JENIUS KONSULTAN, TRAINER, ANALIS, PENULIS ILMU PENGETAHUAN ILMIAH HUKUM RESMI oleh HERY SHIETRA

Konsultasi Hukum Pidana, Perdata, Bisnis, dan Korporasi. Prediktif, Efektif, serta Aplikatif. Syarat dan Ketentuan Layanan Berlaku

Our Victims are Not Fools who can not Translate Their Own Feelings

When we do wrong,
So immediately we acknowledge our mistake and apologize.
Do not we ever cunningly make arguments to cover up our mistakes,
Especially arguing with people we have harmed or hurt.
Arguing someone we've lied to and hurt,
Equally meaning we want to think of them as fools who can easily be lied to.
Arguing the victim we have harmed,
It means we want to patronize their own feelings and experiences.
Debate those we have deceived,
Equally meaning we are saying that their ears are deaf and their eyes are blind,
So we need to tell them what they have seen and heard,
Though they are not blind and not deaf.
Arguing and arguing against the people we have hurt and injured,
It means we are harassing them.
When we are constantly looking for excuses and arguing,
The door of forgiveness will be closed for us.
We can never or have the right to patronize what other people feel.
The more we argue and lie,
The more we hurt someone we hurt.
The more we lie and twist the facts,
The more we want to state that they are the wrong fools when they feel hurt when hurt.
Being dishonest and just to avoid responsibility,
Resembling gasoline doused into glowing embers,
Hatred will burn even more in the victim.
The more we deny the true event,
It will increasingly show how corrupt our integrity is.
When integrity is undermined by all forms of dishonesty,
Our reputation will automatically become dirty.
Lying,
Lie,
Deny,
Turning back the facts,
Patronizing other people's feelings,
Just as we are damaging our own reputation.
Therefore,
We need to learn to immediately acknowledge mistakes and apologize when we do wrong.
Never try to turn the truth around,
Especially denying,
And especially patronize the feelings of others we have hurt.
Our victims are not fools who can not translate their own feelings.

© HERY SHIETRA Copyright.

Ketika kita berbuat keliru,
Maka segeralah kita mengakui kekeliruan kita dan meminta maaf.
Jangan pernah kita dengan licik membuat argumentasi untuk menutupi kesalahan kita,
Terlebih berdebat dengan orang yang telah kita rugikan atau sakiti.
Mendebat seseorang yang telah kita bohongi dan lukai,
Sama artinya kita hendak menganggap mereka sama seperti orang bodoh yang bisa dengan mudah dibohongi.
Mendebat korban yang telah kita rugikan,
Sama artinya kita hendak menggurui perasaan dan pengalaman mereka sendiri.
Mendebat orang yang telah kita tipu,
Sama artinya kita sedang mengatakan bahwa telinga mereka tuli dan mata mereka buta,
Sehingga perlu kita beritahu mereka apa yang telah mereka lihat dan dengar,
Sekalipun mereka tidak buta dan tidak tuli.
Mendebat dan beragumentasi terhadap orang yang telah kita sakiti dan lukai,
Sama artinya kita sedang melecehkan mereka.
Ketika kita terus-menerus mencari alasan dan mendebat,
Pintu maaf akan semakin tertutup bagi kita.
Kita tidak pernah dapat ataupun berhak untuk menggurui apa yang menjadi perasaan orang lain.
Semakin kita berdebat dan berbohong,
Semakin kita melukai seseorang yang telah kita sakiti.
Semakin kita berdusta dan memutar balik fakta,
Semakin kita hendak menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang bodoh yang salah bila merasa terluka ketika disakiti.
Bersikap tidak jujur dan hanya berkilah dari tanggung jawab,
Menyerupai bensin yang disiram ke bara api yang menyala,
Kebencian akan membara lebih hebat lagi pada diri korban.
Semakin kita memungkiri kejadian yang sebenarnya,
Akan semakin memperlihatkan betapa rusaknya integritas kita.
Ketika integritas dirusak oleh segala bentuk ketidakjujuran,
Reputasi kita secara sendirinya akan menjadi kotor.
Berdusta,
Berbohong,
Memungkiri,
Memutar balik fakta,
Menggurui perasaan orang lain,
Sama artinya kita sedang merusak reputasi kita sendiri.
Oleh karena itu,
Kita perlu belajar untuk sesegera mungkin mengakui kesalahan dan meminta maaf ketika berbuat keliru.
Jangan pernah sedikit pun berupaya untuk memutar balik fakta,
Terlebih memungkiri,
Dan terlebih menggurui perasaan orang lain yang telah kita lukai.
Para korban kita bukanlah orang-orang bodoh yang tidak dapat menerjemahkan perasaan mereka sendiri.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

The right way to worship God

Someone who is really qualified,
Not much to say,
Not much promise,
Not many have a reason to avoid from responsibility,
But always characterized through concrete attitude, action in real.
Someone who is really responsible,
There is not much to seek for self-justification,
Not much to look for alibis,
There will not be much reason to cover up all his bad acts,
But always characterized by the attitude of concrete steps in the form of real action,
Not just speech and promises.
Someone who really feels guilty and wants to apologize,
It will not be much evasive of the mistakes he has made,
There would not be many argue or debate,
Nothing to say much defensively,
But it will be heartened, and the attitude of a knight,
Confess all his faults and bravely face the consequences.
Someone who can really be called a hero,
It will not take many criminals to get kicked and beaten,
It will not take a lot of fans to praise him / her,
There will not be much need for fame like celebrities,
But always able to control the impulse of bad attitude arising from himself,
And with all its might to strive to evoke good inward attitudes for the good of mankind.
Each person,
Therefore,
Can be a hero.
Just as anyone can become a Buddha,
As long as he has the will to fight to erode his own defilements.
Someone who is genuinely sincere,
It will not demand much,
Nothing to say much,
Will not expect reward or reward in kind,
But it is always a soul serving, and full of warmth with open arms.
Someone who really can be called a friend,
Not a lot of present when we're having fun,
It will not justify our behavior, when we do wrong,
It will not lead us to do bad things,
But it will always be present when we are facing life difficulties and really need the presence of a friend.
Someone who really deserves to be called a leader,
It will not treat employees or their people like a slave,
Will not blackmail and deceive employees or their own people,
Will not abuse the power he holds,
But always set the example of goodness and the real example of exemplary attitudes that should be emulated.
A person who is really worth mentioning is called a human being,
It will not fool anyone much,
It will not hurt many people much,
It will not behave much like an animal that only knows to eat, sleep, and physical activity with the opposite sex,
But humanizing himself through humanist nature.
A person who can truly be called a godly man,
There will not be much licking of God through the praises,
There will not be much licking of God through worship,
Will not believe in a less humanist figure than a human being,
But be noble,
Because by being a human being with noble character,
Through a tolerant attitude,
Fond of helping every living thing,
It does not hurt other creatures,
And practicing self-control practices,
By itself is more than enough to glorify God.
Meanwhile,
Is a useless man,
Who believes that the purpose of the creation of a human being is simply to become the object of God's masturbation.
Being a good human being,
By itself glorify God.
As has been said by the Buddha,
That evil person is evil.
The presence or absence of God,
The wicked are still bad people.
Whoever the creator,
So the creator is no better than his creations.
That the Buddha is a good person.
The presence or absence of God,
The Buddha is still a good man.
Whoever the creator,
So a Buddha has glorified God.
This world never needs someone who diligently licked the buttocks of God,
But at the same time also diligent to kill and steal from other humans.

© HERY SHIETRA Copyright.

Seseorang yang betul-betul berkualitas,
Tidak banyak berbicara,
Tidak banyak mengucap janji,
Tidak banyak memiliki alasan untuk menghindari dari tanggung jawab,
Namun selalu dicirikan lewat sikap konkret aksi secara nyata.
Seseorang yang betul-betul bertanggung jawab,
Tidak akan banyak mencari pembenaran diri,
Tidak akan banyak mencari alibi,
Tidak akan banyak mencari-cari alasan untuk menutupi segala tindakan buruknya,
Namun selalu dicirikan lewat sikap langkah nyata berupa tindakan nyata,
Tidak sekadar ucapan dan janji-janji.
Seseorang yang benar-benar merasa bersalah dan ingin meminta maaf,
Tidak akan banyak mengelak dari kesalahan yang telah dibuatnya,
Tidak akan banyak membantah ataupun mendebat,
Tidak akan banyak berbicara membela diri,
Namun akan dengan berbesar hati dan sikap ksatria,
Mengakui semua kesalahannya dan dengan berani menghadapi konsekuensinya.
Seseorang yang betul-betul dapat disebut sebagai pahlawan,
Tidak akan banyak butuh penjahat untuk ditendang dan dipukul,
Tidak akan banyak butuh penggemar yang memuja-muji dirinya,
Tidak akan banyak butuh ketenaran seperti selebritis,
Namun senantiasa mampu mengontrol dorongan sikap buruk yang timbul dari dirinya sendiri,
Dan dengan sekuat tenaga berjuang membangkitkan sikap-sikap baik dari dalam diri untuk kebaikan umat manusia.
Setiap orang,
Dengan demikian,
Dapat menjadi seorang pahlawan.
Sama seperti setiap orang dapat menjadi seorang Buddha,
Sepanjang ia memiliki kemauan untuk berjuang mengikis kekotoran batinnya sendiri.
Seseorang yang betul-betul bersikap tulus,
Tidak akan banyak menuntut,
Tidak akan banyak berbicara,
Tidak akan mengharapkan imbalan ataupun balasan setimpal,
Namun senantiasa berjiwa melayani dan penuh kehangatan dengan tangan terbuka.
Seseorang yang benar-benar dapat disebut sebagai kawan,
Tidak akan banyak hadir disaat kita sedang bersenang-senang,
Tidak akan membenarkan perilaku kita, ketika kita berbuat keliru,
Tidak akan menjerumuskan kita untuk berbuat yang tidak baik,
Namun akan selalu hadir ketika kita sedang menghadapi kesulitan hidup dan benar-benar membutuhkan kehadiran seseorang kawan.
Seseorang yang betul-betul layak untuk disebut sebagai seorang pemimpin,
Tidak akan memperlakukan pegawai ataupun rakyatnya seperti seorang budak,
Tidak akan memeras dan menipu karyawan ataupun rakyat sendiri,
Tidak akan menyalahgunakan kekuasaan yang dipegangnya,
Akan tetapi senantiasa memberi teladan kebaikan dan contoh nyata sikap luhur yang patut diteladani.
Seseorang yang betul-betul patut disebut disebut sebagai seorang manusia,
Tidak akan banyak menipu orang lain,
Tidak akan banyak menyakiti orang lain,
Tidak akan banyak berperilaku seperti seekor hewan yang hanya tahu untuk makan, tidur, dan kegiatan badaniah dengan lawan jenis,
Akan tetapi memanusiakan dirinya lewat tabiat humanis.
Seseorang yang betul-betul dapat disebut sebagai manusia bertuhan,
Tidak akan banyak menjilat Tuhan lewat puja-puji,
Tidak akan banyak menjilat Tuhan lewat penyembahan,
Tidak akan meyakini sosok Tuhan yang lebih tidak humanis dari seorang manusia,
Akan tetapi bersikap mulia,
Karena dengan menjadi manusia yang berkarakter mulia,
Lewat sikap toleran,
Gemar menolong setiap makhluk hidup,
Tidak menyakiti makhluk lainnya,
Dan melatih praktik pengendalian diri,
Dengan sendiri sudah lebih dari cukup untuk memuliakan Tuhan.
Sementara itu,
Adalah manusia yang tidak berguna,
Yang meyakini bahwa tujuan penciptaan seorang manusia ialah hanya untuk menjadi objek masturbasi Tuhan.
Menjadi manusia yang baik,
Secara sendirinya memuliakan Tuhan.
Seperti telah disampaikan oleh Sang Buddha,
Bahwa orang yang jahat adalah jahat.
Ada atau tidaknya Tuhan,
Orang jahat tetaplah orang jahat.
Siapapun penciptanya,
Maka penciptanya tidaklah lebih baik dari ciptaannya.
Bahwa sang Buddha adalah orang yang baik.
Ada atau tidak adanya Tuhan,
Sang Buddha tetaplah orang yang bersikap baik.
Siapapun penciptanya,
Maka seorang Buddha telah memuliakan Tuhan.
Dunia ini tidak pernah butuh seseorang yang rajin menjilat bokong Tuhan,
Namun disaat bersamaan rajin pula untuk membunuh dan mencuri dari manusia lainnya.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.

We do not Need to Force Others to Accept Our Kindness

When our kindness is abused by others,
Or others repeatedly repay our kindness with an arrogant attitude,
So it is enough for us to start learning to be nice to ourselves.
Because those who are ungrateful for our kindness,
Not worthy of our kindness.
For what,
We are kind to others,
But at the same time it will only hurt our heart and ourselves?
The so-called good attitude, kindness, and good deeds,
It is when our deeds, do not hurt others and also do not hurt ourselves,
Neither our body nor our feelings.
We need not be obsessed to be known as good people, in the eyes of others.
Other people who do not deserve our kindness,
Do not deserve any kindness.
The more we strive to be nice to him,
The more we will feel disappointed made by him.
It is enough for us to start learning more to pay attention and kindness to ourselves.
Whoever it is,
Even our closest people,
When they just repay our kindness by hurting our feelings and our bodies,
Then we have the right to live freely and begin to only pay attention and kindness to ourselves.
Because,
We ourselves are most responsible for the life and happiness of our own lives.
We do not need to demand happiness from others,
So we never have an altruistic duty to please others by sacrificing our own happiness.
Those who wasted our kindness,
Or even repay our kindness with arrogant attitude,
We can interpret it as a refusal to be granted our kindness.
We do not need to force others to accept our kindness.
Simply we use and allocate these limited time resources,
In a wholehearted way, paying attention to the happiness of life and the future of ourselves.
Each of us,
Responsible for the life and happiness of life of each of us.
Therefore,
It is not us, who are most responsible for the life and happiness of others' lives.
For what,
We ourselves suffer physically or inwardly,
Just for imposing kindness, to those who are totally unworthy, to the slightest gain our kindness.
Begin to really pay attention to the happiness of life and the future of ourselves.
Let us not assume that others will notice the happiness of our life and our future,
By giving them our kindness.
A greedy human being,
Will never be grateful,
As much as any sacrifice we have done for them.
There are always strict differences,
Between kindness and being stupid.
Whatever will be said by others,
Nonetheless,
We ourselves are most responsible for the happiness and future of our own lives.

© HERY SHIETRA Copyright.

Ketika kebaikan hati kita disalahgunakan oleh orang lain,
Atau orang lain secara berulang kali membalas kebaikan hati kita dengan sikap arogan,
Maka cukuplah bagi kita untuk mulai belajar bersikap baik bagi diri kita sendiri.
Karena mereka yang tidak tahu berterimakasih atas kebaikan hati kita,
Tidak layak untuk mendapat kebaikan hati kita.
Untuk apakah,
Kita bersikap baik kepada orang lain,
Namun disaat bersamaan hanya akan menyakiti hati dan diri kita sendiri?
Yang disebut dengan sikap baik, kebaikan hati, maupun perbuatan baik,
Adalah ketika perbuatan kita tersebut, tidak menyakiti orang lain dan juga tidak menyakiti diri kita sendiri,
Baik tubuh kita maupun perasaan kita.
Kita tidak perlu terobsesi untuk menjadi orang baik di mata orang lain.
Orang lain yang tidak patut mendapat kebaikan hati kita,
Tidak layak untuk mendapatkan kebaikan hati apapun.
Semakin kita berusaha keras bersikap baik terhadapnya,
Semakin kita akan merasa kecewa dibuat olehnya.
Cukup bagi kita untuk mulai belajar lebih banyak menaruh perhatian dan kebaikan hati kepada diri kita sendiri.
Siapapun itu,
Bahkan orang-orang terdekat kita,
Ketika mereka hanya membalas kebaikan hati kita dengan menyakiti perasaan dan tubuh kita,
Maka kita berhak untuk hidup bebas dan mulai untuk hanya menaruh perhatian dan kebaikan hati bagi diri kita sendiri.
Karena,
Kita sendiri yang paling bertanggung jawab atas hidup dan kebahagiaan hidup kita sendiri.
Kita tidak perlu menuntut kebahagiaan dari orang lain,
Sehingga kita pun tidak pernah punya kewajiban altruistik untuk membahagiakan orang lain dengan cara mengorbankan kebahagiaan diri kita sendiri.
Mereka yang menyia-nyiakan kebaikan hati kita,
Atau bahkan membalas kebaikan hati kita dengan sikap arogan,
Dapat kita artikan sebagai penolakan untuk diberikan kebaikan hati kita.
Kita tidak perlu memaksakan orang lain agar menerima kebaikan hati kita.
Cukup kita gunakan dan alokasikan sumber daya waktu yang terbatas ini,
Dengan cara sepenuh hati memerhatikan kebahagiaan hidup dan masa depan diri kita sendiri.
Masing-masing dari kita,
Bertanggung jawab atas hidup dan kebahagiaan hidupnya masing-masing.
Oleh karenanya,
Bukanlah kita yang paling bertanggung jawab atas hidup dan kebahagiaan hidup orang lain.
Untuk apakah,
Kita sendiri yang menjadi menderita secara fisik ataupun secara batin,
Hanya karena memaksakan kebaikan hati kepada meraka yang sama sekali tidak layak untuk sedikitpun mendapat kebaikan hati kita.
Mulailah untuk benar-benar memperhatikan kebahagiaan hidup dan masa depan diri kita sendiri.
Janganlah lagi kita berasumsi bahwa orang lain akan memerhatikan kebahagiaan hidup dan masa depan kita,
Dengan cara memberi mereka kebaikan hati kita.
Seorang manusia yang tamak,
Tidak akan pernah tahu berterima kasih,
Sebanyak apapun pengorbanan yang telah kita lakukan bagi dirinya.
Selalu terdapat perbedaan yang tegas,
Antara kebaikan hati dengan bersikap bodoh.
Apapun yang kemudian akan dikatakan oleh orang lain,
Tetap saja,
Kita sendiri yang paling bertanggung jawab atas kebahagiaan dan masa depan hidup kita sendiri.


© Hak Cipta HERY SHIETRA.