Selama ini kita meyakini bahwa ini adalah tubuh AKU,
Bahwa ini adalah jiwa atau batin AKU,
Bahwa ini adalah perasaan AKU,
Bahwa ini adalah kehendak AKU,
Bahwa ini adalah kesadaran AKU,
Sehingga kita kemudian menjadi menuntut banyak dari AKU.
Namun terbukti sudah,
Tiada AKU,
Sebab segalanya tidak kekal, tidak memuaskan, dan tiada AKU.
Demikianlah ajaran semua Buddha,
Para Buddha dimasa lampau,
Buddha dimasa kini,
Dan para Buddha dimasa yang akan datang.
Bahasa kebenaran selalu bersifat universal dan tidak dibatasi oleh sekat waktu.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

We Need to Review Our Purpose in Life

It's okay if it turns out we are color blind,
Because life can remain meaningful and colorful,
Through joy and happiness as long as we do not demand much from the circumstances.
Only then can be called as sad,
When a person is able to see and hear,
But acting like blind and deaf,
Unable to understand the sounds and feelings of others,
Or just want to hear what he wants to hear,
And deny what he has seen.
There is also someone,
Which is not deformed her memory,
But denying all the bad deeds he has committed throughout his life,
And constantly telling false facts,
Or even twisting the facts.
There is also someone,
Rich in material possessions,
But acting like a beggar,
Always demanded to be served by others without paying wages,
Squeeze labor sweat with unbalanced pay,
Or even steal from people much poorer than him.
Not a few of us,
The young and healthy,
But always demanding to be served,
It was as if he was paralyzed or even completely devoid of power to move his own body.
Wasted his youth.
Ever been alive,
A man who has a beautiful and kind wife,
But continued to covet another woman to serve as concubines.
Many can also be encountered,
A millionaire who already has a lot of wealth,
His wealth will not be exhausted for seven generations,
But constantly greedily accumulates riches as though thirst are never satisfied.
As if,
His life is just for work,
Not working for life.
There are also living to deceive,
Life to mate,
Life to give birth,
Living to get drunk,
Living to lie,
Life to harm others,
Life to waste time,
Life to undermine nature's sustainability,
Life to generate waste.
A meaningful and colorful life,
It never deals with conditional demands.
Happiness means not knowing the terms.
A meaningful life, meaning of life is not wasted for the sake of the world.
A colorful life means to bring goodness to all living beings and the universe.
Someone could be blind,
Poor,
Sick or even dying,
Not beautiful and not handsome,
Oppressed,
Always harassed and belittled,
Not smart,
But who cares?
If a meaningful and colorful life is defined as a glamorous life,
So Prince Sidharta Gaotama did not need to release all the royal treasures that will be inherited for him.
Realizing this,
It seems that we need to review our purpose in life.

© HERY SHIETRA Copyright.

Tidak apa-apa bila ternyata kita buta warna,
Karena hidup dapat tetap bermakna dan penuh warna,
Lewat keceriaan dan kebahagiaan sepanjang kita tidak banyak menuntut dari keadaan yang ada.
Baru menjadi menyedihkan,
Ketika seseorang yang mampu melihat dan mendengar,
Namun bersikap seolah buta dan tuli,
Tidak mampu untuk memahami suara dan perasaan orang lain,
Atau hanya mau mendengar apa yang ingin didengarnya,
Dan mengingkari apa yang telah dilihatnya sendiri.
Ada pula seseorang,
Yang tidak cacat daya ingatnya,
Namun memungkiri semua perbuatan buruk yang telah diperbuatnya sepanjang hidup,
Dan terus-menerus menceritakan fakta palsu,
Atau bahkan memutar-balik fakta yang ada.
Ada pula seseorang,
Yang kaya secara harta materi,
Namun bersikap seperti seorang pengemis,
Selalu menuntut dilayani oleh orang lain tanpa mau membayar upah,
Memeras keringat tenaga kerja dengan gaji yang tidak seimbang,
Atau bahkan mencuri dari orang-orang yang jauh lebih miskin darinya.
Tidak sedikit diantara kita,
Yang masih muda dan sehat,
Namun selalu menuntut dilayani,
Seakan dirinya lumpuh atau bahkan cacat yang sama sekali tanpa tenaga untuk menggerakkan badannya sendiri.
Menyia-nyiakan masa mudanya.
Pernah pula hidup,
Seorang pria yang memiliki istri yang cantik dan baik hati,
Namun terus mengidamkan wanita idaman lain untuk dijadikan selir.
Banyak juga dapat kita jumpai,
Seorang jutawan yang sudah memiliki banyak harta,
Kekayaannya tidak akan habis untuk tujuh generasi,
Namun terus-menerus secara tamak mengumpulkan kekayaan seakan rasa haus yang tidak pernah terpuaskan.
Seakan,
Hidupnya hanya untuk bekerja,
Bukan bekerja untuk hidup.
Ada pula yang hidup untuk menipu,
Hidup untuk kawin,
Hidup untuk beranak,
Hidup untuk bermabuk-mabukan,
Hidup untuk berbohong,
Hidup untuk menyakiti orang lain,
Hidup untuk membuang-buang waktu,
Hidup untuk merusak kelestarian alam,
Hidup untuk menghasilkan sampah.
Hidup yang bermakna dan penuh warna,
Tidak pernah berkaitan dengan tuntutan yang bersyarat.
Kebahagiaan artinya tidak mengenal syarat.
Hidup yang bermakna artinya hidup yang tidak sia-sia bagi kebaikan dunia.
Hidup yang penuh warna artinya membawa kebaikan bagi seluruh makhluk hidup dan alam semesta.
Seseorang bisa saja buta,
Miskin,
Sakit atau bahkan sedang sekarat,
Tidak cantik dan tidak tampan,
Tertindas,
Selalu dilecehkan dan diremehkan,
Tidak cerdas,
Namun siapa perduli?
Jika memang hidup yang bermakna dan penuh warna diartikan sebagai hidup yang glamor,
Maka Pangeran Sidharta Gaotama tidak perlu melepas semua harta tahta kerajaan yang akan diwariskan untuknya.
Menyadari akan hal ini,
Tampaknya kita perlu meninjau ulang tujuan hidup kita.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

The Injured Soul, Like Dancing with a Cloud of Fog

At any time, we need to visit the hospital.
Not necessarily when we get sick or want to seek treatment.
We can see the conditions inside the hospital,
How do patients wait in line to get medical examinations and treatment from a doctor.
Hospitals are never empty, from visits of patients with illness.
Some are patients with degenerative diseases.
While some are patients who actually suffer from disease due to seek their own disease through various patterns of unhealthy life and high risk of contacting the disease.
By looking at all the phenomena that should make us feel that fear,
We should start trying even better to learn to maintain health.
After seeing the vulnerability of human life to disease,
It is surprising that there are still people who actually hurt themselves,
Even make himself suffering from illness.
Why should we wait until it really becomes sick and become a patient who then queuing all day at the hospital,
Complete with all the suffering suffered by the sick.
However,
The saddest,
Probably the people with the disease in his soul.
People who hurt their own closest family,
The people who steal and cheat without fear of the bad karma,
People who feel the joy of torturing others,
People who constantly do corrupt but still feel confident will go to heaven,
People who have a penchant for twisting facts,
People are better at lying than uncovering the truth,
The more clever people to cheat than to be fair,
We should be suspicious,
That people who suffer from mental illness,
As much as the patients waiting in line at the hospital.
Mental illness is never as easy as treating a physical illness that simply takes a pill and swallows it to await instant healing.
To know the physical pain,
We simply recognize the symptoms,
Where we can easily see the physical pain that we experience.
But only a problem,
Mental illness is never easy to recognize,
Even the sufferer will never admit that he is mentally ill.
If it were just that easy to cure mental illness,
Perhaps the fewer patients will have to go to the hospital for treatment,
Because many people have the disease,
Because he hurt and hurt himself.
The nature that makes a person hurt himself,
Nothing else is caused by a sick soul.
Mental illness that if allowed to continue,
That is what is called the apocalypse.
We do not have to wait for the last doomsday for millions of years.
When we die stupidly due to the disease we make ourselves,
That is the doomsday for ourselves.
We routinely check our physical health to the hospital.
But it is not that easy for us to want to check the condition of our soul.
Due to his arrogant attitude or perhaps due to excessive self-confidence,
We think we are people who are sane.
Checking the condition of our soul to a mental hospital,
Just as we admit that we may be suffering from mental illness.
However,
In fact,
Most of us,
Being mentally ill or possibly carrying a wounded soul.

© HERY SHIETRA Copyright.

Sewaktu-waktu, kita perlu mengunjungi rumah sakit.
Tidak harus ketika kita jatuh sakit atau sedang ingin berobat.
Kita dapat melihat kondisi di dalam rumah sakit,
Bagaimana para pasien mengantri untuk mendapat pemeriksaan dan pengobatan dari seorang dokter.
Rumah sakit tidak pernah sepi dari pasien yang menderita penyakit.
Sebagian adalah pasien-pasien yang menderita penyakit degeneratif.
Sementara sebagian lagi adalah para pasien yang justru menderita penyakit akibat mencari penyakit sendiri lewat berbagai pola hidup tidak sehat dan berisiko tinggi akan tertular penyakit.
Dengan melihat semua fenomena yang semestinya membuat kita merasa takut tersebut,
Semestinya kita mulai berusaha lebih baik lagi untuk belajar menjaga kesehatan.
Setelah melihat segala kerentanan hidup manusia akan penyakit,
Menjadi mengherankan bila masih ada orang-orang yang justru menyakiti dirinya sendiri,
Bahkan membuat dirinya sendiri menderita penyakit.
Mengapa kita harus menunggu sampai benar-benar menjadi sakit dan menjadi pasien yang kemudian mengantri sepanjang hari di rumah sakit,
Lengkap dengan segala penderitaan yang diderita oleh orang yang sakit.
Namun,
Yang paling menyedihkan,
Mungkin ialah orang-orang yang mengidap penyakit di dalam jiwanya.
Orang-orang yang menyakiti keluarga terdekatnya sendiri,
Orang-orang yang mencuri dan menipu tanpa takut akan buah karma buruknya,
Orang-orang yang merasakan kegembiraan ketika sedang menyiksa orang lain,
Orang-orang yang terus-menerus berbuat korup namun merasa tetap yakin akan masuk surga,
Orang-orang yang memiliki kegemaran memutar-balik fakta,
Orang-orang yang lebih pandai berdusta daripada mengungkap kebenaran,
Orang-orang yang lebih cerdik untuk berbuat curang daripada bersikap adil,
Kita patut curiga,
Bahwa orang-orang yang menderita sakit mental,
Sama banyaknya dengan para pasien yang mengantri di rumah sakit.
Penyakit mental tidak pernah semudah mengobati penyakit fisik yang cukup mengambil sebutir pil dan menelannya untuk menunggu kesembuhan secara instan.
Untuk mengetahui sakit fisik,
Kita cukup mengenali gejala,
Dimana kita dengan mudah dapat melihat sakit fisik yang kita alami.
Namun baru menjadi masalah,
Sakit mental tidak pernah mudah dikenali,
Bahkan si penderita penyakit tidak akan pernah mau mengakui bahwa dirinya sakit secara kejiwaan.
Jika saja semudah itu menyembuhkan penyakit mental,
Mungkin akan semakin sedikit jumlah pasien yang terpaksa mendatangi rumah sakit untuk berobat,
Karena banyak orang yang mengidap penyakit,
Karena dirinya melukai dan menyakiti dirinya sendiri.
Sifat yang membuat seseorang menyakiti dirinya sendiri,
Tidak lain disebabkan oleh jiwa yang sedang sakit.
Penyakit mental yang jika dibiarkan terus,
Itulah yang disebut dengan kiamat.
Kita tidak perlu menunggu hari kiamat yang masih akan lama terjadi pada jutaan tahun mendatang.
Saat kita mati secara konyol akibat penyakit yang kita buat sendiri,
Itulah hari kiamat bagi diri kita sendiri.
Kita secara rutin memeriksakan kesehatan fisik kita ke rumah sakit.
Namun tidaklah semudah itu bagi kita untuk mau memeriksakan kondisi jiwa kita.
Karena sikap sombong atau arogan,
Kita berpikir bahwa kita adalah orang yang tetap waras.
Memeriksa kondisi jiwa kita ke rumah sakit jiwa,
Sama artinya kita mengakui bahwa mungkin saja diri kita sedang mengidap penyakit jiwa.
Namun,
Faktanya,
Sebagian besar dari kita,
Sedang sakit secara mental atau mungkin membawa jiwa yang terluka.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.