(DROP DOWN MENU)

Kode Etik Rakyat, sebagai Sesama Warga, Etika bagi Masing-Masing Fungsi dan Peran Dibalik Status setiap Individu

LEGAL OPINION

Disiplin Etika dan Moralitas sebagai Praktik Jalan Buddhistik, Dilandasi oleh Kesadaran Internal Diri alih-alih Kepatuhan akibat Daya Paksa Eksternal Diri secara Membuta

Question: Apakah dalam Buddhisme, ada semacam pedoman etik bagi pemerintah maupun bagi rakyat, semisal dalam rangka pembentukan hukum nasional ataupun norma sosial, agar tertib sosial dan keharmonisan antar warga dapat tercapai atau paling tidak terkondisikan?

Brief Answer: Buddhisme berbeda dengan agama-agama dogmatis berbasis wahyu “ilahi” (agama samawi) yang berisi larangan ataupun perintah, maupun hukum-hukum agama seperti mengatur perkawinan, pewarisan, dan sebagainya. Buddhisme ialah jalan hidup berisi pedoman-pedoman etis bagi mereka yang hendak membentuk harmoni sosial, karenanya lebih “membumi” dan lebih berfaedah, alias pedoman hidup yang bermanfaat bagi masyarakat.

Agama mengatur ataupun tidak norma-norma hukum, masing-masing negara pasti telah dan akan mengatur hukumnya sendiri, terlebih negara yang bercorak majemuk sehingga tidaklah etis bilamana norma “hukum agama” suatu agama diberlakukan bagi warga yang berbeda latar belakang keyakinan, sehingga Buddhisme tidak merasa perlu untuk menciptakan dualisme norma hukum yang intoleran semacam itu. Negara mengatur dan menata rakyat lewat norma hukum yang mereka bentuk apapun agama para masyarakatnya, sementara itu agama seyogianya hanya membatasi diri dalam tataran kejiwaan dan psikologis para umatnya, agar tidak menjadikan agama sebagai “bendera” untuk dipolitisir terlebih dimobilisir pihak-pihak tertentu yang memperalat / membongceng agama.

Namun demikian, Buddhisme sangat amat kaya dengan pedoman etis bagi para umat pengikutnya maupun juga bagi para rakyat yang sekalipun berbeda agama tetap dapat menjalankan disiplin moralitas ini (ingat, Buddhisme bukanlah menekankan dogma keagamaan yang sifatnya esklusif, namun disiplin moralitas yang universal sifatnya), jauh lebih berbobot ketimbang segudang peraturan perundang-undangan yang diciptakan oleh negara.

Sebagai contoh, menegakkan praktik disiplin moralitas, bilamana dijalankan oleh masing-masing umat maupun masyarakat luas pada umumnya secara komitmen serta konsisten, maka dapat dipastikan hukum negara tidak dibutuhkan pengaturannya secara demikian masif lewat pembentukan berbagai undang-undang yang kian “gemuk” kian hari, sehingga muaranya justru stagnan atau “mandek”-nya tingkat kepatuhan masyarakat terhadap hukum negara akibat norma-norma hukum menjelma “rimba belantara hukum” yang kusut, ruwet, dan kompleks. Semakin banyak Undang-Undang yang dibentuk dalam suatu negara, menjadi indikasi atau cerminan betapa budaya masyarakat negara bersangkutan belum cukup tertata untuk dapat disebut sebagai telah “beradab”.

PEMBAHASAN:

Dalam Buddhisme, tidak dikenal istilah-istilah semacam norma “perintah” ataupun “larangan”—namun berupa pedoman “jalan hidup” (the way of life) berupa disiplin moralitas yang universal sifatnya, sehingga lebih bersifat mencerahkan serta membebaskan disamping memberdayakan seluruh masyarakat luas apapun latar-belakang keyakinannya. Sementara itu “perintah” ataupun “larangan” bersifat kepatuhan yang ditekan daya paksanya secara eksternal, alih-alih kesadaran pribadi secara internal diri, karena mengandung sebentuk ancaman bila “perintah” tidak dipatuhi maupun ketika “larangan” dilanggar, mengakibatkan para umatnya menjadi demikian mekanistik layaknya seorang “robot” yang deterministik tanpa daya, seakan tidak memiliki pilihan bebas untuk memilih sebuah pilihan hidup, apapun konsekuensi dibaliknya.

Silahkan para pembaca sandingkan atau perbandingkan sendiri, berbagai “agama samawi” yang selama ini mengaku sebagai superior semata karena mengatur juga berbagai hukum (mengintervensi negara) lewat dualisme norma hukum, seolah terjadi segregasi segmental antara “hukum negara” dan “hukum agama”, apakah keduanya sekaya dan sekomprehensif salah satu kutipan sutta berikut dari demikian banyaknya disiplin etik sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha dalam berbagai sutta pada Tipitaka selama 45 tahun Sang Guru Agung bernama Buddha Gotama mengajarkan Dhamma, sebagaimana dapat kita temukan rujukannya pada Tipitaka, dengan kutipan sebagai berikut: [Sumber : Tipitaka, Sutta Pitaka, Digha Nikaya, Penerbit : Badan Penerbit Ariya Surya Chandra, 1991.]

Sigālovāda Sutta

Demikian yang telah kami dengar :

1. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara Hutan Bambu di Kalandakanivapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu, Sigala Putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha; dengan rambut dan pakaian basah dan sambil beranjali, ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah timur, selatan, barat, utara, bawah dan atas.

2. Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta membawa mangkuk-Nya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan (pindapata).

Kemudian Sang Bhagava melihat Sigala putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha; dengan rambut dan pakaian basah dan sambil beranjali, ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah timur, selatan, barat, utara, bawah dan atas. Dan Sang Bhagava bertanya kepada Sigala putra kepala keluarga itu demikian :

“O putra kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha; dengan rambut dan pakaian basah dan sambil beranjali, engkau menyembah ke berbagai arah, yaitu arah timur, selatan, barat, utara, bawah dan atas?”

“Bhante, ketika ayahku mendekati ajal, beliau berkata kepadaku untuk menyembah ke berbagai arah. Demikianlah, Bhante, karena menghormati, mengindahkan, menjunjung dan menganggap suci kata-kata ayahku itu, maka aku bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah dan sambil beranjali, aku menyembah ke berbagai arah, yaitu arah timur, selatan, barat, utara, bawah dan atas.”

“Tetapi, O putra kepala keluarga, dalam agama seorang Ariya enam arah itu tidak seharusnya disembah dengan cara demikian.”

“Bhante, bagaimana enam arah itu seharusnya disembah dalam agama seorang Ariya? Bhante, alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan ajaran yang menguraikan caranya enam arah itu harus disembah dalam agama seorang Ariya.”

3. “O putra kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan baik-baik kata-kata-Ku, dan Aku akan berbicara.”

“Baiklah, Bhante,” jawab Sigala putra kepala keluarga itu kepada Sang Bhagava. Dan kemudian Sang Bhagava berkata:

“O putra kepala keluarga, karena siswa Ariya telah menyingkirkan empat kekotoran tingkah laku (kammakilesa), karena ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan, karena ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan maka dengan menjauhi (na sevati) empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya), yaitu ia akan sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.

Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu? O putra kepala keluarga, itulah kekotoran tingkah laku membunuh mahluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berzinah dan berbohong. Inilah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan. Demikian sabda Sang Bhagava.

4. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut : ”Membunuh mahluk hidup, mencuri, berbohong, berzinah, Untuk perbuatan-perbuatan ini, para bijaksana tidak memuji.”

5. “Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan-perbuatan jahat yang tidak ia lakukan itu? Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati), perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan kebencian (dosa gati), perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan ketidaktahuan (moha gati) dan perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan rasa takut (bhaya gati). Tetapi, O putra kepala keluarga, karena siswa Ariya tidak terseret oleh dorongan rasa senang sepihak, tidak terseret oleh dorongan kebencian, tidak terseret oleh dorongan ketidaktahuan dan tidak terseret oleh dorongan rasa takut, maka ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat karena empat dorongan ini. Demikian sabda Sang Bhagava.

6. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut:

“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian,

Atau ketidaktahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma,

Maka nama baik dan kemasyhurannya akan menjadi pudar

Bagaikan bulan yang susut pada masa bulan-gelap.

Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian

Atau ketidaktahuan atau ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma,

Maka nama baik dan kemasyhurannya menjadi sempurna dan penuh

Bagaikan bulan purnama pada masa bulan-terang.”

7. “Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu? O putra kepala keluarga, gemar minum-minuman yang memabukkan, sering berkeliaran di jalan jalan pada saat yang tidak pantas, mengejar tempat-tempat hiburan, gemar berjud!, bergaul dengan teman-teman jahat dan kebiasaan menganggur (malas) adalah enam saluran yang memboroskan kekayaan.”

8. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya (adinava) akibat gemar minum minuman yang memabukkan (surameraya majjapamadatthananuyoga), yaitu : kerugian harta secara nyata, bertambahnya pertengkaran, tubuh mudah terserang penyakit, kehilangan sifat yang baik, terlihat tidak sopan, kecerdasan menjadi lemah. Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat gemar minum minuman yang memabukkan.”

9. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat sering berkeliaran di jalan jalan pada saat yang tidak pantas (vikala visikhacariyanuyoga), yaitu : dirinya sendiri tidak terjaga (agutta) dan tidak terlindung (arakkhita), anak istrinya tidak terjaga dan tidak terlindung, harta kekayaannya tidak terjaga dan terlindung, juga ia dapat dituduh sebagai pelaku kejahatan-kejahatan (yang belum terbukti), menjadi sasaran desas-desus palsu, ia akan menjumpai banyak kesulitan. Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat sering berkeliaran di jalan-jalan pada saat yang tidak pantas.”

10. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat mengejar tempat-tempat hiburan (samajjabhicarane) : (Ia selalu berpikir) di manakah ada tari-tarian? Di manakah ada nyanyi-nyanyian? Di manakah ada pertunjukan musik? Di manakah ada pembacaan deklamasi? Di manakah ada permainan tambur? Di manakah ada permainan genderang? Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat mengejar tempat-tempat hiburan.”

11. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat gemar berjud! : bila menang, ia memperoleh kebencian; bila kalah, ia meratapi harta kekayaannya yang telah hilang; kerugian harta benda secara nyata; di pengadilan kata-katanya tidak berharga; ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah; ia tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari atau mengambil menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang istri. Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat gemar berjud!.”

12. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat bergaul dengan teman-teman jahat (papamitta) : setiap penjud!, setiap orang yang gemar berfoya-foya, setiap pemabuk, setiap penipu, setiap pengecoh, setiap orang yang kejam adalah teman dan sahabatnya. Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat bergaul dengan teman-teman jahat.”

13. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat kebiasaan menganggur (malas) : ia berkata : “terlalu dingin”, dan ia tidak bekerja; ia berkata: “terlalu panas”, dan ia tidak bekerja; ia berkata: “terlalu pagi”, dan ia tidak bekerja; ia berkata: “terlalu siang”, dan ia tidak bekerja; ia berkata: “aku terlalu lapar”, dan ia tidak bekerja; ia berkata: “aku terlalu kenyang”, dan ia tidak bekerja.

Dengan demikian semua yang harus ia kerjakan tetap tidak dikerjakan, harta kekayaan baru tidak ia peroleh, dan harta kekayaan yang sudah ia miliki menjadi habis. Demikian sabda Sang Bhagava.

14. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut:

Beberapa teman hanyalah kawan minum;

Beberapa teman adalah mereka yang di hadapanmu akan berkata :

Sahabat baik! Sahabat baik!

Tetapi seseorang yang menyatakan kawan pada saat engkau membutuhkan,

Maka dia sesungguhnya yang layak disebut kawan olehmu.

Tidur sewaktu matahari telah terbit, perzinahan,

Terlibat dalam pertengkaran dan berbuat merugikan,

Bersahabat dengan orang-orang jahat dan berhati kejam :

Inilah enam sebab yang menjadikan keruntuhan seseorang.

Ia yang berteman dan bersahabat dengan orang-orang jahat

Ia yang dalam hidupnya melakukan hal-hal buruk, maka

Baik di alam ini maupun di alam berikutnya

Orang itu akan mengalami keruntuhan yang menyedihkan.

Berjud! dan wanita, minuman keras, tari-tarian dan nyanyian

Tidur pada siang hari dan berkeliaran pada malam hari.

Bersahabat dengan orang-orang jahat, berhati kejam :

Inilah enam sebab yang menjadikan keruntuhan seseorang.

Bermain dadu, minum-minuman keras, ia pergi kepada

Wanita-wanita yang amat dicintai laki-laki lain,

Mengikuti yang berpikiran rendah, bukan yang berpikiran mulia,

Maka ia akan menjadi suram bagai bulan yang menyusut pada masa bulan-gelap.

Pecandu minuman keras, miskin, melarat,

Seorang yang haus sewaktu minum, pengejar kedai minuman,

Demikian ia tenggelam dalam hutang-hutang, bagai batu dalam air;

Cepat sekali ia membawa nista pada keluarganya.

Ia yang mempunyai kebiasaan tidur pada waktu siang,

Yang menganggap malam sebagai waktu untuk berjaga,

Ia yang selalu tidak bertanggung jawab, dipenuhi dengan anggur,

Ia yang tidak cakap untuk membina rumah tangga.

Terlalu dingin! Terlalu panas! Terlalu siang! demikian keluhannya,

Dengan cara begitu orang malas menghindari pekerjaan yang menanti,

Sehingga kesempatan baik akan berlalu.

Tetapi ia yang menganggap dingin dan panas sebagai hal yang remeh

Dengan cara apa pun ia tidak akan kehilangan kebahagiaannya.

15. “O putra kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat (amittamittapatirupaka) : Yaitu orang yang tamak (annadatthuharo); orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apa (vaci paramo); penjilat (annuppiyabhani); kawan pemboros (apayasahayo).

16. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, orang yang tamak harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat : ia tamak; ia memberi sedikit dan meminta banyak; ia melakukan kewajibannya karena takut; ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah orang yang tamak harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat.

17. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apa harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat: ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau; ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal mendatang; ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong; bila ada kesempatan untuk membantu ia menyatakan tidak sanggup. O putra kepala keluarga; atas empat dasar inilah orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apa harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat.

18. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, seorang penjilat harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat: ia menyetujui hal-hal yang salah; juga ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar; ia akan memuji dirimu di hadapanmu; ia berbicara jelek tentang dirimu di hadapan orang-orang lain. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah seorang penjilat harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat.

19. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, seorang kawan pemboros harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat: ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar akan minum-minuman keras; ia menjadi kawanmu apabila engkau sering herkeliaran di jalan-jalan pada waktu yang tidak pantas; ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukan; ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjud!. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah seorang kawan pemboros harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat. Demikian sabda Sang Bhagava.

20. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut:

Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil,

Sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya

Sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang

Sahabat yang bergembira dengan cara-cara jahat

Empat ini adalah musuh-musuh

Setelah menyadarinya demikian

Biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh,

Seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan.

21. “O putra kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus dipandang berhati tulus (suhada) : yaitu sahabat penolong (upakaro mitto); sahabat pada waktu senang dan susah (samanasukha dukkhomitto); sahabat yang memberi nasehat baik (atthakhaya mitto); sahabat yang bersimpati (anukampako-mitto).

22. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat penolong harus dipandang berhati tulus: ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah; ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah; ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam keadaan ketakutan; ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang kau perlukan. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah sahabat penolong harus dipandang berhati tulus.

23. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat pada waktu senang dan susah harus dipandang berhati tulus: ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu; ia menjaga rahasia-rahasia dirimu; ia tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan; ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah sahabat pada waktu senang dan susah harus dipandang berhati tulus.

24. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat yang menasehatkan apa yang perlu engkau lakukan harus dipandang berhati tulus: Ia mencegah engkau berbuat jahat; ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar; ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar; ia menunjukkan engkau jalan ke surga. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah sahabat yang menasehatkan apa yang perlu engkau lakukan harus dipandang berhati tulus.

25. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat yang bersimpati harus dipandang berhati tulus : ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu; ia merasa senang atas kesejahteraanmu, ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu, ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah sahabat yang bersimpati harus dipandang berhati tulus. Demikian sabda Sang Bhagava.

26. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut:

Sahabat yang menjadi penolong, dan sahabat

Pada hari-hari terang dan gelap; ia yang menunjukkan

Apa yang engkau perlukan, dan ia yang bergetar dengan simpati

Untuk dirimu : empat macam orang ini, seorang bijaksana harus mengenali

Sebagai sahabat-sahabat, dan ia harus membaktikan dirinya kepada mereka

Seperti seorang ibu kepada anaknya sendiri, anak kesayangannya.

Siapa pun yang bajik dan pandai

Bercahaya seperti api yang menyala di bukit

Baginya, mengumpulkan kekayaan adalah seperti lebah berterbangan

Yang mengumpulkan madu tanpa mengganggu siapapun

Kekayaan menumpuk tinggi bagaikan timbunan bukit semut

Bila kekayaan orang berkeluarga yang baik telah terkumpul seperti itu

Dapatlah ia memberi manfaat warganya

Biarlah ia membagi kekayaannya dalam empat bagian

Demikianlah ia mengikat kehidupannya dengan hal-hal yang baik

Satu bagian biarlah dipergunakan dan dinikmati sebagai buah usaha,

Dua bagian untuk melangsungkan usahanya

Bagian keempat biarlah dicadangkan dan ditabung

Sehingga ada persediaan pada saat yang sulit.

27. O putra kepala keluarga, bagaimana caranya siswa Ariya melindungi enam arah itu? O putra kepala keluarga, enam arah itu harus dipandang sebagai berikut : ibu dan ayah seperti arah Timur, para guru seperti arah Selatan; istri dan anak-anak seperti arah Barat; sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara; pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah; guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas.

28. O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur: dahulu aku dirawat oleh mereka, sekarang aku akan merawat mereka; aku akan memikul beban kewajiban-kewajiban mereka; aku akan mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga; aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan; aku akan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah mereka meninggal dunia.

Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti arah Timur, menunjukkan kecintaan mereka kepadanya: mereka mencegahnya berbuat jahat; mereka mendorongnya berbuat baik; mereka melatihnya dalam suatu profesi; mereka mencarikan pasangan (istri) yang pantas baginya; dan pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan mereka kepadanya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur. Dalam lima cara inilah orang tua menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

29. O putra kepala keluarga, dalam lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan: dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat); dengan melayani mereka; dengan bersemangat untuk belajar; dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka; dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.

Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, guru-guru yang diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka seperti arah Selatan, mencintai siswa-siswa mereka: mereka melatihnya sedemikian rupa sehingga ia terlalu baik; mereka membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan; mereka mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni; mereka berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya; mereka menjaga keselamatannya di semua tempat.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah siswa-siswa memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan. Dalam lima cara inilah guru-guru mencintai siswa-siswa mereka. Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

30. O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang istri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat: dengan menghormati; dengan bersikap ramah-tamah; dengan kesetiaan; dengan menyerahkan kekuasaan rumah tangga kepadanya; dengan memberi barang-barang perhiasan kepadanya.

Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, seorang istri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat, mencintainya: menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik; bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak; dengan kesetiaan; dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya; pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung-jawabnya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang suami memperlakukan istrinya seperti arah Barat. Dalam lima cara ini seorang istri mencintai suaminya. Demikianlah arah barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

31. O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara: dengan bermurah hati; berlaku ramah tamah; memberikan bantuan; dengan memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri; dengan berbuat sebaik ucapannya.

Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah Utara, mencintainya: mereka melindunginya sewaktu ia lengah; mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah; mereka menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya; mereka tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan; mereka menghormati keluarganya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara. Dalam lima cara inilah sahabat sahabat dan kawan-kawan mencintainya. Demikianlah arah utara ini dilindungi, diselamatkan den diamankan olehnya.

32. O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah : dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka; dengan memberikan mereka makanan dan upah; dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit; dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya; dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.

Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh seorang majikan seperti arah bawah, akan mencintainya : mereka bangun lebih pagi daripadanya; mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya; mereka merasa puas dengan apa yang diberikan kepada mereka; mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik; di manapun mereka berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman namanya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah. Dalam lima cara inilah pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan mencintainya. Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

33. O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas : dengan cinta kasih dalam perbuatan; dengan cinta kasih dalam perkataan; dengan cinta kasih dalam pikiran; membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka); menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.

Dalam enam cara ini, O putra kepala keluarga, para pertapa dan brahmana yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan kecintaan mereka : mereka mencegah ia berbuat jahat; mereka menganjurkan ia berbuat baik; mereka mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang; mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar; mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar; mereka menunjukkan ia jalan ke surga.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas. Dalam enam cara inilah para pertapa dan brahmana menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

Demikian sabda Sang Bhagava.

34. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut:

Ibu dan ayah adalah arah timur,

Dan guru-guru adalah arah selatan

Istri den anak-anak adalah arah barat,

Dan sahabat-sahabat serta sanak keluarga adalah arah utara;

Para pelayan dan karyawan adalah arah bawah

Dan arah atas adalah para pertapa dan brahmana

Semua arah ini harus disembah oleh orang yang

Pantas menjabat sebagai kepala keluarga dalam warganya.

Ia yang bijaksana, terlatih dalam cara-cara bajik

Lemah lembut dan pandai dalam pemujaan ini,

Rendah hati dan patuh, maka ia akan memperoleh kehormatan.

Bangun pagi-pagi, musuh pada kemalasan,

Tak goyah dalam kemalangan-kemalangan, kehidupannya

Tanpa cacat, bijaksana, maka ia akan memperoleh kehormatan

Bila ia telah mendapatkan cara-cara dan membuat sahabat-sahabat

Menyambut dengan kata-kata yang ramah dan hati yang tulus

Dan ia dapat memberi petunjuk dan nasehat yang bijaksana

Dan membimbing sahabat-sahabatnya, maka ia akan memperoleh kehormatan.

Tangan pemberi, ucapan ramah tamah

Kehidupan penuh pengabdian, tak membedakan diri sendiri

Dengan orang lain, seperti diminta keadaan :

Inilah yang membuat dunia berputar

Seperti poros memberikan jasa pada majunya kereta

Dan bila hal-hal demikian tidak ada, tiada seorang ibu akan menerima

Penghormatan dan penghargaan yang seharusnya diberikan oleh anak-anaknya

Juga sang ayah yang seharusnya memperoleh hal-hal ini dari anak-anaknya

Dan karena para bijaksana dengan tepat memuji akan hal-hal ini

Mereka memperoleh keluhuran dan pujian manusia.

Setelah Beliau selesai berkata demikian, Sigala, putra kepala keluarga itu, berkata kepada Sang Bhagava:

“Sungguh mengagumkan, Bhante! Sungguh mengagumkan, Bhante! Sama halnya seperti seseorang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam kegelapan: agar mereka yang mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Demikian pula, dengan berbagai macam cara Dhamma telah dibabarkan oleh Sang Bhagava kepadaku. Dan sekarang, Bhante, aku menyatakan berlindung kepada Sang Bhagava, Dhamma serta Sangha. Semoga Sang Bhagava berkenan menerima aku sebagai seorang upasaka, yang sejak hari ini sampai selama-lamanya telah menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha.”

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.