Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS

Dare to Demand, It Means Daring to Give

Demanding always is an easy job,
Because it is only passive and gives the burden to be borne by others.
While serving is a devotion that requires patience as well as commitment.
Those who only know to demand,
Will never give,
Especially serving.
Because he / she never wanted to understand the principle of reciprocity,
Taking and giving.
Those who like to demand,
Always feel he has the right,
Without ever being burdened with obligations,
Especially doing what is his duty.
Those who only know to demand,
Always ask to be served,
Without ever want to serve.
Those who only dared to demand,
Indeed is a coward,
Because only able to ask without ever able to give.
Those who are always demanding,
Never richer than a beggar.
When a passive beggar is sitting by the side of the road,
Relying on the mercy of pedestrians passing by on the front road where the beggar sat,
So one who only knows to sue, is poorer than a beggar,
Daring to come ask and sue to others,
As if he is the king who always has the right to ask to be served,
Without ever obliged to repay service.
Demanding, only knowing demands, and always demanding,
Indeed only impoverish himself.
Someone who never planted a good karma seed,
There is no good karma that can be expected to bear fruit.
Like someone who never diligently saving,
So there is no sweet fruit that he can pick.
A person who only knows to demand,
Is a coward,
Because only a coward who only dared to be served without ever dared to serve.
Someone who always demands from others,
Indeed is degrading the dignity of others,
Because looking at other people is just as subordinate of them.
A man who likes to demand,
Always thought that he himself was special and superior like a king who asked to be served by his slaves.
Asking to be served without ever being obliged,
It means asking other people to be a slave to him.
Always demanded to be served,
Indeed is insulting and harassing other human dignity.
People who only know to sue,
Without ever wanting to be prosecuted,
Always a garbage person.
If you dare to ask, that demands to be served,
Then you have to be brave and willing, to pay for the service.

© HERY SHIETRA Copyright.

Menuntut selalu adalah merupakan pekerjaan yang mudah,
Karena hanya bersikap pasif dan memberikan beban untuk dipikul oleh orang lain.
Sementara melayani adalah sebuah pengabdian yang membutuhkan kesabaran serta komitmen.
Mereka yang hanya tahu untuk menuntut,
Tidak akan pernah memberi,
Terlebih melayani.
Sebab diirnya tidak pernah mau memahami prinsip resiprositas,
Mengambil dan memberi.
Mereka yang gemar menuntut,
Selalu merasa dirinya memiliki hak,
Tanpa pernah mau dibebani kewajiban,
Terlebih melaksanakan apa yang menjadikan kewajiban dirinya.
Mereka yang hanya tahu untuk menuntut,
Selalu meminta untuk dilayani,
Tanpa pernah mau melayani.
Mereka yang hanya berani untuk menuntut,
Sejatinya adalah seorang pengecut,
Karena hanya mampu untuk meminta tanpa pernah sanggup untuk memberi.
Mereka yang selalu menuntut,
Tidak pernah lebih kaya dari seorang pengemis.
Bila pengemis bersikap pasif duduk di pinggir jalan,
Mengandalkan belas kasihan para pejalan kaki yang berlalu-lalang melintas di jalan depan tempat sang pengemis duduk,
Maka seorang yang hanya tahu untuk menuntut, adalah lebih miskin dari seorang pengemis,
Karena berani untuk datang meminta dan menuntut kepada orang lain,
Seakan dirinya adalah raja yang selalu berhak meminta dilayani,
Tanpa pernah diwajibkan untuk balas melayani.
Menuntut, hanya tahu menuntut, dan selalu menuntut,
Sejatinya hanya memiskinkan dirinya sendiri.
Seseorang yang tidak pernah menanam benih karma baik,
Tiada buah karma baik yang dapat diharapkan berbuah.
Bagaikan seseorang yang tidak pernah rajin menabung,
Maka tiada buah manis apapun yang dapat ia petik.
Seorang penuntut,
Adalah seorang pengecut,
Karena hanya seorang pengecut yang hanya berani untuk dilayani tanpa pernah berani untuk melayani.
Seseorang yang selalu menuntut dari orang lain,
Sejatinya sedang merendahkan martabat orang lain tersebut,
Karena memandang orang lain tersebut hanyalah subordinat dari dirinya.
Seorang yang gemar menuntut,
Selalu memandang bahwa dirinya sendiri adalah istimewa dan superior seperti seorang raja yang meminta dilayani oleh para budaknya.
Meminta dilayani tanpa pernah mau dibebani kewajiban,
Sama artinya meminta orang lain untuk menjadi budak baginya.
Selalu menuntut untuk dilayani,
Sejatinya sedang menghina dan melecehkan martabat manusia lain.
Orang-orang yang hanya tahu untuk menuntut,
Tanpa pernah mau untuk dituntut,
Selalu merupakan manusia-manusia sampah.
Jika kau berani untuk meminta, bahwa menuntut untuk dilayani,
Maka kau harus berani dan mau, untuk membayar atas pelayanan tersebut.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

The Secret Fact Behind the Workings of the Universe

Is not it a reflection of the attitude of a lazy,
Relying on the ritual of worship of God in order to enter heaven,
Rather than bothering to do much good to every living being,
Rather than having to feel tired, control and self control to not hurt any living creature,
Instead of practicing the practice of purification of mind and heart.
Is not there a reflection of a coward's attitude,
Who rely on the ritual of the remission of sins in order to live a happy life,
Rather than assume the responsibility of pain and fear, due to the fruits of the karma of bad deeds, which during their lives have been planted,
Rather than doing many good deeds to compensate for bad karma,
Instead of falling awake, practicing the purity of his heart and mind.
Why and how can I know all this?
A long time ago,
Long before the religion that taught the concept of God,
Everyone knows and is aware,
Only those who do much good,
And a little bit do evil,
Who will go to heaven.
Only those who are pure and clean in thinking and behaving,
What the universe will love.
Caring for and loving life,
It is equivalent to glorifying the creator of the universe.
That is,
Without the concept of God,
Everyone can choose to fight for the rest of his life to get to heaven,
Through hard work controlling the lust of oneself,
And a lot to help every living thing.
Meanwhile,
Since the introduction of the concept of God by the prophets,
Complete with the heavenly promises and the lure of the abolition of sin,
The human race begins to feel lazy to do much good to every living being,
The human race began to feel fond of fraud, corruption, murder, and all other crimes,
Since the moral standards of goodness have shifted,
From doing good to living creatures, it becomes a practice of worship ritual to God as the highest good.
Relying on the ritual of worship of God and the promises of the remission of sins,
Someone began to feel confident and secure going to heaven,
So that the human race began to flock to worship and praise God and the prophet.
Practice self-control exercises,
Practice of meditation,
Practice exercise purifies the heart and mind,
The practice of doing much good to every living being,
Practice self-control so as not to hurt any creature,
Starting abandoned,
Even being a lonely road,
Due to start losing interest,
Of those who prefer to take an instant road to heaven,
Through the practices of worshiping to God,
Being a sycophant,
Feel already guaranteed to go to heaven,
Without having to bother practicing meditation,
Without having to bother practicing self-control,
Without having to bother to help many living things,
Without having to bother to not hurt any living thing.
Do you think,
Is not it in the modern era that has been full of various religions about God offered by many prophets,
Precisely human civilization is much more degenerate than the previous era?
Murders and massacres in the name of God,
With confidence the perpetrator who committed the murder felt secure going to heaven.
Is not this much more terrible,
Where do people now begin to feel sure to go to heaven by killing people who do not want to acknowledge the figure of God's existence claimed by the prophet?
If in ancient times,
A killer feels confident of going to hell.
While on the contrary, at the present moment,
A murderer, kills with joy and confidence, that he kills for heaven.
Even call it, God's way.

© HERY SHIETRA Copyright.

Bukankah adalah sebuah cerminan dari sikap seorang pemalas,
Yang mengandalkan ritual penyembahan terhadap Tuhan agar dapat masuk surga,
Ketimbang bersusah-payah berbuat banyak kebaikan kepada setiap makhluk hidup,
Ketimbang harus berletih-letih mengontrol dan mengendalikan diri agar tidak menyakiti makhluk hidup manapun,
Ketimbang berlatih praktik pemurnian pikiran dan hati.
Bukankah ada sebuah cerminan dari sikap seorang pengecut,
Yang mengandalkan ritual penghapusan dosa agar dapat hidup bahagia,
Ketimbang memikul tanggung jawab rasa sakit dan takut, akibat buah karma perbuatan buruk yang selama hidup telah diperbuatnya,
Ketimbang melakukan banyak perbuatan baik untuk mengimbangi karma buruk,
Ketimbang jatuh-bangun melatih kesucian hati dan pikiran dirinya sendiri.
Mengapa dan bagaimana aku dapat mengetahui semua ini?
Dahulu kala,
Jauh sebelum agama yang mengajarkan konsep tentang Tuhan,
Semua orang tahu dan sadar,
Hanya orang yang banyak berbuat baik,
Dan sedikit berbuat jahat,
Yang akan masuk surga.
Hanya orang-orang yang suci dan bersih dalam berpikir dan bersikap,
Yang akan disukai alam semesta.
Merawat dan mencintai keidupan,
Sudah sama artinya dengan memuliakan sang pencipta semesta.
Artinya,
Tanpa adanya konsep mengenai Tuhan sekalipun,
Setiap orang bisa memilih untuk berjuang masuk surga,
Lewat kerja keras mengontrol nafsu diri sendiri,
Dan banyak menolong setiap makhluk hidup.
Akan tetapi,
Sejak diperkenalkan konsep tentang Tuhan oleh para nabi,
Lengkap dengan janji-janji surgawi dan iming-iming penghapusan dosa,
Para umat manusia mulai merasa malas untuk berbuat banyak kebaikan kepada setiap makhluk hidup,
Para umat manusia mulai merasa gemar untuk melakukan penipuan, korupsi, pembunuhan, dan segala kejahatan lain,
Karena standar moral tentang kebaikan telah bergeser,
Dari berbuat kebaikan kepada makluk hidup, menjadi praktik ritual penyembahan kepada Tuhan sebagai kebaikan tertinggi.
Dengan mengandalkan ritual penyembahan kepada Tuhan dan janji-janji penghapusan dosa,
Seseorang mulai merasa yakin dan terjamin masuk surga,
Sehingga para umat manusia mulai berbondong-bondong menyembah sujud dan memuja-muji Tuhan dan sang nabi.
Praktik latihan pengendalian diri,
Praktik meditasi,
Praktik latihan memurnikan hati dan pikiran,
Praktik melakukan banyak kebaikan kepada setiap makhluk hidup,
Praktik pengendalian diri agar tidak menyakiti makhluk manapun,
Mulai ditinggalkan, bahkan menjadi jalan yang sepi dari peminat,
Karena mulai kehilangan minat,
Dari orang-orang yang lebih memilih menempuh jalan instan menuju surga,
Lewat praktik-praktik sembah sujud kepada Tuhan,
Menjadi seorang penjilat,
Merasa sudah terjamin akan masuk surga,
Tanpa harus bersusah payah berlatih meditasi,
Tanpa harus bersusah payah berpraktik pengendalian diri,
Tanpa harus bersusah payah menolong banyak makhluk hidup,
Tanpa harus bersusah payah untuk tidak menyakiti makhluk hidup manapun.
Menurutmu,
Bukankah di era modern yang telah penuh dengan berbagai agama tentang Tuhan yang ditawarkan oleh banyak nabi,
Justru peradaban manusia jauh lebih merosot dari zaman sebelumnya?
Pembunuhan dan pembantaian yang mengatasnamakan Tuhan,
Dengan penuh keyakinan si pelaku yang melakukan pembunuhan merasa terjamin akan masuk surga.
Bukankah ini jauh lebih mengerikan,
Dimana kini orang-orang justru mulai merasa yakin akan masuk surga dengan membunuhi orang-orang yang tidak mau mengakui sosok keberadaan Tuhan yang diklaim oleh sang nabi?
Jika zaman dahulu kala,
Seorang pembunuh merasa yakin akan masuk neraka.
Sementara sebaliknya, pada saat kini,
Seorang pembunuh, membunuh dengan penuh kegembiraan dan penuh percaya diri, bahwa dirinya membunuh demi masuk surga.
Bahkan menyebutnya sebagai, jalan Tuhan.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

The Nature of Parentship Relation

What exactly is the pleasure behind being a provocateur,
Besides being a disease that is not beautiful to be a hobby,
Hobbies to slander,
Hobby to vilify other people,
And to provoke others,
Even proud of such bad habits.
I know someone,
Thanks to provoking habits,
Liked to slander,
As well as constantly vilify everyone,
As if only he / she themselves could be right and correct,
Even until his children hate even leave him / her,
Still, he / she was provocative,
Full of slander,
And continue to vilify other people.
As if,
By vilifying others,
He / she will get many friends and make others will like him / her.
Although he has been abandoned by his biological children and his relatives due to his provocative and negative words,
Without introspection,
Still looking at himself,
Holders of the monopoly of truth,
Others are always wrong,
And continuing with his provoking habits,
Defamatory,
Disparaging and degrading others.
As if,
By vilifying others,
Himself will seem more wise,
Entitled to patronize,
Eligible to judge.
As if,
Only herself can be hurt.
As if,
Only he alone can see the truth,
Even feel entitled to monopolize the truth.
How could it be,
Even a parent,
Having a penchant for slandering his own son,
Having a penchant for vilifying his own son's name to others,
Has a penchant for provoking his own child.
Remember,
There is no instinct of a child to grow up as a rebellious child.
It is the child's instinct to be a dutiful child.
But when in the end the child leaves their own parents to seek the happiness that is not obtained from the home of their parents,
So what happens is,
Parents who do not deserve to have a filial son.
Not just a child who can be disobedient,
Because no child wants to be a insubordinate person.
What is more happening is,
Parents are arbitrary against their own children.
The parents themselves,
Through all the attitudes of arrogance and arbitrariness of the parents,
Who has made a dutiful child,
Expelled from a family,
Encouraged to seek their own happiness.
Each person,
And every child,
Entitled to seek and gain the happiness of their own lives,
When parents never offer warmth or happiness to their children.
Do not give justice or exemplary noble attitude,
What has been shown by parents to their children,
No other is the attitude of arrogance,
Slander,
Disparaging,
And provocation.
Before demanding a child to worship,
Ask first,
Are you a worthy parent to have a devoted child?
A provocateur,
Being cunning and deceitful against their own children,
Until death comes though,
Will still complain all his / her life,
Busy provoking,
Defamatory,
Disparaging,
And though all the people of this world abstain and away from them,
Himself will remain filled with pleasure to provoke, slander, vilify.
Even,
He / she would complain of the attitude of the god of death,
And vilify the god of death.
From my personal experience,
A provocative attitude is a trait that will never change from one's basic character.
Though he grew old,
Does not reduce the degree of his passion to complain, slander, vilify, even provoke,
Either to others,
And also against those closest to them.
Even feel jealous and envy for the success and happiness of his own children's lives.
It is a mental illness that makes others feel disgusted and disgusted by all their shallow actions.

© HERY SHIETRA Copyright.

Apa sebenarnya kesenangan dibalik menjadi seorang provokator,
Selain sebagai penyakit yang sama sekali tidak indah untuk dijadikan hobi,
Hobi memfitnah,
Hobi menjelek-jelekkan orang lain,
Dan memprovokasi orang lain,
Bahkan bangga akan kebiasaan buruk tersebut.
Aku mengenal seseorang,
Yang berkat kebiasaannya memprovokasi,
Gemar memfitnah,
Serta senantiasa menjelek-jelekkan semua orang,
Seakan hanya dirinya sendiri yang dapat benar dan telah betul,
Bahkan hingga keseluruh anak-anaknya membenci bahkan meninggalkan dirinya,
Tetap saja dirinya bersikap provokatif,
Penuh fitnah,
Dan terus menjelek-jelekkan orang lain.
Seakan,
Dengan menjelek-jelekkan orang lain,
Dirinya akan mendapat banyak kawan dan membuat orang lain akan menyukai dirinya.
Sekalipun dirinya telah ditinggalkan oleh anak kandung maupun para sanak saudara akibat ucapan-ucapannya yang penuh provokasi dan negatif,
Tanpa mau berintrospeksi,
Tetap memandang bahwa dirinya seoranglah,
Pemegang monopoli kebenaran,
Orang lain selalu salah,
Dan terus dengan kebiasaannya memprovokasi,
Memfitnah,
Menjelek-jelekkan bahkan merendahkan martabat orang lain.
Seakan,
Dengan menjelek-jelekkan orang lain,
Dirinya akan tampak lebih bijaksana,
Berhak untuk menggurui,
Berhak untuk menghakimi.
Seakan,
Hanya dirinya sendiri yang dapat sakit hati.
Seakan,
Hanya dirinya sendiri yang mampu melihat kebenaran,
Bahkan merasa berhak untuk memonopoli kebenaran.
Bagaimana mungkin,
Seorang orang tua sekalipun,
Memiliki kegemaran untuk memfitnah anaknya sendiri,
Memiliki kegemaran untuk menjelek-jelekkan nama anaknya sendiri kepada orang lain,
Memiliki kegemaran untuk memprovokasi anaknya sendiri.
Ingatlah,
Tidak ada satupun insting seorang anak untuk tumbuh dewasa sebagai anak yang durhaka.
Adalah insting seorang anak untuk menjadi seorang anak yang berbakti.
Namun ketika pada akhirnya sang anak meninggalkan orang tuanya sendiri untuk mencari kebahagiaan yang tidak didapatkan dari rumah tinggal orang tuanya,
Maka yang terjadi ialah,
Orang tua yang tidak layak untuk memiliki seorang anak yang berbakti.
Bukan hanya seorang anak yang dapat bersikap durhaka,
Karena tidak ada anak yang ingin menjadi seorang durhaka.
Yang lebih banyak terjadi ialah,
Orang tua yang sewenang-wenang terhadap anak mereka sendiri.
Orang tua itu sendirilah,
Lewat segala sikap-sikap arogansi dan kesewenang-wenangan sang orang tua,
Yang telah membuat seorang anak yang berbakti,
Terusir dari sebuah keluarga,
Terdorong untuk mencari kebahagiaannya sendiri.
Setiap orang,
Dan setiap anak,
Berhak untuk mencari dan mendapatkan kebahagiaan hidupnya sendiri,
Ketika orang tua tidak pernah menawarkan kehangatan maupun kebahagiaan bagi anak-anaknya.
Jangankah memberikan keadilan ataupun teladan sikap luhur,
Yang selama ini dipertontonkan oleh orang tua kepada anaknya,
Tidak lain ialah sikap-sikap arogansi,
Fitnah,
Menjelek-jelekkan,
Dan provokasi.
Sebelum menuntut anak untuk berbakti,
Tanyakanlah dahulu,
Apakah Anda adalah orang tua yang layak untuk mendapat seorang anak yang berbakti?
Seorang provokator,
Bersikap licik dan penuh tipu muslihat terhadap anak mereka sendiri,
Sampai ajal tiba sekalipun,
Akan tetap mengeluh sepanjang hidupnya,
Sibuk memprovokasi,
Memfitnah,
Menjelek-jelekkan,
Dan sekalipun semua orang di dunia ini menjauhkan diri darinya,
Dirinya akan tetap diliputi kesenangan untuk memprovokasi, memfitnah, menjelek-jelekkan.
Bahkan,
Ia akan mengeluhkan sikap dewa pencabut nyawa,
Serta menjelek-jelekkan sang dewa pencabut nyawa.
Dari pengalaman pribadiku,
Sikap gemar provokasi adalah sifat yang tidak akan pernah berubah dari karakter dasar seseorang.
Sekalipun ia bertumbuh menjadi tua renta,
Tidak mengurangi derajat kegemarannya mengeluh, memfitnah, menjelek-jelekkan, bahkan memprovokasi,
Baik terhadap orang lain,
Maupun terhadap orang-orang terdekatnya sendiri.
Bahkan merasa iri dan dengki terhadap keberhasilan dan kebahagiaan hidup anak-anaknya sendiri.
Sungguh penyakit mental yang membuat orang lain merasa jijik dan muak melihatnya.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.