JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Age is Not a Determinant of the Dignity and Integrity of a Human Being

It is normal,
When the younger generation at this time,
No longer respect for the older generation.
Seeing various inheritance in the form of natural damage,
Various humanitarian tragedies,
Corruptive behavior that is shown to the younger generation,
Various scandals that only show the face of greed and hypocrisy,
Makes young people feel angry and disgusted about the vulgar behavior of the older generation.
The older generation,
Too selfish to the younger generation.
Quite the contrary,
The older generation who must respect the younger generation,
Because the younger generation who now have to clean up the trash of the older generation,
Faced with the damage caused by the older generation,
Fixed social mental damage, which is like a deadly mind virus.
Should not we all respect each other,
Is it still the best choice?
Is it not when the older generation who first honor the young generation by providing a good living environment,
Is much more feasible and worthwhile?
We never know,
Are the older generations,
During his youth,
Do a lot of good work or maybe it's a lot of crime.
Why should we honor the old generation who has done a lot of evil throughout his life.
About age,
The older generation as well as the younger generation,
It is not important and has no relevance.
Man is determined by his positive contribution to the world,
Only then will the world honor her figure.
It's that simple.
The inner bond of man is not based on age structure,
Old or young,
But in terms of morality, kindness, inner purity, and honesty.


© HERY SHIETRA Copyright.

Adalah hal yang wajar,
Bila generasi muda pada masa ini,
Tidak lagi menaruh hormat kepada generasi tua.
Melihat berbagai warisan berupa kerusakan alam,
Berbagai tragedi kemanusiaan,
Perilaku koruptif yang dipertontonkan kepada para generasi muda,
Berbagai skandal yang hanya menampilkan wajah ketamakan dan kemunafikan,
Membuat para generasi muda menjadi muak dan jijik terhadap perilaku vulgar para generasi tua.
Generasi tua,
Terlampau egois terhadap generasi muda.
Justru adalah sebaliknya,
Generasi tua yang harus menaruh hormat pada generasi muda,
Karena generasi muda yang kini harus membersihkan sampah para generasi tua,
Menghadapi kerusakan yang ditimbulkan para generasi tua,
Memperbaiki kerusakan mental sosial yang bagaikan virus pikiran mematikan.
Bukankah saling menghormati,
Adalah tetap pilihan yang terbaik?
Bukankah bila generasi tua yang terlebih dahulu menghormati generasi muda dengan menyediakan lingkungan hidup yang baik,
Adalah jauh lebih layak dan berharga?
Kita tidak pernah tahu,
Apakah para generasi tua tersebut,
Selama masih mudanya,
Banyak berbuat baik ataukah mungkin saja banyak berbuat kejahatan.
Untuk apa kita menghormat generasi tua yang telah banyak berbuat jahat sepanjang hidupnya.
Perihal umur,
Generasi tua maupun generasi muda,
Tidaklah penting dan tidak memiliki relevansi.
Manusia ditentukan oleh kontribusi positifnya bagi dunia,
Barulah dunia akan menghormati sosok dirinya.
Sesederhana itu saja.
Ikatan batin manusia bukan berdasar struktur umur,
Tua ataupun muda,
Namun dari segi moralitas, kebaikan hati, kemurnian batin, dan kejujuran.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

It's Better to be Mute than to be a Liar

Instead of talking but lying,
Would not it be better if we were silent.
Instead we fill our stomach by stealing other people's food,
Would not it be better to sleep with hunger?
Instead we deceive others for the benefit of ourselves,
Would not it be better if we live together in honesty and equality?
Instead we become landlords who live on the suffering of others,
Would not it be happier if we share space and share happiness with others?
Instead of using our hands to deceive others,
Would not it be nobler if we used our hands to earn a living honestly?
Rather than using our intelligence to get away from punishment or even deceive the rule of law,
Would not it be wise to dedicate our intelligence to creating inventions that can help many human beings such as the invention of lights by Thomas Edison?
Instead we use our power to blackmail the common people,
Would not it be wonderful if we used our power to serve for the little people who had been oppressed?
Instead we fill our stomachs to fullness with delicious food results of the suffering of others,
Would not it be happier if we ate something without making suffering for humans or other living beings?
Rather than demanding that others give what we are entitled to,
Would not it be wise to first ask ourselves, what is our duty to them.
Rather than us harassing the profession of others by asking to be served without being charged tariffs,
Would not it be fair if we were the first to work for the person without being paid?
Instead of filling our lives and ending our lives by committing crimes,
Would not it be better for ourselves to plant many good deeds as long as we live as human beings on Earth?
Instead of deceiving oneself by saying no, for what is real there is,
Or vice versa,
It would be much more elegant and wise to say it as it is,
Without any tendency that will only make others feel patronized.
We can call it as,
Be proportional.

© HERY SHIETRA Copyright.

Daripada berbicara namun berbohong,
Bukankah akan lebih baik bila kita diam membisu.
Daripada kita mengisi perut dengan cara mencuri makanan orang lain,
Bukankah lebih baik kita tidur sambil kelaparan?
Daripada kita menipu orang lain demi keuntungan diri sendiri,
Bukankah akan lebih baik bila kita hidup bersama dalam kejujuran dan kesetaraan?
Daripada kita menjadi tuan tanah yang hidup diatas penderitaan orang lain,
Bukankah akan lebih bahagia bila kita saling berbagi ruang dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain?
Daripada menggunakan tangan kita untuk menipu orang lain,
Bukankah akan lebih mulia bila kita menggunakan tangan kita untuk mencari nafkah secara jujur?
Daripada menggunakan kecerdasan kita untuk berkelit dari hukuman atau bahkan mengelabui aturan hukum,
Bukankah akan lebih bijaksana untuk mendedikasikan kecerdasan kita untuk menciptakan berbagai penemuan yang mampu menolong banyak umat manusia seperti penemuan lampu oleh Thomas Edison?
Daripada kita menggunakan kekuasaan kita untuk memeras rakyat jelata,
Bukankah akan lebih indah bila kita menggunakan kekuasaan kita untuk mengabdi bagi rakyat kecil yang selama ini tertindas?
Daripada kita mengisi perut kita hingga kenyang dengan makanan lezat hasil penderitaan orang lain,
Bukankah akan lebih membahagiakan bila kita memakan sesuatu tanpa membuat penderitaan bagi manusia ataupun makhluk hidup lainnya?
Daripada menuntut orang lain memberikan apa yang menjadi hak kita,
Bukankah akan lebih bijaksana bila kita terlebih dahulu menanyakan pada diri kita sendiri, apa yang menjadi kewajiban kita terhadap mereka.
Daripada kita melecehkan profesi orang lain dengan meminta dilayani tanpa mau dibebani tarif,
Bukankah akan lebih adil bila kita yang terlebih dahulu bekerja bagi orang tersebut tanpa diberikan upah?
Daripada kita mengisi hidup dan mengakhiri hidup kita dengan melakukan berbagai kejahatan,
Bukankah akan lebih baik bagi kita sendiri untuk menanam banyak perbuatan baik selama kita hidup sebagai manusia di Bumi?
Daripada menipu diri dengan mengatakan tidak ada, atas apa yang secara nyata ada adanya,
Ataupun sebaliknya,
Alangkah jauh lebih elegan dan bijaksana untuk berkata secara apa adanya,
Tanpa tendensi apapun yang hanya akan membuat orang lain merasa digurui.
Kita dapat menyebutnya sebagai,
Bersikap proporsional.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Present for Ourselves

We may hate the circumstances of our lives,
But we must not hate ourselves.
Others may escape from their responsibilities,
But we must always be present for ourselves when we really need, and accompany us at the most critical moment in our lives.
We may feel a grudge against a parent who has treated us as a child, unworthily,
Or feel angry when treated unfairly by the people around us.
But we must still be able to give love and care for our own development.
It is possible that many bad people who want to see us have no future.
But we must still be able to be relied upon by ourselves to build the future of ourselves.
Other people may behave badly and improperly against us,
But we must continue to be patient and understanding to ourselves.
Other people may leave us irresponsibly,
But we must continue to appear to take on the role of the best teacher and friend to ourselves.
If our own parents fail to take care of us,
Then we must want to take over the role, and start being a good parent for ourselves.
No longer dependent on such irresponsible parents.
Other people can make us disappointed repeatedly,
But we must be able to keep our own promises to ourselves.
We may not have a friend in this life,
But is not it better to walk alone than to have a thousand friends who always justify our misbehavior or who are only able to take advantage of us.
Would not it be more exciting to make friends with ourselves.
We may find an unfaithful spouse,
But at least we always keep each determination and commitment that once we say to ourselves,
Faithful to the principles of ourselves.
We may live in a state not conducive to a humanist life,
But would not it be better for us to learn the living philosophy of growing lotus,
Which is able to grow and bloom from within a muddy pond.
Maybe now we live in poverty,
But is not that still more noble than to find food by stealing food whose belong to others,
And far more honorable than those who are materially rich, yet still constantly blackmail and steal from the poor.
The gods,
In seeing a human being,
Not from the clothes they wear or the possessions of a human being.
But of the inner quality and the sanctity of the heart.
With simple clothes,
We may be underestimated by those around us.
However, again,
It would not be more honorable for us to be liked by gods and goddesses,
Instead of stupid humans who can only judge a person from an outward appearance,
Fooled by material attributes that are just a mere cosmetics.
Someone who is really clean hearted,
Never needed any cosmetics.
He always looks as it is,
Without feeling inferior.

© HERY SHIETRA Copyright.

Kita boleh saja membenci keadaan hidup kita,
Tapi kita tidak boleh membenci diri kita sendiri.
Orang lain bisa saja melarikan diri dari tanggung jawabnya,
Namun kita harus selalu hadir untuk diri kita sendiri saat benar-benar kita butuhkan, dan menemani kita disaat paling kritis dalam hidup kita.
Kita dapat saja merasa dendam terhadap orangtua yang telah memperlakukan kita sebagai seorang anak, secara tidak layak,
Atau merasa marah ketika diperlakukan secara tidak adil oleh orang-orang di sekitar kita.
Namun kita harus tetap mampu memberikan cinta dan menaruh perhatian bagi perkembangan diri kita sendiri.
Mungkin saja banyak orang jahat yang ingin melihat kita tidak memiliki masa depan.
Namun kita harus tetap mampu diandalkan oleh diri kita sendiri untuk membangun masa depan diri kita sendiri.
Orang lain bisa saja berlaku secara buruk dan tidak patut terhadap diri kita,
Namun kita harus terus bersikap penuh kesabaran dan penuh pengertian terhadap diri kita sendiri.
Orangl lain bisa saja meninggalkan kita tanpa bertanggung jawab,
Namun kita harus terus tampil untuk mengambil peran sebagai guru dan kawan yang terbaik bagi diri kita sendiri.
Bila orangtua kita sendiri gagal untuk mengasuh kita,
Maka kita harus mau untuk mengambil alih peran itu, dan mulai menjadi orangtua yang baik bagi diri kita sendiri.
Tidak lagi bergantung pada sosok orangtua yang tidak bertanggung jawab demikian.
Orang lain bisa saja membuat kita kecewa secara berulang kali,
Namun kita harus mampu menepati janji kita sendiri kepada diri kita sendiri.
Kita mungkin saja tidak memiliki seorang pun sahabat dalam hidup ini,
Tapi bukankah lebih baik berjalan seorang diri daripada memiliki seribu orang teman yang selalu membenarkan perilaku keliru kita atau yang hanya mampu mengambil keuntungan dari kita.
Bukankah akan lebih menggembirakan untuk menjalin pertemanan dengan diri kita sendiri.
Kita mungkin saja mendapati pasangan hidup yang tidak setia,
Namun setidaknya kita selalu menepati setiap tekad dan komitmen yang pernah kita ucapkan bagi diri kita sendiri,
Setia terhadap prinsip diri kita sendiri.
Kita mungkin saja hidup di dalam negara yang tidak kondusif bagi kehidupan yang humanis,
Namun bukankah akan lebih baik bagi kita untuk belajar filosofi hidup dari tumbuh teratai,
Yang mampu tumbuh dan mekar dari dalam kolam berlumpur.
Mungkin saja saat kini kita hidup miskin,
Namun bukankah itu masih lebih mulia daripada mencari makan dengan cara mencuri makanan orang lain,
Dan jauh lebih terhormat daripada mereka yang kaya secara materi, namun masih terus-menerus memeras dan mencuri dari orang-orang miskin.
Makhluk dewata,
Dalam melihat seorang manusia,
Bukan dari pakaian yang mereka kenakan atau harta kekayaan yang dimiliki seorang manusia.
Namun dari kualitas batin dan kesucian hati.
Dengan pakaian yang sederhana,
Kita mungkin saja diremehkan oleh orang-orang di sekitar kita.
Namun, sekali lagi,
Bukankan akan lebih terhormat bagi kita bila disukai oleh para dewa dan dewi,
Daripada manusia-manusia bodoh yang hanya mampu menilai seseorang dari tampilan luar semata,
Terkecoh oleh atribut materi yang hanya polesan kosmetik belaka.
Seseorang yang betul-betul berhati bersih,
Tidak pernah membutuhkan kosmetik apapun.
Ia selalu tampil apa adanya,
Tanpa merasa rendah diri.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

A Middle Way, the Art of Life

There are many people who live suffer from lack of money.
But there are also many examples,
People who are wretched by too much money.
Many people who live suffer from lack of food.
But there are also many examples of life in our environment,
The people who just hurt, the result of eating too much,
Even reportedly experiencing death from too much to eat,
Beyond the capacity of food that can be accommodated by his stomach.
There are some of us who experience difficulties in his life,
Because too stupid.
However,
Not infrequently we also encounter,
People who are just looking for their own problems,
Because they are too smart.
There are some of us who are destroying their own identity,
Just because of lack of confidence.
But some of us,
It is precisely the disease of society,
Because of excessive confidence.
There are also oppressed people throughout his life,
Just because it's too weak, helpless.
But many of us, too,
That becomes arrogant even incarnate dictator,
Because it is too strong and so powerful.
There are people who never want to do good,
So do not have any good karma savings to become capital in the future life.
But there are also people who are often deceived and manipulated,
Just because the person is too kind.
There are people who live so suffering from malignant disease.
But there are also people who are so healthy,
So start to feel bored of healthy life,
And begin to recognize unhealthy lifestyles that ultimately self-destruct.
There are people who do not have a spouse,
So to live the joys and sorrows of life, alone.
But there are also people who have dozens of wives,
Now bothered by the cost of living dozens of wives and dozens of children.
There are people who are totally unrecognized by society,
As if even though he had never been born into this earth,
No one feels lost about him.
But there are also people,
That because so famous,
Like a celebrity named John Lennon,
Died precisely in the hands of a fan.
There are people who die frozen because of hyportemia.
But there are also people who died burning in the fire.
Life,
Is an art of "middle way",
Thus the Buddha always taught his disciples.
Those who play around at the extreme cliff edge,
Indeed they are at the bottom of the Abyss.

© HERY SHIETRA Copyright.

Ada banyak orang yang hidup menderita akibat kekurangan uang.
Namun ada pula banyak contoh,
Orang-orang yang justru celaka akibat terlampau banyak uang.
Banyak orang yang hidup menderita akibat kekurangan makanan.
Namun ada pula banyak contoh kehidupan di lingkungan hidup kita,
Orang-orang yang justru celaka akibat terlampau banyak makan,
Bahkan dikabarkan mengalami kematian akibat terlampau banyak makan,
Melampaui kapasitas makanan yang mampu ditampung oleh perutnya.
Ada sebagian diantara kita yang mengalami berbagai kesulitan dalam hidupnya,
Karena terlampau bodoh.
Namun,
Tidak jarang juga kita jumpai,
Orang-orang yang justru mencari masalah sendiri,
Karena diri mereka terlampau pintar.
Ada sebagian diantara kita yang merusak jati dirinya sendiri,
Hanya karena kurangnya kepercayaan diri.
Namun sebagian diantara kita lainnya,
Justru menjadi penyakit masyarakat,
Karena kepercayaan diri berlebih.
Ada juga orang-orang yang tertindas sepanjang hidupnya,
Hanya karena terlampau lemah, tidak berdaya.
Namun banyak juga diantara kita,
Yang menjadi arogan bahkan menjelma diktator,
Karena terlampau kuat dan demikian berkuasa.
Ada orang yang tidak pernah mau berbuat baik,
Sehingga tidak memiliki tabungan karma baik apapun untuk menjadi modal di kehidupan mendatang.
Namun ada juga orang-orang yang kerap tertipu dan diperalat,
Hanya karena terlampau baik.
Ada orang-orang yang hidup demikian menderita karena diserang penyakit ganas.
Namun ada juga orang-orang yang demikian sehat,
Sehingga mulai merasa bosan hidup sehat,
Dan mulai mengenal pola hidup tidak sehat yang pada akhirnya merusak diri sendiri.
Ada orang yang tidak punya pasangan hidup,
Sehingga menjalani suka dan duka kehidupan, seorang diri.
Namun ada juga orang-orang yang memiliki belasan orang istri,
Kini dipusingkan oleh biaya hidup belasan istri dan puluhan anaknya.
Ada orang yang sama sekali tidak dikenali masyarakat,
Seakan bila sekalipun dirinya tidak pernah dilahirkan ke muka Bumi ini,
Tiada seorang pun yang merasa kehilangan terhadap dirinya.
Namun ada juga orang-orang,
Yang karena demikian terkenalnya,
Seperti selebritis bernama John Lennon,
Meninggal justru di tangan seorang penggemarnya.
Ada orang-orang yang meninggal dalam keadaan beku karena hiportemia.
Namun ada juga orang-orang yang mati terbakar hangus akibat kebakaran.
Hidup,
Adalah sebuah seni “jalan tengah”,
Demikianlah Sang Buddha selalu mengajarkan para muridnya.
Mereka yang bermain-main di ujung tebing ekstrim,
Sejatinya sedang berada di ujung jurang maut.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Feelings can Trap Us, When Mistakenly Interpreted It

Do not follow or make feelings, as our guide and instructor,
But follow and think based on the existing ratios and facts,
So that we do not regret in the future.
Often feeling is controlled by ignorance,
It leads us to the destruction of ourselves.
Feeling,
Often it is part of the instinct to die from a human being,
Fool us unknowingly,
Controlled like a robot that moves and acts without having a rational thought.
Through feeling,
We are moved to buy everything we see and meet.
Through feeling,
We would be tempted to run away from responsibility.
Through feeling,
We will be encouraged to invite each and every beautiful woman or handsome man we meet, and forget the commitment with our spouse today.
Through feeling,
We may be aroused to beat our whining child.
Through feeling,
Maybe we will be tempted to use fraudulent means to achieve the goal.
Through feeling,
We will be so easy to fall when we have trouble in life.
Through feeling,
We will feel like always winning by ourselves, without realizing that other people want to enjoy the victory.
Through feeling,
We will harass the feelings of others, without us realizing that other people's feelings can be hurt.
Through feeling,
We will solve every problem by using violent means.
Through feeling,
We may steal or even rob a house of a citizen who looks more prosperous than he is.
That is why,
The Buddha always teaches his disciples to practice controlling our own thoughts and our five senses.
An animal,
Being in touch with other animals when they are in need of intercourse,
No shame.
When humans always follow and follow the impulse of feelings and desires,
So humans and animals thus,
Absolutely no difference.
A person who is weak in the ability of his brain,
Will rely more on his hand muscles or even his punch, to deal with every problem he faces.
If indeed our impulses and feelings are always right,
So our whole life will never recognize the meaning of regret.
Without regret,
There is no self-introspection.
Without self introspection,
No self-improvement.
No self-improvement,
It is a destruction for itself and a disaster for those around him.
Through feeling,
We want to feel always right,
Without ever being able to look at ourselves objectively.
Sometimes,
Feelings can trap us,
When mistakenly interpreted it.

© HERY SHIETRA Copyright.

Jangan ikuti ataupun jadikan perasaan sebagai pemandu dan instruktur kita,
Tapi ikuti dan berpikir berdasarkan rasio dan fakta yang ada,
Agar kita tidak menyesal dikemudian hari.
Seringkali perasaan dikendalikan oleh kebodohan batin,
Mengarahkan kita menuju kehancuran diri kita sendiri.
Perasaan,
Seringkali merupakan merupakan bagian dari insting untuk mati dari seorang manusia,
Mengecoh kita tanpa kita sadari,
Dikendalikan bagai robot yang bergerak dan bertindak tanpa memiliki pemikiran yang rasional.
Lewat perasaan,
Kita tergerak untuk membeli segala sesuatu yang kita lihat dan jumpai.
Lewat perasaan,
Kita akan tergoda untuk lari dari tanggung jawab.
Lewat perasaan,
Kita akan terdorong untuk mengajak kencan setiap wanita cantik atau pria tampan yang kita jumpai, dan melupakan komitmen dengan pasangan hidup kita saat ini.
Lewat perasaan,
Kita mungkin akan terangsang untuk memukul anak kita yang sedang merengek.
Lewat perasaan,
Mungkin kita akan tergiur untuk menggunakan cara-cara curang untuk mencapai tujuan.
Lewat perasaan,
Kita akan demikian mudah terjatuh ketika menemui kesukaran dalam hidup.
Lewat perasaan,
Kita akan merasa ingin selalu menang seorang diri, tanpa mau menyadari bahwa orang lain pun ingin menikmati kemenangan.
Lewat perasaan,
Kita akan melecehkan perasaan orang lain, tanpa kita mau menyadari bahwa perasaan orang lain pun mampu terluka.
Lewat perasaan,
Kita akan menyelesaikan setiap masalah dengan menggunakan cara-cara kekerasan.
Lewat perasaan,
Kita mungkin mencuri atau bahkan merampok rumah seseorang warga yang tampak hidup lebih makmur daripada dirinya.
Itulah sebabnya,
Sang Buddha selalu mengajarkan para muridnya untuk berlatih mengontrol pikiran kita sendiri dan kelima indera kita.
Seekor hewan,
Akan berhubungan badan dengan hewan lain ketika mereka sedang menginginkan hubungan badan,
Tanpa mengenal rasa malu.
Bila manusia selalu mengikuti dan menuruti dorongan perasaan dan keinginan,
Maka manusia dan hewan dengan demikian,
Sama sekali tidak memiliki perbedaan.
Seseorang yang lemah dalam daya kemampuan otaknya,
Akan lebih banyak mengandalkan otot tangannya atau bahkan pukulan tinjunya untuk menghadapi setiap masalah yang dihadapinya.
Bila memang dorongan hati dan perasaan kita selalu benar,
Maka seumur hidup kita tidak akan pernah mengenali makna penyesalan.
Tanpa penyesalan,
Tiada instrospeksi diri.
Tanpa introspeksi diri,
Tiada perbaikan diri.
Tiada perbaikan diri,
Adalah kehancuran bagi dirinya sendiri maupun bencana bagi orang-orang yang berada di sekitarnya.
Lewat perasaan,
Kita ingin merasa selalu benar,
Tanpa pernah lagi mampu memandang diri kita sendiri secara objektif.
Terkadang,
Perasaan dapat menjebak kita,
Ketika keliru menafsirkannya.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.