JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Greedy as Our Way of Being Selfish Toward Ourselves

Greed and greedy, always start from a misperception,
As if they needed something they did not really need,
Or, because he looked more important and more special than others.
Greed is always rooted in ignorance,
The inner ignorance that makes a person mistaken in looking at himself.
Essentially, ignorance resembles a fire that can burn and be dangerous.
Meanwhile, greed is like gasoline, when we pour gasoline into a flaming fire,
Then the fire will burn even more and be able to burn anything that is nearby.
That is also,
The greedy feeling that when we follow and surrender to the greed,
Then the greed will be bigger,
And make us will demand far more.
Greed will never be satisfied when we follow.
The greed will be extinguished when we do not give him the energy to keep burning.
Even,
Someone feels better to kill himself just because his will is not fulfilled.
Although,
Our ancestors can survive without any technological sophistication as it is today.
We are born in the modern era,
Precisely not feeling happy,
Because we demand too much than the ancestors of our predecessors.
Even,
Someone is desperate to steal and deceive others,
Just for the sake of living in luxury, from the proceeds of the crime.
Allowing the greed to overwhelm us,
It means making ourselves selfish to ourselves.
How come,
We allow ourselves in the foreseeable future to endure its dire consequences, only to satisfy ourselves temporarily and temporally.
If we can not say that being greedy is synonymous with being selfish about ourselves,
Then,
We want to translate greed as what?
The problem is,
Many of us even fail to realize the sense of greed in their own hearts and minds.
We can never translate the greed, if we do not first realize that we are overwhelmed and be controlled with greed, hijack our common sense and awareness.
Get up, we do not need all that to be happy.
Happiness never knows the terms.
We deserve to be happy in simplicity.

© HERY SHIETRA Copyright.

Ketamakan dan rasa tamak, selalu bermula dari salah persepsi,
Seakan dirinya membutuhkan sesuatu yang sebetulnya tidak ia butuhkan,
Atau, karena dirinya memandang lebih penting dan lebih istimewa dari orang lain.
Ketamakan selalu berakar dari kebodohan batin,
Kebodohan batin yang membuat seseorang keliru dalam memandang dirinya sendiri.
Pada dasarnya, kebodohan batin menyerupai api yang dapat membakar dan berbahaya.
Sementara, ketamakan adalah bensin yang ketika kita menyiramkan bensin itu kepada api yang menyala,
Maka api itu akan menyala lebih besar lagi dan mampu membakar apapun yang berada di dekatnya.
Artinya pula,
Rasa tamak yang bila kita ikuti dan menyerah tunduk pada ketamakan itu,
Maka rasa tamak itu akan semakin besar,
Dan membuat kita akan menuntut jauh lebih banyak lagi.
Rasa tamak tidak akan pernah terpuaskan ketika kita ikuti.
Rasa tamak akan padam ketika kita tidak memberinya energi untuk terus menyala.
Bahkan,
Seseorang merasa lebih baik membunuh dirinya sendiri hanya karena segela kemauannya tidak terpenuhi.
Meski,
Para nenek moyang kita dapat tetap bertahan hidup dengan bahagai tanpa segala kecanggihan teknologi seperti sekarang ini.
Kita yang terlahir di era modern,
Justru tidak merasa bahagia,
Karena kita menuntut terlampau banyak ketimbang para nenek moyang pendahulu kita.
Bahkan,
Seseorang nekat untuk mencuri dan menipu orang lain,
Hanya demi dapat hidup secara mewah dari hasil kejahatan tersebut.
Membiarkan rasa tamak menguasai diri kita,
Sama artinya membuat diri kita bersikap egois terhadap diri kita sendiri.
Bagaimana tidak,
Kita membiarkan diri kita sendiri dimasa mendatang harus menanggung konsekuensi buruknya, hanya demi memuaskan diri kita sendiri yang secara seaat dan temporer ini.
Jika kita tidak dapat mengatakan bahwa bersikap tamak, sama artinya dengan bersikap egois terhadap diri kita sendiri,
Lalu,
Kita mau menerjemahkan rasa tamak itu sebagai apa?
Masalahnya,
Banyak diantara kita yang bahkan gagal untuk menyadari rasa tamak di dalam hati dan pikirannya sendiri.
Kita tidak akan pernah dapat menerjemahkan rasa tamak itu bila kita tidak terlebih dahulu menyadari bahwa diri kita sedang diliputi dan dikuasai perasaan tamak yang membajak akal sehat dan kesadaran kita.
Bangunlah, kita tidak butuh semua itu untuk berbahagia.
Kebahagiaan tidak pernah mengenal syarat.
Kita berhak untuk merasa bahagia dalam kesederhanaan.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Everyone Should be a Dreamer

A dream and a goal, to be introduced and grown to someone while he was young.
Without the ideals and idealism of life that needs to be achieved,
Someone will live like a zombie,
Life but aimless and without direction.
Ideals and dreams are the fuel of motivation.
Someone is driven by motivation.
To learn something,
It takes sacrifice of time and energy.
However, why is someone still struggling to learn something?
Because there is a motivation that works behind every decision that manifests to form a determination.
There are two types of motivation,
Self-motivation that moves from the personal consciousness to reach and grab a goal and results,
And the motivation grown by being implanted by parents or by a teacher when introducing the various potentials and possibilities that exist in this life with all possible professions exist in this world.
Parents and good teachers,
Be aware that if a child has no personal awareness of motivation,
Therefore it is necessary to introduce a dream for himself to be achieved.
Everyone has personal appetites and matches to the idealism and dreams that can not be imposed,
But it can only be tailored to the character and potential or personal talents of the child.
When a person is not gifted in a foreign language field,
It is useless to force him to pursue foreign languages.
As hard and as much as he or she learns a foreign language,
It will certainly fail.
Like me right now.
The ideals of unrealized parents,
It is not the responsibility of a child to make it happen,
Because a child, having his own life purpose,
Their own idealism,
His own right to choose.
Parents have gone through their own youth,
So let a child have their own youth.
Good parents will support and guide.
When a parent feels no responsibility for guiding the child,
So at least parents do not have to harm and hurt his own son and daughter.
Living as a child is difficult enough,
Born into this world like a blind chick and helpless.
It is the duty and responsibility of adults to guide and introduce this world.
However,
When parents fail to guide and show direction,
A child must be independent,
With personal awareness,
Finding the ideals and goals of his own life.
Motivation really is the lifesaver of life,
When no one is willing to guide and accompany our step of life.
As long as there is will and motivation,
Then all the potential will be able to awaken us,
And all the hopes and possibilities will still be wide open for our lives.
Like a candle light.
Motivation and purpose of life is the candle itself.
As long as motivation is still we turn it on,
During that time the fire candle of our life will burn and illuminate our life.
We can not sue from parents who have no sense of responsibility.
Therefore, we can only rely on ourselves.

© HERY SHIETRA Copyright.

Sebuah impian dan cita-cita, harus diperkenalkan dan ditumbuhkan bagi seseorang selagi ia masih muda.
Tanpa cita-cita dan idealisme hidup yang perlu dicapai,
Seseorang akan hidup seperti seorang zombie,
Hidup namun tanpa tujuan dan tanpa arah.
Cita-cita serta impian adalah bahan bakar dari motivasi.
Seseorang digerakkan oleh motivasi.
Untuk mempelajari sesuatu,
Dibutuhkan pengorbanan waktu serta tenaga.
Namun, mengapa seseorang masih tetap saja berjuang untuk mempelajari sesuatu?
Karena terdapat motivasi yang bekerja dibalik setiap keputusan yang menjelma membentuk sebuah tekad.
Terdapat dua jenis motivasi,
Motivasi diri yang bergerak dari kesadaran pribadi untuk mencapai dan meraih suatu tujuan dan hasil,
Dan motivasi yang ditumbuhkan dengan cara ditanamkan oleh orang tua ataupun oleh seorang guru ketika memperkenalkan berbagai potensi dan kemungkinan yang ada dalam hidup ini dengan segala profesi yang memungkinkan ada di dunia ini.
Orangtua dan guru yang baik,
Akan menyadari bila seorang anak tidak memiliki kesadaran pribadi akan motivasi,
Oleh karenanya perlu diperkenalkan sebuah cita-cita bagi dirinya.
Setiap orang memiliki selera dan kecocokan pribadi akan idealisme dan cita-cita yang tidak dapat dipaksakan,
Namun hanya dapat disesuaikan dengan karakter dan potensi atau bakat pribadi sang anak.
Ketika seseorang tidak berbakat dalam bidang bahasa asing,
Adalah percuma untuk memaksanya menekuni bidang bahasa asing.
Sekeras dan sebanyak apapun dirinya mempelajari bahasa asing,
Dipastikan akan gagal.
Seperti diriku ini.
Cita-cita orangtua yang tidak terwujud,
Bukanlah menjadi tanggung jawab seorang anak untuk mewujudkan,
Karena seorang anak, memiliki tujuan hidupnya sendiri,
Idealismenya sendiri,
Haknya sendiri untuk memilih.
Orangtua telah melewati masa mudanya sendiri,
Maka biarkanlah seorang anak memiliki masa mudanya sendiri.
Orangtua yang baik akan mendukung dan membimbing.
Ketika orangtua merasa tidak memiliki tanggung jawab untuk membimbing sang anak,
Maka setidaknya orangtua tidak perlu mencelakai dan melukai anaknya sendiri.
Hidup sebagai seorang anak sudah cukup sukar,
Terlahir ke dunia ini bagaikan anak ayam yang buta dan tidak berdaya.
Adalah tugas dan tanggung jawab orang dewasa untuk membimbing dan memperkenalkan dunia ini.
Namun,
Ketika orangtua gagal untuk membimbing dan menunjukan arah,
Seorang anak harus secara mandiri,
Dengan kesadaran pribadi,
Mencari cita-cita dan tujuan hidupnya sendiri.
Motivasi sungguh adalah penyelamat kehidupan,
Ketika tiada seseorangpun yang mau untuk membimbing dan menemani langkah hidup kita.
Selama ada kemauan dan motivasi,
Maka semua potensi akan mampu kita bangkitkan,
Dan semua haparan dan kemungkinan masih akan terbuka lebar bagi hidup kita.
Bagai nyala cahaya sebuah lilin.
Motivasi dan tujuan hidup adalah lilin itu sendiri.
Sepanjang motivasi itu tetap kita hidupkan,
Selama itu pula lilin api kehidupan kita akan menyala dan menerangi kehidupan kita.
Kita tidak dapat menuntut dari orangtua yang tidak memiliki rasa tanggung jawab.
Oleh karenanya, kita hanya dapat mengandalkan diri sendiri.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Time to Get to Know Ourselves

Too busy to criticize others,
So we forget to observe and examine the contents of our own thoughts and deeds.
We can not assume that we are pure and clean,
It's just a false assumption,
It comes from self-arrogance.
Criticizing others,
Always an easy and fun job.
We can easily find other people's mistakes,
It is however difficult to recognize the defilements of ourselves.
We feel entitled to criticize, comment on, even patronize others,
But we feel that other people have no right to criticize or comment on us.
Assuming that we can not do wrong,
Assuming that only other people can do wrong,
Though they are just assumptions.
Criticizing just to bring down others,
It is an unhealthy habit and hobby.
Why are we just busied ourselves to criticize others?
Why do not we use the potential and time resources that exist,
To observe and monitor the contents of our own thoughts and deeds?
Maybe,
It's because we are afraid to find facts about ourselves,
Afraid to face the reality of ourselves,
Afraid to find ourselves not as sacred as we assume.
However,
Being a commentator,
Still just being an audience,
Not a player on a grassy field where true competition takes place.
Being a commentator is always easier than being a player.
A good friend,
Will remind our behavior when we do bad.
A good friend,
Will not hesitate to criticize directly to us, for our good,
Not commenting about us in front of others.
Why do not we do the same thing when facing ourselves,
By constantly rebuking and criticizing ourselves when we do bad deeds?
Being critical of yourself,
It always starts from being honest with ourselves,
And the willingness to be open, as is.

© HERY SHIETRA Copyright.

Terlalu sibuk untuk mengkritisi orang lain,
Sehingga kita lupa untuk mengamati dan mencermati isi pikiran dan perbuatan diri kita sendiri.
Kita tidak dapat berasumsi bahwa diri kita telah suci dan bersih,
Itu hanya asumsi semu,
Bersumber dari arogansi diri.
Mengkritisi orang lain,
Selalu merupakan pekerjaan yang mudah dan mengasikkan.
Kita dapat demikian mudah menemukan kesalahan orang lain,
Namun demikian sukar untuk mengakui kekotoran batin diri kita sendiri.
Kita merasa berhak untuk mengkritisi, mengomentari, bahkan menggurui orang lain,
Namun kita merasa bahwa orang lain tidak berhak untuk mengkritisi ataupun mengomentari diri kita.
Dengan asumsi bahwa diri kita tidak dapat berbuat keliru,
Dengan asumsi bahwa hanya orang lain yang dapat berbuat keliru,
Meski semua itu hanyalah asumsi belaka.
Mengkritisi dengan tujuan hanya untuk menjatuhkan orang lain,
Adalah sebuah kebiasaan dan hobi yang tidak sehat.
Mengapa kita justru menyibukkan diri untuk mengkritisi orang lain?
Mengapa kita tidak menggunakan potensi dan sumber daya waktu yang ada,
Untuk mengamati dan mengawasi isi pikiran dan perbuatan diri kita sendiri?
Mungkin,
Itu karena kita takut untuk menemukan fakta tentang diri kita sendiri,
Takut untuk menghadapi kenyataan akan diri kita sendiri,
Takut untuk mendapati bahwa diri kita tidak sesuci yang kita asumsikan.
Bagaimanapun,
Menjadi seorang komentator,
Tetaplah hanya menjadi seorang penonton,
Bukan pemain di lapangan berumput dimana kompetisi yang sebenarnya, terjadi.
Menjadi seorang komentator selalu lebih mudah daripada menjadi seorang pemain.
Seorang kawan yang baik,
Akan mengingatkan perilaku kita ketika kita berbuat buruk.
Seorang kawan yang baik,
Tidak akan sungkan mengkritik langsung kepada kita, demi kebaikan kita,
Bukan berkomentar tentang kita di hadapan orang lain.
Mengapa kita tidak melakukan hal yang sama saat menghadapi diri kita sendiri,
Dengan senantiasa menegur dan mengkritisi diri kita sendiri dikala kita melakukan perbuatan yang buruk?
Bersikap kritis terhadap diri sendiri,
Selalu dimulai dari bersikap jujur terhadap diri kita sendiri,
Serta kemauan untuk bersikap terbuka, apa adanya.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

How to Become an Intelligent Learner, Unleash Your Potential

Willingness to learn, which means starting when we want to and are willing to open up,
Opening and laying out old habits and ways of thinking,
In order to enable oneself to reform itself,
Willing to do new things with a new mindset,
Changing perspective,
Updating how you behave,
And enables anything that seems impossible to be something that might happen.
Unlock all potential space and possibilities.
Learning process,
It always starts from curiosity,
Interest,
Passions,
Needs,
And the desire to improve.
When a person feels himself clever,
He no longer feels the need to learn or renew his thinking paradigm that may become obsolete.
To open yourself from the learning process,
First we need to abandon the attitude of arrogance,
Putting a sense of self-conceited,
And leave the attitude as if already smart.
To want to learn,
We first need to learn how to be humble,
Full of patience,
The courage to work hard and become weary,
And never give up.
Enthusiasm is the fuel for starting and continuing the learning process.
Learning, requires sincerity,
And wholeheartedly to pursue it.
Learning is never easy,
Because learning requires the process of starting a new habit,
New mindset,
New knowledge,
New skills,
New possibilities,
And a new mental attitude altogether.
Learning process,
Can occur in two character types,
Evolutionally,
And in revolution.
Evolution makes people who are born in the modern era is required to learn many things in order to survive amid the progress of the hard times.
While the mental revolution,
As a result of the shock,
Coercion,
Great self-drive,
Self-awareness,
Or something that shook the feeling and awareness,
Making someone who is not fond of learning, turns into someone who thus feels the need to learn something.
The learning process can also occur in two variations,
Learning focused on a specific field of knowledge and skills, centripetally,
Or learning that is centrifugal, learning everything general science and various skills, to be a multi talent.
The potential of a human self is remarkable,
Unlimited,
So do not we limit the potential and opportunity itself to go forward and expand as widely as possible,
To bloom perfectly and completely optimally.
Let ourselves grow by continuing to learn and continuing to open up various possibilities and let our potential of ourselves bloom and blossom.
First of all we need to do,
Of course,
Opening your mind,
Opening eyes,
Open heart,
Open your hands,
Open your ears,
And start to leave the comfort zone,
And take off the mental block that keeps us from progressing.
The world and life, really broad, with all its possibilities which are unlimited and endless.

© HERY SHIETRA Copyright.

Kemauan untuk belajar, artinya dimulai ketika kita mau dan bersedia untuk membuka diri,
Membuka dan meletakkan kebiasaan-kebiasaan serta cara pikir lama,
Agar memungkinkan diri untuk mereformasi diri,
Bersedia melakukan hal baru dengan pola pikir baru,
Mengubah cara pandang,
Memperbaharui cara bersikap,
Dan memungkinkan segala sesuatu yang tampak mustahil menjadi sesuatu yang mungkin dapat terjadi.
Membuka segala ruang potensi serta kemungkinan.
Proses pembelajaran,
Selalu dimulai dari rasa ingin tahu,
Ketertarikan,
Minat,
Kebutuhan,
Serta keinginan untuk memperbaiki diri.
Ketika seseorang merasa dirinya telah pandai,
Ia tidak lagi merasa perlu untuk belajar ataupun memperbaharui paradigma berpikirnya yang bisa jadi telah usang.
Untuk membuka diri dari proses belajar,
Terlebih dahulu kita perlu menanggalkan arogansi,
Meletakkan rasa sombong diri,
Dan meninggalkan sikap seakan sudah pintar.
Untuk mau belajar,
Kita pertama-tama terlebih dahulu perlu belajar cara untuk bersikap rendah hati,
Penuh kesabaran,
Keberanian untuk bekerja keras dan menjadi letih,
Dan pantang menyerah.
Antuasiasme adalah bahan bakar untuk memulai dan melanjutkan proses belajar.
Pembelajaran, membutuhkan kesungguhan hati,
Serta sepenuh hati untuk menekuninya.
Pembelajaran tidak pernah mudah,
Karena pembelajaran membutuhkan proses memulai kebiasaan baru,
Pola pikir baru,
Pengetahuan baru,
Keterampilan baru,
Kemungkinan baru,
Dan sikap mental yang baru sama sekali.
Proses belajar,
Dapat terjadi dalam dua jenis karakter,
Secara evolusi,
Dan secara revolusi.
Evolusi membuat manusia yang terlahir di era modern dituntut untuk mempelajari banyak hal agar dapat bertahan hidup ditengah kemajuan zaman yang keras.
Sementara revolusi mental,
Yang diakibatkan oleh keterkejutan,
Keterpaksaan,
Dorongan diri yang hebat,
Kesadaran diri,
Atau sesuatu yang mengguncang perasaan dan kesadaran,
Membuat seseorang yang sebelum tidak gemar untuk belajar, berbalik menjadi seseorang yang demikian merasa perlu untuk mempelajari sesuatu.
Proses pembelajaran juga dapat terjadi dalam dua variasi,
Pembelajaran yang terfokus pada suatu bidang ilmu dan keterampilan yang spesifik, alias sentripetal,
Atau pembelajaran yang bersifat sentrifugal, mempelajari segala sesuatu ilmu pengetahuan umum dan berbagai keterampilan, untuk menjadi seseorang yang multi talenta.
Potensi diri seorang manusia sangatlah luar biasa,
Tidak terbatas,
Sehingga janganlah kita membatasi potensi dan peluang diri untuk maju dan berkembang seluas-luasnya,
Untuk mekar secara sempurna dan seutuhnya secara optimal.
Biarkan diri kita bertumbuh dengan cara terus belajar dan terus membuka berbagai kemungkinan serta biarkan potensi diri kita mekar dan bersemi.
Pertama-tama yang perlu kita lakukan,
Tentu saja,
Membuka pikiran,
Membuka mata,
Membuka hati,
Membuka tangan,
Membuka telinga,
Dan mulai untuk meninggalkan zona nyaman,
Dan menanggalkan mental block yang menghambat diri kita dari kemajuan.
Dunia dan kehidupa, sungguh luas, dengan segala kemungkinannya yang tidak terbatas.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.