JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Kepercayaan Diri Membuat Kita Percaya pada Diri Kita Sendiri. Self-Confidence Makes Us Trust Ourselves

Confidence is a source of internal strength within us.
Confidence makes us avoid mental traps,
At the same time giving us energy to dare to face the challenges and difficulties of life that we can meet at any time,
All our lives.
Confidence makes us have faith in our own potential,
Gives us hope that we are able to overcome existing problems,
And in the end we can develop optimally and achieve liberation.
Lack of confidence,
Makes us underestimate ourselves,
At the same time it traps us in being mentally apathetic, easily giving up, full of fear, and always avoiding the problems that we should face immediately.
Self-confidence makes us always feel that we have all the resources needed to undergo a process,
Even though it's not easy and painful.
Confidence makes us not easy to give up and will persevere and be persistent to face a life challenge.
Confidence makes us able, confident, and willing to rely on ourselves in every moment of our lives.
By having confidence,
We do not need all the capabilities that we do not already have, to want to open the eyes and face problems,
But it will make us have the will to face all the hardships of life,
Without delay.
Confidence prevents us from judging ourselves as stupid or incapable.
Confidence makes us empowered and has the ability and willingness to strive.
Self-confidence can generate superior potential within us,
Like a flower that can bloom perfectly and beautifully,
Even though it was hit by rain and storms,
That is what is called self-confidence.
Confidence requires "take action",
It's not protracted in planning or worrying about paranoia about the risks we might face,
Or being stunted and saddened by all the limited resources we have.
Self-confidence is the biggest basic capital of a human life.
Confidence never recognizes conditions.
Having all the resources of time, resource costs, even sophisticated equipment resources, knowledge resources, skill resources,
But without confidence,
Then we will never move to take risks in trying.

© HERY SHIETRA Copyright.

Kepercayaan diri adalah sebuah sumber kekuatan internal di dalam diri kita.
Percaya diri membuat kita terhindar dari jebakan mental,
Sekaligus memberi kita energi untuk berani menghadapi tantangan serta kesulitan hidup yng dapat kita jumpai setiap saat,
Sepanjang hidup kita.
Kepercayaan diri membuat kita memiliki keyakinan terhadap potensi diri kita sendiri,
Memberi kita harapan bahwa kita mampu untuk mengatasi masalah yang ada,
Dan pada akhirnya kita dapat berkembang secara optimal dan mencapai pembebasan.
Ketiadaan percaya diri,
Membuat kita meremehkan diri kita sendiri,
Disaat bersamaan menjebak kita pada mental apatis, mudah menyerah, penuh ketakutan, dan selalu menghindar dari masalah yang semestinya perlu kita hadapi secara segera.
Kepercayaan diri membuat kita selalu merasa memiliki segala sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalani suatu proses,
Yang sekalipun tidak mudah dan menyakitkan.
Kepercayaan diri membuat kita tidak mudah menyerah dan akan tekun serta gigih untuk menghadapi suatu tantangan kehidupan.
Kepercayaan diri membuat kita mampu, yakin, dan mau untuk mengandalkan diri kita sendiri dalam setiap momen kehidupan kita.
Dengan memiliki kepercayaan diri,
Kita tidak membutuhkan segala kemampuan yang belum kita miliki, untuk mau membuka mata dan menghadapi masalah,
Namun akan membuat kita memiliki kemauan untuk menghadapi segala kesukaran hidup,
Tanpa menunda.
Kepercayaan diri menghindarkan kita dari menghakimi diri sendiri sebagai bodoh atau tidak mampu.
Kepercayaan diri membuat kita berdaya dan memiliki kemampuan serta kemauan untuk berusaha.
Kepercayaan diri mampu membangkitkan potensi unggul dalam diri kita,
Bagaikan bunga yang mampu berkembang secara sempurna dan dengan indahnya,
Sekalipun diterpa hujan dan badai,
Itulah yang disebut dengan kepercayaan diri.
Kepercayaan diri membutuhkan “take action”,
Bukan berlarut-larut dalam perencanaan ataupun dicemaskan oleh paranoid terhadap resiko yang mungkin akan kita hadapi,
Ataupun bersikap kerdil dan bersedih atas segala keterbatasan sumber daya yang kita miliki.
Kepercayaan diri adalah modal dasar terbesar dari hidup seorang manusia.
Kepercayaan diri tidak pernah mengenal syarat.
Memiliki segala sumber daya waktu, sumber daya biaya, sumber daya alat-alat canggih sekalipun, sumber daya pengetahuan, sumber daya keterampilan,
Namun tanpa kepercayaan diri,
Maka kita tidak akan pernah bergerak untuk mengambil resiko dalam berusaha.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Menghargai Seorang Pengambil Resiko. Appreciating a Risk Taker

We have no right to scold or blame people who take risks to try,
Because of every effort,
There is a risk.
Take a risk,
It takes great courage and determination.
Those who do not dare to take risks, for fear of making mistakes,
Are people who are just busy choosing to stay in a safe zone,
But at the same time he did not do any productive actions.
Safe zone,
Only suitable for a coward,
A coward who is only good at criticizing and living by making others feel guilty, because of being harassed by us,
As a result of the effort and risk they take.
Anyone can also be good at criticizing and blaming others.
But not everyone can afford to take risks by doing something.
A coward is only able to remain silent in a safe zone,
While being a great critic.
There is nothing positive or commendable from the behavior of hiding in a comfort zone,
While blaming the people who take risks in their efforts.
If we are so fond of blaming people who experience mistakes in their efforts to take risks in an effort,
So why aren't we alone, who do all the effort?
One cannot grow,
In a passive attitude without any effort.
To work for a living,
There is a risk.
To work as a housewife like cooking,
It also contains its own risks.
Become a commoner,
Have a risk.
Become king,
It also has its own risks.
Become a child,
Have a risk.
Become an adult and parent,
It also has its own risks.
Become a teacher,
Contains risk.
Become a student,
It also contains risks even in different forms.
Even,
Keep quiet though,
Contains risk,
That is to be a fool and crazy about stupid ignorance.
Take a risk,
It takes sacrifice and courage,
We should respect and appreciate
Not even we become more proficient judge others,
While continuing to hide in a safe zone,
By only being passive without doing anything.
Maybe just a corpse,
We can no longer complain against him,
Because corpses no longer breathe and can no longer move.
As long as the person's intention is for our common good,
Then all the efforts and efforts that have gone through a series of risks,
We must appreciate and remember his good intentions,
Even amid the journey, he was doomed to failure or error.
No one who has never done anything wrong from the beginning.
Even we have made a big mistake,
By criticizing those who have taken the trouble to take risks for the benefit of all of us.

© HERY SHIETRA Copyright.

Kita tidak berhak memarahi atau menyalahkan orang yang mengambil resiko demi berusaha,
Karena setiap usaha,
Ada resikonya.
Mengambil sebuah resiko,
Dibutuhkan keberanian dan tekad yang besar.
Mereka yang tidak berani mengambil resiko karena takut berbuat keliru,
Adalah orang-orang yang hanya sibuk memilih berdiam diri dalam zona aman,
Namun disaat bersamaan dirinya tidak melakukan perbuatan produktif apapun.
Zona aman,
Hanya cocok bagi seorang pengecut,
Pengecut yang hanya pandai mengkritik dan hidup dengan cara membuat orang lain merasa bersalah karena kita lecehkan,
Akibat usaha dan resiko yang mereka ambil.
Siapa pun juga bisa menjadi pandai mengkritik dan menyalahkan orang lain.
Namun tidak semua orang mampu untuk berani mengambil resiko dengan melakukan sesuatu kegiatan.
Seorang pengecut hanya mampu berdiam diri dalam zona aman,
Sembari menjadi pengkritik yang hebat.
Tiada yang positif atau terpuji dari perilaku bersembunyi dalam zona nyaman,
Sembari menyalahkan orang-orang yang mengambil resiko dalam usahanya.
Jika kita demikian gemar menyalahkan orang-orang yang mengalami kekeliruan dalam usahanya mengabil resiko dalam usaha,
Maka mengapa tidak kita sendiri saja, yang mengerjakan semua usaha itu?
Seseorang tidak dapat bertumbuh,
Dalam sikap pasif tanpa usaha atau upaya apapun.
Untuk bekerja mencari nafkah,
Ada resikonya.
Untuk bekerja sebagai ibu rumah tangga seperti memasak,
Juga mengandung resikonya tersendiri.
Menjadi rakyat,
Memiliki resiko.
Menjadi raja,
Juga memiliki resikonya tersendiri.
Menjadi anak,
Memiliki resiko.
Menjadi orang dewasa dan orangtua,
Juga memiliki resikonya masing-masing.
Menjadi guru,
Mengandung resiko.
Menjadi murid,
Juga mengandung resiko meski dalam bentuk yang berbeda.
Bahkan,
Berdiam diri sekalipun,
Mengandung resiko,
Yakni menjadi orang bodoh dan tergila-gila pada kebodohan yang bodoh.
Mengambil resiko,
Dibutuhkan pengorbanan dan keberanian,
Yang semestinya kita hargai dan apresiasi,
Bukan justru kita menjadi lebih pandai menghakimi orang lain,
Sembari terus bersembunyi dalam zona aman,
Dengan cara hanya pasif berdiam diri.
Mungkin hanyalah seorang mayat,
Yang tidak dapat lagi kita komplain,
Karena mayat tidak lagi bernafas dan tidak juga dapat lagi untuk bergerak.
Sepanjang niat orang tersebut adalah demi untuk kebaikan kita bersama,
Maka segala usaha dan upayanya yang telah melalui serangkaian resiko,
Harus kita apresiasi dan hargai,
Sekalipun ditengah jalan, dirinya menemui kegagalan ataupun kesalahan.
Tidak ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan apapun dari sejak semula.
Bahkan kita sudah melakukan kekeliruan besar,
Dengan mengkritik mereka yang telah mau bersusah payah mengambil resiko bagi kepentingan kita semua.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Freedom That Does Not Liberate. Kebebasan yang Tidak Membebaskan

Freely free,
Not necessarily means free from feeling lazy, feeling greedy, or from feeling angry.
Become free freely,
It could be a fetter to other forms of invisible slavery.
As long as the so-called free is not free from our own defilements.
As an example,
Someone who is materially rich,
It might be possible to buy freedom from a court sentence,
Because he is able to buy law enforcement officers.
Someone who is politically strong,
It may be able to act as he pleases, without any significant obstacles,
Where no one dares to obstruct his steps to achieve what he wants and wants.
Someone who has an evil heart but has a strong physical or dangerous intelligence,
It is possible to be able to hurt the person he wants to harm without finding difficulty means to carry out his intention,
Because nothing can match the muscles or intelligence of the brain.
But we need to first make the right definition for what we call free and freedom.
To be free of boredom,
Does that mean we have to take away the joy of the life of other living beings?
To be pain free,
Does that mean we have to take away the calm of those around us?
To be free from hunger,
Does that mean we have to take food from someone else's plate?
Maybe we are free to act freely,
Think freely,
Speak freely,
Without limitation.
But will that freedom not harm us or others, in the end?
Free to hurt others,
This means that at the same time we have become slaves to our own vicious attitude.
Have we ever thought,
It might be such a false freedom,
Give the entrance by opening the door wide open to our own defilements.
Someone who has the freedom to eat whatever he likes,
As much as he wants,
It is probable that hunger and thirst will increase far more from day to day,
Imprisoned in the nature of dissatisfaction,
Demand more and more,
Increasingly gripped by a sense of greed,
Fooled by false freedom,
Infused by his own ignorance.
Freedom tends to corrupt.
Absolute freedom, corrupt absolutely.
Sometimes, freedom can be a bond that is more sticky than bars in prison.
Conversely,
Limitations make us able to be wiser and wiser,
Where we are forced to see things as they are,
Realizing that there is nothing worthy of attachment in this world,
And not to be fooled by our own defilements.
Limitations make us always feel the need to be introspective,
Be aware of ourselves.
Limitations make us difficult enough to harm ourselves or to harm others.
That's why,
A wise king,
Can not feel truly free as freely as possible,
So that he does not feel entitled to marry more than one wife.
Good king,
Keep limiting the contents of his mind and behavior in the corridor of morality,
Not deviating from the stronghold of morality in him.
Sometimes,
We must let go of the desire to be free without limits,
For the good of ourselves.
Strive to be in full power over ourselves,
Not in full power over others,
Is one step towards self-liberation,
Not freedom to act without limitation.
Free yourself from the bondage of defilements,
Free yourself from the chains of karma,
Free yourself from greed,
Free yourself from ignorance,
That is the true free essence.
Self-control is rooted in the will to control yourself,
Which means not allowing ourselves to be manipulated by the greed that is inside ourselves.
While the limitations themselves,
Is the most effective means to conquer our own defilements.
Limiting desires,
Same means not allowing greed to control ourselves.
Not free,
It means free.
Free,
That means being imprisoned.
Maybe what we need is not free,
But self-liberation, from the desire to be free as freely as possible.
This is not the end of everything,
But it is the beginning of everything.
As ironic as those who always intend to be free to control others,
But at the same time it fails to control itself,
Not free from his own defilements.

© HERY SHIETRA Copyright.

Bebas sebebas-bebasnya,
Belum tentu artinya bebas dari rasa malas, rasa tamak, maupun dari rasa marah.
Menjadi bebas sebebas-bebasnya,
Bisa jadi merupakan belenggu menuju perbudakan bentuk lain yang lebih tidak kasat mata.
Sepanjang, yang disebut dengan bebas tersebut bukanlah bebas dari kekotoran batin diri kita sendiri.
Sebagai contoh,
Seseorang yang kaya secara materi,
Mungkin saja bisa membeli kebebasan dari hukuman pengadilan,
Karena dirinya mampu membeli aparat penegak hukum.
Seseorang yang kuat secara politik,
Mungkin saja dapat bertindak sesuka hatinya tanpa hambatan berarti apapun,
Dimana tidak ada seorang pun yang berani untuk menghalangi langkahnya untuk mencapai apa yang ia inginkan dan kehendaki.
Seseorang yang memiliki hati yang jahat namun memiliki fisik yang kuat atau kecerdasan yang membahayakan,
Mungkin saja mampu untuk menyakiti orang yang hendak dicelakainya tanpa menemukan kesukaran berarti untuk melaksanakan niatnya,
Karena tiada yang mampu menandingi otot atau kecerdasan otaknya.
Namun kita perlu terlebih dahulu membuat definisi yang tepat untuk apa yang kita sebut sebagai bebas dan kebebasan.
Untuk menjadi bebas dari kebosanan,
Apakah artinya kita harus merampas kegembiraan hidup makhluk hidup lainnya?
Untuk menjadi bebas dari rasa sakit,
Apakah artinya kita harus merampas rasa tenang orang-orang di sekitar kita?
Untuk menjadi bebas dari rasa lapar,
Apakah artinya kita harus merampas makanan dari piring milik orang lain?
Mungkin saja kita bebas untuk bertindak sebebas-bebasnya,
Berpikir sebebas-bebasnya,
Berucap sebebas-bebasnya,
Tanpa batasan.
Namun apakah kebebasan tersebut tidak akan dapat mencelakai diri kita maupun orang lain, pada akhirnya?
Bebas menyakiti orang lain,
Artinya disaat bersamaan kita telah menjadi budak dari sikap buas diri kita sendiri.
Pernahkah terpikirkan oleh kita,
Mungkin saja kebebasan semu demikian,
Memberi jalan masuk dengan membuka pintu secara terbuka lebar bagi kekotoran batin diri kita sendiri.
Seseorang yang memiliki kebebasan untuk memakan apapun yang ia suka,
Sebanyak apapun yang ia mau,
Besar kemungkinan rasa lapar dan hausnya akan jauh lebih meningkat dari hari ke hari,
Terpenjara dalam sifat ketidakpuasan,
Menuntut lebih dan lebih banyak lagi,
Kian tercengkeram dalam rasa tamak dirinya sendiri,
Terkecoh oleh kebebasan semu,
Termakan oleh kebodohan batinnya sendiri.
Freedom tends to corrupt.
Absolute freedom, corrupt absolutely.
Terkadang, kebebasan dapat menjadi belenggu yang lebih lengket daripada jeruji di penjara.
Sebaliknya,
Keterbatasan membuat kita mampu bersikap lebih arif dan bijaksana,
Dimana kita dipaksa untuk melihat segala sesuatu secara apa adanya,
Menyadari tiada yang patut untuk dilekati di dunia ini,
Dan tidak terkecoh oleh kekotoran batin diri kita sendiri.
Keterbatasan membuat kita senantiasa merasa perlu untuk mawas diri,
Waspada terhadap diri kita sendiri.
Keterbatasan membuat kita cukup sukar untuk mencelakai diri sendiri ataupun untuk dapat menyakiti orang lain.
Oleh karena itulah,
Seorang raja yang bijaksana,
Tidak boleh merasa benar-benar bebas sebebas-bebasnya,
Sehingga dirinya tidak merasa berhak untuk menikahi lebih dari satu orang istri.
Raja yang baik,
Tetap membatasi isi pikiran serta perilakunya dalam koridor moralitas,
Tidak melenceng keluar dari benteng moralitas dalam dirinya.
Terkadang,
Kita harus melepaskan keinginan untuk bebas tanpa batasan,
Demi kebaikan diri kita sendiri.
Berupaya untuk menjadi berkuasa penuh terhadap diri kita sendiri,
Bukan berkuasa penuh terhadap diri orang lain,
Merupakan salah satu langkah menuju pembebasan diri,
Bukan kebebasan diri untuk bertindak tanpa batasan.
Membebaskan diri dari belenggu kekotoran batin,
Membebaskan diri dari belenggu rantai karma,
Membebaskan diri dari ketamakan,
Membebaskan diri dari kebodohan,
Itulah esensi bebas yang sejati.
Pengendalian diri berakar dari daya kontrol diri,
Yang artinya tidak membiarkan diri kita menjadi termanipulasi oleh sifat tamak yang ada di dalam diri kita sendiri.
Sementara keterbatasan itu sendiri,
Merupakan sarana yang paling efektif untuk menaklukkan kekotoran batin diri kita sendiri.
Membatasi keinginan,
Sama artinya tidak membiarkan sifat tamak mengendalikan diri kita.
Tidak bebas,
Artinya bebas.
Bebas,
Artinya terpenjara.
Mungkin yang kita butuhkan bukanlah bebas,
Namun pembebasan diri dari keinginan untuk bebas sebebas-bebasnya.
Hal demikian bukanlah akhir dari segalanya,
Namun merupakan awal dari segalanya.
Sama ironisnya dengan mereka yang selalu berniat untuk bebas mengendalikan orang lain,
Namun disaat bersamaan gagal untuk mengendalikan dirinya sendiri,
Tidak terbebas dari kekotoran batinnya sendiri.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.