(DROP DOWN MENU)

Penghapusan / Pengampunan / Penebusan Dosa, adalah DONGENG yang Terlampau Indah bagi Pendosa, dan Terlampau Menyakitkan bagi Korban

SERI SENI HIDUP

DOSA di Mata seorang SUCIWAN dan di Mata seorang PENDOSA, yang Satu Menolaknya sementara yang Satunya Lagi justru Merangkul DOSA

Di Satu Sisi Ada Maksiat (Dosa), di Sisi Lain Ada Penghapusan Dosa dan Penebusan Dosa, Pilih Mana? Tanpa Maksiat, maka Tiada Penghapusan Dosa Maupun Penebusan Dosa

Rupa-rupanya, para manusia dewasa di republik kita maupun di dunia, terutama dua milenium terakhir serta dewasa ini, tidak henti-hentinya mereproduksi dan membaca “Kitab Dongeng” penuh ilusioner dan fantasi yang “kotor” (lawan kata “suci”) bernama ajaran dogmatis perihal “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”, sehingga kita patut menyebutnya sebagai “Agama Dongeng” dimana para umat pemeluknya diberi julukan sebagai “Umat Agama Dongeng”. Menjadi ironi sekaligus dagelan, perhatikan ilustrasi kisah berikut yang pastilah benar-benar terjadi pada alam surgawi tempat para dewata berdomisili dan menghuni.

Seorang dewa mendekati dewa lainnya, bertanya perbuatan baik apakah yang dilakukannya semasa hidup sebagai seorang manusia, sehingga dapat terlahir kembali di alam surgawi sebagai buah Karma Baiknya. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, demikian pepatah sudah sejak lama memberi petuah kepada kita sebagai generasi penerus. Namun itu cerita lama, kini ceritanya sudah berbeda seratus delapan puluh derajat. Menjadi aneh, ketika seorang penghuni surga ketika mendapati pertanyaan demikian, justru menjawab dengan tanpa malu, berani, tanpa rasa bersalah, tanpa rasa malu, “Pertanyaannya keliru Bung, bukan perbuatan bajik apa yang saya buat sehingga dapat masuk ke dalam surga ini, tapi perbuatan jahat dan dosa-dosa apa yang telah saya buat dan tabung dengan rajinnya semasa hidup sebagai seorang manusia, sehingga dapat masuk ke alam surga ini.

Sang dewa yang bertanya, seketika itu juga merasa terkejut, mungkin juga tersinggung, sebelum kemudian mengajukan komplain, “Kalau begitu buat apa saya tanam begitu banyak perbuatan baik semasa hidup sebagai manusia, menghindari perbuatan buruk semasa hidup sebagai manusia, dan mensucikan hati dan pikiran semasa hdiup sebagai manusia? Jika begitu, berpesta-poralah para pendosa dan para bajingan, yang tidak lagi merasa perlu untuk takut berbuat jahat maupun sungkan dan ragu untuk menanam Karma Buruk, menimbun diri dengan dosa, mengoleksi dosa, mengubur diri dengan dosa, dan hidup dari dosa. Kalian pikir alam surga ini adalah tong sampah bagi para pendosa untuk dijejali para pendosa ke dalamnya? Tidak malu dan tidak takut berbuat doas, maka korban kalianlah yang kemudian paling akan takut dan merugi serta menderita.

Tidak lama berselang, sang pendosa yang menjadi salah satu penghuni alam dewata tersebut, berjumpa kembali dengan seseorang yang ketika masih sebagai semama manusia di dunia manusia, adalah korban dari sang pendosa. Si korban dan si penjahat, kini berjumpa kembali sebagai sesama penghuni alam surgawi. Si korban, dahulu semasa hidup sebagai manusia di dunia manusia, adalah orang yang malang serta pernah menjadi korban penipuan dari sang pendosa. Tidak habis pikirnya sang korban, mengapa pelaku kejahatan yang telah pernah menipunya semasa hidup sebagai manusia, justru kini berjumpa kembali sebagai sesama penghuni alam surgawi?

Beberapa waktu kemudian, sang korban ternyata kembali tertipu sebagai korban penipuan serupa oleh sang pendosa yang dahulu pernah menipunya di alam manusia. Tersiar kabar, para dewata lainnya pun kini menjadi korban penipuan yang sama oleh pelaku kejahatan yang sama. Para makhluk dewata meradang, tidak lagi merasa aman hidup di alam dewata. Alam dewata mulai tercemari oleh keberadaan para pendosa, terutama para penjahat “hidung belang”, yang semestinya menjadi penghuni alam neraka.

Setiap hari pasti terjadi terjadi trategi ke-dewi-an dimana para dewi yang dikenal cantik, elok, dan indah penampilannya seketika menjadi objek pelecehan dan tindak asusila oleh para pendosa yang menjadi penghuni baru alam surgawi. Para pendosa tersebut beranggapan bahwa para dewi tersebut adalah hadiah dari Tuhan (hadiah bagi para pendosa?) untuk digauli oleh para pendosa tersebut. Mengerikan sekali, para dewi menjadi mulai takut keluar rumah dan mulai belajar seni bela-diri Kung Fu dari Sun Go Kong si Kera Sakti yang juga kewalahan menghadapi pendosa-pendosa yang terus berdatangan ke surga, disamping membawa semprotan berisi serbuk merica untuk jaga-jaga tentunya ketika berjumpa pendosa “hidung belang”.

Sang korban pun kemudian berpikir, betapa menyerupainya alam surgawi ini dengan “dunia manusia jilid kedua”, dimana korban penipuan akan menjadi korban penipuan untuk kedua kalinya setelah tertipu di alam manusia jilid pertama, para korban peperangan akan kembali menjadi korban peperangan untuk kedua kalinya, korban “tabrak lari” kembali menjadi korban “tabrak lari” untuk kedua kalinya, korban perampokan akan kembali menjadi korban perampokan serupa untuk kedua kalinya, korban perkosaan akan menjadi korban pemerkosaan untuk kedua kalinya (bahkan bisa jadi oleh pelaku yang sama), dan berbagai kejahatan lainnya oleh para penjahat (pendosa) lainnya untuk kedua kalinya.

Seorang pendosa, sebutlah namanya sebagai Makanin Uangorang, setelah ajal menjelang (setelah puas menikmati harta hasil menipu dan mencuri membiarkan korban-korbannya bertumbangan hidup sengsara), sang pendosa dimasukkan ke surga, alih-alih dilempar ke neraka. Setibanya di alam surgawi sebagai penghuni baru, si Makanin Uangorang berjumpa kembali dengan korbannya yang mana dahulu kala pernah memberi pinjam sejumlah uang, namun kemudian dibawa lari tanpa dibayar kembali ataupun dilunasi. Sang korban kini menagih kepada si Makanin Uangorang, agar mengembalikan uang pinjamannya, bahkan diberikan keringanan tanpa perlu membayar bunga, denda, pinalti, maupun lain sebagainya. Namun, alih-alih merasa bersalah dan malu, sang pendosa yakni si Makanin Uangorang justru melakukan aksi lepas-tangan dan lempar tanggung jawab, dengan berkata:

Silahkan mintakan uangnya kepada Tuhan, karena Tuhan yang telah hapus dan tebus dosa-dosa saya, artinya kini Tuhan yang menanggung segala dosa maupun hutang-hutang saya!

Semakin lama, sejak “Agama DOSA” yang bersumber dari “Kitab DOSA” yang selama ini menjadi sumber dogmatis “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa” menjadi ideologi mayoritas umat manusia di muka Bumi, alam surgawi kian dipenuhi, dijejali, dan disesaki oleh para pendosa yang berduyun-duyun berbuat dan menimbun dosa. Dunia manusia dan alam surgawi menjadi demikian penuh oleh para manusia pendosa maupun para hantu pendosa. Slogan kesayangan umat manusia saat kini ialah menjadi, secara berapi-api dan membabi-buta, bukan lagi perihal gaya hidup suci bebas dari perbuatan dosa (humanis), namun menjelma menyerupai hewan yang tidak punya malu ketika berkata berikut:

Berbuat dosa, siapa juga yang takut berbuat dosa? Justru adalah MERUGI sendiri bila tidak berbuat dosa! Agar tidak mubazir ‘penghapusan dosa’ maupun ‘penebusan dosa’, rajin-rajinlah menabung DOSA! Tiket masuk surga sudah di tangan, dijamin masuk surga, bebas buat dosa! Maksiat, I LOVE YOU! Justru itulah gunanya Tuhan menciptakan maksiat, untuk dinikmati, serta agar janji-janji ‘penghapusan dosa’ maupun ‘penebusan dosa tidak mubazir. Tanpa maksiat, Tuhan tidak akan laku di mata manusia.” (Bayangkan, ketika pendosa tersebut kemudian berceramah perihal cara hidup yang baik, sikap hidup yang benar, gaya hidup yang bersih, dan jalan hidup yang suci nan mulia.)

Akibatnya, para dewata dan dewati menjadi minoritas di alam surgawi, kian tersisih, bahkan rumahnya diserobot oleh para pendosa, diperkosa oleh para pendosa, dianiaya oleh para pendosa, dicuri dan dirampok oleh para pendosa, ditipu oleh para pendosa, terbunuh oleh para pendosa, diusir oleh para pendosa dari kampung halaman para dewa dan dewi malang tersebut, aksi-aksi vandalisme, aksi-aksi anarkhi, aksi-aksi intoleran, aksi-aksi jahat dan tercela, kian menjadi gambaran sehari-hari di alam surgawi yang kini tidak ubahnya menyerupai medan perang di Timur-Tengah, penuh ledakan dan gersang kering-kerontang akibat rusak dampak dari peperangan bersenjata. Mencekam sekali, tidak ubahnya dunia manusia sekarang ini di Planet Bumi ini.

Para dewa-dewi mulai melakukan aksi protes kepada Tuhan, secara “Ahimsa” tentunya, membawa spanduk bertuliskan “STOP IMPOR PENDOSA, surga bukanlah tong sampah untuk menampung para pendosa! Stop tempat ibadah yang berisik, polusi suara yang mengganggu. Mengapa kami, para dewa dan dewi, harus menjadi pengungsi di kampung halaman sendiri? Kami adalah KORBAN, dimana keadilan bagi korban? Kami menuntut keadilan! STOP IMPOR PENDOSA! Mengapa Tuhan lebih PRO terhadap PENDOSA? Kami ingin menggugat Tuhan! Jika tahu akan seperti ini, kami memilih alam neraka, karena siapa tahu lebih damai daripada alam surgawi yang penuh oleh para pendosa yang jahat berkuasa, meraja-lela, dan berkeliaran mencari mangsa buruan untuk dimakan!” Karena para dewa dan dewi adalah penganut “Ahimsa”, akibatnya ialah “orang-orang baik dijadikan mangsa empuk” oleh para pendosa, jadilah mereka justru dijadikan sasaran untuk diburu dan dimakan sehingga hampir punah di alam surgawi yang ironisnya justru saat kini dikuasai dan diokupasi oleh para pendosa.

Sementara itu, di alam neraka, penguasa alam neraka ialah bernama Yama. Karena Yama sangat adil menyerupai hakim Judge Bao, dimana orang-orang jahat akan dihukum dan orang-orang baik akan dilindungi, maka sejak berbagai alam kehidupan “dibajak” oleh Tuhan (sang pamer “kuasa”, namun seringkali kuasa yang “salah alamat”) yang justru memasukkan orang-orang jahat (pendosa yang berdosa) ke dalam alam surgawi, karenanya justru alam neraka kini kosong-melompong dari para pendosa. Penghuni alam neraka saat kini, ironisnya, ialah para dewa dan para dewi yang menjadi pengungsi yang tersingkirkan dari alam surgawi, alam kelahiran para dewa dan dewi.

Sebaliknya, dalam Buddhisme tidak diakui iming-iming semacam “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”, yang ada ialah Hukum Karma, alias “hukum sebab dan akibat”, atau hukum tentang konsekuensi. Yang menanam Karma Baik, memetik buah Karma Baik. Yang menanam Karma Buruk, maka akan memetik buah Karma Buruk. Karena itulah, Buddhistik sering disebut pula sebagai ajaran keagamaan yang bersifat “meritokrasi”, dimana keadilan menjadi pilar penopang serta tulang punggungnya, dan kita sebagai designer-nya hendak menjadi apa dikehidupan mendatang.

Karena Sang Buddha menolak (bahkan sejak sebelum agama samawi lahir) konsep semacam “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”, karena itulah Buddhisme menjadi agama bagi para suciwan serta para ksatria—namun bukan bagi para pendosa, berhubung pendosa sudah pasti dan jelas-jelas akan masuk neraka, sehingga karenanya tidak mengherankan bila realitanya tiada pendosa mana pun yang berminat pada Buddhisme, semata karena ajaran perihal Hukum Karma adalah “mimpi buruk” bagi para pendosa yang tidak ada pilihan lain baginya selain membabi-buta memeluk dan meyakini “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”, apapun bayarannya sekalipun itu harus meledakkan diri sendiri dengan ledakan granat.

Lantas, apa yang selama ini menjadi ibadah dalam Buddhisme? Ibadah dalam Buddhisme dapat diringkas dalam apa yang disebut sebagai Ovada Patimokkha, yang terdiri dari empat buah bait gatha, berbunyi sebagai berikut:

Hindari perbuatan buruk yang dapat dicela oleh para bijaksanawan,

Perbanyak perbuatan bajik,

Sucikan pikiran lewat meditasi yang memurnikan pandangan,

Itulah ajaran para Buddha di masa lampau, Buddha di masa kini, dan para Buddha di mana yang akan datang.

Urutan atau susunan di atas, merupakan suatu hierarkhi. Dalam pengertian bahwa, untuk bisa menjadi suci (sebagai suciwan), maka level atau tahap pertama yang harus ditempuh ialah dengan tidak berbuat jahat, dosa, buruk, ataupun perbuatan negatif lainnya yang merugikan, melukai, ataupun menyakiti makhluk hidup mana pun—juga tidak menyakiti ataupun merugikan diri sendiri. Seorang pendosa, justru selama ini menimbun diri dengan dosa, mengoleksi dosa, menanam dosa, memproduksi dosa, membangun pabrik dosa, melestarikan dosa, memberi makan dosa, memelihara dosa, mesin dosa, dan hidup dari dosa. Karena itulah, antara dosawan dan suciwan selalu menyerupai langit dan bumi, mustahil bagi seorang pendosa untuk mengajarkan perihal kebaikan, kebenaran, maupun kesucian, bagikan orang buta yang hendak menuntun orang buta lainnya, bagai pencuri mensehati orang lain agar tidak mencuri.

Level atau tahap selanjutnya, ialah perbanyak perbuatan baik. Artinya, ketika timbunan Karma Baik seseorang demikian besar dan dahsyat, maka dengan sendirinya ia akan memetik buah Karma Baik, dapat terlahir kembali di alam surgawi sekalipun dirinya notabene seorang “ateis” yang tidak memeluk agama mana pun juga tidak mengakui adanya Tuhan—yang disaat bersamaan artinya ialah mustahil dirinya terlahir di alam neraka bila memiliki timbunan buah Karma Baik yang ranum siap untuk dipetik (hukum “tabur-tuai”). Sekalipun dirinya belumlah suci dan sesekali masih berbuat buruk, namun bagai sebuah timbangan, perbuatan baiknya masih jauh lebih besar dan lebih berat sehingga tetap saja ia memetik banyak kebahagiaan dalam hidupnya ketika buah Karma Baik matang untuk berbuah.

Mengapa demikian? Semata karena seseorang berbuat buruk, maka akan mencoreng nama orangtua, mencoreng nama almamater tempatnya sekolah, serta akan mencoreng nama agama maupun Tuhannya sendiri. Sebaliknya, seseorang yang berbuat mulia, disaat bersamaan artinya sedang memuliakan nama orangtuanya, telah memuliakan nama almamaternya, serta akan memuliakan nama Tuhan yang telah berhasil menciptakan sang manusia yang mulia. Itulah sebabnya, memuliakan Tuhan bukanlah dengan cara “menjilati kaki Tuhan”, namun dengan jalan menjadi manusia yang mulia—apa pula susahnya “lip service” semacam menyembah, puja-puji, ataupun sembah sujud, atau bahkan sekadar duduk seminggu sekali menyanyikan lagu-lagu pujian? Semua orang pun bisa “lip service” seperti para manusia penjilat di luar sana. Dunia ini tidak pernah kekurangan para pendosa, terutama para pendosa yang juga pandai menjilat. Namun, tidak semua orang bisa menjalankan Ovada Patimokkha.

Karena itulah, orang-orang yang tidak berbuat buruk dan rajin berbuat kebaikan, tidak membutuhkan iming-iming “too good to be true” semacam “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”. Mereka dan masing-masing dari kita sendirilah, yang merancang dan membangun masa depannya sendiri, menolong dirinya sendiri, mengangkat derajat dirinya sendiri, dan menjadi tuan atas diri dan hidup serta nasibnya sendiri. Begitu berdaya, demikian beradab, sangat agung, dan amat terhormat penuh penghargaan atas kemuliaannya.

Level ketiga, yang terlebih-lebih tidak mungkin diraih oleh para pendosa ialah, menjadi seorang suciwan. Adalah mustahil, seorang pendosa hendak mengaku-ngaku sebagai suciwan, terlebih berceramah atau membuat nasehat perihal hidup yang baik, perihal hidup yang benar, terlebih perihal cara hidup yang suci. Pendosa adalah “dosawan”, orang suci barulah disebut “suciwan”, tidak pernah dapat saling dipertukarkan kedua gelar tersebut. Seorang suciwan, tidak pernah membutuhkan iming-iming semacam “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”, sebagaimana halnya para kaum ksatria yang lebih memilih untuk bertanggung-jawab alih-alih tergila-gila pada ideologi “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”. Sebaliknya, hanya seorang pendosa yang sangat amat bergantung pada ideologi korup bernama “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa” (too big to be fall, no point of return).

Ideologi korup semacam iming-iming “penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa” yang bersumber dari “Kitab DOSA”, sejatinya telah menista Tuhan. Bagaimana mungkin, Tuhan menurunkan wahyunya berupa “Agama DOSA” bagi para pendosa seolah-olah berbuat dosa tidaklah tabu dan tidak memiliki konsekuensi yang fatal bagi pelaku perbuatan jahat tersebut? Martabat dan harga diri Tuhan, demikian tampak hina dan tercela, karena justru bersikap tidak adil terhadap para korban dari para pendosa tersebut, demikian kompromistis terhadap maksiat dan dosa, dan bahkan membiarkan korbannya untuk menjadi korban untuk kedua kalinya, di alam manusia dan di alam surgawi. Itukah, versi “Tuhan” yang ingin kita idolakan, agungkan, serta muliakan sebagai pengatur alam semesta ini?

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.