Indonesia Tidak Pernah Kekurangan “Agamais”, namun Tengoklah Watak Perilaku Bangsanya yang Apapun Dikorupsi, termasuk Mengorupsi Dosa (KORUPTOR DOSA)
Question: Banyak kita jumpai fenomena sosial, seperti aparatur yang diliput media pers lalu merampas alat-alat peliputan mereka, pejabat yang marah ketika perbuatan korupnya direkam, aksi “lempar batu sembunyi tangan”, lebih galak pelaku daripada korbannya, maling teriak maling, praktek penyelundupan hukum seperti nominee, merampas hak pejalan kaki dengan berkendara melawan arus seolah hal yang lumrah, kejahatan yang terselubung dan tersembunyi, memberikan keterangan palsu atau berdusta di persidangan, aksi tabrak (lalu) lari, korupsi berjemaah yang antar pelakunya saling melindungi (semangat korps), seolah ada yang benar-benar dapat dicurangi dalam kehidupan ini. Bukankah di negara bernama Indonesia ini, tidak pernah kekurangan pejabat ataupun warga yang “agamais” dan mengaku ber-Tuhan?
Brief Answer: Itu karena moralitas, tidak dijadikan sebagai “otoritas
tertinggi” di benak bangsa di republik bernama Indonesia ini. Ketika sebuah “Agama
DOSA” mengajarkan ideologi KORUP bernama “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN
DOSA”, maka otoritas tertingginya ialah bukan lagi moralitas diri, namun KETIDAK-ADILAN
itu sendiri, yakni menjelma “KORUPTOR DOSA”. Sebaliknya, mereka yang menjadikan
moralitas diri sebagai otoritas, tidak akan berupaya untuk menutupi perbuatan
buruknya, tidak akan bersembunyi, dan siap berani untuk bertanggung-jawab serta
menghadapi konsekuensi dibaliknya.
PEMBAHASAN:
Agama samawi-abrahamik bertopang pada ibadah semata berupa
ritual, merugikan korban (lewat dogma “pengampunan / penghapusan / penebusan
dosa” (abolition of sins) dimana dosa-dosa pun telah ternyata dikorupsi
(bangsa pengecut), dan praktek mengorbankan (menumbalkan anak kandung sendiri
agar bisa masuk surga, maupun menumpahkan darah hewan yang disembelih mengatas-namakan
ibadah), praktek mana telah ditolak tegas dalam Buddhisme yang lebih menekankan
pada penaklukkan internal diri sendiri sebagaimana khotbah Sang Buddha
dalam “Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
40 (10) Otoritas
“Para bhikkhu, ada tiga otoritas ini. Apakah tiga ini? Diri sendiri
sebagai otoritas seseorang, dunia sebagai otoritas seseorang, dan Dhamma sebagai otoritas
seseorang.
[Kitab Komentar : Dalam Pāli: attādhipateyyaṃ lokādhipateyyaṃ dhammādhipateyyaṃ. Walaupun Bucknell (2004) tidak mencantumkan paralel China dari sutta
ini dalam daftar, tetapi kita dapat menemukan sebuah paralel yang terdapat
dalam *Śāriputrābhidharmaśāstra, pada T XXVIII 679c22-680a27. Walaupun bagian
prosa di sana lebih sederhana daripada yang terdapat dalam Pāli, namun keduanya
pada intinya menyampaikan makna yang sama. Syair-syairnya, dengan pengecualian
syair terakhir, bersesuaian sangat erat.]
(1) “Dan apakah, para bhikkhu, diri sendiri sebagai otoritas seseorang? Di sini, setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon,
atau ke gubuk kosong, seorang bhikkhu merefleksikan: ‘Aku tidak meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah demi
jubah, makanan, atau tempat tinggal, atau demi menjadi ini atau itu, melainkan
[dengan pikiran]: “Aku tenggelam dalam kelahiran, penuaan, dan kematian; dalam
dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan. Aku tenggelam dalam
penderitaan, didera oleh penderitaan. Mungkin akhir dari keseluruhan kumpulan
penderitaan ini dapat terlihat.”
{Kitab Komentar : Na itibhavābhavahetu. Penerjemah
lain menganggap bahwa vokal panjang yang menghubungkan kedua kata bhava
sebagai menyiratkan pengulangan, bukan negasi: “Bukan demi penjelmaan yang
makmur di masa depan ini atau itu, [dengan harapan]: ‘[Semoga aku mendapatkan]
penjelmaan ini [atau] penjelmaan itu’” (iti bhavo, iti
bhavo ti evaṃ āyatiṃ na tassa tassa sampattibhavassa hetu).]
[148] Sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan
rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, tidaklah selayaknya bagiku untuk
mencari kenikmatan-kenikmatan indria yang serupa atau lebih buruk dari apa yang
telah kutinggalkan.’ Kemudian ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Kegigihan harus
dibangkitkan dalam diriku tanpa mengendur; perhatian harus ditegakkan tanpa
kacau; tubuhku harus tenang tanpa gangguan; pikiranku harus dikonsentrasikan
dan terpusat.’ Setelah menjadikan dirinya sendiri sebagai otoritasnya, ia
meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat;
ia meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tidak tercela; ia
mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut diri sendiri sebagai
otoritas.
(2) “Dan apakah, para bhikkhu, dunia sebagai otoritas seseorang? Di sini, setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon,
atau ke gubuk kosong, seorang bhikkhu merefleksikan: ‘Aku tidak meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah demi jubah
… melainkan [dengan pikiran]: “Aku terbenam dalam kelahiran, penuaan, dan
kematian … Mungkin akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini dapat
terlihat.”
Sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah, aku mungkin memikirkan pikiran-pikiran
indriawi, pikiran-pikiran berniat buruk, atau pikiran-pikiran mencelakai.
Tetapi bidang dunia ini sangat luas. Dalam luasnya dunia ini terdapat para
petapa dan brahmana yang memiliki kekuatan batin dan mata dewa yang mengetahui
pikiran makhluk-makhluk lain. Mereka melihat benda-benda yang jauh tetapi
mereka sendiri tidak terlihat bahkan ketika mereka berada cukup dekat; mereka
mengetahui pikiran [makhluk-makhluk lain] dengan pikiran mereka sendiri.
Mereka akan mengetahuiku sebagai berikut: “Lihatlah orang ini: walaupun
ia telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah, namun ia ternoda oleh kondisi-kondisi buruk yang tidak
bermanfaat.” Juga ada para dewa dengan kekuatan batin dan mata dewa yang
mengetahui pikiran makhluk-makhluk lain. Mereka melihat benda-benda yang jauh
tetapi mereka sendiri tidak terlihat bahkan ketika mereka berada cukup dekat;
mereka mengetahui pikiran [makhluk-makhluk lain] dengan pikiran mereka sendiri.
Mereka juga akan mengetahuiku sebagai berikut: “Lihatlah orang ini: walaupun ia
telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah, namun ia ternoda oleh kondisi-kondisi buruk yang tidak
bermanfaat.”’
Kemudian ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Kegigihan harus
dibangkitkan dalam diriku [149] tanpa mengendur; perhatian harus ditegakkan
tanpa kacau; tubuhku harus tenang tanpa gangguan; pikiranku harus
dikonsentrasikan dan terpusat.’ Setelah menjadikan dunia sebagai otoritasnya,
ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang
bermanfaat; ia meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tidak
tercela; ia mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut dunia
sebagai otoritas.
(3) “Dan apakah, para bhikkhu, Dhamma sebagai otoritas seseorang? Di sini, setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon,
atau ke gubuk kosong, seorang bhikkhu merefleksikan: ‘Aku tidak meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah demi jubah
… melainkan [dengan pikiran]: “Aku terbenam dalam kelahiran, penuaan, dan
kematian … Mungkin akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini dapat
terlihat.” Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā, terlihat
langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat
diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana. Ada
sahabat-sahabatku para bhikkhu yang mengetahui dan melihat. Sebagai seorang
yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan disiplin yang telah dibabarkan dengan
sempurna ini, adalah tidak selayaknya bagiku untuk bermalas-malasan dan
lalai.’
Kemudian ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Kegigihan harus
dibangkitkan dalam diriku tanpa mengendur; perhatian harus ditegakkan tanpa
kacau; tubuhku harus tenang tanpa gangguan; pikiranku harus dikonsentrasikan
dan terpusat.’ Setelah menjadikan Dhamma sebagai otoritasnya, ia meninggalkan apa
yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat; ia meninggalkan
apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tidak tercela; ia mempertahankan
dirinya dalam kemurnian. Ini disebut Dhamma sebagai otoritas.
“Ini, para bhikkhu, adalah tiga otoritas.”
Bagi
seorang yang melakukan perbuatan jahat
tidak
ada tempat yang dikatakan “tersembunyi.”
Diri
di dalammu sendiri mengetahui, O manusia,
apakah
itu benar atau salah.
[Kitab Komentar : Attā te purisa jānāti saccaṃ vā yadi vā musā. Penerjemah lain menerjemahkannya sebagai : “Engkau sendiri yang
mengetahui, apa pun yang engkau lakukan, apakah bersifat ini atau itu. Karena
alasan ini, harus dimengerti bahwa, bagi seorang yang melakukan perbuatan
jahat, maka tidak ada tempat di dunia ini yang dapat disebut ‘tersembunyi.’”]
Sesungguhnya,
Tuan, engkau adalah saksi
meremehkan
dirimu yang baik;
engkau
menyembunyikan dirimu yang jahat
yang
terdapat di dalam dirimu sendiri. [150]
[Kitab Komentar : Seorang yang mengatakan ‘ini tidak
salah’ adalah lebih baik, karena dengan begitu ia tidak merusak dirinya
sendiri. Jika suatu pelanggaran terjadi dan ia mengetahuinya, jangan
menyembunyikannya.]
Para
deva dan Tathāgata melihat si dungu
berbuat
tidak baik di dunia.
Oleh
karena itu seseorang harus mengembara dengan penuh perhatian,
menjadikan
diri sendiri sebagai otoritas;
awas
dan meditatif, menjadikan dunia sebagai otoritas;
dan
mengembara sesuai Dhamma,
dengan
menjadikan Dhamma sebagai otoritas.
Sungguh-sungguh
mengerahkan dirinya, seorang bijaksana
tidak
akan mundur.
Setelah
menaklukkan Māra
dan
mengatasi pembuat-akhir,
sang
pejuang telah menyelesaikan kelahiran.
Seorang petapa demikian, bijaksana, seorang pengenal dunia,
tidak mengidentifikasikan sebagai apa pun sama sekali.
[Kitab Komentar : Setelah melenyapkan dan
meninggalkan keenam organ indria, ia mengakhiri penderitaan dan tidak mengambil
penjelmaan [lainnya]. Setelah meninggal dunia, ia tidak kembali, karena
selamanya terbebaskan dari kelahiran dan kematian.]
~0~
59 (9) Jāṇussoṇī
Brahmana Jāṇussoṇī mendatangi Sang Bhagavā … dan berkata kepada
Beliau:
“Guru Gotama, siapa pun yang melakukan pengorbanan, persembahan makanan
sebagai peringatan, suatu persembahan makanan, atau sesuatu yang akan diberikan
harus memberikan pemberian itu kepada para brahmana yang adalah pemilik tiga
pengetahuan.”
[Kitab Komentar : Yañña adalah “sesuatu untuk
diberikan” (deyyadhamma; walaupun ini telah tercakup oleh poin ke
empat); saddha (Sansekerta : śrāddha), “makanan untuk mengenang
yang mati” (matakabhattaṃ); thālipāka, “makanan untuk diberikan kepada
orang-orang baik” (varapurisānaṃ dātabbayuttaṃ bhattaṃ, tetapi menurut terjemahan lain sthālī, sthālīpāka secara lebih
spesifik adalah sepiring bubur barley atau nasi yang dimasak dengan susu yang
dipersembahkan sebagai suatu persembahan); dan deyyadhamma, “apa pun
lainnya yang dapat diberikan.”]
[Sang Bhagavā berkata:] “Tetapi bagaimanakah, brahmana, para brahmana
menggambarkan seorang brahmana yang adalah pemilik tiga pengetahuan?”
“Di sini, Guru Gotama, seorang brahmana terlahir baik pada kedua pihak
ibunya dan ayahnya … [seperti dalam 3:58] … dan [mahir] dalam tanda-tanda
manusia luar biasa. Adalah dalam cara ini para brahmana itu menggambarkan
seorang brahmana yang adalah seorang pemilik tiga pengetahuan.”
“Brahmana, seorang pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia
sangat berbeda dengan seorang brahmana yang adalah seorang pemilik tiga
pengetahuan seperti yang digambarkan oleh para brahmana.”
“Tetapi dalam cara bagaimanakah, Guru Gotama, seorang pemilik tiga
pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia? Baik sekali jika Guru Gotama sudi
mengajarkan Dhamma kepadaku yang menjelaskan bagaimana seseorang adalah seorang
pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia.”
“Baiklah, Brahmana, dengarkan dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”
“Baik, Tuan,” Brahmana Jāṇussoṇī menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut: “Di sini, Brahmana, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan
indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk
dan berdiam dalam jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang
muncul dari keterasingan, yang disertai oleh pemikiran dan pemeriksaan. Dengan
meredanya pemikiran dan pemeriksaan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua,
yang memiliki ketenangan internal dan keterpusatan pikiran, dengan sukacita
dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, tanpa pemikiran dan
pemeriksaan. Dengan memudarnya sukacita, ia berdiam seimbang dan, penuh
perhatian dan memahami dengan jernih, ia mengalami kenikmatan pada jasmani; ia
masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang dinyatakan oleh para mulia: ‘Ia
seimbang, penuh perhatian, seorang yang berdiam dengan bahagia.’ Dengan
meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas
kegembiraan dan kesedihan, [164] ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat,
yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan, dengan pemurnian perhatian
melalui keseimbangan.
(1) “Ketika pikirannya
terkonsentrasi demikian, murni, bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran,
lunak, lentur, kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada
pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat banyak kehidupan
lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran,
lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran,
empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu
kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penghancuran dunia, banyak
kappa pengembangan dunia, banyak kappa penghancuran dunia dan pengembangan
dunia, sebagai berikut: ‘Di sana aku bernama ini, dari suku ini, dengan
penampilan begini, makananku seperti ini, pengalaman kenikmatan dan kesakitanku
seperti ini, umur kehidupanku selama ini; meninggal dunia dari sana, aku
terlahir kembali di tempat lain, dan di sana aku bernama itu, dari suku itu,
dengan penampilan begitu, makananku seperti itu, pengalaman kenikmatan dan
kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; meninggal dunia dari
sana, aku terlahir kembali di sini.’ Demikianlah ia mengingat banyak
kehidupan lampaunya dengan aspek-aspek dan rinciannya.
“Ini adalah pengetahuan sejati
pertama yang dicapai olehnya. Ketidak-tahuan disingkirkan, pengetahuan sejati
muncul; kegelapan disingkirkan, cahaya muncul, seperti yang terjadi ketika
seseorang berdiam dengan penuh kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh.
(2) “Ketika pikirannya
terkonsentrasi demikian, murni, bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran,
lunak, lentur, kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada
pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk. Dengan mata
dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal
dunia dan terlahir kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan
miskin, dan ia memahami bagaimana makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma
mereka sebagai berikut: ‘Makhluk-makhluk
ini yang terlibat dalam perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran,
yang mencela para mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan kamma yang
berdasarkan pada pandangan salah, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian,
telah terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam
rendah, di neraka; tetapi makhluk-makhluk ini yang terlibat dalam perbuatan
baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, yang tidak mencela para mulia, yang
menganut pandangan [165] benar, dan melakukan kamma yang berdasarkan pada
pandangan benar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, telah terlahir
kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga.’ Demikianlah dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia
melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali, hina dan mulia,
cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan ia memahami bagaimana
makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka.
“Ini adalah pengetahuan sejati
ke dua yang dicapai olehnya. Ketidak-tahuan disingkirkan, pengetahuan sejati
muncul; kegelapan disingkirkan, cahaya muncul, seperti yang terjadi ketika
seseorang berdiam dengan penuh kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh.
(3) “Ketika pikirannya
terkonsentrasi demikian, murni, bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran,
lunak, lentur, kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada
pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’
“Ketika ia mengetahui dan
melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda indriawi, dari noda
penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan muncullah
pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan,
kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan,
tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’
“Ini adalah pengetahuan sejati ke tiga yang dicapai olehnya.
Ketidak-tahuan disingkirkan, pengetahuan sejati muncul; kegelapan disingkirkan,
cahaya muncul, seperti yang terjadi ketika seseorang berdiam dengan penuh
kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh.
“Seseorang yang sempurna dalam moralitas dan pelaksanaan,
yang bersungguh-sungguh dan tenang,
yang pikirannya telah dikuasai,
terpusat dan terkonsentrasi baik;
“Seorang
yang mengetahui kehidupan-kehidupan lampaunya,
yang
melihat alam surga dan alam sengsara,
dan
telah mencapai hancurnya kelahiran
adalah
seorang bijaksana yang sempurna dalam
pengetahuan
langsung. [168]
“Melalui ketiga jenis pengetahuan ini
seseorang menjadi seorang brahmana dengan tiga pengetahuan.
Aku menyebutnya seorang pemilik tiga pengetahuan,
bukan
orang lain yang mengucapkan mantra-mantra.
“Dengan cara inilah, Brahmana, bahwa seseorang adalah pemilik tiga
pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia.”
“Guru Gotama, seorang pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia
sangat berbeda dengan seorang pemilik tiga pengetahuan menurut para brahmana.
Dan seorang pemilik tiga pengetahuan menurut para brahmana tidak bernilai seperenambelas
bagian dari pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia.
“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah
menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik,
mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang
tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang
berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada
Guru Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat
awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”
Babi, disebut “halal”. Namun, ideologi KORUP
semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” diklaim sebagai “halal lifestyle”,
sekalipun hanya seorang PENDOSA yang butuh “PENGHAPUSAN DOSA”. Terhadap dosa
dan maksiat, demikian kompromistik. Akan tetapi, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Sang Buddha pernah bersabda : Apa yang dipandang
sebagai kenikmatan di mata orang-orang yang pandangannya masih ditutupi oleh
kekotoran batin, adalah dukkha di mata seorang Buddha. Adalah “Agama DOSA yang
bersumber dari Kitab DOSA”, yang mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih mengkampanyekan
gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat. Mereka bahkan tidak mampu
memahami, bahwa lawan kata dari “PENGAMPUNAN DOSA” ialah “siap-membayar dan berani
menghadapi konsekuensi dibaliknya” alias “BERTANGGUNG-JAWAB”.
“AURAT TERBESAR”, ialah “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK
DIHAPUSKAN”, akan tetapi dipertontonkan secara vulgar lewat speaker pengeras
suara. Antara “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN DOSA”, ialah saling
bundling ibarat sikat gigi dan pasta gigi. Pendosa namun hendak menjadi “polisi
moral” yang menghakimi kaum lainnya serta berceramah perihal akhlak, hidup
jujur, adil, mulia, luhur, baik, benar, serta lurus? Itu ibarat orang BUTA yang
hendak menuntun kalangan BUTAWAN lainnya, dimana neraka pun diyakini sebagai
surga dan berbondong-bondong mereka terperosok menuju jurang nista tersebut
dengan rasa bangga dan berdelusi sebagai kaum superior (sekalipun sejatinya “pengecut”)—kesemua
ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari
Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[HR Bukhari Muslim]
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar
gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi
menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga
berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]