JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Too Late to Regret

Why do we speak with respect to others and foreigners,
Rather than when we talk to our own family members?
Should not we try harder to maintain the feelings of our own family members, rather than when we talk to others?
Why can we speak gently and warmly to strangers,
While we tend to speak arbitrarily to our own family members?
Is it just because we think that they are members of our own family,
So we can act casually without maintaining the attitude or speech?
Should not we be softer and warmer to our own family members?
More terrible attitude of a coward,
Who only dared to anger against their own family members,
But coward when dealing with strangers.
Just as cowardly,
With someone who only dares to steal from his own family members,
Just dare to cheat their own family members,
Just dare to hurt and injure our own family members.
Why are we so enthusiastic when others give us a gift,
While we never want to appreciate the efforts and kindness of our own family members?
Instead,
A gladiator,
It may be ferocious and tough outdoors.
But when he returned home,
He will be a warm-hearted father,
Being a loving husband,
And become a head of the family with understanding and tenderness.
Like a husband who has a kind wife,
But always more loving and more attentive to other women out there.
Is not it really confusing,
Humans are always looking for everything that lies out there,
And never want to appreciate what is already near them.
It may be true what was said by the maxim,
Grass in the front yard of a neighbor's house,
It always looks more beautiful and greener than the grass in the front yard of our own home.
Wait until the time comes when you will be left behind by someone who has been near you,
Then you will realize and feel lost.
Sorry to be too late.

© HERY SHIETRA Copyright.

Mengapa kita justru berbicara dengan sikap penuh hormat kepada orang lain dan orang asing,
Ketimbang ketika kita berbicara kepada anggota keluarga kita sendiri?
Bukankah semestinya kita berusaha lebih keras menjaga perasaan anggota keluarga kita sendiri, ketimbang ketika kita berbicara kepada orang lain?
Mengapa kita bisa berbicara dengan lembut dan penuh kehangatan kepada orang asing,
Sementara kita cenderung berbicara secara sembarangan kepada anggota keluarga kita sendiri?
Apakah hanya karena kita berpikir bahwa mereka adalah anggota keluarga kita sendiri,
Maka kita bisa bersikap seenaknya tanpa menjaga sikap dan tanpa menjaga ucapan kita?
Bukankah justru kita semestinya bersikap lebih lembut dan lebih hangat terhadap anggota keluarga kita sendiri?
Lebih mengerikan sikap seorang pengecut,
Yang hanya berani marah terhadap anggota keluarga sendiri,
Namun penakut ketika berhadapan dengan orang asing.
Sama pengecutnya,
Dengan seseorang yang hanya berani mencuri dari anggota keluarga sendiri,
Hanya berani untuk menipu anggota keluarga sendiri,
Hanya berani untuk menyakiti dan melukai anggota keluarga sendiri.
Mengapa kita begitu antusias ketika orang lain memberi kita sebuah hadiah,
Sementara kita tidak pernah mau menghargai jirih payah anggota keluarga kita sendiri?
Sebaliknya,
Seorang gladiator,
Mungkin ganas dan bersikap keras di luar rumah.
Namun sekembalinya ia di rumah,
Ia akan menjadi ayah yang penuh kehangatan,
Menjadi suami yang penuh kasih sayang,
Dan menjadi kepala keluarga yang penuh pengertian dan kelembutan.
Bagaikan seorang suami yang telah memiliki istri yang baik hati,
Namun selalu lebih mencintai dan lebih bersikap penuh perhatian terhadap wanita lain di luar sana.
Bukankah sungguh membingungkan,
Manusia selalu mencari segala sesuatu yang terletak di luar sana,
Dan tidak pernah mau menghargai apa yang sudah ada di dekat mereka.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh pepatah,
Rumput di halaman depan rumah tetangga,
Selalu tampak lebih indah dan lebih hijau dari rumput di halaman depan rumah kita sendiri.
Tunggulah hingga tiba pada waktunya kau akan ditinggalkan seseorang yang selama ini berada dekat di sampingmu,
Barulah kau akan sadar dan merasa kehilangan.
Menyesal pun sudah akan terlambat.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Creative is Simply a Matter of Choise

If we can choose to face reality, though bitter,
Why should we choose to run by drinking intoxicating liquor which weakening our own consciousness?
Why should we run away and deny the situation?
Why should we try to forget all the sadness and pain of disappointment in life,
In an unhealthy way?
Do with managed to forget the problems of life,
Will it make the problem vanish?
True, that we can be saturated with all the disappointments of life,
But there is always a way for creative people to find a healthy, non-destructive self-conscience.
Even,
Some people,
Seeking self-consolation by harming others,
And will be glad to see others suffer more from him.
Will we be really happy,
By seeing others suffer?
Is the problem of our lives will be resolved,
By making other people's lives miserable?
What if you yourself are the victim,
The victim of a person's evil deed, who feels that he or she is suffering, has the right to harm others.
Why do not we demand ourselves to be creative,
Be creative in dealing with every problem we face,
Creative to find solutions,
Creative looking for healthy self-consolation and does not hurt yourself and also does not hurt others,
Creative to be creative.
Is not that,
Cheating ways are only done by those who are not creative?
Is not that,
Fraudulent ways can only be thought of by those who feel lazy to think creatively?
Are not the great inventors always start from a creative way of thinking,
Be creative,
And always renew their creativity?
Are not the people who fail to be creative,
It is worthy to enter into the hole slump?
Is not that,
The real creative is the issue of choice?

© HERY SHIETRA Copyright.

Bila kita dapat memilih untuk menghadapi kenyataan, meski pahit,
Mengapa kita harus memilih untuk lari dengan meminum minuman keras yang memabukkan dan melemahkan kesadaran?
Mengapa kita harus lari dan memungkiri keadaan?
Mengapa kita harus berupaya melupakan segala kesedihan dan derita kekecewaan terhadap kehidupan,
Dengan cara yang tidak sehat?
Apakah dengan berhasil melupakan permasalahan hidup,
Akan membuat masalah tersebut sirna?
Betul, bahwa kita dapat jenuh dengan segala kekecewaan terhadap hidup,
Namun selalu ada cara bagi orang-orang kreatif untuk mencari penghiburan diri yang sehat dan tidak merusak.
Bahkan,
Sebagian orang,
Mencari penghiburan diri dengan cara menyakiti orang lain,
Dan akan gembira ketika melihat orang lain lebih menderita dari dirinya.
Akan kita akan benar-benar bahagia,
Dengan melihat orang lain menderita?
Apakah masalah hidup kita akan teratasi,
Dengan cara membuat hidup orang lain menjadi menderita?
Bagaimana jika dirimu sendiri yang menjadi korban,
Korban dari perbuatan jahat seseorang yang merasa bahwa dirinya menderita sehingga berhak untuk menyakiti orang lain.
Mengapa kita tidak menuntut diri kita sendiri untuk bersikap kreatif,
Kreatif dalam menghadapi setiap masalah yang kita hadapi,
Kreatif untuk mencari solusi,
Kreatif mencari penghiburan diri yang sehat dan tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak menyakiti orang lain,
Kreatif untuk bersikap kreatif.
Bukankah,
Cara-cara curang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak kreatif?
Bukankah,
Cara-cara curang hanya mungkin terpikirkan oleh mereka yang merasa malas untuk berpikir kreatif?
Bukankah para tokoh penemu besar selalu dimulai dari cara berpikir kreatif,
Bertindak kreatif,
Dan senantiasa memperbaharui kreativitas mereka?
Bukankah orang-orang yang gagal bersikap kreatif,
Memang layak untuk masuk dalam lubang keterpurukan?
Bukankah,
Kreatif sejatinya adalah persoalan pilihan?


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Failed to Understand the Role and Function of a Person in Life

What is our role in life?
Is the purpose of our life just to be a hedonist?
How could it be,
Want to be a president,
But unable to love the people and their own people.
How could it be,
Want to be a teacher,
But never liked teaching activities and also never liked children.
How could it be,
A person may serve as a judge,
If the judge himself is supposed to be tried and punished.
How could it be,
A person working as a policeman and law enforcement,
When he himself who often violate the law and blackmail the people.
How could it be,
Being a parent,
But always complaining and whining to his own son,
More childlike than his own son,
Giving an example of a childhood attitude that does not at all reflect an adult's attitude.
How could it be,
Being a man,
But want to marry fellow men,
Or, being a woman,
But want to marry fellow gender.
Every individual,
Have their own roles and functions in the community.
Having power and authority,
It means having a responsibility.
Just as when a state employee, who is paid on taxes collected from the people,
So the civil servants must animate their role in serving the people,
Instead of asking to be served by the people,
Especially blackmail and neglect people who need public services.
Just as strange as when someone has a myriad of academic degrees,
He should be more civilized and more humane.
But the intellectual level is not directly proportional to the maturity of thinking.
Being a scholar,
It should reflect the attitude of an intellectual who resembles a scholar.
Failure to interpret our role and function of life,
Making our own lives will lose meaning.
When life no longer has meaning,
We will move without direction,
Crashing into everything,
Even breaking the law,
Because there is no grip of living idealism.
All became pragmatic.
Even a criminal can see himself as a good person who is sure to enter heaven.

© HERY SHIETRA Copyright.

Apa yang menjadi peran kita dalam hidup ini?
Apakah tujuan hidup kita hanya untuk menjadi seorang hedonis?
Bagaimana mungkin,
Ingin menjadi seorang presiden,
Namun tidak mampu mencintai rakyat dan bangsanya sendiri.
Bagaimana mungkin,
Ingin menjadi seorang guru,
Namun tidak pernah menyukai kegiatan mengajar dan juga tidak pernah menyukai anak-anak.
Bagaimana mungkin,
Seseorang dapat menjabat sebagai seorang hakim,
Bila diri sang hakim itu sendiri yang semestinya diadili dan dihukum.
Bagaimana mungkin,
Seseorang dapat berprofesi sebagai seorang polisi dan penegak hukum,
Bila dirinya sendiri yang justru kerapkali melanggar hukum dan memeras rakyat.
Bagaimana mungkin,
Menjadi seorang orang tua,
Namun selalu mengeluh dan merengek kepada anaknya sendiri,
Lebih kekanak-kanankan daripada anaknya sendiri,
Memberikan teladan sikap kanak-kanak yang sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang dewasa.
Bagaimana mungkin,
Menjadi seorang pria,
Namun menyukai sesama pria,
Atau, menjadi orang wanita,
Namun menyukai sesama gender.
Setiap individu,
Memiliki peran dan fungsi masing-masing di tengah masyarakat.
Memiliki kekuasaan dan kewenangan,
Berarti memiliki tanggung jawab.
Sama seperti ketika seorang pegawai negara yang digaji dengan pajak yang dipungut dari rakyat,
Maka para pegawai negeri harus menjiwai perannya dalam melayani masyarakat,
Bukan justru meminta dilayani oleh masyarakat,
Terlebih memeras dan menelantarkan masyarakat yang membutuhkan pelayanan publik.
Sama anehnya ketika seseorang telah memiliki segudang gelar akademik,
Semestinya dirinya lebih beradab dan lebih humanis.
Namun tingkat intelektual ternyata tidak berbanding lurus dengan kedewasaan berpikir.
Menjadi seorang sarjana,
Semestinya mencerminkan sikap seorang intelektual yang menyerupai cendekiawan.
Kegagalan dalam memaknai peran dan fungsi hidup kita,
Membuat hidup kita sendiri akan kehilangan makna.
Ketika hidup tidak lagi memiliki makna,
Kita akan bergerak tanpa arah,
Menabrak apapun yang ada,
Bahkan melanggar hukum,
Karena tiada lagi pegangan idealisme hidup.
Semua menjadi serba pragmatis.
Bahkan seorang penjahat dapat memandang dirinya sendiri sebagai orang baik yang yakin akan masuk surga.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

When a Wild Monkey Becomes the Leader of Our Mind

If we can walk straight, why choose to take a winding path?
When I was a kid,
There was a cartoon on television,
The story of the car race,
Where a racer who becomes a villain,
Always try to cheat other riders when competing.
Surprisingly, the cheater racer often told has drove in pole position,
Nevertheless,
The cheat racer always took the time to set a trap and try to harm other racers.
One of my best friends then commented on the cartoon story,
The cheater racer is far away in the front position, why he does not just keep on driving his car and winning the competition. Why should he stop his vehicle to cheat another rider in the back?
The words of my friend there is a point,
For what the cunning riders want to bother themselves to cheat other racers,
While he is at the forefront and will certainly win the race if he continues to spur his car.
Is not that strange?
Is the cartoon maker too stupid to be able to realize that silly thing?
Or is that social phenomenon occurring in our sick society?
There is also a story of a drama movie that I recently witnessed,
A story about a figure who has lived a prosperous life,
But in order to pursue an obsession,
Dare to commit any crime,
So in the end,
The figures lose everything.
He or she has wealth and power,
But in order to pursue greater power,
In the end, he collapsed and lost everything.
If only he would appreciate what was already there,
Not pursuing an unnecessary obsession,
And want to realize many people who live not as fortunate as he,
Then all the prosperity that has been there, will not disappear like swallowed by the earth.
Recently there is also a surprising news,
A high state officials arrested by the police because of corruption.
The official has taken pains to pursue a career to reach the position of a governor.
But all the effort and hard work was damaged just because of corruption.
If only he would realize how lucky he was,
Can be a governor,
While there are still many people out there who have low positions or even no job at all,
So for what else, he did corruption?
Income as a governor is not small,
Yet why one fails to realize how lucky he is,
Pursuing an endless obsession of desire,
Even doing foul and dirty ways,
Until finally lost everything.
Everything that has been built with great difficulty,
Crumble in the blink of an eye.
We all know,
Build a reputation,
It is difficult.
While,
Damaging good name,
Can be done in the blink of an eye.
Just as when we complain that we can only eat simple food as it is,
While we do not want to realize the number of other humans in the other hemisphere, died because of starvation or malnutrition.
When it's been hard to collect an academic degree,
Received the title of cum laude predicate,
Obtained honorary doctor honorary causa,
Then all the degrees of scholarship are no longer meaningful, when he was caught red-handed doing unlawful acts.
Being a human being who has no knowledge,
It is difficult.
But when a person has a wide range of knowledge and a myriad of academic degrees,
Instead of realizing how much of a chance he would develop in the future,
All that potential is lost only because of an obsession that is out of place.
Himself has a myriad of science,
Himself has had a series of academic degrees,
Himself has a high power,
Himself has more than enough wealth,
Himself has talents and tremendous potential,
Himself has all the resources to win the competition in this life,
But why,
Instead of choosing to walk straight and continue the straight journey,
By having all the capital and luck that already exist,
But instead chose to take a winding path that will ultimately take him to the abyss of adversity?
Evidently,
We not only need to be aware, that build a reputation and prosperity is difficult,
We not only need to realize that damage the reputation and prosperity is as easy as it seems.
But we need to realize when we are already in a position of luck,
And no need to obsess on something that does not need to be an obsession.
We need to be wary of and control our wild minds, which resemble wild monkeys.
When the wild mind is negligent for us to control,
So that wild monkey will then take over our lives.
We already know what will happen,
When a wild monkey becomes the leader of our mind.

© HERY SHIETRA Copyright.

Bila kita bisa berjalan lurus, mengapa harus memilih untuk mengambil jalan yang berliku?
Ketika aku masih kecil,
Ada sebuah tayangan kartun di televisi,
Berkisah tentang pacuan mobil,
Dimana seorang pembalap yang menjadi tokoh penjahat,
Selalu mencoba mencurangi para pembalap lainnya saat berkompetisi.
Anehnya, si pembalap curang seringkali diceritakan telah melaju di posisi terdepan,
Meski demikian,
Si pembalap curang selalu menyempatkan diri memasang jebakan dan mencoba mencelakai para pembalap lain.
Salah seorang sahabatku kemudian mengomentari kisah kartun itu,
Si pembalap curang sudah berada jauh di posisi paling depan, mengapa ia tidak terus saja memacu mobilnya dan memenangkan kompetesi. Mengapa ia harus berhenti untuk mencurangi pembalap lain yang berada di belakang?
Perkataan sahabatku itu ada benarnya,
Untuk apa si pembalap licik mau merepotkan diri untuk mencurangi pembalap lain,
Sementara ia sudah di posisi terdepan dan pastilah akan memenangi lomba jika ia terus memacu mobilnya.
Bukankah itu aneh?
Apakah si pebuat kartun terlampau bodoh untuk mampu menyadari hal sekonyol itu?
Ataukah, memang demikian fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat kita yang sedang sakit ini?
Ada pula kisah film drama yang baru-baru ini aku saksikan,
Berkisah tentang seorang tokoh yang sudah hidup makmur,
Namun demi mengejar obsesi,
Memberanikan diri untuk melakukan segala kejahatan,
Sehingga pada akhirnya,
Sang tokoh kehilangan segalanya.
Dirinya telah memiliki kekayaan serta kekuasaan,
Namun demi mengejar kekuasaan yang lebih besar,
Justru ia terpuruk dan kehilangan segalanya.
Bila saja ia mau menghargai apa yang sudah ada,
Tidak mengejar obsesi yang tidak perlu dikejar,
Dan mau menyadari banyak orang yang hidup tidak seberuntung dirinya,
Maka segala kemakmuran yang ada tidak akan sirna bagai ditelan bumi.
Baru-baru ini juga terdapat sebuah kabar berita mengejutkan,
Seorang pejabat tinggi negara tertangkap polisi karena melakukan korupsi.
Sang pejabat telah bersusah payah meniti karir hingga mencapai jabatan seorang gubernur.
Namun semua usaha dan jirih payah itu rusak hanya karena aksi korupsi.
Jika saja dirinya mau menyadari betapa beruntung dirinya,
Dapat menjadi seorang gubernur,
Sementara masih banyak orang di luar sana hanya memiliki jabatan rendah atau bahkan tidak memiliki pekerjaan sama sekali,
Maka untuk apa lagi melakukan korupsi?
Pendapatan sebagai seorang gubernur tidaklah sedikit,
Namun mengapa seseorang gagal untuk menyadari betapa beruntung dirinya,
Mengejar obsesi keinginan yang tidak ada habisnya,
Bahkan melakukan cara-cara curang dan kotor,
Sampai akhirnya kehilangan segalanya.
Segala yang telah dibangun dengan susah payah,
Runtuh dalam sekejap mata.
Kita semua tahu,
Membangun reputasi,
Adalah sukar.
Sementara,
Merusak nama baik,
Dapat dilakukan dalam sekejap mata.
Sama seperti ketika kita mengeluh karena hanya dapat makan makanan sederhana apa adanya,
Sementara kita tidak mau menyadari banyaknya manusia-manusia lain di belahan bumi lain, meninggal karena kelaparan ataupun kekurangan gizi.
Ketika sudah bersusah payah mengumpulkan gelar akademik,
Meraih gelar predikat cum laude,
Memperoleh gelar kehormatan doctor honoris causa,
Lalu semua gelar kesarjanaan itu tiada artinya lagi ketika dirinya tertangkap tangan melakukan perbuatan melawan hukum.
Menjadi seseorang manusia yang tidak memiliki pengetahuan,
Adalah sukar.
Namun ketika seseorang telah memiliki berbagai pengetahuan dan segudang gelar akademik,
Bukannya menyadari betapa besar kesempatan dirinya untuk berkembang di masa mendatang,
Segala potensi itu sirna hanya karena obsesi yang tidak pada tempatnya.
Dirinya telah memiliki segudang ilmu pengetahuan,
Dirinya telah memiliki sederet gelar akademik,
Dirinya telah memiliki kekuasaan yang tinggi,
Dirinya telah memiliki harta kekayaan yang lebih dari cukup,
Dirinya telah memiliki talenta dan potensi yang luar biasa,
Dirinya telah memiliki segala sumber daya untuk memenangkan kompetisi dalam hidup ini,
Namun mengapa,
Bukannya memilih untuk berjalan secara lurus dan melanjutkan perjalanan lurus itu,
Dengan bekal segala keberuntungan yang telah ada,
Namun justru memilih untuk mengambil jalan berliku sehingga pada akhirnya mengantar dirinya pada jurang keterpurukan?
Ternyata,
Kita bukan hanya perlu menyadari bahwa membangun reputasi dan kemakmuran adalah sukar,
Kita bukan hanya perlu menyadari bahwa merusak reputasi dan kemakmuran adalah semudah membalik telapak tangan.
Namun kita perlu menyadari ketika diri kita sudah dalam posisi yang cukup beruntung,
Dan tidak perlu lagi untuk terobsesi pada sesuatu yang tidak perlu dijadikan obsesi.
Kita perlu mewaspadai dan mengontrol pikiran liar kita yang menyerupai monyet yang liar.
Ketika pikiran yang liar itu lalai untuk kita kendalikan,
Maka monyet liar itulah yang kemudian akan mengambil alih hidup kita.
Kita sudah tahu apa yang akan terjadi,
Ketika seekor monyet liar menjadi pemimpin dari pikiran kita.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.