Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS

A Myth about the Future Story, the Extinction of Mankind

Is not it really amazing,
The world is able to accommodate various oceans and mountains.
Is not it really amazing,
The world is able to withstand the weight of climate change and extreme ecosystem changes for billions of years.
Is not it really a miracle,
This world persists in the midst of earthquakes and rainstorms.
Is not it really a good news,
The world remains upright against the evolution of Earth's formation process.
Is not it really a long natural selection of nature,
This world has evolved in such a way as the heritage of the natural culture.
Is not it really great splendor,
The world is able to accommodate billions of people for billions of years.
But who really appreciates the beauty and sustainability of nature in this world?
When our ancestors properly guarded the condition of this earth when it was inherited to us,
We precisely by being greedy damaging and destroying the civilization of the world,
Through dredging,
Exploitation,
Blasting,
Pollution,
Deforestation,
Commercialization of springs,
Holes the ozone layer,
Without a single one we will reserve to be preserved when we will pass this world on for future generations.
Suction, suction, and suction,
Minerals conflict,
Coal,
Gold,
Petroleum and palm oil,
Housing,
Even the peatlands which are the history museum of the formation of the earth,
Destroyed in the blink of an eye,
Leaving damage and excavation pits,
That can never be recovered.
Start missing the spring,
Because humans are so stupid as to damage their own ecosystems.
Starting global warming,
Because humans are so crazy, that it threatens the lives of the people of the world itself through human activities that are not environmentally friendly.
Starting extinction of various animals and habitats of plants,
Because humans are so greedy to spoil whatever they encounter.
Even a tiger,
Will not go back to pounce on prey,
When he has been full.
While,
Humans never know the word satisfied,
Keep destroying, digging, and sucking.
Whether for what it's all going to happen,
And whatever he will inherit for the next generation,
In addition to the sins of the past.
What history will be made and recorded by mankind today,
In addition to the humiliating history as a human being known as the destructive carrying capacity of Earth's ecosystems.
Is that how humans thank the nature that has given him energy and food?
The world is always large enough to accommodate the human and the inhabitants of the Earth,
But this world will not be enough to accommodate the greed of a human being.
Really,
This is not a myth about the future.
The damage and threat of extinction of the human species will already be in front of the eye,
When there is no longer a living plant,
At that time, no more animals will survive.
And when the time comes,
Our children and grandchildren will be dying,
Died slowly.
Is that what we really want?
How cruel you are,
O people!
Perhaps, this world must first destroy the human race,
Before humankind with certainty and with greed destroys the world.
Do you realize,
That the world is also capable of moaning pain when injured?

© HERY SHIETRA Copyright.

Bukankah sungguh luar biasa,
Dunia ini mampu menampung berbagai samudera maupun pegunungan.
Bukankah sungguh mengagumkan,
Dunia ini mampu menahan bobot perubahan iklim dan perubahan ekosistem yang demikian ekstrim selama bermiliaran tahun lamanya.
Bukankah sungguh suatu keajaiban,
Dunia ini tetap bertahan ditengah gempa bumi maupun hujan badai.
Bukankah sungguh suatu kabar baik tersendiri,
Dunia ini tetap tegak menghadapi evolusi proses pembentukan Bumi.
Bukankah sungguh sebentuk seleksi alam yang panjang lamanya,
Dunia ini telah berevolusi sedemikian rupa sebagai warisan dari budaya alam.
Bukankah sungguh kemegahan yang luar biasa,
Dunia ini mampu menampung miliaran manusia selama miliaran tahun lamanya.
Namun siapa yang betul-betul menghargai keindahan dan kelestarian alam yang ada di dunia ini?
Ketika para leluhur kita menjaga dengan baik kondisi bumi ini ketika diwariskan kepada kita,
Kita justru dengan sikap tamak merusak dan menghancurkan peradaban dunia,
Lewat pengerukan,
Eksploitasi,
Peledakan,
Pencemaran,
Penebangan hutan,
Komersialisasi sumber mata air,
Melubangi lapisan ozon,
Tanpa satupun kita sisakan untuk dilestarikan ketika kita akan mewariskan dunia ini bagi generasi penerus di masa mendatang.
Hisap, hisap, dan hisap,
Mineral konflik,
Batu bara,
Emas,
Minyak bumi dan kelapa sawit,
Perumahan,
Bahkan lahan gambut yang merupakan museum sejarah pembentukan bumi,
Dihancurkan dalam sekejap mata,
Menyisakan kerusakan dan lubang-lubang bekas penggalian,
Yang tidak akan pernah dapat kembali terpulihkan.
Mulai hilang sumber mata air,
Karena manusia demikian bodohnya merusak ekosistem tempat tinggalnya sendiri.
Mulai terjadi pemanasan global,
Karena manusia demikian gilanya, sehingga mengancam kehidupan penduduk dunia itu sendiri lewat aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan.
Mulai terjadi kepunahan berbagai satwa dan habitat tumbuhan,
Karena manusia demikian rakusnya merusak apapun yang mereka jumpai.
Seekor harimau sekalipun,
Tidak akan kembali menerkam mangsa,
Ketika dirinya telah kenyang.
Sementara,
Manusia tidak pernah mengenal kata puas,
Terus merusak, menggali, dan menghisap.
Entah demi apa semua itu,
Dan entah apa yang akan ia wariskan bagi generasi penerus,
Selain dosa-dosa masa lalu.
Sejarah apa yang hendak dibuat dan dicatatkan oleh umat manusia saat kini,
Selain sejarah memalukan sebagai manusia yang dikenal sebagai perusak daya dukung ekosistem Bumi.
Begitukah cara manusia berterima kasih pada alam yang telah memberinya energi serta makanan?
Dunia ini selalu cukup luas untuk menampung manusia dan penduduk Bumi yang ada,
Akan tetapi Dunia ini tidak akan cukup muat untuk mengakomodir ketamakan seorang manusia sekalipun.
Sungguh,
Ini bukanlah sebuah mitos tentang masa yang akan datang.
Kerusakan dan ancaman kepunahan spesies manusia sudah akan didepan mata,
Ketika tiada lagi tumbuhan yang mampu hidup,
Ketika itulah, tiada lagi satwa yang akan mampu bertahan hidup.
Dan ketika saatnya tiba,
Anak dan cucu kita akan sekarat,
Mati secara perlahan-lahan.
Itukah yang benar-benar kita kehendaki?
Betapa kejamnya Anda,
Wahai manusia!
Mungkin, dunia ini yang harus terlebih dahulu memusnahkan umat manusia,
Sebelum umat manusia dengan pasti dan dengan tamaknya meluluhlantakkan dunia ini.
Apakah engkau menyadari,
Bahwa dunia ini juga mampu merintih kesakitan ketika terluka?


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Deceive and Lie to Yourself is Not a Self Consolation

If we have the habit of too quickly to conclude everything,
Then it is not an accident,
But an attitude and the nature of carelessness.
When we fill our minds with garbage,
Then the color of our mind and character will be rotten.
Just like when we put rubbish into our mouths and stomachs,
Which though feels good,
But consequently our bodies will be poisoned and fell ill.
A person is neither a pure human nor a rotten human being,
Due to his / her birth,
But because of his deeds and his behavior during his life.
No one can choose to be born in the womb of whom and in which country,
As a man or as a woman,
As a white or black person.
If indeed God exists in this world,
Then the presence or absence of God,
The wicked are still bad people.
There is someone who is evil,
Thus, the creator of the human being, is equally evil,
Evil for creating evil people,
And evil for letting bad people roam the world.
The presence or absence of God,
Good people are still good people who never hurt other living beings,
Although he does not acknowledge the existence of God,
But his good behavior has by itself glorified God.
His existence becomes a blessing and a lamp for the universe and humanitarian civilization.
When God dropped a disaster and a catastrophe for humans on Earth,
It is not God who then extends help to those who suffer,
Because God could not help,
But at the same time harming humans.
It is a human being who needs to support one another and help one another.
Humans need to watch each other,
Because God always neglects to protect people who really need help.
When God had been asleep,
So mankind must always open the eyes,
Be wary of any uncertainty in life,
Like a gamble with fate,
No one knows what madness will happen tomorrow,
Just like being played by life,
Just to survive the valley of adversity.
Some humans choose to give in to assumptions,
Bahwa Tuhan sedang memberi cobaan,
Sementara mereka yang lebih memilih untuk berdaya,
Menyadari ketidakmampuan Tuhan,
Yang justru terus mencobai manusia sepanjang sejarah kelahiran manusia sejak miliaran tahun lampau lamanya.
Selalu terdapat perbedaan antara menipu diri dengan menghibur diri.

© HERY SHIETRA Copyright.

Bila kita memiliki kebiasaan untuk dengan terlampau cepat menyimpulkan segala sesuatunya,
Maka itu bukanlah suatu kecelakaan,
Namun sebuah sikap dan sifat kecerobohan diri.
Ketika kita mengisi pikiran kita dengan sampah,
Maka warna pikiran dan corak karakter kita akan menjadi busuk.
Sama seperti ketika kita memasukkan sampah ke dalam mulut dan perut kita,
Yang meski terasa menyenangkan,
Namun akibatnya tubuh kita akan keracunan dan jatuh sakit.
Seseorang bukan menjadi manusia yang suci ataupun menjadi manusia yang busuk,
Karena disebabkan oleh kelahirannya,
Namun karena perbuatan dan perilakunya selama hidup.
Tidak ada seorang pun yang mampu memilih untuk terlahir di dalam rahim siapa dan di negara mana,
Sebagai pria ataupun sebagai wanita,
Sebagai seseorang berkulit putih ataupun berkulit hitam.
Bila memang Tuhan itu ada di dunia ini,
Maka ada atau tidak adanya Tuhan,
Orang jahat tetaplah orang jahat.
Ada seseorang yang jahat,
Maka berarti pencipta manusia tersebut juga sama jahatnya,
Jahat karena menciptakan orang jahat,
Dan jahat karena membiarkan orang jahat berkeliaran di dunia ini.
Ada atau tidaknya Tuhan,
Orang baik tetaplah orang baik yang tidak pernah menyakiti makhluk hidup lainnya,
Sekalipun dirinya tidak mengakui eksistensi Tuhan,
Namun perilakunya yang baik telah dengan sendirinya memuliakan Tuhan.
Keberadaannya menjadi berkah dan pelita bagi semesta dan peradaban kemanusiaan.
Ketika Tuhan menjatuhkan bencana dan petaka bagi manusia di Bumi,
Bukanlah Tuhan yang kemudian mengulurkan bantuan bagi para manusia yang mengalami derita,
Karena Tuhan tidak mungkin menolong,
Namun disaat bersamaan mencelakai manusia.
Justru adalah sesama manusia yang perlu saling berjuang dan saling menolong satu sama lain.
Manusia perlu saling berjaga,
Karena Tuhan selalu lalai untuk melindungi manusia yang sedang benar-benar membutuhkan pertolongan.
Ketika Tuhan selama ini tertidur,
Maka umat manusia harus senantiasa membuka mata,
Waspada terhadap setiap ketidakpastian dalam hidup,
Bagaikan berjudi dengan nasib,
Tidak ada yang tahu kegilaan apa yang akan terjadi esok hari,
Bagaikan dipermainkan oleh kehidupan,
Sekadar bertahan dari lembah keterpurukan.
Sebagian manusia memilih untuk menyerah pada asumsi,
Bahwa Tuhan sedang memberi cobaan,
Sementara mereka yang lebih memilih untuk berdaya,
Menyadari ketidakmampuan Tuhan,
Yang justru terus mencobai manusia sepanjang sejarah kelahiran manusia sejak miliaran tahun lampau lamanya.
Selalu terdapat perbedaan antara menipu diri dengan menghibur diri.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Misled by the Assumption of a Perception That is Not Necessarily True

Someone may talk, while smiling,
It was as if he was happy or his mood was good.
But perhaps the feeling inside his soul and mind, is crying,
Or even his soul is injured and his heart is screaming full of unbearable anguish.
Who will know?
A person can also speak as she sobbed,
It was as if he was having a big problem that rocked his soul.
Invites sympathy from listeners.
However,
It may be hidden in the joy and contentment inside him,
By deceiving the people closest to him,
Through sell crying and tears.
Selling mercy,
Like a poor beggar.
A person may advise others with words of wisdom,
Made him look mature and full of wisdom.
Or maybe make himself appear to be a role model and a well-known figure, adored by many audiences.
However, who will know,
That all that, for him is only a mere entertainment stage,
Theater,
The stage of falsehood,
The stage of cheap intellectuals and hypocrisy.
Someone might argue that he loves and cares for you.
But who can know,
What is behind his heart?
Someone close to us,
Or even our own family,
It could be with without any guilt,
Stabbing us while we're sound asleep.
There have been many victims of such incidents,
Or maybe we are experiencing it now.
What is spoken from the tongue and mouth,
Not necessarily in line with the content of one's mind and inner intentions.
Animal characters,
Easy to guess,
Because the animals are not good at pretending to be happy or pretending to be angry.
A crocodile or tiger,
Though fierce,
But its predictable and anticipated behavior,
Because they do not recognize intrigue and deceit, like the way humans treat other humans.
The animals display mimic and natural response,
As it is.
On the contrary,
Someone who holds a grudge,
It may seem cheerful and full of hospitality.
But at the same time crave and desire the death of the person who hurt him.
A person's face may seem innocent and honest,
But who would have thought,
He would dare to commit evil deeds were very cruel and vile,
Without feeling,
Without guilt,
A psychopath,
Thirst for blood.
Someone may look stupid,
But more importantly,
Is his heart,
Honesty and character purity,
He is a gem only visible to the wise.
While the fools,
Seeing the outer packaging of other people's looks.
If you think and believe that you really know someone, whom you have known for decades,
So beware,
Because you can be wrong,
Misled by the assumption of a perception that is not necessarily true.

© HERY SHIETRA Copyright.

Seseorang bisa saja berbicara sambil tersenyum,
Seakan dirinya sedang gembira atau suasana hatinya sedang baik.
Namun mungkin saja perasaan di dalam jiwa dan pikirannya, sedang menangis,
Atau bahkan jiwanya sedang terluka dan hatinya menjerit penuh derita tidak tertahankan.
Siapa yang akan tahu?
Seseorang bisa juga berbicara sambil menangis tersedu-sedu,
Seakan dirinya sedang mengalami masalah besar yang mengguncang jiwanya.
Mengundang simpati dari para pendengarnya.
Namun,
Mungkin saja tersembunyi kegembiraan dan rasa puas di dalam dirinya,
Dengan mengelabui orang-orang terdekatnya,
Lewat menjual tangis dan air mata.
Mengobral belas kasihan,
Bagaikan seorang pengemis yang miskin perhatian.
Seseorang bisa saja menasehati orang lain dengan kata-kata penuh kebijaksanaan,
Membuat dirinya terkesan dewasa dan penuh kebijaksanaan.
Atau mungkin membuat dirinya tampak menjadi bintang panutan dan sekaligus tokoh terkenal yang dipuja banyak penonton.
Namun, siapa yang akan tahu,
Bahwa semua itu bagi dirinya hanya sebatas panggung hiburan,
Panggung sandiwara,
Panggung kepalsuan,
Panggung kegenitan intelektual dan kemunafikan.
Seseorang bisa saja menyatakan bahwa dirinya menyayangi dan mencintai dirimu.
Namun siapa yang dapat mengetahui,
Isi hati di dalamnya?
Seseorang yang dekat dengan kita,
Atau bahkan keluarga kita sendiri,
Bisa saja dengan tanpa rasa bersalah,
Menikam diri kita disaat kita tertidur lelap.
Sudah banyak korban dari kejadian semacam demikian,
Atau mungkin juga kita sedang mengalaminya saat kini.
Apa yang terucap dari lidah dan mulut,
Belum tentu sejalan dengan isi pikiran dan niat batin seseorang.
Karakter hewan,
Mudah ditebak,
Karena para hewan tidak pandai berpura-pura gembira atau berpura-pura marah.
Seekor buaya atau harimau,
Sekalipun tampak buas,
Namun mudah diprediksi dan diantisipasi perilakunya,
Karena mereka tidak mengenal intrik tipu daya seperti cara manusia memperlakukan para manusia lainnya.
Para hewan menampilkan mimik dan respon secara natural,
Apa adanya.
Sebaliknya,
Seseorang yang memendam dendam,
Bisa saja tampak ceria dan penuh keramahan.
Namun disaat bersamaan mendambakan dan menginginkan kematian orang yang telah menyakiti dirinya.
Wajah seseorang bisa saja tampak lugu dan polos,
Namun siapa yang akan menyangka,
Dirinya akan berani melakukan perbuatan jahat yang sangat kejam dan keji,
Tanpa perasaan,
Tanpa rasa bersalah,
Seorang psikopat,
Haus akan darah.
Seseorang boleh saja tampak bodoh,
Namun yang terlebih penting,
Ialah isi hatinya,
Kejujuran dan kemurnian karakter,
Ialah permata yang hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang bijaksana.
Sementara orang-orang dungu,
Melihat kemasan luar dari penampilan orang lain.
Bila kau berpikir dan berkeyakinan bahwa dirimu benar-benar telah mengenal seseorang, yang telah kau kenal selama puluhan tahun,
Maka waspadalah,
Karena engkau bisa saja keliru,
Terkecoh oleh asumsi dari persepsi yang belum tentu benar adanya.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.