Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS

A Noble Human Being

A human,
Determined from the ability or sensitivity to see life.
If we complain because we can only eat simple food,
At that moment we need to start learning to see reality,
And begin to realize,
That there are still many people who hunger and malnutrition is threatened of dying out there.
Understanding such a simple thing,
We will be ashamed of them and against the defilements of ourselves.
It is not a myth,
But it is really real, and try our occasional outdoors to see the outside world,
So many people starving and malnutrition.
Able to eat rice and soy sauce,
We should feel so lucky.
No more complaining or demanding from life.
There are mostly people who feel embarrassed in the social community,
Or even feel angry at his / her situation,
Just because it has an old-fashioned and unsophisticated mobile phone.
But there are still people out there,
Who have no mobile phone at all,
Even to buy food for his family,
They are already in difficulty of life.
It's really hard and tangled in debt, as a result of paying for the ill treatment that the family members have.
There is also someone,
Who, with his absurd lack of self-confidence,
Just because wearing the same clothes for a dozen years,
Has no choice of other clothes due to family economic constraints.
However,
If only we would reflect on the life of a prince named Sidharta Gaotama,
Who took off his royal robes,
Releasing the royal throne to be inherited,
Leaving all the luxuries of life,
Became a hermit in a forest that has nothing but a cloak, from a cloth wrapped in a dead body.
When attaining Arahatship,
The Buddha realizes the highest happiness,
Namely detachment.
We should feel ashamed of the Buddha.
There are also parents who just be selfish,
By sacrificing the life of his own son,
For the personal interest of the parents.
Just as a man promised to enter heaven by God,
On condition of following the Lord's command to kill his own son,
And with a selfish attitude,
For the promise of entering heaven,
He slaughtered his own son's neck.
Or a parent who uses the power of black magic,
Negotiate with the devil,
But by making his own son as a victim.
Should such parents feel embarrassed,
Because if unable to give happiness to a child,
So at least not harm his own son.
Many parents out there who sacrificed his own life for the sake of his son's survival,
Not the other way around, eating his own child's life.
Noble Man,
Characterized by a character who knows the shame to do evil.
The Buddha for that has said,
The so-called good deeds,
It means not to hurt others,
And also do not hurt ourselves.

© HERY SHIETRA Copyright.

Seorang manusia,
Ditentukan dari kemampuan atau daya kepekaannya melihat kehidupan.
Jika kita mengeluh karena hanya dapat memakan makanan yang sederhana,
Ketika itu juga kita perlu mulai belajar untuk melihat realita,
Dan mulai menyadari,
Bahwa masih banyak orang yang kelaparan dan kekurangan gizi sehingga terancam sekarat diluar sana.
Memahami hal sederhana demikian,
Kita akan menjadi malu terhadap mereka dan terhadap kekotoran batin diri kita sendiri.
Hal tersebut bukanlah mitos,
Namun benar-benar nyata dan cobalah untuk kita keluar melihat dunia luar,
Begitu banyak orang-orang kelaparan dan kekurangan gizi.
Mampu memakan nasi dan kecap saja,
Kita sudah semestinya merasa demikian beruntung.
Tidak lagi mengeluh ataupun banyak menuntut dari kehidupan.
Ada sebagian besar orang yang merasa malu dalam komunitas pergaulan,
Atau bahkan merasa marah kepada keadaan dirinya,
Hanya karena memiliki telepon genggam yang sudah kuno dan tidak canggih.
Namun masih ada orang diluar sana,
Yang sama sekali tidak memiliki telepon genggam,
Bahkan untuk membeli makanan untuk keluarganya pun,
Mereka sudah dalam taraf kesulitan hidup.
Benar-benar kesulitan dan terbelit banyak hutang karena membiayai pengobatan sakit langka yang dialami anggota keluarganya.
Ada pula seseorang,
Yang dengan konyolnya merasa tidak percaya diri,
Hanya karena memakai pakaian yang sama selama belasan tahun,
Tidak memiliki pilihan baju lainnya karena adanya kendala ekonomi keluarga.
Namun,
Bila saja kita mau bercermin dari kehidupan seorang pangeran bernama Sidharta Gaotama,
Yang menanggalkan pakaian kerajaannya,
Melepaskan tahta kerajaan yang akan diwarisinya,
Meninggalkan semua kemewahan hidup,
Menjadi seorang pertapa di hutan yang tidak memiliki apapun selain jubah dari kain bekas pembungkus mayat.
Ketika mencapai tingkat kesucian Arahat,
Sang Buddha merealisasi kebahagiaan tertinggi,
Yakni ketidakmelekatan.
Kita patut merasa malu pada Sang Buddha.
Ada pula orangtua yang justru bersikap egois,
Dengan menumbalkan hidup dan kehidupan anak kandungnya sendiri,
Demi kepentingan pribadi orangtua tersebut.
Bagaikan seseorang yang dijanjikan akan masuk surga oleh Tuhan,
Dengan syarat mengikuti perintah Tuhan untuk membunuh anaknya sendiri,
Dan dengan sikap egois,
Demi iming-iming janji masuk surga,
Ia menyembelih leher anaknya sendiri.
Atau orangtua yang dengan menggunakan kekuatan black magic,
Bernegosiasi dengan setan,
Namun dengan menjadikan anaknya sendiri sebagai korban.
Semestinya orangtua semacam itu merasa malu,
Karena bila tidak mampu memberi kebahagiaan pada seorang anak,
Maka setidaknya tidak mencelakai anaknya sendiri.
Banyak orangtua diluar sana yang justru mengorbankan hidupnya sendiri demi kelangsungan hidup anaknya,
Bukan sebaliknya, memakan hidup anaknya sendiri.
Manusia yang mulia,
Dicirikan oleh karakter yang mengenal rasa malu untuk berbuat jahat.
Sang Buddha untuk itu telah bersabda,
Yang disebut dengan perbuatan baik,
Artinya tidak menyakiti orang lain,
Dan juga tidak menyakiti diri kita sendiri.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Started to Build a Bridge of Hope

Injuring always easier,
It does not take long,
It only takes a few minutes or even seconds to injure yourself or others.
However,
Treating and recovering wounds,
Always more difficult.
It took years to treat the wound,
Physical injury or emotional wound.
It may also be permanently marked,
Or even will never heal until whenever, if the wound is so deadly.
Damaging and destroying is always easier,
It does not take much effort to break a bridge,
Even the bridge will collapse by itself as time passes.
Or it will break when crashed by waves or storms.
Building and caring is always more difficult,
It takes hard work and sacrifice time and attention to consider and do it.
It is not a little time to build a bridge.
A bridge will not appear to the earth itself without us trying to build it.
Spending wealth will always be an easier job,
Since it does not take any skill to waste wealth,
It can even be done in one night.
Anyone can do it.
Even a small child can do it.
However,
Finding and accumulating wealth is not an easy matter.
It always takes energy and self-sacrifice to collect every coin,
Refrain from wasting what has been obtained,
To be stored and saved little by little.
Being a naughty and a jerk is always easier to do,
There is no need for formal education to become a bad person,
Simply let our lust and defilements develop in our hearts and minds,
Then control ourselves and do all uncivilized crimes.
All those who are not skilled in self-control,
Easily will become a savage human being.
Meanwhile,
Being kind and wise,
It always starts from the effort to learn and practice controlling the animal impulses from within ourselves.
It is not easy to be able to control our own thoughts.
It takes seriousness and continuity to keep our minds resembling wild monkeys always jumping up and down here and there.
It always takes a hard struggle to be able to conquer ourselves.
Being a fool is always easier than any job in the world.
No learning process is required,
Nor does it take hard work,
Simply relax and fantasize alone while sitting on a recliner.
The rest is time gone by in vain.
Contrary to that,
It is not an easy task to be skilled and intelligently knowledgeable.
It is not a task for a day or two days, to be skilled and intelligent.
It takes a long and consistent process to get through it.
And the path to achievement is always never smooth,
So many obstacles and wide open gaps we will face.
It's not just us who meet the facts of reality like that.
Everyone will face a similar phenomenon.
Realizing this,
We begin to realize the responsibility of our own lives.
It no longer underestimates the opportunity, every resource, and potential that exists in this life.

© HERY SHIETRA Copyright.

Melukai selalu lebih mudah,
Tidak perlu waktu yang panjang,
Hanya butuh beberapa menit atau bahkan beberapa detik untuk melukai diri sendiri ataupun orang lain.
Namun,
Mengobati dan memulihkan luka,
Selalu lebih sukar.
Butuh waktu tahunan untuk merawat luka itu,
Luka fisik ataupun luka batin.
Mungkin juga luka itu akan membekas secara permanen,
Atau bahkan tidak akan pernah sembuh sampai kapanpun bila luka itu demikian mematikan.
Merusak dan menghancurkankan selalu lebih mudah,
Tidak dibutuhkan banyak upaya untuk merubuhkan sebuah jembatan,
Bahkan jembatan itu akan runtuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
Atau akan patah ketika terhempas oleh ombak ataupun badai.
Membangun dan merawat selalu lebih sukar,
Dibutuhkan kerja keras dan pengorbanan waktu serta perhatian untuk mempertimbangkan dan mengerjakannya.
Bukanlah waktu yang sedikit untuk membangun sebuah jembatan.
Sebuah jembatan tidak akan muncul ke muka bumi secara sendiri tanpa kita usahakan.
Menghabiskan kekayaan selalu akan menjadi pekerjaan yang lebih mudah,
Karena tidak dibutuhkan keterampilan apapun untuk menghamburkan kekayaan,
Bahkan dapat dilakukan dalam satu malam.
Siapapun dapat melakukannya.
Bahkan seorang anak kecil sekalipun mampu melakukannya.
Namun,
Mencari dan mengumpulkan kekayaan bukanlah merupakan perkara yang mudah.
Selalu dibutuhkan energi dan pengorbanan diri untuk mengumpulkan setiap keping uang logam,
Menahan diri untuk menghamburkan apa yang telah diperoleh,
Untuk kemudian disimpan dan ditabung sedikit demi sedikit.
Menjadi orang yang nakal dan brengsek selalu lebih mudah untuk dilakukan,
Tidak dibutuhkan pendidikan formil untuk menjadi manusia jahat,
Cukup membiarkan nafsu dan kekotoran batin kita berkembang di dalam hati dan pikiran,
Kemudian menguasai diri kita dan melakukan segala kejahatan tidak beradab.
Semua orang yang tidak terampil mengendalikan diri,
Dengan mudah akan menjelma menjadi manusia biadab.
Sementara itu,
Menjadi orang yang baik hati dan penuh kebijaksanaan,
Selalu dimulai dari usaha untuk belajar dan berlatih mengontrol dorongan hewani dari dalam diri kita sendiri.
Bukanlah hal mudah untuk mampu mengendalikan pikiran kita sendiri.
Dibutuhkan keseriusan dan kesinambungan untuk senantiasa menjaga pikiran kita yang menyerupai monyet liar yang selalu melompat-lompat kesana dan kemari.
Selalu dibutuhkan perjuangan keras untuk mampu menaklukkan diri kita sendiri.
Menjadi orang yang bodoh selalu lebih mudah daripada pekerjaan apapun di dunia ini.
Tidak dibutuhkan proses belajar apapun,
Tidak juga dibutuhkan kerja keras,
Cukup bersantai dan berfantasi semata sambil duduk-duduk di kursi malas.
Selebihnya adalah waktu yang berlalu secara sia-sia.
Berkebalikan dengan itu,
Bukanlah suatu tugas yang mudah untuk menjadi terampil dan cerdas berpengetahuan.
Bukanlah tugas satu atau dua hari untuk menjadi terampil dan cerdas.
Dibutuhkan proses yang panjang dan konsisten untuk melaluinya.
Dan jalan menuju prestasi selalu tidak pernah mulus,
Demikian banyak rintangan dan jurang terbuka lebar yang akan kita hadapi.
Bukan hanya kita yang menemui fakta realita demikian.
Semua orang akan menghadapi fenomena serupa.
Menyadari akan hal ini,
Kita mulai menyadari tanggung jawab hidup kita masing-masing.
Tidak lagi meremehkan kesempatan, setiap sumber daya, serta potensi yang ada dalam kehidupan ini.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Trying to Negotiate with Death

In this age of insanity,
It's all turned upside down.
Criminals today are scolding their victims,
And the victim should be afraid of the perpetrator.
A long time ago,
The victim who always scolds the culprit,
And criminals are afraid and ashamed of doing evil.
Now, people are starting to feel proud and vying for corruption,
It's not like it used to be when people are embarrassed and afraid of being corrupt.
Now people are scrambling to occupy the power bench in order to make a lot of profit by oppressing the weak,
It's not like the old days where people interpret power is always attached to equal responsibility.
Now, life simply is not cool and considered not prestigious,
It's not like the old days where simple life is seen as harmonious to the environment.
Now, live without gadgets called mobile phones and the internet, just like fish are ejected from the water until dying,
It's no longer like the old where such life unencumbered by any attachment.
Now, good at praising and acting by displaying artificial fake figures is rated as a distinct achievement,
It's not like it used to be where a person is alive as an example.
Now, the rich who cheat and steal from the poor, regarded as a profession,
It's not like it used to be where everyone earns income in noble ways and does not harm others, especially the poorer ones.
Even though,
If only we would be rational,
We do not need to boast about what we now have.
Though a general,
Even if it's a president,
Though a ruler,
Even if it's a millionaire,
Even if it's a person who has an amazing beauty or facial looks,
Even if it's a person who has a stunning voice,
Though a genius,
Though it is an intellectual with a myriad of achievements and academic degrees,
Even though it's a martial athlete who is able to defeat every one of his opponents,
Even if it is a corruptor who has been able to bribe law enforcement,
Nonetheless,
They are submissive and helpless before the god of death,
That will not be affected by any kind of human being whatsoever,
Which will not be affected by all the treasures offered,
Which will not be affected by the looks or beauty of any face,
Which will not be affected by any human power,
All are instantly submissive before the god of death who comes to them,
Without exception.

© HERY SHIETRA Copyright.

Di zaman yang mulai tidak waras ini,
Semua menjadi serba terbalik.
Penjahat pada saat kini justru memarahi korbannya,
Dan sang korban yang harus merasa takut pada pelaku kejahatan.
Dahulu kala,
Korban yang selalu memarahi pelaku kejahatan,
Dan penjahat merasa takut dan malu berbuat jahat.
Kini, orang-orang mulai merasa bangga dan berlomba-lomba untuk melakukan korupsi,
Bukan lagi seperti dahulu dimana orang-orang merasa malu dan takut untuk bersikap korup.
Kini, orang-orang mulai berebut untuk menduduki bangku kekuasaan demi mengeruk banyak keuntungan dengan cara menindas orang-orang yang lemah,
Bukan lagi seperti dahulu dimana orang-orang memaknai kekuasaan selalu dilekati tanggung jawab yang sama besarnya.
Kini, hidup secara sederhana adalah tidak keren dan dianggap tidak bergengsi,
Bukan lagi seperti dahulu dimana hidup sederhana dipandang sebagai harmonis terhadap lingkungan hidup.
Kini, hidup tanpa gadget bernama handphone dan internet, sama seperti ikan yang dikeluarkan dari dalam air hingga sekarat,
Bukan lagi seperti dahulu dimana hidup demikian tidak terbebani oleh segala kemelekatan.
Kini, pandai memuji dan berakting dengan menampilkan sosok palsu buatan dinilai sebagai suatu prestasi tersendiri,
Bukan lagi seperti dahulu dimana seseorang hidup apa adanya diyakini sebagai seorang teladan.
Kini, orang kaya yang menipu dan mencuri dari orang miskin, dianggap sebagai suatu profesi,
Bukan lagi seperti dahulu dimana setiap orang mencari penghasilan dengan cara-cara yang mulia dan tidak merugikan orang lain, terlebih orang yang lebih miskin darinya.
Padahal,
Jika saja kita mau bersikap rasional,
Kita tidak perlu bersombong diri dengan segala apa yang kini miliki.
Sekalipun itu seorang jenderal,
Sekalipun itu seorang presiden,
Sekalipun itu seorang penguasa,
Sekalipun itu seorang milioner,
Sekalipun itu seorang yang memiliki kecantikan atau ketampanan wajah yang mengagumkan,
Sekalipun itu seorang yang memiliki suara yang memukau,
Sekalipun itu seorang yang jenius,
Sekalipun itu seorang intelektual dengan segudang prestasi dan gelar akademik,
Sekalipun itu seorang atlet bela diri yang mampu mengalahkan setiap lawannya,
Sekalipun itu seorang koruptor yang selama ini mampu menyuap para penegak hukum,
Tetap saja,
Mereka tunduk dan tidak berdaya di hadapan dewa kematian pencabut nyawa,
Yang tidak akan terpengaruh oleh semua jenis manusia apapun,
Yang tidak akan terpengaruh oleh semua harta yang ditawarkan,
Yang tidak akan terpengaruh oleh ketampanan atau kecantikan wajah manapun,
Yang tidak akan terpengaruh oleh kekuatan manusia manapun,
Semua seketika tunduk di hadapan dewa kematian yang mendatangi mereka,
Tanpa terkecuali.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

We Call It a Sophisticated Human Being

We are able to do evil,
We are able to hurt others,
We are able to devise various evil plans that require careful planning,
We are able to deceive others with an incredibly complex set of lies to outwit others to be deceived by us,
We are able to steal and rob with extraordinary fatigue and effort,
We are capable of making traps or fishing to get others trapped,
We may also be able to marry a thousand girls and a thousand angels,
It all means,
We have time resources,
We have energy resources,
We have the resources of intelligence.
All of that is enough resources as our capital to do good deeds or at least be able to survive by earning a living without hurting other living beings.
It is just,
We fail to channel our energy, potential, talents, effort, and time resources and our intelligence to do something more useful and more positive.
A person who is capable of self-management,
Will allocate various resources it has,
For good and useful.
The laws of physics say,
Even energy can not be destroyed,
But energy can be transformed.
Like an iron,
Changing the function of electrical energy into heat energy.
Or an air conditioner that is in our room,
Converts electrical energy to cold energy.
Solar cells, converting heat and light energy into electrical energy.
A sophisticated human being,
Will transform the various energies within him,
For useful and positive things,
For himself as well as for others.
Energy is neutral,
When he is channeled for evil or good deeds,
These are the factors of the principal's mind.
Like a knife,
The blade itself is neutral.
Knives can be used to injure others,
Can also be used for cooking.
Energy,
It needs to be processed and channeled to the right destination.
Like the practice of Thai chi,
Energy is processed and channeled regularly in harmony with nature,
Not allowed to flow like water.
Because of the water flow,
Always washed away,
And remember,
Water always moves down,
Not moving up.
The so-called by processing energy,
Always interpreted as fighting against the current.
That is the meaning of the struggle to process energy resources.
We call it a sophisticated human being.

© HERY SHIETRA Copyright.

Kita mampu berbuat jahat,
Kita mampu menyakiti orang lain,
Kita mampu menyusun berbagai rencana jahat yang membutuhkan perencanaan matang,
Kita mampu menipu orang lain dengan rangkaian kebohongan yang luar biasa kompleksnya untuk mengecoh orang lain agar tertipu oleh kita,
Kita mampu mencuri dan merampok dengan berbagai jirih payah dan usaha yang luar biasa,
Kita mampu membuat jebakan atau memancing agar orang lain terjebak,
Mungkin juga kita mampu menikahi seribu gadis dan seribu bidadari,
Itu semua artinya,
Kita punya sumber daya waktu,
Kita punya sumber daya energi,
Kita punya sumber daya kecerdasan.
Kesemua itu adalah sumber daya yang cukup sebagai modal kita untuk melakukan perbuatan baik atau setidaknya mampu bertahan hidup dengan mencari nafkah tanpa menyakiti makhluk hidup lainnya.
Hanya saja,
Kita gagal untuk mengalurkan berbagai energi, potensi, talenta, jirih payah,  dan sumber daya waktu serta kecerdasan kita untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna dan lebih bermanfaat.
Seseorang yang mampu secara piawai memanajemen diri,
Akan mengalokasikan berbagai sumber daya yang dimilikinya,
Untuk hal yang baik dan bermanfaat.
Hukum fisika mengatakan,
Bahkan energi tidak dapat dimusnahkan,
Namun energi dapat ditransformasikan.
Seperti sebuah setrika,
Mengubah fungsi energi listrik menjadi energi panas.
Atau sebuah air conditioner yang ada di dalam kamar kita,
Mengubah energi listrik menjadi energi dingin.
Solar cell, mengubah energi panas dan cahaya menjadi energi listrik.
Seorang manusia yang canggih,
Akan mentranformasikan berbagai energi yang ada di dalam dirinya,
Untuk hal-hal yang bermanfaat dan berguna,
Bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
Energi adalah netral,
Ketika ia disalurkan untuk perbuatan jahat ataupun perbuatan baik,
Semua itu adalah faktor alam pikiran si pelaku.
Seperti sebilah pisau,
Pisau itu sendiri adalah netral.
Pisau dapat digunakan untuk melukai orang lain,
Dapat juga digunakan untuk memasak.
Energi,
Perlu diolah dan disalurkan pada tujuan yang tepat.
Bagaikan latihan Thai chi,
Energi diolah dan disalurkan secara teratur membentuk harmoni dengan alam,
Tidak dibiarkan mengalir begitu saja seperti air.
Karena aliran air,
Selalu menghanyutkan,
Dan ingatlah,
Air selalu bergerak ke bawah,
Bukan bergerak ke atas.
Yang disebut dengan mengolah energi,
Selalu dimaknai sebagai berjuang melawan arus.
Itulah makna dari perjuangan mengolah sumber daya energi.
Kita menyebutnya sebagai, manusia yang canggih.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.