Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS

Contentment as an Art of Happiness and Satisfaction

Having a sense of contentment is the happiest luck.
It does not have to be someone who has wealth of material possessions,
Don't have to have power,
Don't have to have many desires,
But through the ability to feel a sense of contentment,
A person will always have a rich heart and feeling.
Even if you can't get a vacation to go abroad,
Even if you can't afford luxury items,
Even if you can only eat twice a day,
Even if you feel tired,
Even though always unlucky,
Even though it always fails,
Even though the luck is poor,
Even though always get unfair treatment,
But with a sense of contentment,
They felt full enough to live happily.
By reducing various desires,
By limiting our desires,
By not always obeying our various desires,
So naturally we no longer have many demands in life,
And feel enough with everything that is,
Already feeling happy with all the limitations we have.
On the contrary,
With various feelings of dissatisfaction,
So much wealth and power we have,
We will always be burned by the fire of lust,
A greater variety of new desires dominate our mind and obsession,
So that we no longer know happiness in life.
Happiness is taken away by various desires.
Those who are unable to realize the dangers behind various desires,
Will fall into mastery of defilements.
To be able to have a sense of fulfillment,
There are not many requirements,
Besides acting and thinking in a simple and simple manner.
Thoughts and hopes that are not clouded by various defilements,
Not gripped by various attachments,
That is what is called contentment.
Where there is contentment,
That's where happiness lies.
By releasing various desires,
We will actually get happiness.
By sticking to various desires,
We are at the same time releasing our own happiness.
There is no complex happiness.
All types of happiness are simple and simple.
You think,
By having a lot of wives, will you only achieve happiness?
If so,
Then you have been mistaken.
You think,
By having a lot of material possessions and power, will you feel happiness?
If so,
Then you too have been mistaken.
At that moment,
You will be fooled by your own defilements.
Contentment as an Art of Happiness and Satisfaction

© HERY SHIETRA Copyright.

Memiliki rasa keterpenuhan adalah keberuntungan yang paling membahagiakan.
Tidak harus menjadi seseorang yang memiliki kekayaan harta materi,
Tidak harus memiliki kekuasaan,
Tidak harus memiliki banyak keinginan,
Namun lewat kemampuan untuk merasa keterpenuhan,
Seseorang akan senantiasa memiliki hati dan perasaan yang kaya.
Sekalipun tidak dapat berlibur dengan berjalan-jalan ke luar negeri,
Sekalipun tidak mampu membeli barang-barang mewah,
Sekalipun hanya dapat makan dua kali dalam sehari,
Sekalipun merasa letih,
Sekalipun selalu tidak beruntung,
Sekalipun selalu menemui kegagalan,
Sekalipun bernasib kurang mujur,
Sekalipun selalu mendapat perlakuan tidak adil,
Namun dengan rasa keterpenuhan,
Dirinya sudah merasa cukup penuh untuk hidup bahagia.
Dengan mengurangi berbagai keinginan,
Dengan membatasi berbagai keinginan-keinginan kita,
Dengan tidak selalu menuruti berbagai keinginan kita tersebut,
Maka dengan sendirinya kita tidak lagi memiliki banyak tuntutan dalam hidup,
Dan sudah merasa cukup dengan segala yang ada,
Sudah merasa bahagia dengan segala keterbatasan yang kita miliki.
Sebaliknya,
Dengan berbagai rasa belum puas,
Maka sebanyak apapun harta dan kekuasaan yang kita miliki,
Kita akan selalu dibakar oleh api nafsu,
Berbagai keinginan baru yang lebih besar lagi menguasai batin maupun pikiran kita,
Sehingga kita tidak lagi mengenal rasa bahagia dalam hidup.
Kebahagiaan direnggut oleh berbagai keinginan.
Mereka yang tidak mampu menyadari bahaya dibalik berbagai keinginan,
Akan terperosok dalam penguasaan kekotoran batin.
Untuk dapat memiliki rasa keterpenuhan,
Tidak dibutuhkan banyak syarat,
Selain bersikap dan berpikir secara sederhana dan bersahaja.
Pikiran dan batin yang tidak diperkeruh oleh berbagai kekotoran batin,
Tidak dicengkeram oleh berbagai kemelekatan,
Itulah yang disebut dengan keterpenuhan.
Dimana ada keterpenuhan,
Disitulah kebahagiaan terletak.
Dengan melepaskan berbagai keinginan,
Kita justru akan mendapatkan kebahagiaan.
Dengan melekat pada berbagai keinginan,
Kita justru disaat bersamaan melepaskan kebahagiaan kita sendiri.
Tidak ada kebahagiaan yang bersifat kompleks.
Semua jenis kebahagiaan bersifat sederhana dan simpel.
Kau pikir,
Dengan memiliki banyak istri maka dirimu baru akan meraih kebahagiaan?
Jika begitu,
Maka engkau telah keliru besar.
Kau pikir,
Dengan memiliki banyak harta materi dan kekuasaan, maka dirimu baru akan merasakan kebahagiaan?
Jika begitu,
Maka engkau juga telah keliru besar.
Pada saat itulah,
Anda akan terkecoh oleh kekotoran batin Anda sendiri.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Knowing the Purpose and Direction of Our Lives is Happiness Itself

If there is a process that we don't like to do,
But we must do it and finish it,
So it is enough for us to focus on the goals to be achieved,
Not obsessed with the process that is unpleasant and discouraging.
By focusing on goals,
Then we will no longer think about the likes or dislikes of the process that must be followed towards that goal.
Focusing on goals,
Will give us the strength to be strong and determined, not easily give up.
Sometimes,
The scariest thing is not what we have to do,
But thinking about fear when having to go through the process,
And our minds will be burdened by our own thoughts and fears.
Sometimes, too
Thinking about the process will make our feelings more burdened than doing real work.
Focusing on goals makes us not fall into anxiety or wallow in fear.
Focusing on goals is strength itself,
The power to be able to choose what is the focus, to be able to optimize our productivity potential.
Focusing on goals makes us have the courage to face whatever process must go through.
Like a patient who is willing and brave to have a physical surgery,
With hope of recovery as the goal of focus,
Not wallowing in pain and fear facing the operation process.
Even though the operation is very painful and unpleasant,
Still, patients are queuing to come to the hospital for medical treatment.
Which is true suffering,
It's not a long and tiring journey,
But it runs without knowing its purpose.
Not knowing the purpose of the direction of travel,
Is the most terrible suffering.
Just like when we don't know the direction of our life's purpose,
Living life becomes so heavy,
Like a terrible curse,
Like a nightmare that must be lived every day.
For that,
Knowing what goals we need to go to,
Is happiness itself.
Knowing what our goals are,
So at the same time, the biggest burden on our shoulders has been released.
When we know what our goals are,
Then there is no more process, which is really so hard to be able to take,
As long as we are still focused on goals.
Even a nomad hermit,
Still able to know their purpose in life.
Knowing the purpose and direction of our lives is happiness itself
© HERY SHIETRA Copyright.

Bila terdapat suatu proses yang tidak kita sukai untuk dikerjakan,
Namun harus tetap kita kerjakan dan selesaikan,
Maka cukuplah kita untuk berfokus pada tujuan yang hendak dicapai,
Bukan terobsesi pada prosesnya yang tidak menyenangkan dan mengecilkan hati.
Dengan berfokus pada tujuan,
Maka tidak akan lagi kita berpikir tentang suka atau tidak suka terhadap proses yang harus dijalani menuju ke tujuan tersebut.
Berfokus pada tujuan,
Akan memberi kita kekuatan untuk bersikap tegar dan tekun. tidak mudah menyerah.
Terkadang,
Yang paling menakutkan bukanlah apa yang harus kita kerjakan,
Namun memikirkan rasa takut ketika harus menjalani prosesnya,
Dan pikiran kita akan terbebani oleh pikiran-pikiran dan rasa takut kita sendiri.
Terkadang juga,
Memikirkan prosesnya akan membuat perasaan kita lebih terbebani daripada menjalani pekerjaan yang sesungguhnya.
Berfokus pada tujuan membuat kita tidak jatuh dalam kegelisahan ataupun berkubang dalam ketakutan.
Berfokus pada tujuan adalah kekuatan itu sendiri,
Kekuatan untuk mampu memilih apa yang menjadi fokus, agar mampu mengoptimalkan potensi produktivitas kita.
Berfokus pada tujuan membuat kita memiliki keberanian untuk menghadapi apapun proses yang harus dilalui.
Bagaikan seorang pasien yang bersedia dan berani untuk dioperasi bedah fisik,
Dengan harapan sembuh sebagai tujuan fokusnya,
Bukan berkubang pada rasa sakit dan rasa takut menghadapi proses operasinya.
Sekalipun operasi sangat sakit dan tidak menyenangkan,
Tetap saja para pasien antri mendatangi rumah sakit demi mendapat penangangan bedah medis.
Yang menjadi penderitaan sebenarnya,
Bukanlah sebuah perjalanan yang panjang dan meletihkan,
Namun berjalan tanpa tahu tujuannya.
Tidak mengetahui tujuan arah perjalanan,
Adalah penderitaan yang paling mengerikan.
Sama seperti ketika kita tidak mengetahui arah tujuan hidup kita,
Menjalani hidup menjadi terasa demikian berat,
Bagaikan sebuah kutukan yang mengerikan,
Bagai mimpi buruk yang harus dijalani setiap harinya.
Untuk itulah,
Mengetahui apa tujuan yang perlu kita tuju,
Adalah kebahagiaan itu sendiri.
Mengetahui apa tujuan kita,
Maka disaat bersamaan, beban terbesar dari bahu kita telah terlepas.
Ketika kita telah mengetahui apa tujuan kita,
Maka tiada lagi proses yang benar-benar demikian berat untuk dapat ditempuh,
Sepanjang kita masih berfokus pada tujuan.
Bahkan seorang pertapa pengembara sekalipun,
Masih dapat mengetahui tujuan hidup mereka.
Mengetahui tujuan dan arah hidup kita, adalah kebahagiaan itu sendiri
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Even More Despicable Than a Beggar

Mental beggars make these people never know the word satisfied,
And continue to steal food belonging to the poor,
Even though they are far richer than the poor people they steal their food.
Mental beggars are a source of greed and cheating,
Make themselves always thirsty and hungry,
As much as they have been eating and drinking worldly pleasures,
They are still dominated by hunger full of greed,
Due to the mentality of beggars they maintain in their souls.
Mental beggars are diseases as dangerous as cancer or malignant tumors,
Because someone with such beggar mentality,
It can even take the lives and food of others, just for the sake of life's own pleasure.
Mental beggars make someone infected with the beggar's mentality,
It resembles a horrible creature that is more ferocious and greedy than even the most violent dinosaurs.
If a lion will no longer hunt for prey if their stomach is full,
But humans with mental beggars will continue to eat the lives of others for the pleasure of their own lives.
The second mentality that is no less dangerous,
Is consumptive mentality.
Someone who is infected with mental consumption,
Will continue to consume without knowing the limits,
Never satisfied,
Continue to eat and devoured,
Not able to control himself to stop.
Until their bodies are damaged even by consuming without being able to limit themselves,
They will continue to consume,
Consumption of foods that the tongue likes
Melodious sound consumption,
Consumption of fragrant smell,
The consumption of spectacle attracts the eye,
Consumption of a touch of physical sensation,
Consumption of dirty and evil thoughts.
Without wanting to realize that a human's physical limitations,
Even though the necessities of life has a limit restrictions and limitations.
While by following desire or lust,
Desire never knows limits.
Slaved by desire,
It is the same as letting ourselves be enslaved by our own ignorance and defilements.
Third danger,
It's a cheating mentality.
Someone with mental cheats,
Never able to feel proud of achieving success based on fair competition,
But always using fraudulent methods even though it's full of deception,
In order to achieve the goal by justifying all means,
Even if that means having to sacrifice the lives of others.
Mental cheating is based on the mental greed of the culprit.
Mental cheating is a source of danger for human civilization.
Mental cheating is a real threat to the principles of justice and honesty.
Someone who let his life be overpowered by mental cheats,
At the same time revoke the roots of humanity in his dignity.
Someone with cheating mentality,
Even more despicable than an animal.
While someone with a beggar mentality,
Even more despicable than a beggar.
© HERY SHIETRA Copyright.

Mental pengemis membuat orang-orang tersebut tidak pernah kenal kata puas,
Dan terus mencuri makanan milik orang-orang miskin,
Sekalipun diri mereka jauh lebih kaya dari orang-orang miskin yang mereka curi makanannya.
Mental pengemis menjadi sumber sikap tamak dan penuh kecurangan,
Membuat diri mereka selalu merasa haus dan lapar,
Sebanyak apapun mereka selama ini telah memakan dan meminum berbagai kesenangan duniawi,
Mereka tetap dikuasai sikap lapar penuh ketamakan,
Akibat mental pengemis yang mereka pelihara dalam jiwa mereka.
Mental pengemis adalah penyakit yang sama berbahayanya dengan kanker atau tumor ganas,
Karena seseorang dengan mental pengemis demikian,
Bahkan dapat mengambil nyawa dan makanan milik orang lain hanya demi kesenangan hidup dirinya sendiri.
Mental pengemis menjadikan seseorang yang terjangkit oleh mental pengemis demikian,
Menyerupai makhluk mengerikan yang lebih buas dan lebih tamak daripada seekor dinosaurus paling kejam sekalipun.
Bila seekor singa tidak akan lagi memburu mangsa bila perut mereka telah kenyang,
Namun manusia dengan mental pengemis akan terus memakan hidup orang lain demi kesenangan hidupnya sendiri.
Mental kedua yang tidak kalah berbahayanya,
Ialah mental konsumtif.
Seseorang yang terjangkit mental konsumsi,
Akan terus mengkonsumsi tanpa kenal batasan,
Tidak pernah puas,
Terus memakan dan melahap,
Tidak mampu mengontrol dirinya sendiri untuk berhenti.
Hingga tubuh mereka rusak sekalipun karena mengkonsumsi tanpa mampu membatasi diri,
Mereka akan terus mengkonsumsi,
Konsumsi makanan enak,
Konsumsi suara merdu,
Konsumsi bau wangi,
Konsumsi tontonan menarik mata,
Konsumsi sentuhan sensasi fisik,
Konsumsi pikiran-pikiran kotor dan jahat.
Tanpa mau menyadari bahwa fisik seorang manusia memiliki batasan,
Bahkan kebutuhan pun memiliki limit batasan dan keterbatasan.
Sementara dengan mengikuti keinginan,
Keinginan tidak pernah kenal batasan.
Diperbudak oleh keinginan,
Sama artinya membiarkan diri kita dibudaki oleh kebodohan dan kekotoran batin diri kita sendiri.
Bahaya ketiga,
Ialah mental curang.
Seseorang dengan mental curang,
Tidak pernah mampu merasa bangga meraih keberhasilan berdasarkan kompetisi yang adil,
Namun selalu menggunakan cara-cara curang sekalipun itu penuh tipu daya,
Demi mencapai tujuan dengan membenarkan segala cara,
Sekalipun itu artinya harus mengorbankan hidup orang lain.
Mental curang dilandasi oleh adanya mental tamak pelakunya.
Mental curang menjadi sumber mara bahaya bagi peradaban manusia.
Mental curang menjadi ancaman nyata bagi prinsip keadilan dan kejujuran.
Seseorang yang membiarkan hidupnya dikuasai oleh mental curang,
Disaat bersamaan mencabut akar kemanusiaan dalam martabat dirinya.
Seseorang bermental curang,
Bahkan lebih hina daripada seekor hewan.
Sementara seseorang bermental pengemis,
Bahkan lebih hina daripada seorang pengemis.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Everyone Also Feels Entitled, Not Just You

A good citizen,
It will not arbitrarily impose itself to make the rules unilaterally.
To form a solid state,
It takes the willingness of the population and the people to be obedient,
Releasing various arrogance and personal ego.
Why is this so important in social life and in every community of fellow citizens?
What do you think,
Will it be interesting, watching a soccer match if the parties competing make rules for themselves?
What will happen,
If the motorists on the highway make the rules of playing alone in driving?
Not in place,
If we desire to prioritize personal interests above the public interest.
Rules are formed for the common good,
Not for the sake of a handful of certain parties.
Every citizen is equal and equal to the dignity and right of his life,
Whatever the status and degree of economy.
Everyone has the right to survive,
Everyone has the right to earn a living.
Everyone has the right to keep his property,
Everyone has the right to be free from fear of being hurt by others,
Everyone has the right to be free from fraud or forcible seizure,
Everyone has the right to self-determination,
Everyone has the right not to be dictated,
Everyone has the right to speak out and convey his aspirations,
Everyone has the right to refuse to be manipulated or blackmailed,
Not just you.
Everyone wants to be appreciated,
Everyone wants to be treated with respect,
Everyone wants to be treated fairly,
Everyone wants not to be treated arbitrarily,
Everyone wants not to be cheated,
Not just you.
We can not be naive,
As if we alone have the right to them,
While others have only an obligation to us.
Everyone also feels entitled, not just you.
There is a right,
Means at the same time there is an inherent obligation to ourselves.
Therefore a harmonious life is based on a form of balance between one's own rights and obligations,
Against the rights and duties of others.
That is what is called the law of reciprocity,
The principle of reciprocity.
There is no place for citizens who intend to make their own rules for the existence of other people's lives.

© HERY SHIETRA Copyright.

Seorang warga negara yang baik,
Tidak akan secara seenaknya memaksakan diri untuk membuat aturan main sendiri.
Untuk membentuk negara yang kokoh,
Dibutuhkan kerelaan penduduk dan para rakyatnya untuk bersikap patuh,
Melepas berbagai sikap arogansi maupun ego pribadi.
Mengapa hal ini menjadi sangat penting dalam hidup bermasyarakat dan di setiap komunitas sesama warga?
Apakah menurut pendapatmu,
Akan dapat menjadi menarik, menyaksikan pertandingan sepak bola bila para pihak yang bertanding saling membuat aturan main sendiri?
Apa juga yang akan terjadi,
Bila para pengendara kendaraan di jalan raya membuat aturan main sendiri dalam berkendara?
Tidak pada tempatnya,
Bila kita berkehendak untuk mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan publik.
Aturan dibentuk untuk kebaikan bersama,
Bukan untuk kepentingan segelintir pihak tertentu.
Setiap warga masyarakat sejajar dan setara harkat serta martabatnya,
Apapun status dan derajat ekonominya.
Semua orang berhak untuk mempertahankan hidup,
Semua orang berhak untuk mencari nafkah.
Semua orang berhak untuk menjaga harta miliknya,
Semua orang berhak untuk bebas dari rasa takut disakiti orang lain,
Semua orang berhak untuk bebas dari penipuan ataupun perampasan secara paksa,
Semua orang berhak untuk menentukan nasib sendiri,
Semua orang berhak untuk tidak didikte,
Semua orang berhak untuk bersuara dan menyampaikan aspirasinya,
Semua orang berhak untuk menolak dimanipulasi ataupun diperas,
Bukan hanya Anda.
Semua orang ingin dihargai,
Semua orang ingin diperlakukan secara hormat,
Semua orang ingin diperlakukan secara adil,
Semua orang ingin tidak diperlakukan secara sewenang-wenang,
Semua orang ingin tidak dicurangi,
Bukan hanya Anda.
Kita tidak dapat bersikap naif,
Seolah hanya kita sendiri yang memiliki hak terhadap mereka,
Sementara orang lain hanya memiliki kewajiban terhadap kita.
Semua orang juga merasa berhak,
Bukan hanya engkau.
Ada hak,
Berarti disaat bersamaan terdapat kewajiban yang melekat pada diri kita sendiri.
Oleh karenanya kehidupan yang harmonis dilandasi oleh sebentuk keseimbangan antara hak dan kewajiban diri sendiri,
Terhadap hak dan kewajiban orang lain.
Itulah yang disebut sebagai hukum resiprositas,
Prinsip timbal-balik.
Tidak ada tempat bagi warga yang berniat untuk membuat aturan main sendiri terhadap eksistensi hidup masyarakat lainnya.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.