JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

The Profiteers

Some people are busy collecting wealth without ever knowing enough,
Some people are busy mating and giving birth tso many children,
There are people who are busy stealing the rights of others and hurt a lot of people without guilt,
There are also people who are busy pursuing a degree and a mark of respect, as if they did not exist without the recognition of others.
Similarly, there are those who pursue human achievement into the most intelligent in the world,
Being a record breaker, food eater most in the world,
But why is our motivation to pursue everything that is not eternal,
Not on par with the seriousness ourselves to strive to erode the defilement of our own?
Whether we were underestimating our own ignorance,
Assume ourselves have sacred and guaranteed to go to heaven?
Even many people who claim religious and diligent worship,
Steal and kill those with different beliefs to himself,
And seek justification bad deed of himself by the name of religion,
Profiteer name of the Lord,
As if God willed the bloodshed.
Human becomes sacred not because ritual,
But through practice exercises in eroding our own defilements,
Not be the killer creatures that hunt down and make them with different beliefs as a target trait self savagery.
Is really worrying people whom are in need of other human beings with different beliefs to be killed and wounded.
Without people of different beliefs,
As if their lives meaningless because there is no other purpose in life other than hunting and cutting the throat of humans with different beliefs.
Is that what achievement really needed by the Lord?
The more cutting the throat of different beliefs,
The more fairies in heaven waiting for marriage.
Even a little child will not be deceived by such stupid fairy tale,
But many adult humans who are so tempted by such a silly fairy tale.
Making people with different beliefs as an obsession,
As the target prey to be sacrificed with pride.
Someone pursue themselves to be high jump athletes,
Will train with certainty athletic sports performance enhancement.
But what is the link between the murder of people with different beliefs to the achievement go to heaven?
No matter how much we hold a ritual to worship the sun or moon,
Convinced that that sun, which rotates around the earth,
Praise or worship in the hopes he would be closer to the moon,
Will not change under any circumstances.
The moon remained in place,
And the sun still spinning on its own axis,
And the earth still rotates toward the sun.
As sure as any of us,
Whatever we may diligently perform the ritual,
Fooled ourselves have guaranteed access to land in paradise,
It does not cover the facts have so many dirty deeds done during the life as a human.
Believing or not believing moon in the sky,
Adored or despised the sun,
The moon remain in place,
And the sun is not reduced or increased at all.
I chose to go to hell,
When heaven contains people who are diligent worship but rotten in everyday life.
Instead of hanging out with the hypocrites,
It would be more peaceful it a living hell which inhabited by victims of the hypocrites in heaven.
Perhaps the term of heaven and hell, needs to be rewritten.
No matter whether it is heaven or hell,
But all of that is very dependent on the attitudes of the occupants.
Heaven does not offer peace to live because it is full of explosions and bloodshed,
Not heaven that truly assume and think it is.
Maybe,
Hell is a more peaceful place for those who put forward ratios and reason conscience of humanity as a major religion held by him,
Not being fools are ingested by other human speech profiteer God's name or label his teachings as the word of God.
God does not need any prophet.
God is Almighty.
Stating that God requires or even relying on the figure of a prophet,
Tantamount to insult the greatness of God.
God never liked the profiteers name of God,
Especially profiteer or felt more know than God himself.

© HERY SHIETRA Copyright.

Ada orang yang sibuk mengumpulkan harta kekayaan tanpa pernah mengenal kata cukup,
Ada orang yang sibuk kawin dan melahirkan banyak anak,
Ada orang yang sibuk mencuri hak orang lain dan menyakiti banyak orang tanpa memiliki rasa bersalah,
Ada juga orang yang sibuk mengejar gelar dan tanda penghormatan, seakan dirinya tidak eksis tanpa pengakuan dari orang lain.
Begitupula, ada pula orang yang mengejar prestasi menjadi manusia paling cerdas di dunia,
Menjadi orang pemecah rekor pemakan makanan paling banyak di dunia,
Namun mengapa motivasi kita untuk mengejar segala sesuatu yang tidak kekal itu,
Tidak setara dengan keseriusan diri kita untuk berjuang mengikis kekotoran batin kita sendiri?
Apakah kita sedang memandang remeh kebodohan batin kita sendiri,
Berasumsi diri kita telah suci dan terjamin masuk surga?
Bahkan banyak manusia yang mengaku beragama dan rajin beribadah,
Mencuri dan membunuh mereka yang berbeda keyakinan dengan dirinya,
Dan mencari justifikasi perbuatan buruknya dengan mengatasnamakan agama,
Mencatut nama Tuhan,
Seakan Tuhan yang menghendaki pertumpahan darah itu.
Manusia menjadi suci bukan karena ritual,
Namun lewat praktik latihan diri dalam mengikis kekotoran batin kita sendiri,
Bukan menjadi makhluk pembunuh yang memburu dan menjadikan mereka yang berbeda keyakinan sebagai sasaran sifat kebiadaban diri.
Adalah sungguh memprihatikan orang-orang yang membutuhkan manusia lain yang berbeda keyakinan untuk dibunuh dan disakiti.
Tanpa ada orang yang berbeda keyakinan,
Seakan hidup mereka tiada arti karena tiada tujuan lain dalam hidupnya selain memburu dan memotong leher para manusia yang berbeda keyakinan.
Itukah prestasi yang benar-benar dibutuhkan Tuhan?
Semakin banyak memotong leher yang berbeda keyakinan,
Semakin banyak bidadari di surga menunggu.
Bahkan seorang anak kecil pun takkan tertipu oleh dongeng bodoh demikian,
Namun banyak manusia dewasa yang begitu tergiur oleh dongeng konyol demikian.
Menjadikan orang-orang yang berbeda keyakinan sebagai obsesi,
Sebagai target mangsa untuk dikorbankan dengan penuh kebanggaan.
Seseorang mengejar pencapaian diri untuk menjadi atlet lompat tinggi,
Akan berlatih atletik dengan kepastian peningkatan performa olahraga.
Namun apa hubungannya antara pembunuhan terhadap orang yang berbeda keyakinan dengan pencapaian masuk surga?
Sebanyak apapun kita mengadakan ritual menyembah matahari atau bulan,
Meyakini bahwa matahari itulah yang mengelilingi bumi,
Atau memuja-muji bulan dengan harapan dirinya akan lebih dekat dengan bulan,
Tidak akan mengubah keadaan apapun.
Bulan itu tetap berada di tempatnya,
Dan matahari tetap berputar pada porosnya sendiri,
Dan bumi tetap berotasi terhadap matahari.
Seyakin apapun diri kita,
Serajin apapun diri kita melakukan ritual,
Terkecoh diri kita telah terjamin mendapat tanah di surga,
Tidak menutupi fakta telah demikian banyaknya perbuatan kotor dilakukan selama masa hidup sebagai manusia.
Meyakini atau tidak meyakini bulan di langit,
Dipuja atau dihinanya matahari,
Bulan itu tetap ada pada tempatnya,
Dan matahari tidak berkurang atau bertambah sedikitpun.
Saya memilih untuk masuk neraka,
Bila surga berisi orang-orang yang rajin beribadah namun busuk dalam keseharian hidupnya.
Daripada berkumpul dengan orang-orang munafik,
Alangkah lebih damainya hidup di neraka yang dihuni para korban para munafik di surga.
Mungkin istilah surga dan neraka, perlu ditulis ulang.
Tidak penting apakah itu surga atau neraka,
Namun semua itu sangat bergantung pada sikap-sikap para penghuninya.
Surga yang tidak menawarkan kedamaian hidup karena penuh dengan ledakan dan pertumpahan darah,
Bukanlah surga yang benar-benar kita asumsikan dan bayangkan selama ini.
Mungkin,
Neraka adalah tempat yang lebih damai bagi mereka yang mengedepankan rasio dan nalar sanubari kemanusiaan sebagai agama utama yang dipegang oleh dirinya,
Bukan menjadi orang bodoh yang termakan oleh ucapan manusia lain yang mencatut nama Tuhan atau melabeli ajarannya sebagai perkataan Tuhan.
Tuhan tidak pernah butuh seorang nabi.
Tuhan adalah Maha Kuasa.
Menyatakan bahwa Tuhan membutuhkan atau bahkan bergantung pada sosok seorang nabi,
Sama artinya menghina kebesaran Tuhan.
Tuhan tidak pernah suka para pencatut nama,
Terlebih mencatut atau merasa lebih tahu dari Tuhan itu sendiri.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Be Eaten by Words of Foolish

In this world, there are two types of people contrasting with one another.
There is a stupid man who commented and mocked foolishly with stupid ideas,
A fool smart ass.
And there a wise man with a wise attitude without judging, expressed opinions in a balanced and thoughtful and objective.
We do not need to take bother want to become dizzy or hear any slander or accusation fools who think smart and clever himself.
Because we do not need to take and eat the garbage thrown by dwarf minded folks.
There is no obligation for us to be fooled or dictated by fools minded dwarfs and blunt.
Listened and directives bonehead,
Tantamount to follow the road to disaster shown by various comments and throw the utterances of those blunt, which is simply patronizing blurting out comments.
We always have the right to hear, at the same time have the right to choose not to listen.
Another person may be entitled to speak as much as anything,
However, we still holds the right to ourselves to choose not to listen to speeches or slanderous garbage.
It is easy to judge and malign someone who was hit by the condition of the tip of the horn.
Such an attitude is a coward,
Because the fool exploit difficult conditions faced by victims hurl their smart-ass remark.
However, at the same time we need to rely on the power of our own critical thinking.
We need to start to be able to strengthen ourselves and think for ourselves.
When we know where we are right, we even need to fight the current majority of the sound waves.
The majority is not necessarily always true, that's the role of a critical attitude reasoning power.
Thinking over our own feet.
By doing so we will realize,
Who exactly is the fool who need to mock and patronized,
No other than the fool maker burst comment itself.
Fools follow the utterances of bonehead,
And was ingested by him.
Is a person who is more foolish than bonehead whom ingested by a burst of speech and comments of a fools.
We have brains over head that rests on our own feet,
This means that we have a right to think for ourselves,
Analyzing the condition and situation of ourselves that is likely not conscious or considered by those who made the comment upon us.
Bullhead only viewed based on the 'skin',
Seeing by his narrow perspective of vision,
There is no having the wisdom to understand and be sensitive to the conditions experienced by a person who commented upon.
A dwarf accustomed to reading the situation is narrow and shallow.
Following the blunt speech,
Even if it is the majority,
Equally meaning, throwing our potential reasoning mind power,
And be as stupid as that imbecile person.
In the event of a disaster on us,
As a result of ingested by those imbecile’s comments,
That fool be the most first time will escape from responsibility when requested.
That is, two times you have been fooled by an imbecile.
This is the fool that is more stupid than the stupid.
The wise men since the days of our ancestors,
Focused on the mind and reasoning power consideration of itself,
Not rely on what is said by others who do not necessarily have good motives towards us.

© HERY SHIETRA Copyright.

Di dunia ini, terdapat dua tipe manusia yang saling kontras satu sama lain.
Ada manusia tolol yang berkomentar dan mengolok secara tolol dengan pemikiran yang tolol,
Orang bodoh yang sok pintar.
Dan ada manusia bijak yang dengan sikap arif tanpa menghakimi, menyampaikan opini secara berimbang dan penuh pertimbangan serta objektif.
Kita tak perlu mengambil hirau ataupun mau menjadi pusing mendengar segala fitnah ataupun tuduhan orang-orang bodoh yang menganggap cerdas dan pandai dirinya sendiri.
Karena kita tak perlu mengambil dan memakan sampah yang dilempar oleh orang-orang berpikiran kerdil.
Tak ada kewajiban bagi kita untuk mau dibodohi ataupun didikte oleh orang-orang bodoh berpikiran kerdil dan tumpul.
Mendengarkan ucapan dan arahan orang dungu,
Sama artinya mengikuti jalan menuju petaka yang ditunjukkan oleh berbagai komentar dan lontaran ucapan-ucapan orang-orang tumpul yang dengan mudahnya melontarkan komentar menggurui.
Kita selamanya punya hak untuk mendengar, sekaligus punya hak untuk memilih untuk tidak mendengarkan.
Orang lain mungkin berhak untuk berbicara sebanyak apapun,
Namun kita tetap memegang hak atas diri kita sendiri untuk memilih tidak mendengarkan ucapan-ucapan ataupun fitnah sampah.
Adalah mudah menghakimi dan memfitnah seseorang yang sedang dilanda kondisi diujung tanduk.
Sikap demikian adalah pengecut,
Karena si dungu memanfaatkan kondisi sukar yang dihadapi korban lontaran ucapan sok pintar dirinya.
Namun, disaat bersamaan kita perlu bersandar pada daya kritis pemikiran kita sendiri.
Kita perlu memulai untuk mampu berdaya dan berpikir bagi diri kita sendiri.
Dikala kita tahu posisi kita benar, kita bahkan perlu untuk melawan arus gelombang suara mayoritas.
Mayoritas belum tentu selamanya benar, itulah peran daya nalar sikap kritis.
Berpikir diatas kaki kita sendiri.
Dengan demikian kita akan menyadari,
Siapa sebenarnya si dungu yang perlu untuk diolok dan digurui,
Tidak lain ialah si dungu pembuat lontaran komentar itu sendiri.
Orang bodoh mengikuti ucapan-ucapan orang dungu,
Dan termakan olehnya.
Adalah orang yang lebih bodoh dari orang dungu yang termakan oleh lontaran ucapan dan komentar orang-orang dungu.
Kita memiliki otak diatas kepala yang bertumpu diatas kaki kita sendiri,
Artinya kita berhak berpikir untuk diri kita sendiri,
Menganalisa kondisi dan situasi diri kita sendiri yang besar kemungkinan tidak disadari ataupun dipertimbangkan oleh mereka yang membuat komentar atas diri kita.
Orang dungu hanya melihat berdasarkan 'kulit',
Melihat dengan perspektif sempit penglihatannya,
Tiada memiliki kebijaksanaan untuk memahami dan peka terhadap kondisi yang dialami oleh seseorang yang dikomentarinya.
Orang kerdil terbiasa untuk membaca situasi secara sempit dan dangkal.
Mengikuti ucapan orang tumpul,
Sekalipun itu mayoritas,
Sama artinya membuang potensi daya nalar pikiran diri kita sendiri,
Dan menjadi sama bodohnya dengan si dungu itu.
Jika terjadi suatu petaka pada diri kita,
Akibat termakan oleh komentar si dungu,
Si dungu itulah yang paling pertama kalinya akan melarikan diri jika dimintai pertanggungjawaban.
Artinya, dua kali Anda telah dibodohi oleh seorang orang yang dungu.
Inilah si dungu yang lebih dungu dari orang dungu.
Orang-orang bijak sejak dari zaman nenek moyang kita,
Bertumpu diatas pikiran dan daya nalar pertimbangannya sendiri,
Bukan mengandalkan apa yang dikatakan oleh orang lain yang belum tentu memiliki motif yang baik terhadap diri kita.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

A Prayer

No one else finches are able to sing beautifully,
When himself imprisoned in a cage.
There is no plant can grow optimally,
When he did not get a touch of sunshine.
Everyone has the right to live freely and find their own happiness.
Even a pigeon would want to be happy and free life.
When you open the cage door, which locked him,
Then he would not think twice to immediately fly liberate himself.
The same,
If we want to live happily,
We must let it free,
Freeing people we love,
And free those who we hate.
As well as,
If we want someone to live happily,
We have to let those we love, to live free,
Free to determine and shape their own futures,
Seek and find their own joys and sorrows.
Is a form of selfishness,
If we want a happy life,
By way snatched the happiness of others.
Is that so difficult it was for us, to behave responsibly,
We should not sacrifice the happiness and the rights of others in the pursuit of our own happiness.
We are never entitled to harm or hurt others.
Indifference attitudes,
The unresponsible attitudes,
Selfish attitude,
The attitude felt have a monopoly of the truth,
The attitudes that do not empathize,
The attitude that just want to be understood without ever going to understand others,
The attitude that always talk without willing to listen,
Being greedy,
Dishonest attitude,
Manipulative attitude,
Arbitrary attitude,
Cunning and petty attitude,
And attitudes that abuse of power, oppress the weaker.
Try us begin to want to understand the conditions and feelings of others that we treat arbitrarily.
Every human being can be hurt and feel pain,
Everyone can feel disappointed and sad,
Also can cry,
Everyone also wants to be happy and appreciated,
Not just you.
Other people can be injured and bleeding,
As well as yourself,
So why do we still hurt others if we ourselves do not want to get hurt?
You are not a god of a higher degree than any human.
Even a deity never entitled to sacrifice a human life.
You no more special than any human being just because you were born with a condition that is more fortunate than others.
Let us not mock others as themselves are puppets whom are unable feeling and expecting.
Stop hurting others,
Do not let us be reborn in the lower realms because be cursed by those we have offended.
You hurt someone,
Then you will get a prayer,
Prayer which expecting for you to go to hell.

© HERY SHIETRA Copyright.

Tidak ada seekor pun burung kutilang yang mampu bernyanyi dengan indah,
Ketika dirinya terpenjara dalam sangkar.
Tiada tumbuhan yang mampu tumbuh secara optimal,
Ketika dirinya tidak mendapat sentuhan sinar matahari.
Semua orang berhak hidup bebas dan mencari kebahagiaannya sendiri.
Bahkan seekor burung pipit pun ingin bergembira dan hidup bebas.
Bila kau buka pintu sangkar yang mengurung dirinya,
Maka ia tidak akan berpikir dua kali untuk segera terbang membebaskan dirinya.
Sama juga,
Bila kita ingin hidup bahagia,
Kita harus membiarkan bebas,
Membebaskan orang-orang yang kita kasihi,
Dan membebaskan orang-orang yang kita benci.
Sama halnya,
Bila kita ingin seseorang hidup bahagia,
Kita harus merelakan orang yang kita cintai itu untuk hidup bebas,
Bebas menentukan dan membentuk masa depannya sendiri,
Mencari dan menemukan suka dan dukanya sendiri.
Adalah bentuk keegoisan,
Bila kita menghendaki hidup bahagia,
Dengan cara merenggut kebahagiaan pihak lain.
Apakah demikian sukarnya bagi kita untuk bersikap penuh tanggung jawab,
Hendaknya kita tidak mengorbankan kebahagiaan dan hak orang lain demi mengejar kebahagiaan kita sendiri.
Kita tidak pernah berhak untuk merugikan atau menyakiti orang lain.
Sikap masak bodoh,
Sikap-sikap tidak bertanggung jawab,
Sikap mau menang sendiri,
Sikap merasa memiliki monopoli akan kebenaran,
Sikap yang tidak berempati,
Sikap yang hanya mau dipahami tanpa pernah mau memahami orang lain,
Sikap yang selalu berbicara tanpa mau mendengar,
Sikap tamak,
Sikap tidak jujur,
Sikap manipulatif,
Sikap sewenang-wenang,
Sikap licik dan picik,
Maupun sikap-sikap yang menyalahgunakan kekuasaan, menindas yang lebih lemah.
Cobalah kita mulai untuk mau memahami kondisi dan perasaan orang lain yang kita perlakukan secara sewenang-wenang.
Setiap manusia dapat terluka dan merasa sakit,
Setiap orang dapat merasakan kecewa dan sedih,
Juga dapat menangis,
Setiap orang juga ingin berbahagia dan dihargai,
Bukan hanya Anda.
Orang lain dapat terluka dan berdarah,
Seperti juga diri Anda,
Jadi mengapa kita masih melukai orang lain bila kita sendiri tidak mau terluka?
Anda bukanlah seorang dewa yang lebih tinggi derajatnya dari manusia manapun.
Bahkan seorang dewa pun tak pernah berhak untuk mengorbankan hidup seorang manusia.
Anda tidak lebih istimewa dari manusia manapun hanya karena Anda terlahir dengan kondisi yang lebih beruntung dari orang-orang lainnya.
Janganlah kita mempermainkan orang lain seakan diri mereka adalah boneka yang tidak mampu merasa dan mengharap.
Berhentilah menyakiti orang lain,
Jangan sampai kita terlahir kembali di alam rendah karena disumpahi orang-orang yang telah kita sakiti.
Kau sakiti seseorang,
Maka kau akan mendapat sebuah doa,
Doa yang mengharap agar kau masuk neraka.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.